Sosok Merdeka

Mengolah Sampah Jadi Berkah

Rabu, 8 Juli 2020 08:47 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Mengolah Sampah Jadi Berkah Ovy dan Novi pemilik Rebricks. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Ovy Sabrina sontak tersadar. Banyak sampah plastik ditemui setiap hari. Tidak semua bisa diolah kembali. Perlahan kondisi ini tentu semakin membahayakan. Di satu sisi, dia merasa ada sebuah peluang.

Di mulai pada 2018. Mendatangi beberapa bank sampah, membuka matanya. Begitu banyak sampah plastik tidak dimanfaatkan. Di antaranya, saset kopi, mi instan maupun label pada minuman botol plastik.

Kebanyakan pengepul hanya memanfaatkan botol plastik. Tentu ini dirasa lebih memiliki nilai jual dibanding plastik saset bekas makanan maupun minuman. Kalau pun dibuang kembali, tidak mudah bagi tanah mengurai sisa sampah plastik.

produk paving blok rebricks

Produk paving blok Rebricks ©2020 Merdeka.com

Sampah plastik tidak bisa diolah tersebut biasanya dipisahkan pemulung. Kemudian disobek, dibakar atau dibuang lagi ke tempat pembuangan sampah akhir. Tahu keadaan itu, semakin membuatnya kaget. Kondisi ini semakin menguatkan tekadnya untuk mewujudkan ide mendaur ulang sisa sampah plastik.

Ovy mulai terpikirkan untuk memanfaatkan sampah plastik menjadi paving blok, atau sejenis batako. Instingnya berkata bahwa itu bisa dimanfaatkan kembali. Memiliki keluarga yang berbisnis paving blok, dia pun memulai usahanya. Dengan mengajak rekannya, Tan Novita alias Novi.

"Kita coba daur ulang sampah saset. Sama sampah-sampah yang ditolak bank sampah. Fokus kita di sampah saset, karena kan sampah ini banyak banget," kata Ovy menceritakan kepada merdeka.com, Selasa kemarin.

Dua kerabat ini memilih serius dalam berdagang paving blok. Bisnis mereka dimulai tahun 2018. Keduanya memang dikenal peduli lingkungan. Bahkan dari hal-hal kecil, seperti memilah sampah plastik, menggunakan tas saat bepergian, membawa botol minum, dan lain sebagainya.

Mereka memulai usahanya dalam dana terbatas. Berawal pada Juli 2018, Ovy dan Novi mencoba mendaur ulang sampah plastik dengan menggunakan berbagai metode. Pada tahap ini membuat mereka harus jatuh bangun. Ditambah segala kebutuhan dan pengetahuan masih terbatas.

Proses ini tidak mudah dilalui. Sampai suatu hari Ovy bertemu dengan Aris, seorang dosen teknik sipil. Aris membantu memberikan masukan kepada dua perempuan itu. Termasuk berbagai teori dalam mengolah sampah plastik saset saat mendaur ulang untuk dijadikan paving blok.

"Jadi mas Aris ini adalah penasihat ahli kita. Bahkan kita juga bisa tes laboratorium karena bantuan beliau ini," ujarnya.

Ovy bersama rekannya terus berusaha untuk membuat paving blok yang kuat dan mampu bersaing dengan paving blok konvensional. Sampai mereka mendapat formulanya. Biasanya, untuk 20 saset plastik bekas bisa untuk sebuah paving blok. Lebih kurang, untuk ukuran 100 meter persegi bisa memakai 800an bekas sampah plastik saset .

Untuk kualitas, Ovy dan timnya berhasil membuat paving blok dengan kekuatan 250 kg tiap meter persegi dari hasil tes. Sudah masuk kriteria Standar Nasional Indonesia (SNI). Cukup aman untuk menjadi dasar parkiran kendaraan roda empat. Semua tes dilakukan di Badan Bahan dan Barang Teknik (B4T) Kementerian Perindustrian.

Modal kuat ini membuat Ovy dan Novi semakin yakin. Ada peluang besar di depan mata. Mereka kemudian membangun usaha barunya bernama Rebricks.

Sebenarnya ada beberapa hal ditakutkan Ovy saat pertama kali menjalankan usahanya ini. Salah satunya kesulitan mendapat pasokan sampah plastik. Harus diakui bahwa sampah plastik, khususnya yang tidak bisa diolah sangat sulit tersedia di banyak bank sampah dan pemulung.

Alhasil, Ovy dan rekannya memiliki ide untuk melakukan kampanye melalui media sosial tentang daur ulang sampah plastik yang mereka lakukan saat ini. Melalui akun Instagram Rebrick.id, kampanye dilakukan cukup berhasil. Membuat kedua perempuan hebat ini terharu dan sadar bahwa masih banyak masyarakat sadar lingkungan.

"Jadi mereka akhirnya hubungi kita. Teman-teman kita yang mengikuti Rebricks dari awal, mereka itu benar-benar semangat untuk lingkungannya," kata Ovy.

Ovy mengaku belum bisa membeli banyak sampah plastik yang disumbang dari teman dan masyarakat. Semua karena masih keterbatasan. Usahanya pun masih dalam dalam membangun. Meski begitu, dia mengaku banyak yang mendukung ikhlas atas gerakan ini.

Baca Selanjutnya: Mimpi Menjadi Lebih Besar...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini