KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Mobil mewah pajak selangit

Senin, 4 September 2017 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
mobil sport mewah. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - "Punya Ferrari itu mimpi bagi setiap pencinta mobil," kata Hanan Supangkat mengenang masa kecilnya. Pengusaha muda berusia 36 tahun ini mengaku sangat menyukai mobil keluaran Italia itu sejak kecil. Bahkan Hanan kecil saat itu begitu mendambakan mobil superclass berharga miliaran ini. Terlahir dari keluarga ningrat, tak lantas dengan mudah diberi mobil impiannya.

Kecintaannya terhadap Ferarri terlihat di ruang kerja Hanan, Jalan Semanan Nomor 50, Daan Mogot, Jakarta Barat. Posisinya kini Bos PT Mulia Knitting Factory. Sebuah patung kuda jingkrak berada di sudut ruangannya. Dipajang sejajar dengan penghargaan diraihnya selama memimpin pabrik pakaian dalam pria itu.

Pada sudut lainnya terpajang pelbagai foto dirinya dengan sejumlah tokoh penting. Mulai dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama ( Ahok), Kapolri Jenderal Tito Karnavian, hingga dengan Presiden Joko Widodo di Istana negara.

Setelah menyelesaikan studinya di Amerika, pada tahun 2004 Hanan diminta meneruskan usaha keluarga. Mengelola pabrik pakaian dalam merek Rider. Usianya kala itu tergolong muda. Baru menginjak 22 tahun. Perintah langsung dari sang kakek, Max Mulyadi Supangkat dan ayahnya Henry Supangkat. Pabrik pionir pakaian dalam Indonesia ini pertama kali dibangun Phan Tjen Kong pada tahun 1955. Meski diminta keluarga, namun Hanan tak langsung dapat jabatan strategis. Dia justru diminta ikut memasarkan produknya kepada pelanggan.

Usahanya sukses. Berhasil menjalankan roda bisnis keluarga. Namun, tak membuat dirinya ngebet membeli mobil impian masa kecilnya. Hingga masuk tahun 2012. Impian kecilnya terwujud. Menunggangi mobil Ferarri. Hanan membeli Ferarri jenis F430 warna hitam seharga Rp 5 miliar. Tipe ini merupakan seri terbaru, menggantikan Ferarri 360. Membeli langsung lewat showroom resmi Ferarri di Indonesia.

Tak ada hambatan berarti ketika membeli Ferarri. Prosesnya sama dengan membeli mobil lainnya. Masalah perizinan dan pajak bea masuk langsung ditangani showroom. Dirinya hanya bayar dan terima beres. "Enggak ada bedanya. Kita enggak urus-urus itu (pajak bea masuk). Kita semua tahu beres saja," kata Hanan kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu.

Risiko punya mobil mewah adalah pajak selangit. Tiap tahun Hanan wajib membayar sekitar Rp 40 juta. Angka ini termasuk kecil. Sebab rata-rata pajak mobil superclass ini mencapai Rp 35 juta hingga Rp 150 juta per tahunnya.

Memiliki mobil mewah membuat Hanan bergabung dengan komunitas Ferrari Owner Club Indonesia (FOCI). Dia diajak sahabatnya sekaligus pengusaha dan anggota DPR dari Partai NasDem, Ahmad Sahroni. Hingga tahun 2014, Hanan terpilih menjadi wakil presiden FOCI dan kini menjabat sebagai presidennya. Dalam komunitas ini dia memimpin 130 orang. Banyak acara sosial kerap digelar. Bahkan tahun depan klub ini berencana touring menggunakan Ferarri asal Indonesia untuk keliling Eropa.

Ketua FOCI Hanan Supangkat ©2017 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Asyiknya punya mobil mewah tidak bisa sepenuhnya dinikmati. Masalah pajak jadi penyebab. Masalah pajak mobil mewah belakangan tengah santer. Badan Retribusi dan Pajak Daerah (BPRD) DKI Jakarta bahkan langsung mendatangi rumah wajib pajak. Mereka menyebutnya cara door to door. Ini terpaksa dilakukan.

Alasannya, untuk tahun 2017, lebih kurang 36 persen dari semua jenis penerimaan pajak Pemda DKI berasal dari kendaraan bermotor. Atau sekitar Rp 12,9 triliun dari target keseluruhan Rp 35,23 triliun. Jumlah itu dibagi dua. Pertama dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Ini ditargetkan masuk ke kantong BPRD senilai Rp 7,9 triliun. Selanjutnya, pajak bea balik nama kendaraan bermotor (BNKB). Mereka menargetkan sebanyak Rp 5 triliun.

Berbeda dengan nasib Hanan. Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Abraham Lunggana alias Haji Lulung justru pensiun jadi pecinta mobil mewah. Hanya enam bulan memilikinya. Juragan asal Tanahabang ini sempat memiliki sebuah Lamborghini Gollardo Superleggra. Tipe ini khusus Automobilio Lamborghini Advanced Composite Structures Laboratory (ACSL) di Universitas Washington, Amerika Serikat.

Dia mengaku menjual kepada rekannya. Di samping itu, masalah mahalnya pajak juga menjadi salah satu pertimbangan. Sehingga mobil kesayangan itu terpaksa dia lego. Meski begitu, Lulung mengaku taat pajak sebagai pejabat negara. "Saya taat pajak dong, kalau saya kan enggak mau (kalau) belum bayar pajak," tegasnya.

Lamborghini Lulung Tanah Abang ©2014 merdeka.com


Lulung memilih Lamborghini berwarna hijau. Mirip dengan warna partainya. Mobilnya kala itu bermesin V10 berkapasitas 5,2 liter dengan crankcase alumunium dan sistem pelumasan dry sump. Mesin ini diklaim dapat menghasilkan tenaga 419KW (570 PS/562 hp) pada putaran mesin 8.000 rpm, dan torsi 540 Nm pada rpm 6.500.

Sebagai pengusaha dan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Lulung kala itu tergiur. Wajar. Sebab koneksinya banyak pengusaha dan mengoleksi mobil mewah. Akhirnya dia mencoba. Awalnya hanya mencicipi tarikan Lamborghini milik temannya. Lulung pun tertarik. Lalu membeli Lamborghini sendiri.

Dia menceritakan awal memiliki mobil mewah tersebut. Sadar cuma pengusaha ritel, Lulung mulai menabung. Hingga pada tahun 2014, Lulung membeli mobil Lamborghini langsung dari negara asalnya. Kendaraan super mewah itu bahkan ditumpangi ketika dirinya dilantik sebagai anggota DPRD Jakarta. Satu hari setelah mobilnya tiba.

Kehadiran Lamborghini milik Lulung sampai bikin heboh. Jadi sorotan. Siapa saja melintas di komplek DPRD dan Balai Kota Jakarta pasti terbius mewahnya mobil tersebut. Hingga mobil itu menuai polemik. Usut punya usut, nyatanya plat mobil mewahnya itu palsu dan sempat ditahan. Ini lantaran tak punya izin resmi alias bodong. Namun dalam pengakuannya kepada merdeka.com, dia telah mendapatkan surat jalan selama proses administrasi di badan pajak. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.