Konflik Papua (1)

Otonomi khusus di Papua gagal

Rabu, 19 Desember 2012 10:19 Reporter : Islahudin
Otonomi khusus di Papua gagal Ketua Persekutuan Gereja Baptis Papua Socratez Sofyan Yoman setelah acara peluncuran bukunya di kantor Komisi Nasional hak Asasi Manusia, Jakarta Pusat, Selasa (18/12). (merdeka.com/islahudin)

Merdeka.com - Pada awal Juli tahun lalu, sebuah pertemuan berlangsung di Auditorium Universitas Cendrawasih, Jayapura, Papua. Acara diprakarsai Jaringan Damai Papua (JDP) ini dihadiri sejumlah pejabat sipil dan militer, serta tokoh setempat, termasuk Ketua Persekutuan Gereja Baptis Papua Pendeta Socratez Sofyan Yoman.

Saat giliran perwakilan Kodam XVII Cendrawasih dipersilakan ke podium, suasana hening. “Saudara-saudara, kalau saya sebut kata Papua, saudara-saudara peserta menyahut dengan kata damai,” katanya memberi komando.

Yang terjadi malah kebalikan. saat aba-aba diucapkan, “Papua...,” ujarnya. Peserta yang kebanyakan dari elemen masyarakat Papua langsung menjawab serempak, “Merdeka...." Kata Papua terdengar melengking tiga kali. Sebanyak itu pula hadirin menyambut dengan kata merdeka, juga tidak kalah nyaring.

Peristiwa di atas adalah salah satu kejadian ditulis dalam buku baru Socratez Sofyan Yoman, Otonomi Khusus Papua Telah Gagal. Buku itu kemarin diluncurkan di Ruang Pleno Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Natalis Pigay, Komisioner Komisi Hak Asasi Manusia, memuji Socratez sebagai pendeta tidak pernah letih membela kemanusiaan. “Suaranya patut kita dengar. Bagi saya, dia adalah Martin Luther King dari Papua yang selalu membawa harapan,” ujarnya.

Socratez mengatakan apa yang dia tulis selama ini tentang Papua dalah bentuk bakti dirinya sebagai tokoh gereja dalam mendengarkan penderitaan rakyat Papua. “Gereja itu identik dengan rakyat dan umat. Buku ini potret kejahatan negara sejak 1960-an sampai sekarang di Papua,” ucap Socratez sambil mengangkat bukunya.

Menurut dia, otonomi khusus buat Papua selama sebelas tahun terakhir adalah keputusan politik. Dia menuding kebijakan ini juga buat melayani kepentingan Amerika Serikat, Autralia, Ingrris, dan beberapa negara Eropa langsung datang ke Papua untuk meyakinkan rakyat di sana.

Namun, pelaksanaan otonomi khusus justru menambah tingkat kekerasan di Papua. “Tidak perlu jauh-jauh mencari bukti masa lalu, 15 Desember lalu, orang beribadah ditembak,” kata Socratez.

Dia menilai tindakan aparat keamanan Indonesia di Papua seperti satpam penjaga kebun tambang Amerika Serikat, PT Freeport di Mimika. Socratez berharap pemerintah menyadari dan malu karena tidak ada kemajuan dan perubahan di Papua selain menguras sumber daya alam di sana.

“Bila otonomi khusus dianggap hadiah Natal untuk rakyat Papua sebelas tahun lalu, hari ini saya juga akan berikan hadiah Natal kepada pemerintah melalui buku ini,” ujar Socratez disambut tepuk tangan peserta. [fas]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Papua
  3. Jakarta
  4. Konflik Papua
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini