Kolom Selasa

Peran Bunda Putri dan laku Akil Mochtar

Rabu, 16 Oktober 2013 13:33 Penulis : Didik Supriyanto
Peran Bunda Putri dan laku Akil Mochtar Bunda Putri-Dipo Alam-Menhan Purnomo. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Mari berpikir positif sejenak: memang benar, SBY sama sekali tidak mengenal Bunda Putri, sebagaimana amarah "1.000 persen" atau "2.000 persen" yang dilontarkan saat jumpa pers di Halim Perdanakusuma beberapa hari lalu.

Mari berprasangka baik terlebih dahulu: memang benar, Akil Mochtar tidak menerima suap apalagi memeras, sebagaimana cucuran air mata yang menegaskan bahwa dirinya hanya dijebak saat ditangkap KPK.

Pikiran positif dan prasangka baik, perlu setidaknya untuk sementara waktu, agar kita bisa memahami apa yang terjadi. Bukan untuk membela SBY dan memaklumi Akil, tetapi sekadar untuk memuaskan rasa penasaran.

Secara normal, akal sehat kita tak bisa menerima Bunda Putri yang tidak jelas asal usulnya, bisa mempengaruhi pergantian kabinet. Nalar kita juga menolak, seorang hakim terhormat berpendapatan Rp 100 juta, mau menerima uang suap, satu atau dua miliar.

Jadi, kira-kira apa yang terjadi?

Bunda Putri mungkin tidak dekat dengan SBY, mungkin juga tidak dikenali Ani Yudhoyono. Namun semua orang Demokrat tahu, perempuan itu sering hadir dalam acara penting yang digelar Partai Demokrat dan lembaga atau organisasi bawahannya.

Kepada orang-orang di sekitarnya, dia juga sering menunjukkan kedekatannya dengan pejabat tinggi, melalui foto bersama atau telepon loud speaker.

Tentu para kader Demokrat mengetahui, bahwa dia tinggal di Pondok Indah. Sebuah perumahan yang menunjukkan siapa jati diri penghuninya: pengusaha kaya atau pejabat tinggi. Dua ciri dimiliki Bunda Putri sekaligus, sehingga tak salah kader Demokrat menyimpulkan dia orang berpengaruh di Demokrat dan dekat SBY.

Kalau orang Demokrat saja menyimpulkan demikian, maka wajar saja jika petinggi-petinggi partai koalisi pemerintahan SBY-Boediono, juga menganggap demikian. Posisi mereka yang rentan membutuhkan tautan kuat. Setidaknya, mereka membutuhkan informasi akurat tentang apa maunya SBY, sehingga mereka bisa bersikap tepat. Di sinilah Bunda Putri bisa jadi pegangan.

Mungkin Bunda Putri tidak tahu pasti apa yang dimaui SBY, sebab dia tidak pernah, atau setidaknya jarang bertemu SBY. Dia bukan tempat SBY curhat. Tapi dari pergaulannya dengan orang-orang Demokrat, dia bisa memperkirakan apa yang dimaui SBY.

Informasi atau perkiraan informasi atas maunya SBY itulah yang dijual Bunda Putri kepada petinggi-petinggi partai koalisi. Petinggi PKS yang posisinya nyaris terpental, tentu mempercayainya, karena tidak ada sumber lain yang dapat dipercaya.

Bahkan kalau saja Bunda Putri berterus terang bahwa apa yang disampaikan tentang pergantian kabinet hanya perkiraan, petinggi PKS tetap mempercayainya, karena itu satu-satunya informasi A-1.

Dalam politik penuh rahasia, ketidakjelasan asal-usul Bunda Putri, justru semakin meyakinkan bahwa Bunda Putri adalah kepercayaan SBY. Tidak mungkin kan orang kepercayaan menunjukkan diri seperti menteri.

Dengan demikian, sesungguhnya petinggi PKS yang menempatkan Bunda Putri sebagai orang penting, kepercayaan SBY, bahkan utusan SBY, sebagai akibat tidak ada orang lain yang mereka bisa percayai. Padahal secara politik psikologis mereka butuh orang yang bisa dipercayai. Jadi, Bunda Putri itu ibarat patung Tuhan dalam cerita Nabi Ibrahim.

Informasi juga yang sesungguhnya dijual oleh Akil Mochtar kepada pihak-pihak yang berperkara di MK. Sebagai hakim konstitusi, Akil sadar dirinya tidak bisa semena-mena memenangkan atau mengalahkan pihak tertentu. Selain harus menghadapi fakta persidangan, Akil juga harus menghadapi hakim-hakim konstitusi lain.

Tapi Akil tahu psikologi politik calon kepala daerah yang berperkara di MK. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa pakai uang untuk memburu jabatan, sehingga mudah saja terlibat jual beli informasi perkara.

Sebagai hakim yang menyidang perkara, Akil jelas tahu siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Dia cukup menghubungi orang yang akan menang, dan memastikan informasi akan adanya kemenangan itu. Tapi pada saat menyampaikan informasi itu, Akil menjamin seakan keputusan kemenangan itu merupakan usahanya.

Jadi, sesungguhnya Akil tidak menjual putusan tentang pemenang sengketa pilkada, tetapi informasi tentang putusan. Calon kepala daerah bersedia membayar mahal informasi itu karena mereka terobsesi kemenangan.

Mereka sudah terlanjur keluar banyak uang dalam proses pilkada: membeli pencalonan ke partai politik, membeli suara ke pemilih, dan membeli perubahan hasil penghitungan suara ke penyelenggara. Karena itu, kalau kini juga membeli (informasi) putusan ke Akil, ya memang sudah menjadi bagian dari langkah pemenangan.

Jadi, peran Bunda Putri dan laku Akil Mochtar sesungguhnya bagian dari aksi tipu-tipu para politisi. Siapa menipu, siapa tertipu, tidak begitu jelas. [tts]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini