Pekerjaan kotor dan permukiman tak lazim

Senin, 25 Juli 2016 09:02 Reporter : Marselinus Gual
Pekerjaan kotor dan permukiman tak lazim manusia gorong-gorong. ©2016 merdeka.com/marselinus gual

Merdeka.com - Dua buah majalah dewasa, buku kumpulan tasawuf amanah, kartu remi, dan sebuah cermin mini teronggok begitu saja di atas sebuah kotak coklat. Pemiliknya, Aleks Sander (42) sibuk menyapu air hujan yang mulai menggenang lantai kamarnya yang sempit.

Sore pekan lalu merdeka.com berkesempatan melihat kehidupan Aleks dari dekat. Saat hujan turun dengan derasnya dan air mulai masuk ke biliknya melalui lubang di antara pipa PDAM dan jembatan, Aleks tetap tenang. Meski sudah ditutupi terpal di atasnya, bilik sempit itu tak luput dari air hujan.

Aleks adalah salah satu dari puluhan penghuni bilik beton di bawah jembatan penyangga pipa air milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

manusia gorong gorong

Sudah beberapa tahun terakhir Aleks mendiami celah sempit tiang penyangga saluran pipa PDAM. Sejak berpisah dari istrinya, Aleks mencoba bertahan hidup di ibu kota dengan cara berdagang bir dan minuman ringan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Aleks menjadikan celah sempit itu sebagai titik balik hidupnya yang kelam. Di masa mudanya, Aleks terkenal sebagai pencopet dan penodong. Tapi dia memiliki harapan bisa diterima di lingkungan masyarakat. Salah satu caranya mencari pekerjaan halal.

"Saya sudah melamar sebagai tukang sapu jalan dan pembersih sampah di kali, tapi jawabannya iya iya saja. Jujur, saya sudah capek dengan pekerjaan kotor, saya ingin melakukan hal yang baik," katanya.

Aleks mengaku pernah diminta tinggal bersama putri sulungnya yang sudah menikah. Namun rasa malu dan tidak ingin membebankan anaknya itu membuat dia bertahan di sempitnya bilik beton. Di tempat ini Aleks justri merasa hidup dan bebannya bisa dikurangi.

manusia gorong gorong

"Saya tidak pernah merasakan namanya kebahagiaan dalam hidup tapi di sini saya lebih bebas dan nyaman," ujar ayah dari tiga orang anak ini.

Aleks sadar betul bahwa dirinya tinggal di tempat yang tidak sesuai peruntukannya. karena itu dia siap angkat kaki jika digusur pemerintah daerah. Hanya saja syaratnya dilakukan dengan baik, bukan dengan kekerasan.

"Selagi diperbolehkan ya kita tempatin. Kalau saya enggak pernah mengadakan perlawanan. Saya enggak bodo kok. Pemerintah kan punya hak. Kita harus tahu siapa kita, apa pekerjaan kita. Saya bilang, saya ini Aleks. Pekerjaan saya serabutan dan saya tinggal di tempat yang tidak lazim. Jadi, cap-nya sudah jelas, (saya) orang tidak benar. Jadi buat apa kita mengaku benar."

Ketua RT05 Kelurahan Kota Bambu, Palmerah, Jakarta Barat, Hidayat menuturkan, keberadaan mereka dianggap meresahkan karena sering melakukan pencopetan dan penodongan. Selain tidak terdata, keberadaan mereka, dianggap merusak estetika mengingat kawasan itu seharusnya bebas penghuni liar dan sering dirazia petugas.

"Ya meresahkan juga, mereka sering copet. Saya yang tangani ke sana," jelas Hidayat. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini