KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Pekik merdeka anak-anak Papua

Rabu, 23 Agustus 2017 06:00 Reporter : Wisnoe Moerti
warga desa amdui. ©2017 Merdeka.com/Wisnoe Moerti

Merdeka.com - Perahu cepat berwarna putih dengan penggerak dua mesin telah menunggu. Bersandar di Pelabuhan Usaha Mina. Tepatnya berada di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. Ukurannya lumayan besar. Cukup buat ditumpangi 20 orang dewasa. Para penumpangnya merupakan rombongan dari Jakarta. Termasuk kami. Berencana mendatangi sebuah pulau di wilayah paling timur Indonesia ini.

Perjalanan laut lumayan panjang. Menghabiskan waktu dua jam. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah pulau. Dari kejauhan terlihat keramaian. Mulai anak-anak hingga para pace (sapaan pria Papua) dan mace (sapaan perempuan Papua). Mereka menyambut, berdiri di tepi dermaga. Tanpa alas kaki dan pakaian seadanya. Di bawah kibaran bendera merah putih.

Sambutan begitu hangat. Ada tarian. Diiringi suling dan tifa, alat musik khas Papua. Perahu pun bersandar. Kami mendarat di Pulau Betanta. Sebuah pulau kecil. Lokasinya di Kecamatan Betanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat. Perjalanan lalu dilanjutkan menuju Desa Amdui di pulau itu.

Jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIT. Nuansa hari kemerdekaan masih terasa. Kami dan rombongan datang tiga hari setelah perayaan kemerdekaan ke-72 Indonesia. Rombongan lalu digiring menuju balai pertemuan warga. Biasanya, tempat ini difungsikan sebagai pasar. Kami kembali disambut tarian. Ada 14 anak menari penuh semangat. Diiringi lagu daerah Papua. Kaki mungil mereka lincah bergerak ke kanan dan ke kiri. Sesekali mereka melempar senyum. Ada pula bocah sebaya hanya duduk manis menyaksikan penampilan mereka.

Tarian selesai. Nyanyian menjadi penampilan selanjutnya. Pace bertopi merah mengambil gitar. Suara gitar lalu mengiringi anak-anak menyanyi dengan suara lantang sambil bertepuk tangan. Semangat perayaan kemerdekaan terdengar dari suara anak-anak dan warga Papua di desa itu. Lagu Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar, pejuang nasional, menggema dan membuat warga dan kami ikut bernyanyi.

Tujuh belas Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka, Nusa dan bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia
Merdeka..
Sekali merdeka, tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia, tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap setia
Membela negara kita..

Sambutan begitu ramai. Terlihat seolah tidak ada masalah. Tertutup keceriaan dan semangat para warga. Namun, tetap saja tersimpan sebuah kekurangan. Masalah Pendidikan. Menjadi hal cukup mengkhawatirkan.

Tepat di seberang gedung pertemuan, ada sebuah rumah. Seorang guru perempuan terlihat sabar mengajar. Terfenna Olla, begitu dia memperkenalkan nama. Hanya delapan anak menjadi muridnya.

Ketika proses mengajar, dia menegur salah seorang murid perempuan. "Kenapa tidak belajar?"

"Tidak ada kertas," jawab anak itu. Sambil tersenyum Terfenna langsung mengambil secarik kertas lalu memberikannya. Lantas dia memegang tangan anak itu. Tangannya membimbing untuk menulis.

Terfenna satu-satunya guru mengajar anak-anak PAUD Desa Amdui. Total dia mengajar hingga 54 anak.

Sedangkan di SD YPK Betlehem, masih berada di desa itu, hanya ada lima guru. Tidak ada sekolah menengah pertama (SMP) maupun sekolah menengah atas (SMA). SMP dan SMA hanya ada di distrik Betanta. Para murid harus menyeberang pulau.

Setiap pukul 7 pagi hingga 10 pagi, Terfenna mengajar para muridnya. Itu dilakoninya sejak 2009 dan sukarela tanpa bayaran. Dia memanfaatkan fasilitas seadanya. Jangan membayangkan adanya gedung sekolah mewah layaknya di beberapa kota besar Tanah Air. Tak ada gedung sekolah. Hanya memanfaatkan tempat ibadah. "Kita pakai gereja tua."

Sambil berbincang dengan kami, Terfenna membimbing anak-anak. "Ayo mana gambarnya," kata Terfenna pada seorang bocah lelaki bernama Ona, memiliki cita-cita menjadi polisi.

Selama ini, Terfenna hanya mengajar anak-anak PAUD menggambar dan berhitung. Memperkenalkan mereka pada angka dan huruf. Sedangkan untuk murid SD, mulai diajari membaca dan menghafal. "Sesuai kekurangan kami," ucapnya lirih.

Dia sadar betul perhatian pemerintah masih sangat kurang. Terutama buat para pelajar di kampungnya. Namun, semangatnya tak pernah padam. Keinginannya besar. Ingin memerdekakan anak-anak dari kebodohan. Di tengah keterbatasan, mereka tetap harus sekolah. Meski harus diakui kerap kewalahan mengasuh 54 anak, bercerita mengeluh sambil mengangkat kedua tangannya.

Kondisinya kali ini bisa dikatakan lebih baik. Para anak-anak Desa Amdui bisa belajar tiap malam. Di bawah sinar terang bohlam pasokan listrik tenaga surya. Semua berkat dorongan dia bersama rekan di kampungnya, Killion Manggara. Sehingga punya peran besar untuk masa depan anak-anak dan warga kampungnya. Terutama merdeka dari gelap gulita. Menjadi terang benderang.

Tiga tahun lalu, Killion bersama Trefenna, paling bersemangat membuat proposal. Meminta pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kampungnya. Ditemani kerabatnya, Killion Manggara mengajukan surat permohonan pada pemerintah agar kampungnya terang benderang. Dia juga mengikhlaskan tanahnya untuk pembangunan PLTS, meski tanpa ganti rugi sepeser pun.

"Karena saya orang kampung sini, saya buat untuk kampung saya, untuk anak cucu. Jadi kalau ada orang kampung bilang itu (ada listrik) bukan karena proposal, saya rasa sedih. Saya terpukul, seperti teriris sembilu," ungkap Killion.

Killion hanyalah pensiunan guru SD. Keinginannya menghadirkan listrik di wilayahnya terinspirasi petuah Presiden Amerika Serikat John F Keneddy. Petuah itu dijadikan pegangan untuk memerdekakan kampungnya dari kegelapan.

"Jangan saya tuntut apa yang negara buat untuk saya, tapi apa yang saya buat untuk negara. Dan apa yang saya buat untuk kampung saya," ucap Killion. Petuah John F Keneddy itu membuatnya terus bersemangat. Hingga akhirnya listrik hadir di kampungnya. Sebuah desa di pulau kecil berada di ujung timur Indonesia. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.