Menjadi Dokter Bukan untuk Jadi Kaya

Kamis, 16 Juni 2022 10:45 Reporter : Supriatin, Ronald
Menjadi Dokter Bukan untuk Jadi Kaya Demo dokter. ©2013 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - "Kalau jadi dokter, salah sebenarnya kalau tujuannya mau jadi kaya," ucap Hilya Syifa Hanina.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo itu sedang menunggu hasil Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

Dara 24 tahun asal Jakarta Selatan itu statusnya masih 'menganggur'. Sebelumnya, sejak 2020, Syifa menjalani pendidikan profesi sebagai co-ass (co-assistant) atau koas di RSUD dr Moewardi Solo dan RS UNS.

Jika hasil UKMPPD yang dia ikuti tahun ini lulus, Syifa harus menjalani masa internship di rumah sakit selama minimal satu tahun sebagai dokter muda sebelum mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia. "Saya rencananya mau internship di rumah sakit di Jaksel sesuai domisili," ujarnya dalam perbincangan dengan merdeka.com, pekan lalu.

Lokasi internship, kata Syifa, tergantung pilihan masing-masing calon dokter. "Cepat-cepatan kita mau pilih di mana. Kalau belum berubah nanti internship itu ada lokal, regional, nasional," ujarnya.

Untuk pilihan lokal, Syifa menjelaskan, dia memilih lokasi internship di rumah sakit sesuai domisili tempat tinggalnya. "Kalau regional bisa keluar. Misalnya saya mau di Jawa Tengah, Jawa Timur. Nah kalau nasional itu bisa milih di luar pulau. Tapi itu ada kuotanya. Jadi memang cepat-cepatan," tuturnya.

Setelah program internship dilalui dan mendapat STR, Syifa baru berhak menyandang status dokter yang bisa berpraktik di rumah sakit atau membuka praktik mandiri. Pilihan lainnya adalah melanjutkan pendidikan menjadi dokter spesialis sesuai bidang yang dia minati.

Berasal dari keluarga dokter, Syifa mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Dia menempuh jalur mandiri di UNS dengan biaya yang lebih mahal. Ada 8 golongan uang kuliah tunggal (UKT) yang ditetapkan UNS berdasarkan kemampuan orang tua mahasiswa. Komponen biaya yang paling mahal adalah uang pangkal untuk mahasiswa jalur mandiri yang ditetapkan pihak universitas.

"Kalau di UNS namanya sumbangan pembangunan institusi (SPI), mulai dari Rp26 juta sampai Rp100 juta ke atas. Kalau enggak salah di UNS bisa dicicil dua kali," jelasnya.

Saat diterima di Fakultas Kedokteran UNS tahun 2016, Syifa mengungkapkan, setiap calon mahasiswa harus mengisi berapa penghasilan orang tua, berbagai jenis pajak yang dibayarkan orang tua, kondisi rumah, dan beberapa syarat lainnya. Dari data yang dilaporkan mahasiswa itu, pihak kampus yang menentukan golongan UKT.

"Kebetulan saya dapat yang per semester Rp21,8 juta. Teman saya ada yang Rp24 juta, ada juga yang Rp1 juta, ada yang Rp17 juta, Rp13 juta. Jadi memang kalau di UNS tergantung input gaji orang tua dan sebagainya," tuturnya.

Untuk yang kurang mampu, Syifa menyebut, calon mahasiswa bisa mengajukan beasiswa bidik misi yang disediakan oleh Kemendikbud Ristek. UKT yang dibayarkan, lanjut Syifa sudah mencakup semua sarana dan prasarana selama kuliah di FK, termasuk biaya praktikum.

Namun, selama kuliah ada biaya-biaya tambahan yang harus dikeluarkan Syifa. "Misalnya kalau di UNS itu, rata-rata enggak hanya kuliah tapi ada praktikum, ada anatomi, mikrobiologi. Terus ada diskusi tutorial semacam diskusi kasus penyakit. Terus belajar skill pemeriksaan. Apapun pokoknya buat pemeriksaan," ujarnya.

Demikian juga, ongkos yang harus dikeluarkan jika melakukan kunjungan ke puskesmas-puskesmas.

2 dari 4 halaman

Wajar Mahal

rev7

Syifa memaklumi jika kuliah kedokteran membutuhkan biaya yang mahal. Dia mencontohkan, fasilitas di fakultasnya lebih bagus dari fasilitas di fakultas lain di UNS.

"FK itu ada lift, yang lain enggak ada. Terus juga banyak sarana dan prasarana memang lebih bagus. Terus juga alat-alat praktikum (harganya) bisa miliaran kalau dihitung," ungkapnya.

Dengan fasilitas yang dia dapat, Syifa merasa wajar dengan biaya kuliah yang dia bayarkan. Meski begitu, menurutnya di kampus lain ada uang kuliah FK yang mencapai Rp50 juta hingga Rp70 juta per semester. "Itu sih kemahalan," tukasnya.

Menanggapi penilaian mahasiswa kedokteran berasal dari keluarga kaya, Syifa tidak sependapat. Buktinya, selama kuliah di UNS, banyak teman-temannya yang berasal berbagai kalangan.

Syifa menghitung, total biaya yang dikeluarkan selama kuliah kedokteran mencapai ratusan juta. "Biaya S1 Rp21,8 kali 7 semester (Rp152,6 juta). Nah kalau koas biayanya beda lagi tapi lebih murah. Kalau UNS itu koasnya 4 semester saya dipatok rata Rp6,8 juta," jelasnya.

Biaya koas lebih murah karena calon dokter lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. "Kita cuma datang ke rumah sakit, belajar ke pasien, paling disupervisi sama dokternya. Paling cuma buat log book. Itu sih enggak mahal," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Sulitnya Menjadi Dokter Spesialis

dokter spesialis rev7

Menjadi dokter spesialis adalah keinginan hampir semua dokter. Namun tidak semua bisa melanjutkan pendidikan. Selain syarat yang ketat dan waktu pendidikan yang lama, biaya yang dikeluarkan juga lebih besar.

Seperti diceritakan dr Dicky Stevano Zukhri, Sp.M. Dokter spesialis mata lulusan Universitas Brawijaya Malang. Dia mengakui persepsi masyarakat bahwa biaya menjadi dokter apalagi menjadi dokter spesialis sangat mahal dan melalui tahapan yang panjang dan sulit. Karena faktanya memang seperti itu.

Dicky mengaku mendapat kemudahan untuk langsung melanjutkan pendidikan dokter spesialis di Universitas Brawijaya setelah dia mendapat STR. Dia memilih spesialis mata karena persyaratannya tidak seberat spesialis bidang lain.

"Ada yang syarat bekerja dua tahun, syarat ini, itu, banyak syaratnya. Kebetulan spesialis mata ini bisa langsung, dan Alhamdulillah saya coba ambil spesialis mata dan saya lulus satu kali tes," kata dokter yang berpraktik di RS Islam Siti Rahmah, Padang itu dalam perbincangan dengan merdeka.com.

Masa perkuliahan di kelas saat mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), lanjut Dicky, tidak selama saat kuliah kedokteran tingkat S1. Berstatus sebagai residen di salah satu rumah sakit, calon dokter spesialis akan lebih banyak bertemu langsung dengan pasien.

"Kita berhadapan dengan pasien tapi masih disupervisi. Masih ada penanggung jawabnya. Jadi di sebelah kita itu, dosen kita, profesor kita, ada dokter yang selalu membimbing kita, di samping mengobservasi kita juga melakukan hal-hal yang sesuai dengan kompetensi kita," imbuhnya.

Selama masa pendidikan, seorang dokter spesialis membutuhkan pendamping seperti guru-guru besar, profesor, hingga konsultan. Jadi, menurut Dicky, wajar jika biaya yang dia keluarkan lebih mahal. "Pasti membutuhkan timbal balik yang gede juga, memberikan intensif atau fee untuk beliau tersebut. Bukan dosen sembarangan atau dosen biasa," ujarnya.

Selain itu, tingginya biaya karena kehidupan calon dokter spesialis lebih banyak dihabiskan di rumah sakit. "Dengan tidak pulang itu otomatis kan kita butuh makan yang lebih ekstra, biaya sosial lebih ekstra. Dan itu cost lebih tinggi daripada kita menjadi dokter umum yang selesai kuliah di kampus kita bisa langsung pulang ke tempat tinggal," ujarnya.

Dicky menolak penilaian yang menyebut dokter-dokter senior mempersulit juniornya. Menurutnya, seorang calon dokter spesialis harus pandai-pandai menyesuaikan terhadap pembimbingnya.

"Kita tidak hanya diajarkan, tapi kita dididik secara etika, secara etos dididik. Jadi bagi orang baperan, susah jadi PPDS. Terkesan semua yang dikasih tahu senior itu jadi sulit semua, bukan begitu," tegasnya.

Dicky menambahkan, dirinya pernah merasa dipersulit oleh dokter senior. Tapi penilaian itu berubah saat dia merasakan menjadi pembimbing dokter junior. "Ternyata ketika saya jadi senior, saya baru merasakan tanggung jawab senior itu luar biasa. Jadi kalau juniornya melakukan kesalahan-kesalahan yang enggak bagus, itu tanggung jawab senior," tuturnya.

"Jadi Insyaallah enggak ada namanya mempersulit, yang ada kita harus berpandai-pandai lihat situasi, lihat kondisi, bagaimana terus lakukan yang terbaik. Belajar itu enggak harus keras tapi belajar cerdas," pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Menjadi Dokter untuk Pengabdian

untuk pengabdian rev7

Dengan jumlah biaya yang dikeluarkan selama masa perkuliahan hingga mendapat STR, baik Dicky dan Syifa sepakat, setelah menjadi dokter atau dokter spesialis tidak serta merta menjadi kaya. Butuh waktu yang lama untuk 'balik modal'.

Syifa mengatakan, setelah menjadi dokter, pemasukan yang akan didapat dalam tahun-tahun awal belum sebanding. "Kalau internship berapa sih gajinya Rp3 juta, Rp4 juta. Jadi kalau jadi dokter, salah sebenarnya kalau tujuan mau jadi kaya. Karena butuh waktu bertahun-tahun," ujarnya.

Sementara Dicky, mengaku tergelitik dengan anggapan profesi dokter menjanjikan kekayaan. Menjadi dokter, ada hal-hal yang tidak bisa dinilai dengan uang.

"Seperti kita bisa menolong seseorang dan orang itu puas dan terbantu dengan keilmuan kita sebagai dokter. Itu sejujurnya sudah melebihi segalanya," tuturnya.

Dicky menegaskan, pilihan hidup menjadi dokter tidak hanya dinilai sebatas materi. Kepada dokter-dokter muda yang dia bimbing, Dicky selalu mengingatkan, menjadi seorang dokter adalah profesi yang harus belajar seumur hidup. Ilmu kedokteran terus berkembang, dan kemampuan seorang dokter harus terus diperbarui.

"Dan ingatlah, menjadi seorang dokter, orientasinya jangan hanya uang. Semakin banyak kita bantu dan tolong orang, semakin banyak juga Allah membantu dan menolong kita dari waktu yang tidak disangka-sangka, dari orang yang tidak kita ketahui sebelumnya, itu akan datang," pungkasnya. [bal]

Baca juga:
IDI: Tanpa Revisi UU Pendidikan Kedokteran, Sulit Penuhi Kebutuhan Dokter Spesialis
Kemendikbud Review Biaya Sekolah Dokter, Target Rampung Sebelum Ajaran Baru 2022
IDI Usul 30 Persen Mahasiswa Kedokteran Dapat Beasiswa
Dunia Dokter Indonesia: Sekolah Mahal sampai Dipersulit Senior
IDI: Silakan Lapor jika Ada Dokter Senior Persulit Junior jadi Spesialis
Menkes: Kita akan Review Biaya Pendidikan Dokter, Sebaiknya Berapa?

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini