Mukjizat Tuhan lewat tangan Terawan

Senin, 9 April 2018 07:00 Reporter : Anendya Niervana, Angga Yudha Pratomo
Mukjizat Tuhan lewat tangan Terawan Dokter Terawan. ©Liputan6.com/Benedikta Desideria

Merdeka.com - Alat penyuara kuping terpasang di telinga sang dokter. Memutar lagu lawas era 80an. Sebelum melakukan tindakan. Demi mengurangi ketegangan. Potong demi potong lagu lalu ikut dinyanyikan. Di hadapan seseorang mantan pejabat tengah terlentang. Di dalam ruangan. Tertidur di atas kasur putih dalam keadaan sadar. Tengah merasakan sakit di kepala. Berharap kesembuhan segera datang. Untuk melanjutkan hidup lebih panjang.

Semprotan dingin penghilang rasa sakit dikeluarkan. Menyemprot daerah pangkal paha biar kebal. Lalu pisau bedah dikeluarkan. Menyobek kulit. Lalu memasukkan kateter hingga menuju otak melalui pembuluh darah. Tak boleh ada kesalahan sedikit. Alat itu terus menembus. Sambil memantau monitor. Mencari sumber penyakit. Sampai menemukan sebuah penyumbatan.

Melalui kateter, sang dokter lantas menyemprot cairan heparin. Sebuah cairan mampu mengencerkan darah menggumpal. Tidak butuh waktu lama. Tindakan itu membuat pasien tersebut kembali sehat. Seperti mendapat mukjizat.

Mantan pejabat itu adalah Abdullah Makhmud (AM) Hendropriyono. Mantan menteri dan pernah menjabat Kepala badan Intelijen Negara (BIN). Bukan orang sembarangan. Sedangkan dokter sedang menanganinya, yakni Mayjen dokter Terawan Agus Putranto. Jenderal TNI AD dan menjabat Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Hendropriyono masih ingat betul proses selama tindakan dilakukan dokter Terawan. Operasi itu dilakukan tahun 2013 silam. Sebagai pasien VVIP. Dirinya bahkan terkekeh-kekeh ketika Terawan malah bernyanyi. Aneh melihatnya. Menurut dia, itu trik agar Terawan tetap fokus dan tak tegang menghadapi operasi. "Lu jangan stress nanti gue mati," ujar Hendropriyono mengingatkan Terawan ketika bercerita kepada kami, Minggu kemarin.

Bertemu kami di kediamannya bilangan Senayan, Jakarta Pusat, Hendropriyono mengaku selama operasi tidak ada ketegangan. Semua dilewati Terawan dengan tenang. Walhasil, selama 45 menit tindakan keluhan pusing di kepala langsung hilang. Tetapi, usai operasi dirinya tak boleh langsung berdiri. Terawan memintanya tetap dalam posisi terlentang selama empat jam dan setelah itu diperbolehkan pulang. Adapun harga pengobatan dibayar Hendropriyono tidak mahal. Cukup menghabiskan Rp 10 juta kala itu.

Operasi selesai. Ruangan operasi dokter Terawan ternyata tidak tertutup. Di luar ruangan, keluarga Hendropriyono menyaksikan. Sampai bertepuk tangan ketika metode ala Terawan berhasil dilakukan. Masih dalam keadaan sadar, Hendropriyono dibawa keluar. Keluarga menyambut. Memberi selamat dan mendoakan terus sehat. Adapula di antara mereka masih tak menyangka. Sampai bilang, "Masih ingat saya kan?" Lalu Hendropriyono membalas sambil bercanda. "Apa sih gue masih inget."

Bagi pria kelahiran 7 Mei 1945 itu, sosok dokter Terawan bukan orang baru. Banyak pejabat sudah ditanganinya. Awalnya dia tahu setelah mengantar dua orang pejabat penting di Indonesia. Tanpa mengungkapkan nama, dia menyebut satu orang itu kondisinya sudah tergeletak di kamar mandi ketika ditemukan. Sedangkan satunya lagi dalam keadaan hampir serupa. Tetapi, tidak dalam waktu bersamaan.

Tindakan cepat harus segera dilakukan. Ketika itu dia sudah tahu tentang kabar dokter Terawan. Jabatan sang dokter saat itu masih Letnan Kolonel (Letkol). Bahkan metode belakangan dikenal sebagai digital substraction angiography (DSA) itu belum diakui secara ilmiah. Tanpa ragu pejabat tergeletak di kamar mandi itu dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto. Benar saja. Dalam waktu singkat langsung pulih kembali. Dari pengalaman itu, dirinya jadi tak ragu ketika mengalami hal serupa dan meminta keluarganya segera melarikan ke dokter Terawan.

Mantan kepala BIN tersebut pernah memberikan penghargaan khusus kepada Terawan. Itu melalui Hendropriyono Strategic Consulting (HSC). Bersama beberapa orang pernah dirawat Terawan, yakni adalah mantan Wapres RI Try Sutrisno, seniman Butet Kertaredjasa, dan lain sebagainya. Penghargaan diberikan CEO HSC Gories Mere pada tahun 2015 silam.

Hendropriyono 2017 Merdeka.com


Cerita serupa juga hadir dari mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Cara dilakukan Terawan juga sama. Sambil menyanyi, pangkal paha Mahfud mulai dimasukkan kateter secara perlahan. Tak ada rasa sakit dirasakannya. Terawan, kata Mahfud, hanya mengingatkan bahwa nanti perut menjadi hangat. Setelah itu, dirinya juga merasakan sensasi asam sesaat di mulut seperti menyeruput sari buah jeruk.

Kedatangan Mahfud bermula dari keluhannya sulit menengok. Otot dan saraf serta refleks anggota tubuh menjadi lambat. Lalu disarankan Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan untuk berobat kepada Terawan. Proses tindakan berlangsung cepat. Sekitar 20 menit. "Begitu bangun sudah bisa berjalan, toleh kanan kiri, mata terang," cerita Mahfud menggambarkan perubahannya kepada kami, Jumat pekan lalu.

Mahfud pun senang. Tindakan singkat dilakukan Terawan bisa memberikan efek besar pada tubuhnya. Sampai membuat dirinya ketagihan. Mahfud lantas melakukan untuk kedua kalinya pada Desember 2017 lalu, bersama sang istri. Kala itu, dia ingin membersihkan saraf di otak dari sumbatan. Bersama istrinya, dia menghabiskan total biaya sekali tindakan sebesar Rp 76 juta. Tarif itu naik dari tahun 2012. Ketika itu dia hanya menghabiskan Rp 19 juta.

Pasien dokter Terawan memang bukan orang sembarangan. Dia kerap menangani sejumlah orang penting di negeri ini. Sebut saja, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, hingga Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah disentuh tangan andal lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu. Tak heran, beberapa tokoh tersebut kerap terapi sampai berulang kali dengan dokter Terawan. Alasannya, mereka ingin tetap bugar saat beraktivitas.

Infografis Dokter Terawan Liputan6.com dan Merdeka.com


Kepiawaian dokter Terawan menangani pasien stroke sudah diakui. Bukan hanya menangani kalangan elit. Masyarakat biasa pun merasakan mukjizat Tuhan melalui tangan terawan. Seperti diceritakan Frans Olan. Pria 35 tahun itu merasa berterimakasih kepada Terawan. Itu setelah sang ibu mengalami didiagnosis stroke ringan sejak tahun 2013.

Kisah dimulai saat adiknya mengabarkan bahwa sang Ibu sukar mengucapkan kata-kata. Bahkan setengah badannya lumpuh. Tak bisa bergerak. Sinar matanya redup. Kehilangan gairah. Nampak otak dan saraf ibunya itu mulai mengalami ketidaksinkronan. Bahkan kalimat dilontarkan tidak logis. "Pernah beliau bilang 'tutup sendoknya'. Padahal harusnya bukan sendok, tapi pintu," ungkap Frans kepada kami, Kamis pekan lalu. Kondisi ini membuat dia sadar ada sesuatu mengganggu kesehatan sang Ibu.

Frans akhirnya memutuskan memeriksakan sang ibu ke Rumah Sakit Mayapada Tangerang. Benar saja. Ibunda Frans divonis menderita stroke ringan. Frans masih mengingat jelas hasil computed tomography scan (CT scan) otak Ibunya menunjukkan sebuah guratan halus.

Seusai melakukan pemindai otak, Ibunda Frans harus mengonsumsi sejumlah obat-obatan. Namun, perubahan dialami ibunya sangat lambat. Hingga setahun kemudian sang ibu mengalami kelumpuhan sebelah kanan anggota tubuhnya.

Mantan wartawan ini pun bingung. Menyaksikan sang ibu menjadi lebih lemah dari sebelumnya. Dia menceritakan kondisi ibunya kepada rekannya seorang pejabat di lingkungan DPRD Pemprov DKI. Gayung bersambut. Rekan Frans itu merekomendasikan terapi DSA kepada dokter Terawan. Menurut rekannya itu, dokter Terawan dikenal mampu menyembuhkan penyakit stroke dalam sekejap meskipun dalam tahapan akut.

"Katanya waktu itu, saudaranya seorang nenek umur 76 sudah bisa nyapu lagi setelah strokenya ditangani dokter Terawan," kisah Frans.

Tak pikir panjang, Frans lekas memboyong ibunya berusia 63 kala itu ke RSPAD Gatot Subroto selang tiga hari kelumpuhan sang ibu. Tiba di rumah sakit pukul 9 pagi, Frans mendaftar agar segera ditangani dokter Terawan. Prosedur dimulai dari pendaftaran, CT scan dan magnetic resonance imaging (MRI), hingga tindakan.

Sekitar pukul 3 sore, sang ibu selesai ditangani. Frans cukup terkejut melihat perubahannya. Tidak disangka, ibunya mampu bangkit dari kursi roda setelah menahun terperangkap. Tak hanya berdiri, ibunda Frans juga mampu berjalan meskipun sangat perlahan.

Frans sebenarnya masih ingin mendaftarkan sang ibu mendapat penanganan kedua dengan dokter Terawan. Namun, rencananya terpaksa tertunda. Sebab dirinya ragu sang ibu bisa menjalani prosedur kedua. Ini lantaran izin praktik dokter Terawan tengah dibekukan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Surat rekomendasi pemecatan sementara tersebar pada 3 April 2018, menyebut dokter Terawan dipecat sementara selama 12 bulan dimulai dari 26 Februari 2018 sampai 25 Februari 2019. Ada empat putusan melalui sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI. Putusan itu menganggap Terawan melanggar etik karena tidak kooperatif dengan menolak hadir di persidangan MKEK, melakukan terapi/pengobatan terhadap pasien stroke melalui metode yang belum teruji. Selanjutnya tidak menulis laporan terkait tindakan medisnya di dalam majalah ilmiah atau buletin RSPAD Gatot Subroto seperti yang sudah dijanjikan. Terakhir, Terawan dinilai mengiklankan diri secara berlebihan.

Frans mengaku kecewa dengan tindakan pemecatan dilakukan IDI tersebut. Sebab, harapannya untuk membuat sang ibu untuk terus pulih harus terhenti sementara. Dia pun berharap IDI dapat mengkaji ulang keputusannya itu. "Coba, berapa nyawa yang berhasil dia selamatkan. Kenapa putusan (IDI) menjadi penting sekali bukannya tugas terpenting dokter adalah menyelamatkan nyawa orang?" ungkap Frans. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini