Mimpi Ibadah Haji yang Tertunda

Jumat, 5 Juni 2020 09:35 Reporter : Rifa Yusya Adilah
Mimpi Ibadah Haji yang Tertunda Suasana Salat Id di Masjidil Haram Makkah. ©2020 AFP

Merdeka.com - Tujuh tahun sudah Ani antre untuk Ibadah Haji. Segala persiapan sejak jauh hari pun dilakukan. Apalagi ini momen indah yang lama ditunggu. Lebih bahagia lagi, dirinya bakal melengkapi Rukun Islam kelima bersama sang suami.

Bagi ibu berusia 52 tahun itu, ibadah di depan Kabah akan menjadi kesempatan berharga. Ini akan menjadi pertama kalinya Ani menyentuh tempat yang menjadi impian banyak kaum muslim di dunia.

Perjuangannya panjang untuk menuju ke Tanah Suci. Perlu kesabaran ekstra keras. Sedikit demi sedikit uang ditabung. Perlu waktu 20 tahun demi impian itu tercapai. Kemudian pada 2013, nama Ani dan suami pun mendaftar melalui travel haji swasta.

"Saya sudah mendambakan pergi haji itu dari anak-anak saya masih kecil," ungkap Ani kepada merdeka.com, Selasa lalu.

Bulan Juli nanti, seharusnya Ani dan suami dijadwalkan berangkat Ibadah Haji bersama. Mereka akan berangkat bareng 200 jemaah lainnya. Terpaksa semua impian itu harus tertunda.

Sejak awal Maret 2020, perasaan Ani sebenarnya mulai gusar. Musibah wabah ketika itu mulai melanda Indonesia. Seiring waktu, seluruh dunia mengalami nasib serupa. Wabah itu berubah status menjadi pandemi.

Arab Saudi pun sampai menyetop kedatangan jemaah umrah sementara waktu. Semua area ibadah di sana pun sepi. Tidak seperti biasanya yang selalu dibanjiri banyak jemaah.

Kabar dari Arab Saudi tentu membuat Ani merasa cemas. Khawatir tidak bisa Ibadah Haji bersama dengan sang suami tercinta. Ditambah kabar dari sang adik yang baru-baru saja batal berangkat umrah. Pembatalan terjadi beberapa hari sebelum keberangkatan.

"Dari situ saya sudah mulai khawatir dan feeling tidak enak. Saya sudah mulai merasa cemas. Saya khawatir tidak jadi berangkat," ujarnya.

Sempat timbul harapan sedikit. Ibu tiga anak itu selentingan mendapat kabar bahwa pelaksanaan Ibadah Haji bakal tetap digelar. Kegiatan itu nantinya melalui protokol kesehatan ketat.

Kabar penundaan keberangkatan haji dari travel pun datang. Menurut Ani, mereka menjelaskan detil segala persoalan hingga memutuskan menunda keberangkatan Ibadah Haji. Salah satunya terkait aturan pemerintah.

Kementerian Agama (Kemenag) memastikan para jemaah haji yang mengalami penundaan dipastikan akan berangkat pada tahun depan. Langkah pembatalan dilakukan sebagai upaya penanganan virus corona yang melanda dunia.

1 dari 1 halaman

Keputusan diambil karena melihat Arab Saudi belum membuka akses layanan Penyelenggaraan Ibadah Haji 1441H/2020M hingga sekarang. Kondisi ini bisa dipahami banyak negara yang akan mengirim calon jemaah haji. Tentu bila terlaksana akan berpengaruh pada proses persiapan penyelenggaraan haji yang mereka lakukan.

Pengumuman pembatalan Ibadah Haji disampaikan langsung Menteri Agama Fahrul Razi. Pemerintah juga menegaskan bahwa para jemaah yang tertunda akan menjadi diberangkatkan pada Ibadah Haji tahun depan.

Ani dengan hati ikhlas menerima keputusan pemerintah. Dirinya sadar kesehatan merupakan hal utama seperti ajaran Islam. Tentu ada rasa kecewa, tetapi di satu sisi Ani dan suami merasa ini merupakan kesempatan untuk lebih dekat lagi Allah SWT.

Untuk dana yang sudah disetor, Ani tidak mau terlalu memikirkan. Dia hanya meminta para pengelola haji menjaga baik-baik amanah milik umat. "Semoga saja para pengelola haji ini amanah," ucapnya

Dirinya mengaku sempat mendapat kabar bahwa uang jemaah haji akan dipakai sebagai dana penanganan corona. Baginya itu tentu tidak tepat, karena banyak jemaah yang sudah menabung lama. Termasuk dirinya. Meski begitu, sebagai rakyat Indonesia dirinya percaya dengan kementerian agama dalam mengelola dana haji.

DPR juga mengingatkan Kemenag agar hati-hati mengelola dana haji. Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini, menyebut dana haji ini sensitif bagi umat Islam. Terlebih uang itu berasal dari jemaah. Sehingga pengelolaannya hanya untuk kepentingan jemaah

Adapun dana calon jemaah haji yang dikelola BPKH mencapai Rp135 triliun. Perlu transparansi dan profesionalisme dalam pengelolaan dengan prinsip kehati-hatian. Dalam pengelolaan, Kemenag juga diminta mengikuti prinsip syariah.

"Kita mau dana jemaah ini dikelola dengan amanah sesuai syariah karena ini dana untuk ibadah. Kedua, dana ini besar sekali jika dikelola profesional maka manfaatnya besar untuk kepentingan jemaah haji itu sendiri, untuk peningkatan pelayanan dan fasilitas, bahkan bisa mengurangi ongkos haji karena daftar tunggu jemaah yang lama," jelasnya.

Menteri Agama memastikan bahwa biaya haji yang sudah disetor akan disimpan dan dikelola oleh badan pengelolaan keuangan haji. Nilai manfaat haji akan diberikan kepada jemaah paling lambat 30 hari sebelum keberangkatan kloter pertama haji 1442 H atau tahun 2021.

Kemenag juga memastikan jemaah haji yang batal dapat mendapatkan kembali biaya perjalanan ibadah haji (Bipih). "Setoran Bipih bisa diminta kembali kalau memang dia butuhkan. Silakan bisa diatur dan kami mendukung itu," kata Fahrul Razi menjelaskan. [ang]

Baca juga:
Cerita Keluarga di Tasikmalaya Batal Naik Haji Setelah Menunggu 8 Tahun
Kepala BPKH: Kami Tidak Investasi di Valuta Asing
Haji 2020 Batal, PKS Minta Dana Calon Jemaah Dikelola Hati-Hati
BPKH Bantah Dana Haji Rp8,5 Triliun untuk Perkuat Rupiah
Din Syamsuddin Sarankan Nisbah Setoran ONH di Bank Diberikan ke Calon Haji
Tak Diajak Bahas Penundaan Haji, DPR Naik Pitam ke Menag Fachrul Razi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini