Perang jubir milenial

Senin, 5 November 2018 06:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Perang jubir milenial Deklarasi Kampanye Damai. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho

Merdeka.com - Dua pasang calon pemimpin bangsa sedang bersaing. Joko Widodo-Maruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno. Menghadapi Pilpres tahun 2019, pelbagai strategi dilakukan. Termasuk memakai anak muda menjadi juru bicara. Mereka menjadi ujung tombak untuk menyampaikan tiap ide dan gagasan.

Pertarungan dalam kontestasi ini bukan sekedar dua pasang itu. Mereka ada waktunya tersendiri. Di debat calon presiden dan wakil presiden. Selama masa kampanye, para anak muda tersebut menjadi corong utama. Sekaligus menjadi ajang unjuk gigi. Beradu gagasan terkait kondisi negeri.

Bagi Jubir Jokowi-Maruf, sudah tentu membanggakan pelbagai capaian. Semua dilakukan untuk mempertahankan kursi orang nomor satu dan dua di Indonesia. Di sini Jokowi menjadi petahana. Tak mau diganti dengan mudah.

Sedangkan juru bicara muda kubu Prabowo-Sandi, tentu tidak tinggal diam. Mereka mengkritisi tiap capaian. Terutama pada sektor ekonomi. Mereka begitu lihai bersilat lidah sambil memaparkan data. Tentu serangan ini tidak sembarang.

Meski berbeda gagasan, dua kubu ini punya persamaan. Mereka menggunakan jasa anak muda ke dalam politik. Demi menggaet suara milenial. Generasi ini lahir antara tahun 1980 sampai awal tahun 2000an.

Menurut data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) jumlah pemilih milenial mencapai 100 juta jiwa dari total 196,5 juta pemilih. Sementara menurut survei Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) ada 34,4 persen jumlah pemilih di usia 17-34 tahun.

Perang jubir milenial ini makin menarik. Sekian nama sudah disiapkan dari tiap kubu. Seperti di Koalisi Indonesia Kerja (KIK) pendukung pasangan Jokowi-Maruf. Terdapat nama Dito Ariotedjo. Usianya baru 28 tahun. Dito adalah kader muda Partai Golkar dan menjabat sebagai Ketua DPP. Satu-satunya Ketua DPP termuda di Partai Golkar.

Selanjutnya, Rian Ernes. Di usia 31 ini dia menjadi kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sekaligus juru bicara pemenangan petahana Jokowi. Sebelum jadi kader PSI, Rian adalah seorang advokat muda dan pernah bekerja untuk mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Nama Dave Akbarshah Fikarno Laksono, 38 tahun, juga mengambil bagian di kubu Jokowi.. Dia dikenal sebagai anak dari politisi senior Golkar, Agung Laksono. Dave mengikuti jejak ayahnya berkecimpung di dunia politik. Bergabung dengan partai berlambang pohon beringin. Saat ini Dave merupakan anggota parlemen di Komisi I.

Sadar memerlukan anak muda, Koalisi Adil dan Makmur pendukung pasangan Prabowo-Sandiaga bahkan menunjuk Dahnil Anzar Simanjuntak, 36 tahun, sebagai koordinator juru bicara. Sebelum bergabung dengan tim pemenangan nomor 02, Dahnil adalah Ketua Perhimpunan Pemuda (PP) Muhammadiyah. Selain itu dia juga seorang dosen dan aktivis muda.

Dokter Irene juga direkrut sebagai juru bicara. Perempuan satu ini merupakan kader Partai Gerindra dan dokter sekaligus penggiat pelestarian binatang langka. Selain Irene, dokter muda Gamal Alsaid, 29 tahun, dipercaya menggantikan Ratna Sarumpaet sebagai juru bicara. Selain sebagai dokter muda, Gamal juga wirausahawan sosial dan CEO Indonesia Medika.

Para juru bicara muda ini tidak hanya bertugas mengkampanyekan sang jagoan. Mereka juga bertugas menyerap aspirasi anak muda. Mendengar keluh kesah milenial. Dibawa ke meja partai koalisi. Lalu bersama cari solusi.

Sebenarnya banyak deretan nama lainnya. Kami mengambil beberapa orang anak muda dan resmi tercatat dalam tim pemenangan. Sehingga pelbagai ucapan mereka resmi dari dua pasang kandidat capres dan cawapres.

Mereka punya pandangan sendiri mengenai anak muda. Bagi kubu petahana, kebutuhan anak muda dirasa lebih realistis. Seperti dikatakan Dito. Ketersediaan lapangan pekerjaan juga jadi topik utama anak muda. Baik mereka lulusan SMA/sederajat atau sarjana sekalipun membutuhkan ini. Apalagi bagi lulusan S1. Bukan hanya soal jaminan kehidupan ekonomi. Sebagian dari mereka dihadapkan pada masalah jaminan berkeluarga. Sampai harga properti.

"Orang kan sekarang pusing. bagaimana mau berkeluarga, kalau beli rumah saja bingung. Sewa rumah mahal," kata Dito kepada merdeka.com pekan lalu.

Mengenai sulitnya mendapatkan pekerjaan juga menjadi fokus Rian. Selama ini, dia merasa sulitnya kerjaan justru membuat mereka mulai mencari alternatif lain. Tantangan mereka saat ini perlahan mulai bergeser. Bila generasi sebelumnya berhadapan dengan revolusi industri. Maka milenial dihadapkan dengan perkembangan teknologi.

Tuntutan perkembangan zaman ini mendorong anak muda mengasah kreativitasnya. Memanfaatkan teknologi mencari jalan keluar dari kebuntuan lapangan pekerjaan. Transaksi jual beli secara tatap muka mulai berkurang setelah berpindah ke pasar online. Bisnis jual beli online dianggap lebih memudahkan baik bagi penjual maupun pembeli.

Banyaknya kesempatan saat ini perlahan mengubah paradigma baru bagi anak muda. Anak muda tak lagi menginginkan bekerja di perusahaan bergengsi dengan penghasilan tertentu. Mereka justru cenderung ingin merintis usaha sendiri setelah lulus sekolah/kuliah. Tak hanya itu, banyak profesi yang dulu dipandang sebelah mata, kini banyak disanjung.

"Jadi anak muda sekarang kalau sistem tidak mengakomodir, mereka akan mencoba cari jalan keluar sendiri," ungkap Rian.

Rian Ernest 2018 Merdeka.com


Sedangkan Dave Laksono mengklaim berbagai kebutuhan anak muda saat sudah dapat fasilitas pemerintah. Meski diakui belum sempurna. Masih banyak harus diperbaiki . Membutuhkan waktu untuk perencanaan matang dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Misalnya dalam bisnis online. Regulasi masih belum optimal. Belum bisa diatur dengan baik. Melihat adanya potensi ekonomi dalam bisnis ini mendorong pemerintah untuk melakukan reformasi perpajakan.

Selain itu, masih banyak pemerintah daerah belum memiliki visi sama dengan pemerintah pusat. Salah satunya belum memaksimalkan pemanfaatan koneksi internet. Maka, pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi dalam mematangkan detail konsep.

Kubu penantang juga melihat anak muda saat ini memiliki modal kreativitas besar. Sayangnya, Dahnil menilai itu tidak didorong oleh keberpihakan dari berbagai aspek. Misalnya seperti iklim usaha dan regulasi. Akses permodalan dan pasar juga jadi masalah utama wirausahawan muda.

Sebagai pemula, mereka kerap dibenturkan dengan regulasi permodalan yang berbelit. Perbankan hanya memberikan kredit usaha kepada UMKM. Padahal aspek pendampingan juga diperlukan.

Dahnil mengatakan tak ada salahnya menduplikat konsep Grammen Bank Bangladesh. Yakni pemberian pinjaman kecil kepada orang kurang mampu tanpa jaminan. Sistem ini berangkat dari ide bahwa orang miskin memiliki kemampuan yang kurang digunakan. Pola ini sudah diadopsi hampir 130 negara dunia utamanya di Asia dan Afrika.

Lebih jauh, dia melihat ladang bisnis anak muda tak lagi berpikir jadi kaya raya. Melainkan ingin berkontribusi besar kepada masyarakat. Visinya kini berubah jadi sociopreneur (usaha terdapat unsur sosial). "Mereka ingin punya kontribusi besar dengan masyarakat. Bukan sekedar aktualisasi ingin kaya raya," kata Dahnil, akhir pekan lalu.

Dahnil memandang, pemerintah saat ini belum hadir seutuhnya. Masih ada jurang antara pemerintah dalam memberikan kesempatan bagi pemuda sebagai pelaku usaha. Yaitu akses permodalan, pendampingan dan masalah akurasi data.

Sering kali tiap program pemerintah tidak tepat sasaran karena masalah data. Sehingga bantuan diterima pihak yang tidak membutuhkan. Sebaliknya, bagi mereka membutuhkan bantuan tak tersentuh oleh pemerintah.

Berburu suara milenial

Sebagai juru bicara, sudah pasti tugas mereka mengkampanyekan sang jagoan. Kubu petahana memiliki keuntungan karena sudah berkarya. Telah menjabat empat tahun terakhir. Dua modal itu nyatanya tak berarti apapun bila salah eksekusi. Bahkan bisa jadi habis dan hangus.

Memaparkan prestasi dan karya petahana jadi salah satu cara merawat modal. Tidak lupa ditambahkan pemaparan program lanjutan dari karya yang sudah ada. Tawaran program pun harus bisa dicerna logika. Bukan memberikan harapan kosong.

Misalnya program kelanjutan pembangunan bandara atau pelabuhan. Masyarakat perlu penjelasan detail tentang kegunaan dan dampak dari pembangunan tersebut. Sehingga, anak muda datang ke TPS memilih Jokowi-Ma'ruf bukan ikut-ikutan. Melainkan atas kesadaran bahwa rezim Jokowi perlu dilanjutkan.

"Jangan sampai mereka ke TPS karena d suruh atau iseng. Tapi datang ke TPS untuk mengikuti tahapan politik," kata Dave.

Namun, tidak mudah mengajak anak muda untuk ikut serta meramaikan kontestasi politik lima tahunan. Sebab, sebagian besar anak muda masih alergi politik. Diperlukan banyak trik khusus untuk masuk ke dunia milenial.

Dave Laksono 2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman


Kata Rian, anak muda tidak perlu diberi isu politik berat dan kompleks. Mereka dirasa apolitisi justru lebih sensitif pada perdebatan politik. Maka strateginya dengan menghadirkan politik gembira. Membuat banyak forum diskusi tanpa berlabel partai politik atau kampanye. Cara ini cenderung lebih mudah diterima milenial.

Sebagai negara demokrasi, keterlibatan anak muda sangat penting. Namun untuk mengajak anak muda terlibat masih jadi pekerjaan rumah semua pihak. Kini semua tergantung kreativitas partai dalam mengemas edukasi politik lebih menyenangkan dan dapat diterima.

Pengalaman Dito mengkampanyekan Jokowi-Maruf misalnya. Sebagai pimpinan partai, Dito kerap keliling daerah berkampanye. Tugasnya bukan cuma memenangkan Jokowi-Maruf. Tetapi mengantarkan partainya lolos dari ambang batas..

Dito menyebut anak muda ditemui sejauh ini tidak semua apolitis. Mereka justru menyambut baik adanya diskusi tentang pilpres ataupun pemerintahan. Hanya saja, dia melihat anak muda justru alergi dengan partai politik.

"Kalau masalah peduli sama politik, anak muda hari ini lebih peduli. Tetapi satu sisi mereka ini naik antipatinya ke partai politik," kata Dito.

Ini semua imbas dari kemajuan teknologi. Media sosial sangat berpengaruh dalam hal ini. Bila di masa lalu semua terbatas hanya di kalangan aktivis, kini pengetahuan politik bisa lebih dekat karena ada di dalam genggaman tangan.

Lain kisah dari kubu Prabowo-Sandi. Dalam mengkampanyekan pasangan capres-cawapres 02, pihaknya mengaku perlu kerja lebih keras. Menyerap berbagai aspirasi dari masyarakat untuk melahirkan solusi dan berbuah program kerja.

Sejauh ini, Koalisi Adil Makmur melihat banyak ketimpangan sosial. Stabilitas harga bahan pokok akibat inflasi berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Belum lagi masalah kesehatan, Masalah ini menjadi catatan penting bagi mereka..

Irene mengatakan, angka kematian ibu ketika melahirkan memang sudah mengalami penurunan. Namun, penurunan itu masih jauh dari target diharapkan. Hal ini disebabkan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil kurang maksimal. Sehingga berdampak pada kondisi kesehatan mereka.

Menurut data, kata Irene, penyebab utama kematian ibu yakni hipertensi kehamilan dan pendarahan postpartum. Selain itu, kondisi sering kali menyebabkan kematian ibu adalah penanganan komplikasi, anemia, diabetes, malaria, dan umur terlalu muda.

Dokter Irene Jubir Prabowo-Sandiaga 2018 Merdeka.com/dokumentasi dr Irene


Untuk menanggulangi hal ini, pemerintah harus menggencarkan program pembangunan puskesmas. Tidak lupa diiringi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Pemerintah juga sedang menciptakan pola keanekaragaman makanan untuk gizi ibu hamil.

Selain kematian ibu hamil, masalah asupan gizi kepada anak juga jadi perhatian. Kondisi ini menyebabkan stunting. Menyebabkan pertumbuhan mereka terhambat. Bukan hanya fisik, tetapi juga tumbuh kembang otak. Salah satu penyebabnya adalah kemiskinan dan pola asuh tidak tepat. Akibatnya kemampuan kognitif tidak berkembang maksimal. Lalu anak mudah sakit dan berdaya saing rendah.

Irene menyebut ini jadi masalah serius karena generasi penerus bangsa haruslah terlahir sehat. Pembangunan sumber daya manusia dari masa kehamilan hingga ketersediaan berbagai sarana prasarana menunjang generasi muda akan datang. Sehingga menjadi generasi kuat dan diarahkan fokus dalam perekonomian.

"Anak muda sendiri sebenarnya seperti kata Bung Sandi adalah the next generation penggerak sistem perekonomian kita. Jadi harus di dukung in all aspect (semua aspek)," kata Irene.

Beruntung ide dan gagasan dibawa Irene mendapat sambutan positif di milenial. Ini dia rasakan saat turun mengkampanyekan Prabowo-Sandi. Mereka berpikiran terbuka dan menerima pilihan lain demi kemajuan bangsa.

Saling serang

Sejatinya kontestasi politik adalah adu gagasan dan program. Tiap kubu tentu ingin memberikan terbaik untuk bangsa dan negara. Berlomba membuat program dan gagasan demi kemaslahatan bersama. Saling mengkritisi sudah biasa.

Misalnya janji kubu Prabowo-Sandi lunasi utang negara. Dave menilai hal itu sangat tidak realistis. Faktanya, kata Dave, utang negara tidak sepenuhnya milik negara. Ada sumbangsih utang swasta di dalamnya. Dave bahkan menuding, perusahaan swasta dimaksud adalah milik keluarga Prabowo Subianto.

Sebab itu, dia menilai para juru bicara kerap memutarbalikkan fakta. Mencoba menggambarkan kondisi negara tidak aman. Hanya untuk kepentingan sesaat. "Jadi ini lebih mengelabui masyarakat untuk kepentingan sesaat," ucapnya.

Selain itu, Rian merasa Prabowo-Sandi kesulitan menghadapi calon petahana. Maka strategi digunakan kampanye hemat dan melahirkan banyak gimik politik. Tujuannya mencuri perhatian warga. Cara itu dinilai cukup efektif untuk mendapatkan perhatian publik. Hanya saja, itu tidak diiringi dengan dukungan atau peningkatan elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi.

"Bagi elit itu mungkin lucu tapi kan masyarakat beberapa bisa terpatri di alam bawah pikirnya," sebut Rian.

Sementara itu, tim pemenangan Prabowo-Sandi merasa kritik dari kubu lawan tidak subtansi pada program kerja. Mereka kerap menyerang secara personal sesama juru bicara. Dahnil merasakan itu sejak ia bergabung menjadi koordinator juru bicara.

"Jadi perdebatannya enggak substansif, yang mereka lakukan adalah tuduhan-tuduhan," ungkap Dahnil.

Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzar Simanjuntak 2018 Merdeka.com/Ronald


Namun itu tak mengecoh tim untuk fokus memenangkan sang jagoan. Dia selalu mengingatkan kepada tim untuk tetap merawat nalar dan akhlak. Tiap argumentasi disampaikan harus masuk akal dan ditopang dengan fakta dan data aktual.

Menurutnya, akhlak baik bila disampaikan dengan cara tidak benar justru sulit diterima publik. Sehingga dia menekankan agar berbagai isu dimainkan kubu lawan ditanggapi dengan baik dan bijak.

"Kalau saya woles (santai) saja. Pak sandi apalagi, slow saja. Kan pemilih kita sudah cerdas dan bisa melihat mana yang fakta dan bukan," kata Dahnil.

Berbeda dengan Irene. Dia menilai program pemerintah saat ini belum mencapai target. Sebagai pribadi, dirinya melihat adanya perbedaan persepsi tentang arah masa depan bangsa. Khususnya dalam sektor ekonomi, penyediaan lapangan kerja, kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan.

Kendala dia alami saat berhadapan dengan juru bicara lawan adalah tentang persepsi dalam menyampaikan pendapat antar personal. Irene mengaku maju sebagai juru bicara karena semangat cinta tanah air. Berpegang teguh pada kebhinekaan. Sehingga iklim kompetisi tetap sehat.

"Kan Bang Sandi bilang jangan baper dan julid selama untuk menyuarakan yang terbaik," kata Irene.

Sayangnya, dia menyadari hal itu sulit untuk dilakukan. Perlu peran besar dan persamaan persepsi bahwa Pilpres adalah ajang adu gagasan dan dilakukan secara elegan. Sebagai bentuk penghormatan kepada pemerintah, Irene pun berusaha untuk tidak terpancing emosi dalam menyikapi banyak serangan isu tengah berkembang belakangan ini.

Untuk itu diharapkan semua pihak tetap fokus dalam perdebatan substansi dibanding saling serang sampai memancing kekisruhan. Sekaligus mencerminkan sikap anak muda Indonesia peduli terhadap kondisi bangsanya. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini