Pekan terakhir Djarot pimpin Jakarta

Senin, 16 Oktober 2017 06:00 Reporter : Anisyah Al Faqir, Rendi Perdana
Ruang kerja Djarot. ©2017 Merdeka.com/Rendi Perdana

Merdeka.com - Cuaca Sabtu malam di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, tengah mendung. Angin berhembus lumayan kencang. Suara geluduk mulai terdengar samar dari kejauhan. Hiruk pikuk masyarakat terlihat asyik bernyanyi dan bergoyang. Menikmati penampilan penyanyi legendaris, Titiek Puspa, di atas panggung. Tepat di bawah Patung Pembebasan Irian. Mereka bersenang-senang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Seorang pria akhirnya tiba dari belakang panggung. Turun dari mobil dengan pengawalan. Memakai kemeja putih dengan dasi merah dan berbalut jas dan celana panjang hitam. Kedatangannya disambut istimewa. Memakai tarian adat Dayak khas Kalimantan. Perjalanan menuju acara sempat terhenti. Melayani pertanyaan para pewarta berita. Tak lama, dia melanjutkan menuju tempat VIP.

Dia adalah mantan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat. Tengah menghadiri acara Kaleidoskop dan Terima Kasih Gubernur 2012-2017. Gelaran ini diselenggarakan para pendukung Basuki T Purnama ( Ahok)- Djarot di Pilgub DKI 2017. Mereka ingin merayakan perpisahan dengan para gubernur pada periode itu. Termasuk kepada Presiden Joko Widodo, sebagai mantan gubernur DKI Jakarta.

Selama berjalan menuju tempat VIP, Djarot terus melambai tangan, memberi salam dan senyuman kepada massa pendukungnya. Hingga naik ke atas panggung khusus penonton VIP. Dia juga didampingi istrinya, Happy Djarot. Malam itu Happy terlihat glamor. Dengan balutan kebaya warna emas. Dalam acara itu, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi turut hadir. Mendampingi Djarot ikut menyapa massa.

Perhatian massa dalam acara itu sempat terpecah. Lokasi panggung tamu VIP berada di sebelah kiri dari panggung utama. Titiek Puspa masih melanjutkan nyanyian. Malam itu dia membawakan dua lagu berjudul 'Apa-apanya Dong' dan 'Jatuh Cinta'. Sebagian masih asyik menikmati penampilan Titiek Puspa, namun lainnya banyak menyapa Djarot. Massa malam itu mayoritas merupakan kaum ibu. Di atas panggung tamu VIP, Djarot berdiri, menyapa para pendukungnya. Melambaikan dua jarinya ke udara.

Lebih kurang 15 menit kemudian, politisi PDIP itu diminta naik ke panggung utama. Berukuran lebih besar. Di temani Prasetyo di sebelah kiri dan Titiek Puspa di sisi kanan. Berdiri dekat bibir panggung. Lagi-lagi lambaian dua jari ke udara dilakukan Djarot. Sorak-sorak massa makin menggila. Lambang dua jari tak lagi gambaran pasangan calon nomor urut 2. Bagi pria 55 tahun itu, arti dua jari adalah perdamaian. "Kampanye sudah selesai, sekarang salam damai, Peace!" kata Djarot kepada pendukungnya.

Pada 14 Oktober 2017, merupakan hari terakhir Djarot menyandang status gubernur. Sekaligus pidatonya terakhir. Malam itu dia habiskan bersama para pendukungnya. Termasuk meminta para massa mendoakan Ahok. Sebab tengah ditahan setelah terbukti bersalah melakukan pelecehan agama. Dia juga meminta para pendukung terus mengawal dan mengontrol pemerintahan ibu kota di tangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam lima tahun ke depan.

Selain untuk merayakan perpisahan, acara ini sekaligus menjadi momen para relawan Ahok-Djarot mendeklarasikan dukung Jokowi sebagai presiden dua periode. Dalam kesempatan ini Djarot juga meminta para pendukungnya berjuang lagi di 2019. Di mana itu merupakan waktu Pemilu Serentak. Termasuk memilih presiden.

"Terima kasih dan kita tetap berjuang untuk Indonesia. 2018, 2019 kita berjuang lagi untuk Indonesia. Merdeka! merdeka!" ujar Djarot. Sebelum menutup pidatonya, dia menyampaikan bakal menemui Ahok pada esok hari dan bakal menyampaikan salam para pendukungnya.

Kami mengikuti kegiatan Djarot sebelum melepas jabatan. Hari demi hari. Bahkan sepekan sebelum acara puncak di Lapangan Banteng. Kami sempat pula melakukan pertemuan khusus pada hari Minggu, 8 Oktober lalu, di rumah dinas gubernur Jalan Taman Suropati No.7, Menteng, Jakarta Pusat.

Kami berbincang di balkon halaman belakang rumah dinas. Bergaya klasik. Kami disuguhi teh hangat. Djarot tiba. Bajunya belum diganti. Setelan batik lengan panjang dan celana hitam masih dipakai. Hari itu, Djarot empat agenda Gubernur. Dimulai sejak jam 6 pagi. Mulai di Tugu Proklamasi untuk melepas kegiatan lari bersama memaknai sejarah. Setelah itu menghadiri acara Pencanangan dan Sosialisasi penataan trotoar kawasan Thamrin-Sudirman di Bundaran Hotel Indonesia.

Kemudian Djarot melanjutkan kegiatan peresmian Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor melalui Bank DKI, BNI, BTN dan Bank Bukopin di Silang Monas Barat. Hingga diakhiri agenda Memberikan Pengarahan Pada Gladi Bersih Peresmian Mal Pelayanan Publik di Gedung Dinas Teknis Kuningan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

"Harus diselesaikan sekarang, kalau enggak kapan? Sudah tidak ada waktu lagi," kata Djarot santai kala itu kepada merdeka.com.

Banyak cerita disampaikan ke kami. Termasuk rencana setelah tak lagi berkantor di Balai Kota Jakarta. Djarot menceritakan keinginannya memboyong keluarga untuk liburan. Mereka memilih destinasi di Labuan Bajo dan Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Dia tak akan kembali ke Blitar. Usai liburan nanti, Djarot tetap tinggal di Jakarta. Bersama anak istrinya. Alasannya karena buah hatinya sudah bisa beradaptasi. Bahkan juga bersekolah di ibu kota.

Selain itu, setelah tak lagi menjabat sebagai gubernur akan kembali mengenakan seragam partainya. Apalagi kini tengah memasuki Pilkada Serentak putaran ketiga dan menjelang Pemilu Serentak 2019. Dia juga berpesan agar menjalani hidup dengan bahagia.

"Hidup itu yang jangan dibuat susah gitu loh, dijalani saja dengan senang," kata Djarot. Ucapan Djarot sekaligus mengakhiri pertemuan. Kami menutup pertemuan hangat itu dengan berfoto bersama.

Selama empat hari setelah pertemuan dengan kami, banyak agenda menanti Djarot. Dalam masa tugas terakhir, dia sempat bertemu dengan Kedutaan Besar Thailand pada Senin, 9 Oktober 2017. Mereka membahas perizinan merenovasi Kantor Kedutaan Besar Thailand di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

Dia memimpin rapat pimpinan mingguan pukul 9 pagi. Hari itu merupakan rapat mingguan terakhir dengan anak buahnya. Tak ada suasana berbeda. Rapat digelar di lantai 2 Balai Kota. Djarot memilih ruang kerja wakil gubernur DKI Jakarta. Sementara ruang kerja gubernur dibiarkan kosong. Setelah dilanjutkan acara peresmian. Hingga pukul 3 sore. Semua jajaran SKPD dipanggil Djarot. Menggelar pertemuan tertutup. Setelah pertemuan, dia mengaku hanya menyampaikan pesan terakhirnya kepada jajaran PNS DKI. Sekaligus memberi ucapan terima terima.

Keesokan harinya, Djarot melanjutkan agendanya. Sejak jam 8 pagi. Dia meresmikan peluncuran operasi pasar beras di pasar induk Cipinang Jakarta Timur. Lalu dua jam setelahnya menghadiri acara Peresmian renovasi Masjid Jami Al-Anwar (Masjid Angke) di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Jakarta Barat. Hari mulai siang. Djarot kembali ke Balai Kota. Acara tidak berhenti. Di sana dia melepas sekaligus memberikan arahan dan motivasi kepada Kontingen Mahasiswa Provinsi DKI Jakarta bakal mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XV tahun 2017 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Setelah itu, Djarot kemudian menghadiri rapat BKPRD di ruang rapat Blok B lantai 2. Agenda Selasa itu sampai malam. Djarot wajib hadir di Lapangan IRTI Monas, guna meresmikan secara simbolis 100 RPTRA. Semua dibangun pakai dana APBD tahun 2017 Pemprov DKI Jakarta senilai Rp 152 miliar.

Di hari itu pula, sejumlah barang di ruang kerja Djarot mulai dipindahkan. Dicicil satu per satu. Dikerjakan staf dan petugas kebersihan Balai Kota. Hari itu beberapa barang dibawa hanya beberapa stel baju ganti dan sebagian berkas dimasukkan ke dalam kardus. Semua dipindahkan memakai kendaraan dinas.

Sedangkan esok harinya, agenda Djarot hanya menghadiri satu kegiatan jam 9 pagi. Itu acara serah terima bus pariwisata dari PT Nestle Indonesia kepada PT TransJakarta di Balairung Balai Kota. Sementara pada Kamis, 12 Oktober. Djarot sudah mulai kegiatan sejak jam 9 pagi. Dia menandatangani kesepakatan bersama tentang pembentukan Mall Pelayanan Publik di Gedung Mall Pelayanan Publik, Jalan HR. Rasuna Said. Siang harinya, Djarot menghadiri banyak acara peresmian dan kerja sama hingga pukul 4 sore.

Esok harinya, selepas salat Jumat. Menjadi waktu terakhir Djarot membersihkan ruang kerjanya. Jam menunjukkan pukul 2 siang. Balai Kota DKI Jakarta terlihat semakin sibuk dengan sejumlah renovasi. Aktivitas renovasi siang itu beragam. Memperbaiki sejumlah lampu, mengecat ulang tembok, memperbaiki lainnya sehingga terlihat baru. Maklum. Sebentar lagi akan dilantik gubernur baru DKI Jakarta.

Kami lantas menuju ke ruang kerja Djarot di lantai 2. Siang itu sang gubernur tengah tak di kantor. Menurut informasi kami dapat di sana, Djarot sedang melihat rumah selepas tak menjabat gubernur DKI Jakarta. Rumah itu berlokasi di Cibubur. Sayangnya kami belum lengkap menerima informasi tempat tinggal pribadi Djarot tersebut.

Aktivitas di lantai 2 tidak kalah sibuknya dengan lantai dasar. Banyak kegiatan renovasi. Terlihat sejumlah petugas bergantian masuk ke ruang kerja Djarot sambil membawa berkas dan barang milik mantan wali kota Blitar tersebut. Kami mengamati langsung di depan ruangan Djarot. Banyak barang dibawa petugas. Mulai dari berkas, brankas, hingga televisi. Semua barang dikeluarkan dengan cara beragam. Pakai tangan kosong hingga didorong dengan troli.

Sekitar setengah jam mengamati, banyak barang dikeluarkan dari ruang kerja Djarot. Namun, kami belum mendapat izin untuk masuk ke ruangan tersebut. Hanya bisa melihat aktivitas para petugas mengangkut barang Djarot dari depan ruangannya.

Kami pun mencoba mengamati ke gedung lainnya. Arah kami berikutnya ke Gedung Balairung. Ruang kerja gubernur, tempat kerja Ahok. Kebetulan saat itu petugas membolehkan para pewarta melihat langsung ruang kerja akan diisi gubernur baru. Kami diberi kesempatan berkeliling. Mengamati sejumlah titik di dalam ruang kerja gubernur DKI Jakarta. Ada empat bagian di dalamnya. Ruang tamu, ruang kerja, ruang makan sekaligus dapur, dan tempat untuk istirahat lengkap dengan kasur dan kamar mandi.

Di samping ruang kerja Gubernur terdapat kolam ikan. Lengkap dengan air mancurnya. Terlihat beberapa petugas juga sedang merenovasi kolam ikan tersebut. Tidak ada perbaikan khusus, hanya beberapa bagian saja dicat ulang dan sebagian barang diganti baru.

Semua renovasi dikerjakan Biro Umum DKI Jakarta. Ini jelang pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Senin hari ini. Kepala Bagian Rumah Tangga Biro Umum Sekda DKI Jakarta, Rokhman Lizar, mengatakan perbaikan tersebut memang dilakukan rutin setiap tahun. Tetapi kali ini spesial. Sebab, akan tiba gubernur dan wakil gubernur baru di ibu kota.

"Prinsipnya renovasi ruangan Gubernur ini seperti perbaikan biasa," kata Rokhman di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat pekan lalu.

Dia memaparkan beberapa perbaikan dilakukan antara lain mengecat dinding ruangan, mengganti televisi dan kulkas, serta membersihkan kolam ikan di sebelah meja kerja gubernur. Lebih lanjut, kata dia, tidak ada permintaan khusus dari Tim Anies terkait interior ruang kerja.

Sekitar setengah kami diberi kesempatan berada di dalam ruang kerja Gubernur DKI Jakarta di Balai Kota. Akhirnya kami kembali menuju ke ruang kerja Djarot di lantai 2. Beberapa petugas sibuk mengangkut barang miliki suami dari Happy Farida tersebut. Kami akhirnya diberi izin masuk.

Berbeda dengan ruang kerja gubernur di lantai bawah. Ruang kerja Djarot berukuran sekitar 10 x 20 meter. Terbagi menjadi dua bagian. Di ruang belakang meja kerjanya ada ruang istirahat lengkap dengan kasur dan kamar mandi.

Siapa pun masuk ke ruang kerjanya akan disambut dengan lukisan besar wajah Djarot. Tepat di depan lukisan tersebut terdapat sofa untuk para tamu yang datang ke ruangannya. Ketika itu sejumlah foto sudah diturunkan petugas. Untuk selanjutnya di bawa ke rumah dinas.

Ada salah satu menjadi daya tarik siapa pun bila masuk ke ruang kerja Djarot. Di sebelah kanan di belakang meja makan terdapat satu foto berukuran besar. Foto tersebut adalah waktu Balai Kota DKI Jakarta menjadi lautan manusia beberapa hari setelah Ahok resmi divonis bersalah menistakan agama. Sejumlah warga berkumpul di depan Balairung sambil menyanyikan lagu Rayuan Pulau kelapa diiringi komposer Addie MS. Foto itu akhirnya diturunkan salah seorang petugas.

Sama seperti mengamati ruang kerja gubernur DKI Jakarta. Selama setengah jam kami mengamati ruang kerja Djarot. Kami pun melihat ruang istirahat Djarot di belakang ruang kerjanya. Ruangan cukup besar. Sekitar berukuran 2 x 3 meter, lengkap dengan lemari dan kamar mandi.

Setelah melihat isi ruang kerja Djarot selama menjabat gubernur, kami segera bergegas ke Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) di Jalan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Malam itu, sekitar pukul 7 malam, Djarot dijadwalkan silaturahmi sekaligus perpisahan dengan para Pegawai Pemprov DKI dan anggota DPRD DKI Jakarta. Hadir pula para tamu khusus, di antaranya Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis, Dirjen Otonomi Daerah Soni Sumarsono, Kadishub DKI Jakarta, Andri Ansyah Sekda DKI, Saefullah, dan Pangdam Jaya Mayjen Jaswandi.

Dalam pertemuan itu, Djarot mendapat kado spesial. Mendapat penampilan Ketoprak Humor. Para wayangnya bukan para artis. Melainkan para pejabat Pemprov dan Anggota DPRD DKI Jakarta. Tak jarang, pertunjukan mereka membuat gelak tawa. Wajar saja. Karena aksi mereka terbilang kaku dan terkadang lupa naskah. Sehingga mengundang tawa para penonton hadir di gedung tersebut.

Sambutan Djarot malam itu sekaligus mengucapkan terima kasih atas kerja sama para pegawai Pemprov dan Anggota DPRD DKI Jakarta. Dia mengaku sebagai kehormatan besar menjadi bagian dalam deretan gubernur DKI Jakarta.

"Saya bangga menjadi gubernur DKI Jakarta meskipun hanya sebentar. Tanggung jawabnya sangat besar," tegasnya. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.