Penyampai Pesan untuk Penyandang Disabilitas

Sabtu, 15 Januari 2022 06:02 Reporter : Darmadi Sasongko
Penyampai Pesan untuk Penyandang Disabilitas Meilisa Trisetya Arum, juru bahasa isyarat. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Meilisa Trisetya Arum berdiri di barisan depan, sederet dengan para perwira Polresta Malang Kota. Posisi berdirinya di ujung paling kiri dengan sesekali memperhatikan arah sumber suara.

Mungkin tidak banyak yang memperhatikan kehadiran Arum, kecuali sejumlah jurnalis yang sesekali menyorotkan kamera ke wajahnya. Namun bisa dipastikan, Arum selalu hadir di posisinya setiap kali digelar pers release.

Arum adalah juru bahasa isyarat yang bertugas sebagai penerjemah setiap pers release di Polresta Malang Kota. Ia sengaja dikontrak guna menyampaikan pesan atau berita kepada masyarakat penyandang disabilitas bisu dan tuli.

"Saya biasanya dikirimi teks untuk dibaca-baca dulu, terus besoknya langsung aja," kata Arum saat ditanya persiapannya setiap kali menjadi juru bahasa isyarat di Mapolresta Malang Kota, Rabu (12/1).

Sebelum 'beraksi', Arum merasa harus mengetahui isi dan konteks materi yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat. Sehingga dalam benaknya sudah tersimpan bayangan kosa isyarat yang akan dipakai untuk menjelaskan materi tersebut.

"Kayak tadi kan tentang penganiayaan, nah ketika sudah siap bahan-bahannya kita pelajari, nanti ketika dibacakan berita atau press releasenya langsung ada gambaran. Selanjutnya mengalir saja," sambungnya.

Kalimat demi kalimat diterjemahkan dalam bahasa isyarat, termasuk pertanyaan para jurnalis. Setiap pesan berusaha disampaikan agar dapat dipahami para penyandang bisu dan tuli yang menyaksikan gerakan tangan dan gesturnya.

"Kalau ekspresi itu setiap orang punya ekspresi yang berbeda-beda, otomatis saja. Tapi memang waktu awal-awal masih kagok gitu, malu juga kadang-kadang muka jadi tidak tertata, lucu gitu ya, lama-lama biasa," ungkapnya.

meilisa trisetya arum juru bahasa isyarat
©2022 Merdeka.com

Gerakkan bahasa isyarat, kata Arum memang berfokus pada gerakan tubuh. Gestur dan mimik atau ekspresi wajah ikut mendukung setiap menerjemahkan dari bahasa oral (suara) ke bahasa isyarat.

Sehingga memang harus berani 'tampil jelek' saat berada di depan publik, termasuk saat tersorot kamera. Karena mimik dituntut mendukung gerakan tubuh agar audience memahami bahasa isyarat yang diperagakan.

"Mimiknya harus mendukung gerakan tubuhnya lebih menunjukkan atau menjelaskan, kalau nyetir mobil itu begini, kalau motor begini, kalau cepet ekspresinya kan wuss, kalau lambat kan beda. Sehingga memang harus dikoordinasi dari gestur sampai ekspresi," jelasnya sambil memperagakan dengan gerakan.

Bagi Arum mengantarkan para penyandang bisu tuli memahami sebuah pesan dari narasumber merupakan kepuasan tidak ternilai. Walaupun dengan berbagai cara harus ditempuh, agar dapat memahamkan sebuah tema pembicaraan.

"Paling berkesan itu ketika mendampingi teman tuli yang kosa isyaratnya sangat terbatas. Itu sangat ekstra menjelaskannya, harus pakai gambar, pakai gestur, sampai dia bilang 'Oooo paham'. Itu yang bikin saya alhamdulillah, puas!" aku mahasiswa lulusan 2019 itu.

Arum mulai belajar bahasa isyarat tahun 2012 dengan mengawali sebagai volunteer disabilitas di Pusat Studi dan Layanan Disabelitas (PSLB) Universitas Brawijaya (UB) Malang. Lembaga tersebut merupakan penyedia layanan untuk mahasiswa difabel agar bisa kuliah seperti mahasiswa pada umumnya atau non difabel.

Arum yang saat itu kuliah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris terpikat dan melibatkan diri sebagai volunteer di beberapa jenis disabilitas, termasuk bisu dan tuli. Tetapi menguasai bahasa isyarat dan berani tampil di depan publik baru sekitar tahun 2014.

Arum sendiri mengaku terus belajar dan kerap saling mengevaluasi dengan sesama teman seprofesi. Dia ingin memaksimalkan agar para bisu tuli benar-benar dapat menangkap dan memahami kosa isyaratnya.

Sebaliknya, Arum juga belajar dari para penyandang bisu tuli untuk memahami setiap kalimat yang diucapkan. Sampai saat ini pun disadari sebagai tantangan terbesarnya selama menggeluti bahasa isyarat.

"Karena paling sulit itu dari bahasa isyarat ke bahasa oral. Soalnya teman-teman tuli itu mereka struktur bahasanya berbeda dengan teman-teman yang mendengar, kalau kita kan SPOK (Subjek-Predikat-Objek-Keterangan) pakainya, kalau teman tuli lebih ke topik dan keterangan. Terus kosa katanya nanti susunannya tidak SPOK, tetapi lebih SOP," jelasnya.

Kalau kalimat 'Saya Makan Pisang' oleh para penyandang tuli akan disampaikan dalam pemahaman bahasanya 'Saya Pisang Makan'. Sehingga selain harus memperhatikan kosa isyaratnya, juga harus berpikir untuk memilih kata yang tepat untuk penyampaiannya.

"Jadi menjurubahasakan dari isyarat ke oral, kita harus mikir juga kata-katanya. Butuh kebiasaan, butuh kecocokan sama tulinya, kalau biasanya enggak cocok tuh ekspresinya maksudnya apa? Mau ngomong apa?" ungkapnya.

2 dari 2 halaman

Peduli Difabel

Arum menyukai bahasa isyarat dan mencintai pekerjaan menjadi juru bahasa isyarat. Perannya itu dianggap penghubung, bahkan mendekatkan dengan para penyandang difabel bisu dan tuli.

"Ada kebanggaannya bisa membantu orang lain. Terus alhamdulillah, yang awalnya hanya tertarik ternyata asyik juga, tertarik di dunia ini, terus saya dapat penghasilan juga, bantuin teman-teman disabilitas," urainya.

Ia juga mengaku kerap berjumpa masyarakat yang mendadak mengajaknya berbicara lebih karena ketertarikan pada bahasa isyarat. Kemampuannya itu tidak sengaja mengundang orang lain tertarik atau ingin sekadar tahu bahasa isyarat.

Sehingga diharapkan dari sekadar tertarik, sebagian orang bersedia belajar dan mendalami, bahkan peduli pada persoalan disabilitas.

meilisa trisetya arum juru bahasa isyarat
©2022 Merdeka.com

"Apa yang membedakan kita dengan teman bisu tuli, hanya mereka tidak bisa mendengar, kita bisa mendengar. Tapi yang bisa membuat teman tuli itu bisa setara dengan kita itu bagaimana kita memperlakukan mereka, menyediakan akses dan berani berkomunikasi tentunya," ungkapnya.

Sebagai pribadi, Arum mengaku bukan sosok vokal untuk mengadvokasi para penyandang bisu tuli atau difabel yang lain. Tetapi keberadaan dan perannya dalam lingkup para difabel, membuatnya harus berbuat sesuai kemampuan yang dimiliki.

"Dalam diri saya, 'kamu yang sudah kenal saja enggak berani menyuarakan, apalagi orang lain'. Pastinya masih ada diskriminasi," bebernya.

meilisa trisetya arum juru bahasa isyarat
©2022 Merdeka.com

Banyak hal yang masih menjadi persoalan bersama menyangkut perlakuan diskriminasi dan lain sebagainya. Arum mengajak masyarakat luas untuk selalu membangun kepedulian kepada difabel lewat sikap empati dan peduli.

Wujud kepedulian itu dapat ditunjukkan sesuai dengan kapasitas personal masing-masing, tetapi secara sederhana dapat ditunjukkan lewat ajakan berinteraksi dan komunikasi. [cob]

Baca juga:
Momen Jenderal Andika Bersimpuh & Menangis, Sosok di Hadapan Bukan Orang Sembarangan
Kisah 'Superhero' Sukoharjo, Mengabdikan Hidup Menolong Sesama
Pria Bawa Motor Ngebut lalu Tabrak Pasutri, Sikapnya Usai Kejadian Justru Dipuji
Potret Tampan Taruna Akpol Muhamad Cecep, Ayah Polisi & Kakaknya Prajurit Baret Merah
Peduli Lingkungan Bersama infarm, Toko Bibit dan Perlengkapan Berkebun di Lazada
Ibu-ibu Pemobil Berhenti di Bahu Jalan Karena Sakit,Polantas Langsung Antar ke Klinik

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini