Mereka yang Berjibaku Melawan Kebakaran Hutan

Jumat, 27 September 2019 07:04 Reporter : Abdullah Sani
Mereka yang Berjibaku Melawan Kebakaran Hutan Ilustrasi Petugas Berjibaku Padamkan Kebakaran Hutan. ©2019 AFP PHOTO/ADEK BERRY

Merdeka.com - Tangan Ade menggenggam erat selang sambil terus mengarah ke lahan gambut terbakar. Derasnya air ternyata belum sebanding dengan banyaknya titik api di Desa Rimbo Panjang Kabupaten Kampar, Riau. Belum lagi adanya angin kencang yang membuat api semakin galak dan meluas.

Situasi semakin sulit terkendali. Pria 29 tahun itu harus berjibaku dengan alat dan stok air seadanya. Bersama rekan lainnya dari Tim Manggala Agni, mereka dipaksa harus lebih cepat dari angin meski fasilitas terbatas.

Selokan sekitar lahan mengering pada musim kemarau tahun ini. Ade harus pandai memanfaatkan air. Salah satu caranya dengan membuat wadah penampungan air menggunakan terpal.

Butuh waktu untuk mengumpulkan air untuk kembali digunakan. Agar stok air bertambah, biasanya mereka mencari di sumur bor yang dibangun Badan Restorasi Gambut (BRG) di beberapa wilayah. Kemudian digunakan untuk menyemprot titik api sambil berkejaran dengan api yang terus luas membakar area lahan.

"Sebulan lebih lebih kita lakukan itu berulang kali di setiap titik api yang ada di desa ini," kata Ade menceritakan perjuangannya kepada merdeka.com, Rabu (25/9) lalu.

Tugas diemban Ade tidak mudah. Medan gambut sering kali membuat kaki terjerembab ketika bergelut menyemprotkan air ke arah titik api. Dia biasanya memegang ujung selang, satu rekannya menjaga mesin air dan pasukan lain menarik ulur selang. Butuh waktu lama untuk membasahi lahan terbakar di tanah gambut.

Kebetulan lokasi yang dipadamkan Ade bersama rekan sejawatnya sudah terbakar sejak sebulan lalu. Sehingga ketika memadamkan di satu titik, muncul titik api baru di lokasi lain. Ditambah lagi lahan gambut sangat sulit dipadamkan. Butuh air banyak agar meresap sampai 2 meter ke dalam tanah.

Terkadang, kata dia, tanah masih mengeluarkan asap meski disiram air bertubi-tubi. Bahkan curah hujan normal belum optimal memadamkan bara di dalam gambut. Sebagai pemadam, Ade harus lebih ekstra menjinakkan api.

"Butuh waktu seminggu untuk memadamkan di lokasi yang terbakar. Bahkan lebih. Air hujan pun harus turun deras selama 7 hari berturut-turut, barulah api di dalam gambut padam total," ujar dia ayah satu anak ini.

prajurit tni dan bpbd padamkan kebakaran hutan di kampar
TNI dan BPBD Padamkan Kebakaran Hutan di Kampar ©AFP/Adek Berry

Masyarakat biasanya memanfaatkan tanah gambut sebagai perkebunan sawit dan karet. Biasanya munculnya kebakaran lahan terjadi pada musim kemarau seperti sekarang. Ulah itu dilakukan segelintir orang agar lahan bersih dan tanah menjadi subur. Sayangnya cara mereka justru menimbulkan petaka.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Pekanbaru mendeteksi adanya 100 titik api disebabkan dari kebakaran hutan dan lahan di Riau. Titik api paling banyak ditemukan di Rokan Hilir yakni 47 titik. Lalu Bengkalis 25 titik, Dumai 17 titik, Pelalawan 4 titik, Meranti 4 titik, dan Indragiri Hilir 3 titik.

Asap dan api menjadi pemandangan Ade setiap hari. Sudah 10 tahun dirinya menjalani tugas pemadaman. Setiap hari badannya kotor dan basah lantaran berjalan di atas tanah gambut terbakar sambil membawa selang.

Belum lagi kulitnya sekarang mengalami gatal-gatal. Kondisi ini dikarenakan air kotor untuk menyiram api sering membasahi badan. Adapun keluhan lain, Ade juga sering mengalami sesak napas dan sakit kepala.

Aktivitas memadamkan api hampir setiap hari. Di mulai dengan berangkat jam 5 pagi dari rumah ke kantor Manggala Agni di Minas. Setelah mendapat arahan dari Komandan Daerah Operasi Operasi (Daops) Manggala Agni, satu jam kemudian pasukan berbaju merah itu berangkat dari kantor menuju lokasi kebakaran lahan. Butuh waktu 1,5 jam untuk sampai ke lokasi lahan terbakar.

Pekerjaan memadamkan api begitu panjang. Tidak jarang Ade baru sampai rumah pukul 11 malam. Waktunya sangat sedikit bertemu istri dan anak balitanya tercinta.

Keadaan ini juga menjadi beban berat anggota Tim Manggala Agni lainnya. Namun, tugas pemadaman api di lahan gambut harus tetap dijalankan. Agar maksimal, mereka bekerja sama dengan aparat TNI AD. Kemudian saling bersatu padu melawan api demi menekan volume asap mengotori udara di Riau.

Baca Selanjutnya: Peran TNI Penakluk Api...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini