Nasib Setelah Vaksinasi

Senin, 31 Mei 2021 11:56 Reporter : Ronald, Wilfridus Setu Embu
Nasib Setelah Vaksinasi Vaksinasi Covid-19 di Indonesia. ©2021 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Teriakan Trio Fauqi Firdaus memecah malam. Membangunkan seisi rumah. Tubuhnya kesakitan. Tidak kuat menahan demam dan sakit di kepala. Keadaan terus semakin memburuk. Hingga akhirnya rasa sakit tidak lagi tertahan. Trio pun dinyatakan meninggal dunia.

Pria 22 tahun itu meninggal ketika dibawa ke rumah sakit pada Kamis siang, 6 Mei 2021. Sehari sebelumnya baru saja dia menjalani dosis kedua Vaksin AstraZeneca di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

"Sampai akhirnya dia tak sadarkan diri (dan) dibawalah ke rumah sakit, setelah dibawa selang beberapa saat ada dokter yang datang dan bilang bahwa (Trio) ini sudah meninggal dunia," ujar sang kakak, Vickih, kepada merdeka.com.

Karyawan kontrak PT Pegadaian (Persero), itu terdaftar dari 6.000 orang penerima vaksin di GBK kala itu. Dia datang bersama 500 karyawan Pegadaian lainnya.

Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) tengah melakukan investigasi terhadap kematian Trio. Komnas KIPI merekomendasikan kuburan Trio dibongkar guna melakukan autopsi untuk mengetahui keterkaitan antara kematiannya dengan vaksinasi Covid-19 AstraZeneca.

Sakit serupa pun dirasakan Abdullah Malanua, 44 tahun. Warga Bali berprofesi sebagai tukang jahit itu sudah sakit kurang lebih dari selama sepekan.

Abdullah juga merasakan sakit di kepala. Kerap muntah dan tubuhnya keringat dingin. Ada dugaan riwayat penyakit tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol. Kondisi itu dirasakan setelah mengikuti vaksinasi. Kala itu Abdullah mendapat Vaksin AstraZeneca.

"Tapi meninggalnya belum tentu karena vaksinnya," kata Kepala Dusun Batu Bintang Desa Dauh Puri Kelod, Nyoman Mardika saat dihubungi.

Sejauh ini Komnas KIPI mencatat 30 orang ditemukan meninggal usai melakukan vaksinasi Covid-19. Dari jumlah itu, 27 di antaranya menggunakan vaksin Sinovac. Sementara kasus kematian untuk vaksin AstraZeneca terdapat 3 kasus. Dua terjadi di Jakarta, dan satu lagi berada di Ambon, Maluku.

Executive Secretary ITAGI Julitasari Sundoro menyampaikan, tidak mudah untuk menentukan penyebab kematian Trio. Lantaran yang bersangkutan meninggal ketika tiba di rumah sakit. Karena itu tidak ada data medis untuk menentukan penyebab kematiannya. Karena itu, dia salah satu cara untuk mengetahui penyebab kematian yakni lewat proses autopsi.

"Dia datang ke rumah sakit sudah dead of arrival. Sudah meninggal sampai rumah sakit. Jadi tidak punya data apapun sama sekali. Bagaimana kita bisa menegakkan diagnosa," ujar Julitasari kepada merdeka.com.

Sejauh ini vaksin Astrazeneca sudah dipakai hampir 1 miliar dosis di seluruh dunia. AstraZeneca juga dinilai masih layak digunakan.

Dengan nomor bets CTMAV547, hasil uji toksisitas dan sterilitas dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Berdasarkan hasil pengujian yang, dapat disimpulkan bahwa tidak ada keterkaitan antara mutu Vaksin COVID-19 Astrazeneca bets CTMAV547 dengan KIPI yang dilaporkan.

Ketua Komnas KIPI Prof. Hindra Irawan Satari mengatakan, dari 3 kasus yang meninggal telah diketahui dua kasus. Yakni meninggal karena covid dan radang paru-paru. Sementara untuk Trio belum diketahui.

Saat ini tengah dilakukan pemeriksaan, tetapi untuk vaksinnya tidak tercemar dan tidak mengandung zat berbahaya. Berharap hasil autopsi segera keluar. Sejauh ini Komnas KIPI masih merekomendasikan AstraZeneca aman. "Memang tidak mudah menetapkan penyebabnya," ujar Hindra.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemkes, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan pemerintah terus menjamin keamanan vaksin diterima masyarakat. Kondisi saat ini harus diakui bahwa negara mengejar target kebutuhan vaksinasi sebanyak 426,5 juta dosis vaksin.

Sejauh ini sudah ada sekitar 83.910.500 dosis vaksis per 25 Mei 2021. Jumlah tersebut terdiri atas bahan baku (bulk) vaksin dan vaksin jadi.

Adapun untuk keamanan vaksin, Siti menyebut banyak negara kini tidak tebang pilih terkait merek vaksin. Mulai dari Sinovac maupun AstraZeneca dan merek lainnya. Semua merek vaksin yang akan maupun sudah didatangkan dijamin mutu keamanannya.

"Kita manfaatkan dulu yang sekarang. Memang ada yang efek lindungnya enam bulan, efek lindungnya 1 tahun. Nanti kalau berikutnya, kita barang kali bisa pilih. Bukannya dibeda-bedakan. Ya sekarang datang ini kita pakai dulu," ujar dia.

Kementerian Kesehatan pun memastikan terus memantau dan memberikan masukan terhadap pemerintah terkait penggunaan vaksin. Dengan begitu, vaksin yang sudah didatangkan tersebut, benar-benar memiliki manfaat bagi masyarakat dan bagi upaya melawan Covid-19.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat jangan takut menerima vaksinasi. Harus diakui memang ada kasus meninggal dunia usai vaksinasi. Meski begitu, belum bisa dikatakan bahwa penyebabnya akibat vaksin.

"Vaksin seperti Anda minum kopi. Setelah minum kopi masa Anda mati karena kopi. Bisa jadi karena jantung," Ketua MUI KH Muhammad Cholil Nafis kepada merdeka.com. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini