Nestapa Merawat Bejibun Pasien Corona

Senin, 7 September 2020 10:34 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Nestapa Merawat Bejibun Pasien Corona Ruang isolasi pasien corona di RSUP Persahabatan. ©2020 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Hana Puspita hanya berbaring di dalam ambulans. Terdengar pekik keras suara sirine. Sejumlah petugas memakain alat pelindung lengkap ada di hadapannya. Menjaga kondisi Hana hingga tiba di Rumah Sakit Tarakan, Jakarta.

Menjelang petang mereka tiba. Hana segera dilarikan ke ruang ICU. Dalam keadaan sadar, pikirannya berkecambuk ketika melihat kondisi nyata di depan mata. Padat. Itulah kesan pertama ibu dua anak ini.

Dalam satu ruangan, terdapat sekitar 10 orang dengan kondisi yang memprihatinkan. Jarak tempat tidur antar pasien pun berdekatan. Membuat dirinya sempat tak nyaman.

"Jarak antara tempat tidurku dan tempat tidur sebelahnya rapat sekali itu rapat sekali. Karena saking penuhnya," ungkap Hana bercerita kepada merdeka.com, pekan lalu.

Tak banyak petugas medis hadir di ruangan itu. Jumlahnya terbatas jika dibandingkan dengan jumlah pasien. Diakui Hana, kondisi itu membuat tak semua kebutuhan yang disampaikan kepada tenaga medis langsung dipenuhi dengan cepat.

Banyak perhatian masih diberikan kepada pasien yang lebih membutuhkan. Terutama kepada pasien sudah kritis. Dengan jumlah personel terbatas, para dokter dan perawat berjuang merawat intensif.

Kondisi itu membuat Hana prihatin terhadap upaya yang sedang dijalankan para petugas medis. Alih-alih marah atau protes, Hana justru jatuh kasihan pada dokter dan perawat yang sedang bertugas. Dia memahami bahwa para tenaga medis di ruangan jumlah terbatas.

"Aku enggak menyalahkan dokternya. Karena mereka benar-benar cuma satu dokter, beberapa suster tapi tangani 10 orang di ruangan itu. Jadi tidak cuma aku yang dikontrol. Ada yang lebih kritis jadi mereka yang difokusin," jelas dia.

Hanya semalam saja Hana menginap di ruangan tersebut. Keesokan harinya sudah dipindahkan ke bangsal Covid-19 sambil menunggu hasil tes usap.

Ruangan baru kondisinya jauh lebih baik. Ada enam tempat tidur di situ. Jaraknya sudah diatur sedemikian rupa sehingga lapang dan juga memenuhi protokol kesehatan. Selain itu, ada tenaga medis yang selalu siap melayani pasien.

Setelah hasil swab keluar dan terbukti positif Covid-19, Hana kemudian dipindahkan ke ruang isolasi. Di situ dia ditempatkan dalam satu ruangan khusus untuk menjalani perawatan.

Tanggal 18 Agustus, wanita berprofesi jurnalis ini meminta kepada dokter agar diizinkan pulang. Kondisi kesehatan yang kian pulih menjadi alasan. Tapi dokter tak segera memberi izin. Hana harus diperiksa dulu.

Hasilnya pun membaik. Hari itu dia akhirnya kembali ke rumah. Bertemu suami dan dua anaknya. Meski begitu, masih ada kabar buruk menimpanya. Sang Ayah ternyata sudah dimakamkan. Meninggal dunia dikarenakan terinfeksi corona. Sengaja keluarga besarnya tidak ada yang memberi tahu.

Memang dalam penanganan Covid-19 membutuhkan pelayanan prima. Salah satunya dari sisi ketersediaan tenaga medis dan ruang perawatan bagi pasien. Hal tersebut yang perlu diperhatikan pemerintah, baik pusat dan daerah.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyebut sudah 100 dokter gugur akibat wabah virus Corona per 30 Agustus 2020. Data mereka menunjukkan bahwa per hari bisa satu dokter meninggal akibat covid-19.

Ketua Tim Mitigasi PB IDI Adib Khumaidi bahkan menyoroti bahwa rasio kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan di Indonesia termasuk tertinggi di dunia dibandingkan di negara lain. Bahkan masuk tiga besar, setelah Rusia dan Mesir. Sekaligus tertinggi nomor satu di Asia.

"Perlu upaya memperbaiki sistem beban kerja tenaga medis dan kesehatan serta fase istirahatnya," jelas Adib.

Baca Selanjutnya: Akhir-akhir ini ketersediaan ruang isolasi...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini