Novel Baswedan: Saya Menunggu Janji Pak Jokowi!

Rabu, 30 Januari 2019 08:00 Reporter : Tim Merdeka
Novel Baswedan: Saya Menunggu Janji Pak Jokowi! Novel Baswedan. ©2019 Merdeka.com/Didi Syafirdi

Merdeka.com - Yang kedua, dengan melibatkan tim ini penyelidik dan penyidik sebelumnya dilibatkan, pertanyaannya apakah Kapolri memang tidak ingin atau tidak peduli dengan terjadinyaabuse of process, dan itu rekomendasi Komnas HAM?

Ketika tidak peduli bagaimana kita bisa percaya, apakah kita yakin bahwa tim ini akan memeriksa dirinya sendiri. Itu yang tidak masuk akal. Jadi dari beberapa hal itu saya melihat, kok apa saya semakin tidak percaya bahwa ini digunakan untuk mengungkap. Itu yang saya pahami.

Ditambah lagi dengan beberapa kali penyampaian dari penyidiknya bahwa saya tidak koperatif. Disampaikannya begitu, saya tidak koperatif, kenapa tidak mau memberikan keterangan. Kata siapa? Saya memberikan keterangan sejak awal kejadian sampai kemudian selama di rumah sakit setelah di rumah sakit saya keluar, keterangan-keterangan selama itu yang saya berikan dituangkan dalam BAP dan jumlahnya sekitar sembilan sampai 10 lembar. Tidak koperatif dari mana?

Pemahaman inilah yang membuat saya heran, ternyata maksud tidak kooperatif adalah mereka menganggap saya tidak mau menceritakan nama jenderal. Saya pernah menunjukan surat, tapi surat itu bukan dari saya. Dari orang lain.

Yang terkait dengan itu juga saya diminta motif. Nah, di situ saya yang menjadi bertanya, begini ketika penanganan pertama dilakukan. Saya awalnya support. Setelah berjalan sekian lama, saya dapat informasi dan belakangan saya mengkonfirmasi bahwa sidik jari yang harusnya ada, sudah tidak ada. Informasi yang saya peroleh dihilangkan dengan cara sengaja.

Maksudnya sidik jari terduga pelaku?

Iya. Di gelas dan di botol, soal itu disengaja atau tidak, saya menduga itu disengaja, saya meyakininya begitu.

Yang kedua CCTV. Di mana diyakini oleh pelaku itu lewat CCTV itu pernah digunakan oleh polisi untuk mengungkap perampokan yang terjadi terhadap tetangga saya dua minggu sebelum kejadian saya diserang. Itu tidak diambil. Artinya, kenapa saya katakan pernah digunakan, artinya polisi tahu di situ ada CCTV dan kualitasnya bagus. Dia (polisi) tahu. Dan ada CCTV lainnya yang mereka datangi dan enggak ada yang diambil.

Yang ketiga, ada beberapa bukti elektronik yang tidak digunakan dan sengaja dibiarkan hilang dari hal-hal itu. Saya meyakini, sebagaimana saya pernah sampaikan, bahwa ini tidak akan pernah diungkap. Itu benar.

Lalu ketika saya didesak untuk menyatakan jenderalnya siapa, motif jenderalnya itu apa, dan lain-lain, saya justru malah curiga ini akan dipakai untuk mengungkap atau untuk menghapus jejak secara sempurna.

Jadi kenyataan yang menyerang saya, (menyebut) tidak kooperatif, meminta saya untuk membuktikan, itu logika yang enggak masuk akal. Mana pernah penyidik meminta korban membuktikan itu. Konyol!.

Terus ditambah lagi, ternyata tim ini bertitik tolak untuk bekerja itu dari keterangan saya. Mau minta keterangan saya dulu. Di situ saya tambah curiga.

Harusnya secara logika begini, kalau ada tim profesional terus dia dibilang ada permasalahan begini, terus dia diminta untuk melakukan pemeriksaan segala macam fakta-fakta dan data-data lain, tentu dia akan berpijak pada rekomendasi Komnas HAM dong.

Ketika ternyata di Komnas HAM itu disebut ada abuse of process, kenapa mereka tidak tertarik memeriksa itu dari awal. Kenapa harus dari saya dulu, yang saya tidak melihat langsung pelaku meskipun saya tahu lah fakta-fakta abuse of process itu. Saya tahu, cuma mereka juga tahu lebih jauh dari hasil pemeriksaannya Komnas HAM. Dan dari saksi-saksi yang lain.

Di situ yang saya melihat, kok kejanggalannya sangat banyak. Dan, saya berupaya berpikir sebaliknya, sulit karena mengakali akal sehat.

NOVEL BASWEDAN halalbihalal Liputan6.com/Johan Tallo


Pernyataan Anda tentang 'memeriksa diri sendiri' terkait tim ini apa maksudnya?

Katakanlah begini. Penyidiknya sekarang masuk di tim itu. Penyidiknya dikatakan dalam rekomendasi Komnas HAM melakukan abuse of process. Terus mereka disuruh meriksa terkait dengan rekomendasi Komnas HAM.

Kalau bukti elektronik tadi apa yang disampaikan kepolisian?

Ada beberapa saya enggak bisa sampaikan dulu ke publik

Bisa disebutkan salah satunya?

Ada beberapa hahaha (tertawa). Kalau disampaikan, nanti hapusnya makin sungguh-sungguh. Adalah beberapa bukti elektronik dan bukti elektronik itu adalah bukti yang lazim digunakan dalam pembuktian.

Setahu Anda, kepolisian sudah pegang bukti elektronik itu?

Harusnya pegang, tapi sekarang sudah hilang katanya.

Apakah dengan mendeteksi sinyal?

Bisa di antaranya pakai itu. Jejak digital saya bisa tahu bahwa jam sekian saya habis dari sini. Ya banyak cara. Kalau saya banyak bicara, (bisa) dipakai buat pelaku kejahatan di luar untuk sembunyi hahaha (tertawa).

Dari pernyataan itu, artinya seorang Novel Baswedan meyakini siapapun Kapolri ke depan bakal sulit menuntaskan kasus penyerangan terhadap Anda?

Saya yakin ini ada belenggu kepentingannya. Belenggu kepentingan ini yang membuat enggak bisa tuntas.

Setelah kasus penyerangan itu terjadi, siapa saja pimpinan kepolisian yang menemui Anda?

Saya ketemu Pak Tito (Kapolri) juga ketemu Pak Iwan bule (M Iriawan/mantan Kapolda Metro Jaya).

Benar tidak bahwa M Iriawan saat itu menyampaikan kepada Anda untuk mendorong terbentuknya tim TGPF?

Sebetulnya orang yang berpikir waras, berpikir untuk pasti, hanya orang yang tersandera dengan kepentingan-kepentingan lah yang tidak mau dibentuk TGPF oleh perkara ini. Kenapa saya katakan seperti itu? Karena serangan kepada saya ini jelas serangan terkait kepada KPK. Kalaupun ada yang tidak mengatakan itu, kita lihat bahwa ini adalah serangan kesekian kali kepada KPK dan ini dilakukan runtut dan semua dilakukan terkait dengan perkara-perkara termasuk. Terakhir serangan pimpinan KPK.

Jadi kalau bicara TGPF itu perlu enggak? Perlu dong. Sekarang malah lebih penting mana perkara saya yang diungkap atau perkara teman teman lainnya? [ang] SELANJUTNYA SEBELUMNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini