Kuliner Pedas

Pedasnya Seblak Jeletet bikin melotot

Kamis, 23 Maret 2017 08:06 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Pedasnya Seblak Jeletet bikin melotot Sebelak Jeletet. ©2017 merdeka.com/desi

Merdeka.com - Dari sekian banyak bisnis Kuliner bertema pedas, seblak Jeletet menjadi salah satu makanan yang saat ini digandrungi. Seblak Jeletet ini memang terbukti sangat ramai. Ketika merdeka.com mengunjungi lokasi yang beralamat di Jalan Pademangan IV, Jakarta Utara itu pembeli tengah ramai mengantre. Ruko yang cukup sempit membuat pembeli mesti nunggu di luar. Bukan hanya menunggu seblaknya, namun pembeli juga menunggu tempat duduk.

Nampak yang datang dari berbagai kalangan. Mulai dari anak sekolah hingga orang-orang kantoran rela mengantre panas-panasan di luar demi semangkuk seblak Jeletet.

Makanan dengan berbagai isi seperti kerupuk, bakso, makaroni, ceker, mi, tulang ayam, dan telor itu menjadi hits karena kuah sambal yang ditawarkan sangat pedas. Seblak ini memiliki tingkatan pedas dari level 0-5. Menariknya sambal yang ditaburkan bukan menggunakan sendok makan melainkan dengan centong. Jadi untuk pembeli yang memesan seblak level satu, sambalnya satu centong. Level dua, dua centong dan seterusnya.

Menunggu tempat sampai dengan seblak dihidangkan bisa berjam-jam. Beruntung saat itu kami cuma sekitar 40 menit menunggu. Setelah 40 menit semangkuk besar seblak Jeletet siap disantap, dengan isi bakso, mie, dan makaroni. Kuah merah merona sambal nampak menggoda.

Sebagai pemula mencoba level dua. Rasa pedasnya tak usah lagi diragukan. Kuah kentalnya tidak mengurangi rasa rempah-rempah bumbu khas seblak.

Riuh obrolan pesanan dan hela napas kepedasan nyaring terdengar. Nampak cucuran keringat di wajah para pembeli. Pelayan akan mengabsen ketika makanan sudah siap. Mereka kemudian menunjuk meja yang bakal ditinggal pembeli sebelumnya untuk pengantre.

Seblak Jeletet ©2017 merdeka.com/desi


Bahkan sebelum buka pukul 14.30 WIB, banyak pengunjung sudah mengantre demi mendapat tempat duduk dan seblak Jeletet.

Hal itu diungkap oleh pemilik Murni Sari (34). Murni pun mengisahkan awal usahanya tersebut. Kata dia, memilih usaha seblak lantaran sekitar 2013 makanan tersebut belum banyak yang jual. Dia berinisiatif untuk membuka membuka usaha rumahan.

Agar berbeda dengan lainnya, Murni mencoba dengan berani menyajikan denah tingkatan pedas. Mulanya menjajakan seblak hanya untuk dibawa pulang atau tidak makan di tempat. Namun semakin banyak pesanan akhirnya menyewa tempat di bilangan Jakarta Utara.

Murni menuturkan, asal nama Jeletet itu pemberian dari orangtua angkatnya. Apalagi saat itu tengah musim tahu jeletot. Tapi dia berpikir tidak mungkin memberi nama jeletot karena itu sudah diklaim orang.

"Jeletet itu pedesnya ngagetin dan nagih-nagih," ujarnya berbincang dengan merdeka.com, Senin (20/3).

Dalam sehari, seblak Jeletet menghabiskan sekitar 15-20 kg cabai. Murni pun tak menaikkan harga seblak meski harga cabai saat ini mahal. Satu mangkuk seblak minimal tiga item semisal bakso, makaroni dan ceker. Per item itu dibanderol antara Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu.

Sebelak Jeletet ©2017 merdeka.com/desi

Murni sengaja memberikan kuah pada seblaknya agar bisa dinikmati dengan kerupuk. Selain itu berkuah supaya beda dengan seblak pada umumnya. Ibu beranak tiga itu meyakini tak ada bumbu rahasia dalam seblaknya. Dia memastikan perbedaannya hanya terletak pada pedasnya.

Kata dia, meski pedas namun seblaknya itu tidak pahit serta masih bisa dinikmati. Dalam sehari omset yang dikantongi cukup tinggi. "Perhari sekitar Rp 18-20 juta," ungkapnya.

Dirinya tak menyangka omzetnya bakal tinggi. Sebab jika ingat dulu, sehari hanya membawa uang Rp 27 ribu. Ramainya penikmat seblak Jeletet membuat Murni akan membuka cabang pertama di wilayah Grogol. Dia pun mengatakan bahwa pelanggannya tidak hanya dari Jabodetabek, melainkan banyak yang datang dari luar kota seperti Lampung, Medan, Yogyakarta.

Terkenalnya seblak Jeletet Murni tidak lepas dari bantuan media sosial. Dia dibantu dengan saudaranya rajin memposting seblak Jeletet di Instagram. Dari situ banyak pembeli penasaran dan ramai berdatangan.

Murni kini memiliki karyawan 11 orang. Padahal kata dia, dulu hanya dibantu oleh sang suami. Satu orang karyawan digaji Rp 2,5 juta per bulan netto.

Lantaran banyak peminat, seblak Jeletet ini buka setiap hari mulai pukul 14.30 WIB - 21.30 WIB. Jika libur Murni akan mengumumkan di IG. Libur seblak Jeletet sesuai permintaan para karyawannya.

Di balik hitsnya seblak Jeletet, ada beberapa pengunjung sampai pingsan karena pedasnya makanan itu. Menurut Murni, mereka memesan seblak level 5 dengan kondisi perut kosong. Oleh karena itu, Murni menyarankan untuk memesan level 2 bagi pecinta pedas yang baru pertama kali mencoba seblaknya.

Ke depan dia pun bercita-cita ingin banyak membuka cabang. Obsesinya pun ingin setiap daerah atau kota bisa buka cabang seblak Jeletet. "Saya bilang ke adik angkat saya setelah buka di Grogol, buka di Bekasi abis itu Tangerang terus Bandung," ujarnya. [bal]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini