Wawancara Khusus Menristek

Menristek Bambang Brodjonegoro: Indonesia Harus Produksi Vaksin Corona Sendiri

Jumat, 8 Mei 2020 06:05 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Menristek Bambang Brodjonegoro: Indonesia Harus Produksi Vaksin Corona Sendiri Konpers Bambang Brodjonegoro terkait pemindahan Ibu Kota. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Menteri Riset dan Teknologi atau Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro dan timnya punya segudang tugas berat dalam penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Prioritasnya tidak hanya penanganan jangka pendek. Tapi juga jangka panjang.

Jangka pendeknya, menemukan obat bagi pasien serta pengadaan sejumlah alat kesehatan pendukung untuk penanganan pasien Covid-19. Jangka panjangnya, menemukan sekaligus memproduksi vaksin dan antiserum Covid-19. Dukungan pendanaan disiapkan untuk dikucurkan ke lembaga penelitian dan riset.

"Kalau anggaran riset secara keseluruhan terkait Covid-19, Rp90 miliar. Tapi itu tidak hanya mencakup vaksin. Termasuk obat, termasuk beberapa alat kesehatan yang diperlukan sehingga cakupan kita ingin mendukung upaya penanganan Covid-19 secara menyeluruh," ujar Bambang Brodjonegoro saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (4/5).

Negara di dunia, termasuk Indonesia, kini tengah berlomba. Untuk mencapai garis akhir menemukan vaksin Covid-19. Tapi itu butuh waktu panjang. Terpenting saat ini, menemukan obat yang dirasa cocok untuk menyelamatkan nyawa manusia dari wabah Corona.

Indonesia memang bekerja sama dengan negara lain. Tapi tetap harus melepaskan diri dari ketergantungan negara lain dalam penanganan Covid-19. Termasuk memproduksi alat penanganan kesehatan, obat, hingga vaksin.

Berikut wawancara khusus Menristek Bambang Brodjonegoro dengan jurnalis merdeka.com Intan Umbari.

Bagaimana perkembangan pencarian vaksin Covid-19?

Ya, tentunya pencarian vaksin karena intinya pandemi ini hanya akan bisa berakhir kalau ada obat yang diyakini bisa menyembuhkan terkena penyakit atau ada vaksin yang bisa meningkatkan daya tubuh setiap orang termasuk orang yang sehat terhadap kemungkinan terserang Covid-19.

Karenanya para peneliti ini sibuk di dua hal, jadi tidak semuanya fokus ke vaksin, karena mereka tahu vaksin itu butuh jangka panjang. Anda bisa cek, sejarah vaksin-vaksin yang ditemukan di dunia itu boleh dibilang memakan waktu rata-rata lebih dari setahun. Ada yang sampai 10 tahun bahkan lebih, baru menemukan vaksin.

Saya melihat upaya peneliti itu di dua hal. Yaitu obat dan vaksin. Khusus untuk vaksin yang di Indonesia paling tidak memang tahapannya baru mulai. Saya sudah bicara cukup dalam dengan prof Amin Soebandrio, Kepala Eijkman, beliau mengatakan paling cepat mendapatkan prototipe vaksin dalam waktu setahun. Waktu itu bulan Maret bicaranya.

Tentunya riset ini harus dimulai. Tapi memang awal kejadian Covid ini karena PCR tes ini sangat diperlukan untuk mendeteksi siapa yang terinfeksi oleh Covid-19, memang lembaga eijkman di awalnya fully accupied sangat sibuk. Fasilitasnya terpakai penuh untuk pengujian. Untuk tasting PCR ini. Sekarang ini sudah mulai bisa dilakukan paralel, jadi baik pengujian tetap berjalan karena kita mengejar target 10.000 perhari sesuai dengan yang diharapkan oleh bapak Presiden, dan tentunya eijkman harus terus berkontribusi.

Disisi lain, selain pengujian, risetnya sudah dimulai. Meskipun belum langsung terkait dengan vaksin, Eijkman ini sudah menyelesaikan Whole genome sequencing. Whole Genome Sequencing ini juga sangat diperlukan untuk mendeteksi jenis virus Covid-19 yang ada di Indonesia. Yang nanti datanya setelah Whole Genome Sequencing ini dapatkan, disubmit kepada satu lembaga internasional GISAD untuk dilihat di Indonesia yang dominan tipe seperti apa.

Tapi Whole Genome ini tidak bisa hanya sedikit. Jadi sample yang dikirim harus representatif untuk bisa menunjukan penyakit di Indonesia itu tipe apa dari Covid-19. Kemudian di satu sisi tadi saya katakan vaksin sudah dimulai.

Sebagai alternatif dari vaksin, kalau vaksin masih panjang, maka harus ada obat atau terapi. Nah saat ini yang mulai diperluas adalah convalescent plasma. Ini adalah plasma yang berasal dari pasien yang sembuh Covid-19 kemudian yang diberikan pada pasien yang sedang sakit Covid-19 parah. Dari laporan di RSPAD yang sudah melakukan terapi ini, riset terhadap 3 pasien menghasilkan hasil yang melegakan. Tapi tentunya kita perlu melakukan riset lebih banyak lagi.

Supaya efektivitas dari plasma konvalens ini nantinya bisa menjadi alternatif medicine untuk pasien-pasien covid-19 yang berkategori berat. Kita akan perluas ke rumah sakit tidak hanya di Jakarta tapi juga diberbagai kota di Indonesia. Terutama di tingkat keparahannya cukup tinggi.

Selain plasma konvalens, konsorsium yang dipimpin ristek juga berupaya mengembangkan antiserum Covid-19. Antiserum ini definisinya adalah ini imunisasi sifatnya pasif. Jadi kalau imunisasi pasif biasanya diberikan kepada orang yang sudah terkena Covid-19 kemudian diberikan serum. Kalau vaksin kan diberikan kepada semua orang dan mencegah Covid-19.

Serum dikembangkan ini kerja sama antara Biofarma, Kementerian Kesehatan, kemudian BPPT, Batan, dan ITB. Rencananya akan segera uji klinik dari tim peneliti. Dibutuhkan 2-3 bulan sebelum diproduksi secara massal. Dan kemudian ini jadi terapi. Jadi ini yang sedang kita lakukan di Indonesia. Sambil kita mengejar vaksin kita juga berupaya mengembangkan alternatif medicine, plasma konvalensi yang sudah dimulai maupun serum anticovid yang nantinya dikembangkan.

Terkait dengan vaksin tentunya tidak menutup kemungkinan kerja sama dengan luar negeri. Tentunya kerja sama ini dilakukan dalam skema yang harus ada transfer teknologi. Dalam pengertian Indonesia tidak hanya tempat jadi uji klinis dari vaksin yang ditemukan dari negara lain, tapi kita ingin siapapun yang mengembangkan vaksin tersebut ketika bekerja sama dengan Indonesia misalnya dengan Eijkman maka Eijkman memiliki kapasitas bisa mengembangkan vaksin tersebut. Kira-kira seperti itu perkembangan.

Apa saja lembaga internasional yang bekerja sama dengan Eijkman?

Tentunya Eijkman sudah menyampaikan. Ada yang menawarkan kerja sama tapi poin kerja sama kita tidak mau hanya menjadi tempat untuk klinikal trial. Karena vaksin itu baru bisa dinyatakan katakan sah sebagai vaksin itu kalau sudah punya uji klinis yang sangat luas.

Anda bisa bayangkan ini bukan obat. Kalau obat itu kan uji cobanya kan bisa orang yang sedang sakit. Sedangkan vaksin ini diberikan kepada orang yang sehat di mana kalau mendapatkan vaksin maka dia harusnya tidak terkena tidak mempan terhadap Covid-19.

Jadi bisa dibayangkan, uji klinis yang sangat besar dan lama. Karenanya kita menginginkan siapapun yang mengajak Eijkman kerja sama, karena itu di bawah ristek. Poin saya dengan pak Amin, kita sepakat harus yang sifatnya mau transfer over teknologi. Jadi intinya mengembangkan vaksin itu bersama-sama. Bukan kita hanya menjadi tempat trial kemudian setelah produksi atas nama mereka sendiri.

Bagaimana dengan antivirus?

Antivirus itu kan yang utamanya vaksin, tapi bisa juga orangnya sakit itu antiserum. Contohnya di masa lalu kalau tetanus orang kan dapat vaksin, kalau kena tetanus orang itu dapat serum juga untuk memperkuat. Kalau antiserum itu sudah saya ceritakan, sedang dilakukan pengembangannya beberapa lembaga tadi yang sudah saya sebut. Tujuan 2-3 bulan sudah bisa diproduksi masal dan dijadikan sebagai terapi kepada pasien.

menteri bambang brodjonegoro dan dubes brasil dubem barbosa diskusi pemindahan ibu kota

1 dari 3 halaman

Berapa anggaran untuk riset antivirus dan vaksin?

Sementara karena masih tahap awal, permintaan Eijkman waktu itu Rp5 Miliar yang tahap awal. Nantinya makin berkembang kita selalu suplai. Karena vaksin itu jadi prioritas, vaksin itu harus dikejar keberadaannya untuk Covid-19 ini.

Kalau anggaran riset secara keseluruhan terkait Covid-19, Rp90 miliar tapi itu tidak hanya mencakup vaksin. Termasuk obat, termasuk beberapa alat kesehatan yang diperlukan sehingga cakupan kita ingin mendukung upaya penanganan Covid-19 secara menyeluruh.

Indonesia punya target penemuan vaksin?

Tadi saya katakan vaksin ini sesuatu yang sifatnya sangat variabel, sangat susah untuk ditentukan kapannya. Kalau anda melihat di media sosial atau media mengatakan 'oh yang ini sudah sampai tahap pengujian binatang, yang ini sudah sampai mal clinical trial' ya tadi saya katakan klinikal trial itu bagus. Artinya sudah mengembangkan tapi untuk dapat prototipe yang siap diproduksi, clinical trialnya harus selesai dulu.

Pertanyaan clinical trialnya berapa lama karena tadi kelebihannya vaksin sekaligus komplikasinya adalah mencegah jadi bukan mengobati. Semacam balap lari, ada dua orang pelari yang satu ngejar vaksin yang satu ngejar obat. Most likely ya ngejar obat dulu yang masuk finish.

Karena dia uji klinikal trialnya pada orang yang sakit, kemudian disembuhkan makanya kita tidak mau terpaku hanya vaksin. Kita tahu vaksin ini akan makan waktu lama dan saya yakin semua negara bakal berpikir sama. Makanya negara-negara lain berlomba-lomba mencari obat.

Munculnya nama-nama seperti Avigan, Tamiflu, chloroquine, upaya untuk paling tidak menenangkan masyarakat penyakit ini bisa diobati. Meskipun barang kali itu obat yang paling ampuh tapi paling tidak ada harapan ada jenis obat, barangkali cocok. Kalau vaksin ini yang tidak bisa dijanjikan. Silakan saja anda riset siapa kepala negara, siapapun yang berani menjanjikan tahun sekian, bulan sekian akan ditemukan vaksin. Tadi saya baru video conference dengan dubes China di Indonesia. Di China juga sama sifatnya masih mencari vaksin. Jadi mereka fokus pada obat-obatan untuk menangani penyakit Covid ini. Kalau Vaksin sekali lagi ini masih butuh riset yang panjang.

Beberapa negara kabarnya sudah menemukan vaksin dan Antivirus, apakah kita menggunakannya?

Ya tentunya ini tergantung pada jenisnya. Kan dengan Whole Genome Sequencing ini kita harapkan kita bisa tahu Covid-19 seperti apa masuk ke Indonesia. Karena yang saya tahu ya jenis dari China, Singapura sudah beda Covid-19, jadi pertama itu. Kemudian kedua terkait efektivitas vaksin tentunya. Kalau vaksin itu sudah diratifikasi, memang sudah diapprove WHO, diakui WHO sebagai vaksin, ya tentunya kita akan produksi.

Kita akan produksi dengan catatan bahwa rekomendasi WHO itu memang bisa dipakai untuk Indonesia. Jadi intinya paling penting kita harus bisa memproduksi dan memproduksi itu butuh waktu dan uang besar. Karena bisa dibayangkan kalau satu orang butuh dua ampul kemudian katakan separuh dari penduduk harus divaksin berarti 137 juta. Berarti kita butuh 260jutaan ampul. Tinggal dikali satuannya. Bisa dibayangkan vaksin ini tantangan dari sisi produksinya karena baru biofarma yang bisa produksi vaksin. Yang kedua biaya untuk memvaksin, tapi saya yakin pemerintah sangat komit dengan ini baik dengan produksinya maupun pemberian vaksin.

Jika Indonesia menggunakan vaksin rujukan WHO, apakah penelitian diteruskan?

Menurut saya kita tetap harus memiliki kemampuan meneliti mengenai vaksin. Mengingat Indonesia itu negara tropis yang penyakitnya belum tentu sama dengan negara lain. Yang kedua kita tidak pernah tahu pandemi yang terjadi apa lagi dalam bentuk apa. Jadi menurut saya kemampuan meneliti vaksin tetap harus dijaga bahkan diperkuat.

Jadi kalau misalkan ada vaksin yang sudah direkomendasikan WHO ya paling tidak kita belajar bagaimana membuat vaksin tersebut. Maksudnya mengembangkan vaksinnya, tanpa bisa klaim itu bukan vaksin kita. Paling tidak kita bisa bikin, bisa buat prototipe vaksinnya yang diproduksi secara besar, secara skala besar oleh Biofarma.

Itu paling penting karena yang tadi saya katakan, Indonesia negara besar, tidak bisa mengandalkan vaksin yang 100 persen impor. Jadi baik produksinya maupun risetnya kita harus benar-benar pegang. Dan sekali lagi Indonesia negara tropis yang penyakitnya jauh lebih complicated daripada penyakit-penyakit di belahan dunia lain.

penumpang krl di test swab

2 dari 3 halaman

Bagaimana dengan produksi reagen, PCR, ventilator?

Jadi gini harus ada perbedaan antara reagen dengan tes kitnya. Yang sekarang dikembangkan dan bisa dikembangkan dan selesai pada 8 Mei itu adalah tes kit. Terutama adalah teskit yang rapid, dan juga tes kit yang basis PCR. Tes kit ada dua, tes kit rapid tuh sekarang sudah digunakan tes masif di berbagai daerah.

Memang itu sensitifitasnya, akurasinya, memang tidak sebaik yang PCR. Tetap paling penting itu PCR tes. Dua-duanya ini yang sedang dikembangkan. Reagennya terutama masih diimpor, dan memang ini saya sudah cek dengan tim akan butuh waktu agak lama untuk menghasilkan reagen yang pakai PCR tetapi mendekati Juli mungkin bisa dihasilkan namanya reagen bio sensor. Ini adalah reagen yang khusus untuk rapid tes, jadi bukan untuk PCR tes. Untuk PCR tes, PR kita berikutnya. Tapi kita fokus dulu buat teskitnya.

Rapid tes kit ini yang GGIGM berbasis pretipe sistensis dari BPPT, UGM dan Unair. Rencananya 8 Mei ini yang 10.000 tes kit. Nantinya akhir Mei, sudah 100 ribu unit, dihasilkan dulu proses pengujian.

Kemudian kita juga akan membuat jenis lain dari rapid tes kit. Gunakan micro chip membutuhkan biosensor, yang nantinya targetnya hasil Juli. Jadi ada dua rapid tes kit yang kita hasilkan. Sedangkan yang PCR tes kit itu rencananya hari ini sudah ada 10 kotak yang memang validasi dan teregistrasi.

Rencananya kalau sudah siap, akhir mei sudah bisa produksi dalam jumlah besar untuk PCR tes kit. Ini bisa mengurangi kebutuhan PCR tes kit yang selama ini diimpor. Rapid tes kit juga 100 persen diimpor. Jadi lebih kepada upaya untuk mengurangi dan ketergantungan terhadap impor rapid maupun tes kit.

Bisa memenuhi kebutuhan Indonesia saat ini?

Mungkin kalau kebutuhan secara total masih harus bersama-sama dengan yang impor. Tetapi paling tidak kita mengurangi ketergantungan terhadap impor. Karena dia 100 persen. Dengan kehadiran rapid maupun tes kit.

trump di ktt g20 hamburg jerman

Mengenai kerja sama pemerintah AS dan Indonesia, apa poin pembicaraan antara Presiden Joko Widodo dan Donald Trump?

Yang saya pahami yang bicarakan lebih kepada pengadaan alatnya. Jadi Amerika itu, paling tidak saya mengikuti berita, lembaganya seperti NASA, Aerospace, sekarang pun membuat ventilator begitu besar. Kemudian di Inggris pabrik biasanya buat F1 Mclaren juga bikin ventilator.

Jadi memang ada kebutuhan ventilator yang besar. Barang kali itu yang dibicarakan AS dan Presiden Jokowi. Kalau Amerika bisa memproduksi dengan jumlah besar, maka mereka siap memenuhi kebutuhan di Indonesia yang memang masih cukup besar.

Tapi kalau dilihat perkembangan ventilator Indonesia, bisa diupdate kepada Anda, sudah ada 4 prototipe dan sudah selesai pengujian di Kementerian Kesehatan. Terutama pengujian alatnya di Balai Pengamanan faskes kesehatan. Keempat itu prototipe dari UI, ITB, BPTT dan PT Darma (swasta). Masing-masing ini jenisnya beda-beda tidak berkompetisi satu sama lain, tapi justru saling mengisi.

Dari 4 prototipe tersebut, kalau uji klinis sudah selesai targetnya minggu depan, kita mulai bisa melihat hasil dari ventilator made in Indonesia. Jadi bukan hanya made in and desain Indonesia. Kemudian pertengahan Mei, sekitar 18 Mei, barangkali bisa produksi dalam jumlah besar. Karena setelah prototipe ini pengujian kan produksi. Produksi pengujian ini tidak mudah, karena tidak ada perusahaan Indonesia sebelumnya yang bikin ventilator.

Ventilator ini 100 persen impor. Karenanya kita mengajak perusahaan-perusahaan tidak dalam bidang alkes untuk mau buat ventilator, seperti NASA, Mclaren tadi. Kalau di Indonesia PT DI, PT LAN terlibat, PT PINDAD yang biasanya bikin senjata pun terlibat. Indofarma yang punya farmasi juga terlibat. Jadi kita agak bervariasi, yang penting industri mau memproduksi. Paling penting Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas juga sudah komit untuk melakukan pengadaan terhadap ventilator yang diusulkan dari putra-putri bangsa kita sendiri.

3 dari 3 halaman

Fokus penanganan Covid-19 apakah kesehatan, riset, produksi atau penelitian obat?

Kalau kami memfokuskan pada kebutuhan yang jangka pendek dulu. Kenapa kita ventilator misalnya. Karena itu jelas kebutuhan jangka pendek. Pasien yang bahkan dalam tahap observasi belum masuk ke emergency dan ICU itu pasti kebutuhan ventilator. Karena penyakit ini kan menyerang paru-paru berarti mengganggu pernapasan. Karena ventilator dibutuhkan dalam jangka pendek. Kita mengundang siapapun yang bisa membuat ventilator untuk pengembangan prototipe ventilator tersebut, itu satu.

Kemudian yang saya katakan masalah alat kesehatan yaitu screening kita lebih ingin segera Covid-19 ini selesai. Itu intinya. Tapi tahapannya itu agak sulit tercapai kalau kita belum tes secara masif. Artinya kita tau juga orang sekitar kita itu aman atau tidak, positif atau negatif Covid-19. Supaya kegiatan berjalan dengan normal dengan kita mengetahui data itu. Berarti harus dilakukan tes secara masif.

Tes yang masif memang bisa dilakukan dengan rapid tes dan dikombinasikan dengan PCR. Tapi tetap dua-duanya tes kit. Untuk tes kit bisa kita datangkan dari luar itu terjadi sebelumnya cuma sekali lagi. Kalau kita tergantung pada dunia luar masalahnya semua negara berebut. Karena berebut ventilator, berebut tes kit jadi kita harus punya kemampuan menghasilkan tes kit tersebut. Baik naratif terutama yang PCR.

Jadi dua-duanya alat kesehatan maupun tes kit ini kebutuhan jangka pendek. Kalau terkait obat dan vaksin, vaksin jalan dan di satu sisi segala macam obat atau treatment yang bisa segera membuat Covid ini lebih bisa teratasi ini akan kita lakukan. Maka ketika ada ide konvalen plasma ini kita jadikan prioritas. Ketika ada ide serum kita didukung. Paling tidak idenya harus diangkat ke permukaan supaya bisa diuji. Itulah hal-hal yang jadi prioritas kita dalam penanganan Covid.

Tidak bisa kita lakukan bersamaan, karena ada jangka panjang kayak vaksin tadi. Bukan artinya vaksin tidak penting lho. Artinya vaksin itu memang kurasinya jangka menengah panjang. Sedangkan jangka pendeknya banyak isu yang harus diselesaikan.

Akhir februari sebelum muncul Covid-19 di Indonesia, Anda pernah sampaikan pelaksanaan riset terhambat birokrasi. Apakah dengan Pandemi Covid ini birokrasi masih berbelit?

Kalau misalkan ambil contoh terkait Covid-19 baik itu ventilator, maupun tes kit dilakukan dengan protokol biasa standar peraturan biasa ini memakan waktu berbulan-bulan. Artinya tidak akan bisa menjawab kebutuhan dalam jangan pendek. Untunglah setelah saya berkomunikasi berkali-kali dengan pak Menkes, karena kan regulatornya ada di Kemenkes, dalam konteks Covid-19 ini bersedia untuk melakukan relaksasi. Tapi tidak meninggalkan prinsip safety.

Jadi kami setuju safety tetap nomor satu, tetap regulasi-regulasi yang bisa dipangkas itu yang dipangkas. Termasuk lamanya waktu dalam pengujian. Kemudian misalkan sertifikat yang harus dipenuhi dan segala macam itu yang coba kita potong, baik ventilator dan tes kit ini bisa jadi alat kesehatan yang langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.

rs pertamina

Jadi intinya betul bahwa birokrasi pengadaan masih menjadi isu. Tetapi dalam Covid-19 ini kami sudah menangkap respon positif dari Kemenkes untuk merelaksasi regulasi tanpa mengorbankan keselamatan. Kedua paling penting melakukan pengadaan terhadap yang dihasilkan dari dalam negeri. Karena jangan sampai pabriknya menghasilkan dan sudah memproduksi, tidak ada yang beli. Itu kan nanti malah jadi proyek yang sia-sia.

Jadi kita coba buat kesepakatan bahwa dukungan ini harus ada. Presiden dengan tegas dalam satu ratas mengatakan apabila ventilator dan semua alkes atau obat ini sudah diproduksi tolong kurangi atau bahkan setop impor alat kesehatan atau obat. Tapi tentunya tergantung pada kebutuhan.

Berikut video wawancara dengan Menristek Bambang Brodjonegoro:

[noe]

Baca juga:
Menristek Sebut Kemungkinan Vaksin Corona Ditemukan Tahun Depan
Pemerintah Beri Rp5 Miliar untuk Eijkman Teliti Vaksin Covid-19
RSKI P. Galang Batam Teliti Manfaat Madu untuk Pasien Covid-19, Hasilnya Mengejutkan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini