Pawang Buaya di Blanakan 6

Pasar gelap kulit buaya masih menggeliat

Senin, 23 Maret 2015 10:06 Reporter : Pramirvan Datu Aprillatu
Pasar gelap kulit buaya masih menggeliat Peternakan buaya Blanakan. ©2015 merdeka.com/pramirvan datu

Merdeka.com - "Sudah enggak ada yang jual kulit buaya di sini," kata salah satu pedagang sepatu berinisial Na di kawasan Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Namun, berselang 20 menit dia kembali memanggil merdeka.com sembari bertanya mau membeli berapa banyak produk asli kulit buaya.

Penjualan produk kulit buaya asli memang kucing-kucingan. Beberapa pedagang memang samar-samar menjual kulit hewan melata purbakala tersebut. Pedagang berinisial Na tadi, cukup takut menawarkan produk kulit buaya tanpa izin tersebut.

"Semua barangnya ada di rumah, enggak kita bawa, bahaya," ujarnya di lokasi, pekan lalu. Namun dia menawarkan ikat pinggang, tas wanita, sepatu asli kulit buaya dengan mengirim foto melalui pesan Blackberry.

Harganya terbilang mahal dibandingkan kulit binatang pada umumnya. Buat ikat pinggang, dia menghargai sampai Rp 1,8 juta. Lalu buat dompet wanita ukuran 10x10 sentimeter dilabeli Rp 3 juta. Sepatu pria harganya Rp 5 juta. Semua produk kulit buaya merupakan asli lokalan. Buat kualitas sendiri, produk lokalan lebih baik dibandingkan kulit dari luar negeri.

Untuk membedakan produk kulit buaya asli dengan palsu cukup mudah bagi orang awan. Kulit buaya asli terlihat keras namun tekstur kulitnya halus. Apalagi, produk kulit buaya terbagi menjadi dua bagian. Pertama bagian perut dan punggung buaya. Bagian punggung buaya dengan tekstur kulit keras dan mempunyai permukaan unik ciri khas kasar. "Ada totol-totolnya, tapi dipencet lembek," kata Na.

Merdeka.com sempat terkecoh dengan beberapa produk kulit buaya asli yang ditemui di Pasar Ular, Plumpang, Jakarta Utara. Dengan mengklaim kulit asli, ternyata bahannya jauh berbeda dengan milik Na. "Kalau kebanyakan bahan plastik biasa dibilang sintetis," ujar Na.

Beberapa pasar-pasar pakaian di Jakarta memang sudah jarang ditemukan produk asli kulit buaya. Semuanya menjual secara gelap sebab ada larangan pemerintah yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosisitemnya.

Begitu juga dengan kegiatan ekspor. Produk kulit buaya dikategorikan sebagai jenis barang diawasi ekspornya. Artinya barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan oleh eksportir yang telah mendapatkan persetujuan ekspor dari Kementerian Perdagangan atau pejabat yang ditunjuk.

Barang ekspor yang diawasi adalah barang yang hanya dilakukan oleh eksportir legal, artinya telah mendapat persetujuan ekspor dari Menteri Perdagangan atau pejabat yang ditunjuk (eksportir khusus). Suatu barang diawasi ekspornya karena pertimbangan untuk menjaga keseimbangan pasokan di dalam negeri agar tidak mengganggu konsumsi dalam negeri.

Dari data badan Pusat Statistik (BPS) Nasional, ekspor komoditi dan negara tujuan dari bulan Januari hingga Desember 2013, bahan baku kulit reptil kering cuma terdapat satu negara tujuan, Hongkong sebanyak 2.500 kilogram dengan nilai USD 15.153 dan sisanya untuk bahan baku kulit basah dengan negara tujuan Singapura sebanyak 986 kilogram dengan nilai USD 62.410.

Di tempat terpisah, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengaku khawatir dengan penjualan produk satwa liar ini. Apalagi dalam nominalnya sanggup mencapai triliunan saban tahun. Kementerian juga akan mengaudit satwa liar terhadap penjualannya secara umum. Dia mengakui pemerintah memiliki kelemahan dalam sektor pengawasannya.

"Kita akan review izin dan traffic satwa liar. Kita mewaspadai itu, kita juga mengikuti perkembangannya di lapangan," ujarnya kepada merdeka.com usai menghadiri diskusi di Jakarta, kemarin. [mtf]

Baca juga:
Penangkaran buaya Blanakan memprihatinkan
Terpesona daging, kulit dan penis buaya
Buaya juga pencinta wanita
Rahasia ajian penakluk buaya
Mengenal Jack dan Baron, jawara buaya dari Blanakan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini