Perdebatan tanpa ideologi hanya jadi caci maki

Selasa, 5 Januari 2016 13:38 Penulis : Didik Supriyanto
Perdebatan tanpa ideologi hanya jadi caci maki Jokowi berlibur di Raja Ampat. ©facebook.com/presidenID

Merdeka.com - Akhir tahun lalu saya berharap, memasuki 2015 perbedaan pandangan antara kelompok pro Jokowi dengan kelompok anti Jokowi mulai berkualitas. Saya tidak bermimpi perbedaan pandangan itu menghilang lalu lebur menjadi satu. Harapan demikian jelas-jelas mengingkari kenyataan bahwa kita masyarakat plural. Berbeda dalam banyak hal: agama, ras, etnis, marga, dan ideologi.

Oleh karena itu, kalau berbeda dalam mengomentari dan menyikapi kebijakan dan kepemimpinan Jokowi, tentu lumrah saja. Apalagi Pemilu Presiden 2014 yang hanya menampilkan dua pasangan calon (Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK) telah membelah masyarakat menjadi pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo, yang kemudian berlarut menjadi lovers and haters Jokowi.

Tak apalah berbeda pandangan. Tak salah juga menjadi the lovers dan the haters Jokowi. Yang saya mimpikan ada peningkatan kualitas perbedaan pandangan tersebut. Dari sebelumnya hanya menyindir dan memaki, menjadi lebih berisi dan mencerdaskan; dari sebelumnya asal beda dan asal jeplak, menjadi lebih tertata, kaya data dan pustaka.

Namun belum apa-apa, pada hari pertama 2016, media sosial sudah diramaikan oleh tuduhan Jonru bahwa foto Jokowi yang mengenakan sarung menyambut matahari pagi 1 Januari 2015 di Raja Ampat, adalah hasil rekayasa. Menyadari kesalahannnya, Jonru minta maaf. Namun permintaan maaf itu justru menambah ramai caci maki.

Bukan the haters Jokowi yang sering mempersoalkan remeh temeh perihal Jokowi, bukan hanya Jonru, tetapi juga seorang mantan menteri sering mem-posting di dunia maya soal sepele tentang Jokowi: salah pose, salah eja, salah kutip, dll. Tentu saja posting remeh temeh dari the haters tersebut langsung mendapat serbuan caci maki dari the lovers.

Singkatnya, meskipun jumlah masing-masing kelompok mungkin berkurang, namun kualitas permusuhan antara the haters dengan the lovers tidak berubah: sebatas nyinyir dan caci maki. Jadi, mimpi akan adanya peningkatan kualitas perbedaan pandangan langsung musnah di hari pertama 2016. Ancaman polisi untuk menindak pelaku ujaran kebencian pun, tak membuat surut the haters dan the lovers untuk saling adu makian.

Perbincangan di dunia maya memang tak bisa dikontrol. Setiap orang bisa melakukan apapun atas akunnya. Yang disayangkan adalah beredarnya pernyataan kaum terdidik di dua kubu yang masih terus mengumbar emosi kebencian. Sejumlah anggota dewan dan elite partai politik kerap membikin pernyataan tanpa dasar. Pernyataan-pernyataan yang diumbar di media konvensional itu kemudian menambah ramai caci maki di media sosial.

Pernyataan para elite politik yang asal bunyi tersebut, baik yang pro Jokowi maupun yang anti Jokowi, sekali lagi menegaskan, bahwa dunia politik kita bukan hanya tidak dilandasi tata krama, tetapi juga tidak berbasis pada ideologi.

Oleh karena itu perang pernyataan di antara mereka lebih karena perang antara mereka yang berkuasa melawan mereka yang tidak berkuasa. Untuk mempertegas perbedaan itu, mereka terjebak pada soal teknis dan remeh. Karena materi perdebatan adalah soal sepele, maka pernyataan jadi terbatas, sehingga bumbunya hanya ledekan dan caci maki.

Politik tanpa ideologi ternyata tidak hanya membuat elit partai politik terperangkap pada pragmatisme, tetapi juga menyesatkan rakyat banyak, menjadi the haters dan the lovers sejati. Jika situasi seperti ini tetap berlangsung, dan para elite politik menikmatinya, maka rakyat hanya jadi penyalur hasrat kebencian sehingga kita akan menjadi bangsa kerdil: memusuhi saudara sendiri semata luapan emosi yang tiada henti.

Memang tidak mudah untuk mengubah haluan perang kata-kata, dari adu mulut ke adu pemikiran. Namun para elite politik harus menyadari, luapan caci maki harus diakhiri. Toh jika diteruskan, yang berkuasa tidak tambah sentosa, yang tidak berkuasa tetap tidak mendapatkan apa-apa, apalagi para pengikutnya. Sekadar jadi the haters dan the lovers takkan menjadikan kaya material apalagi kaya spiritual dan intelektual.

Para elite partai politik harus kembali menggali dan merumuskan ideologi masing-masing. Sebab tanpa ideologi politik bukan hanya tidak terarah, tetapi juga merusak. Padahal tujuan partai politik adalah mulia: memperjuangkan kebutuhan anggota dan membela kepentingan bangsa. [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini