KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Menjaga rahasia di audisi pembela hak asasi manusia

Senin, 17 Juli 2017 06:06 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Gedung Komnas HAM. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Seorang wanita berhijab menyambut kami di muka rumah kantor (rukan) Mitra Matraman Blok A 2 no 17, Jalan Matraman Raya no 148, Jakarta Timur, Kamis (6/7). Dia mempersilakan masuk setelah mengetahui maksud dan tujuan kedatangan kami siang itu.

"Bapak masih ada tamu," katanya sambil mempersilakan duduk.

Lantas perempuan itu tampak menelepon ke bagian lain dan memberitahu kedatangan kami. Tidak berselang lama, seorang perempuan paruh baya turun dari lantai atas menghampiri. Dengan ramah dia meminta kami menunggu. Wanita tersebut adalah istri dari anggota Pansel Komisioner Komnas HAM Makarim Wibisono.

Tepat pukul 15.45 Wib, kami dipersilakan menuju lantai dua. Dengan mengenakan batik cokelat lengan pendek, Makarim menyambut kami dan mempersilakan duduk. Dua botol air mineral disajikan oleh istri Makarim.

"Lalu apa yang ingin diketahui soal calon anggota Komnas HAM?" kata dia memulai perbincangan.

Panitia seleksi (pansel) Komisioner Komnas HAM telah memilih 28 dari 60 orang calon komisioner Komnas HAM yang lolos seleksi tahap pertama. Dari 28 kandidat ini bakal kembali diseleksi menjadi 14 orang untuk diajukan ke DPR dan dipilih 7 orang sebagai komisioner Komnas HAM periode 2017-2022.

Dalam berkas itu tak ada lagi nama Zainal Abidin atau biasa disapa Zainal Petir. Dalam rekam jejaknya, dia diketahui sebagai Koordinator Bidang Advokasi Hukum FPI Jawa Tengah. Nama lain yang tersisih adalah mereka yang terafiliasi dengan partai politik yaitu Antun Joko Susmana, politisi PDIP dan Welya Safitri politisi PAN. Keduanya gagal duduk di kursi DPR saat Pemilihan Legislatif 2014.

Makarim menolak menjelaskan alasan Panitia Seleksi Komnas HAM mencoret nama-nama itu dan kandidat lain. Yang jelas, pengumuman mereka tereliminasi dalam proses seleksi hanya beberapa saat setelah koalisi penyelamat Komnas HAM menemukan nama kandidat komisioner Komnas HAM yang terindikasi bermasalah. Dia berkeras tak mau menyebutkan nama orang-orang yang bermasalah sekalipun mereka sudah digugurkan. Alasannya demi menjaga nama baik orang itu.

"Kesempatan di tempat-tempat lain akan terpengaruh, jadi oleh karena itu kita ingin confidentiality tetap terjaga. Orang itu juga tersisih dan kita juga tidak merendahkan nama baiknya dia," terang Makarim kepada merdeka.com di kantornya, Mitra Matraman, Jakarta Timur, Kamis (6/7).

Makarim melanjutkan ceritanya. Selama proses audisi, pansel Komnas HAM mengerahkan jaringannya untuk menelusuri rekam jejak calon pejuang hak asasi manusia. LSM bergerak, polisi menelusuri, Badan Intelijen Negara (BIN) mengamati, hingga Mahkamah Agung juga ikut turun tangan. Pansel tidak bisa bekerja sendiri dalam proses panjang ini. Data rekam jejak dan masukan dari pelbagai pihak, mutlak dibutuhkan agar tak salah memilih orang.

"Oleh karena itu kita menyebarkan bantuan ke banyak sumber-sumber yang juga melakukan tracking-tracking," kata pria berkacamata itu.

Setali tiga uang dengan Makarim, Ketua Pansel Komnas HAM Jimly Asshiddiqie juga menolak mengungkap alasan tersisihnya beberapa nama dalam proses seleksi. Termasuk kemungkinan karena rekam jejak mereka yang dinilai bermasalah. Dia hanya menegaskan bahwa di luar 28 nama yang sudah diumumkan, maka dinyatakan tidak lolos.

"Artinya yang lain tidak lolos. Jangan tanya-tanya (alasannya) kenapa mesti ditanya. Ya karena tidak lolos saja. Enggak boleh nanya detil gitu. Kan sudah diumumkan tidak lolos ya sudah," tegas Jimly dengan nada meninggi saat dihubungi Rabu (12/7).

Mantan Ketua MK itu menyatakan bahwa alasan tidak lolosnya beberapa kandidat, sifatnya rahasia dan tidak untuk dipublikasikan. Hak Pansel untuk tidak meloloskan kandidat yang dinilai tidak mumpuni maupun memenuhi persyaratan.

"Kenapa mau ikut-ikut rahasia orang. Itu kan tidak boleh kalau tidak memenuhi syarat ya sudah. Itu urusan kami yang menilainya."

Jimly menuturkan, tidak etis jika membuka alasan Pansel tidak meloloskan beberapa nama kandidat. Yang jelas, mereka tidak lolos setelah Pansel melihat berbagai pertimbangan. Termasuk rekam jejak para kandidat.

"Jangan gitu dong, ada etikanya enggak boleh itu. Mereka tidak masuk karena tidak memenuhi syarat. Tidak lolos tahap itu, ada track record segala macam, jadi tidak lolos. Titik itu saja," ucapnya.

Zaenal Abidin tak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah langkahnya dalam seleksi komisioner Komnas HAM terhenti di tahap II. Tidak ada pemberitahuan apapun dari pansel mengenai alasan kegagalannya lolos ke tahap berikutnya. Dia tak ingin berprasangka buruk adanya desakan pada Pansel Komnas HAM untuk menghentikan langkahnya. Namun, kenyataannya memang ada pihak yang menyoal lolosnya Zaenal di tahap pertama. Jika alasannya karena statusnya anggota FPI, Zaenal menilai itu sebuah kesalahan besar.

"Tim seleksi salah atau yang mendesak tim seleksi yang tidak meloloskan kalau memang karena saya menyandang FPI itu salah besar. FPI kan bagian dari ormas, ormas itu dijamin di konstitusi kita," ujar Zaenal saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (11/7).

Zaenal sempat optimis langkahnya bakal mulus sebagai calon komisioner Komnas HAM. Semua proses dijalani mulai dari administrasi hingga tes wawancara. Tapi pansel punya keputusan sendiri. Namanya tidak masuk dalam daftar 28 kandidat yang lolos tahap ketiga. Dia masih bertanya-tanya, apakah kegagalannya karena statusnya sebagai bagian dari anggota FPI atau lantaran dianggap belum mumpuni.

"Karena kemarin kan banyak desakan saya enggak ngerti, terpengaruh karena desakan atau saya dianggap kurang kompeten," katanya sambil tertawa.

Kegagalan ini bukan pertama bagi Zaenal. Dia mengaku pernah mendaftarkan diri menjadi Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun akhirnya gagal. Meski dua kali gagal, dia mengaku belum menyerah mewujudkan mimpi menjadi pejabat negara.

"Kan Kita harus opitimistis kalau mau menjadi pejabat negara," ucapnya menggebu-gebu.

Baca juga:
Calon anggota Komnas HAM, kelompok radikal sampai penjahat seksual
Pesan Fadli Zon ke petinggi FPI jika lolos jadi anggota Komnas HAM
Pansel Komnas HAM disarankan tak loloskan anggota FPI Jateng
Maju seleksi Komnas HAM, anggota FPI mengaku ingin bela hak warga
Anggota FPI Jateng cuek ada pro kontra lolos seleksi awal Komnas HAM
Mau jadi anggota Komnas HAM, petinggi FPI harus penuhi syarat ini

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.