Mengirim doa dari atas tanah Poboya

Rabu, 17 Oktober 2018 08:00 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Mengirim doa dari atas tanah Poboya Pemakaman massal korban gempa dan tsunami di Palu. ©2018 Liputan6.com/Fery Pradolo

Merdeka.com - Posisinya berada di atas bukit paling tinggi. Pemandangan dari atas begitu indah. Kita bisa melihat secara jelas pemandangan seluruh Kota Palu, Sulawesi Tengah. Pantai, perkotaan hingga pegunungannya. Semua lengkap. Bisa dilihat pakai mata telanjang dari sini.

Buat mencapai lokasi tidak sulit. Hampir seluruh orang Palu tahu. Mereka akan menunjukkan jalan ke tempat itu. Sebut saja nama wilayahnya: Tempat Pemakaman Umum (TPU) Poboya. Ketika nama itu disebut, tanpa sungkan semua akan menunjuk. Memberi arah tepat. Tidak mungkin tersesat. Sebab wilayah ini sudah sangat dikenal bagi masyarakat di sini.

Untuk menuju ke sana, mata memang perlu awas. Ketika bertemu dengan pertigaan akan melihat plang kecil. Berdiri di sebelah kanan. Bertuliskan menuju TPU Poboya belok kanan dan menanjak ke kiri. Itu jalur tercepat. Jaraknya lebih kurang 8 kilometer bila dari tengah kota.

Memasuki lokasi TPU Poboya. Jalan beraspal mulai rusak. Menanjak dan berbelok. Menjadi ciri khas jalan sini. Tidak banyak perumahan di sisi kanan kiri ketika menuju ke sana. Hanya banyak peralatan bekas tambang emas. Namun, semuanya kosong. Belum ada aktivitas penambangang usai diguncang gempa 7,4 skala richter pada 28 September lalu. Para penambang kabur. Belum berani kembali.

Selain ada area pemakaman, Poboya juga dikenal sebagai lokasi penambangan emas. Belakangan kerap menjadi pusat kontroversi. Terhitung dalam 10 tahun terakhir aktivitas di sini mulai ramai.

Kontroversi ini lantaran dugaan menggunakan bahan berbahaya, merkuri. Ada kekhawatiran itu justru mengancam kesehatan para pekerja dan sekitar 400.000 jiwa penduduk Kota Palu. Masalah itu belum terselesaikan hingga kegiatan penambangan untuk sementara berhenti akibat diguncang gempa.

relawan pengantar jenazah korban gempa sulteng 2018 Merdeka.com/Angga Yudha Pratomo


Jalan terus menanjak. Hingga bertemu dengan plang TPU Poboya sebagai pintu masuk area makam. Suasana mulai terasa berbeda. Hanya pohon di sebelah kanan kiri. Perjalanan terus menanjak. Lalu berbelok lagi. Dari situ muli terlihat adanya pemakaman umum. Banyak kuburan berjejer. Ada blok makam muslim dan nonmuslim.

Sampai kami di puncak tertinggi TPU Poboya. Seperti digambarkan sebelum. Memang indah. "Banyak yang suka berpacaran di sini memang," kata Sandi, warga Palu yang mengantar kami.

Tujuan kami ke lokasi bukan berwisata. Melainkan untuk melihat prosesi pemakaman massal korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala). Tempat terakhir mereka beristirahat tanpa dikenali jasadnya. Hanya terbungkus dalam kantong jenazah.

Proses pemakaman massal

Pukul 10 pagi tiba di lokasi. Suasana pemakaman massal Poboya masih sepi. Hanya terlihat mesin eskavator dan tanah lapang bekas penguburan. Lalu di atas tanah terdapat papan putih. Bertuliskan: Pemakaman Masal Korban Gempa. Ukurannya memanjang.

Tidak berselang lama operator mesin eskavator tiba. Muhiddin, nama sang operator eskavator. Dia segera memanaskan mesin. Tanpa menunggu waktu bersantai. Selanjutnya membuat lubang lagi. "Sudah ada 900 kantong mayat dikubur di sini," ungkap dia kepada kami.

Ukuran lubang kubur begitu besar. Tiap satu lubang berukuran 7 x 5 meter. Kedalamannya sekitar 3 meter. Sebagian sudah tertutup. Sudah dikeruk dan diratakan mesin eskavator. Dalam proses penguburan tidak perlu memakan waktu lama. Kantong mayat cukup diletakkan ke tanah dan mesin eskavator mengeruknya.

Dalam satu lubang, mayat korban gempa dan tsunami ditumpuk tiga lapis. Bila barisan paling bawah sudah penuh maka mesin eskavator akan menutup dengan tanah. Lalu masuk mayat lapisan kedua. Masih dengan cara serupa hingga jejeran mayat terakhir. Tanah lalu diratakan.

Pemakaman massal di Poboya memang sudah disiapkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mereka menyiapkan 1.000 ruang untuk mayat korban gempa. Prosesi pemakaman dilakukan secara layak. Jenazah juga dipilah sesuai jenis kelamin. Selain itu, mereka didoakan terlebih dulu sebelum dikubur dalam pemakaman massal.

Untuk luas keseluruhan pemakaman umum di Poboya berukuran 1.000 meter persegi. Tiap hari pascakejadian ambulans selalu wira-wira. Tiap waktu. Membawa sampai ratusan mayat tiap harinya. Dari pelbagai macam relawan banyak menyiapkan mobil khusus pengantar jenazah.

Dua jam lebih kami menunggu. Datang pada H+10 kejadian gempa dan tsunami. Biasanya sejak pagi rombongan mobil pengantar jenazah sudah tiba, kata Muhiddin. Sekitar pukul 12.15 WITA, suara sirine ambulans terdengar dari kejauhan. Sebelumnya sudah bersiap pasukan TNI AD dan relawan dari mahasiswa. Mereka bertugas membantu pemakaman.

Suara sirine makin mendekat. Semua bersiap menuju liang lahat. Menggunakan mobil minibus, ambulans berwarna putih bertuliskan Dompet Dhuafa itu tiba. Memarkirkan dekat lubang kubur. Enam orang turun dari mobil. Mengangkat kantong jenazah berwarna kuning berisi mayat. Itu merupakan kantong mayat pertama hari itu. Mereka mengaku ambil dari daerah Pantai Talise. Jenazah merupakan wanita dan anak kecil. Diduga ibu dan anak dimasukkan dalam satu kantong. Kondisinya tragis.

Jenazah digotong menuju liang lahat. Diletakkan pelan-pelan. Kepala menghadap arah kiblat. Kemudian enam orang itu membaca doa bersama para relawan dan TNI AD. Pembacaan doa berlangsung khusyuk. Semua menunduk, terdiam sambil mengangkat kedua tangan. Berdoa di atas tanah pemakaman umum Poboya.

Setelah satu jam berlalu, dua kantong mayat kemudian tiba lagi. Semua dibawa anggota kepolisian. Mereka mengaku mayat tersebut didapat dari wilayah perumahan dekat Pelabuhan Pantoloan. Tidak diketahui jenis kelaminnya. Mereka langsung membungkus dan membawa ke pemakaman massal Poboya. "Kita tidak tahu. Langsung antar ke sini dan segera dimakamkan," ucap seorang anggota polisi tersebut.

Mencari jasad kerabat

Banyak jenazah tidak teridentifikasi dikuburkan di sini. Namun, ada saja warga datang. Mereka penasaran. Ingin mencari tahu mengenai keluarga atau kerabatnya dimakamkan di Poboya. Seperti dilakukan Andre. Dia datang bersama temannya dari tengah kota menggunakan sepeda motor. Kedatangannya di sini setelah mendapat informasi dari rumah sakit untuk mencari identitas jenazah di Poboya.

Pria 17 tahun itu penasaran mencari jasad teman wanitanya. Mereka teman satu sekolah. Sejak kejadian belum mendapat kabar tentang temannya tersebut. Maka itu dia meyakini bahwa temannya telah meninggal akibat gempa dan likuefaksi di Balaroa, Palu. "Saya mencari teman saya. Tadi dari rumah sakit disarankan ke Poboya," ucap Andre.

Pemakaman massal korban gempa dan tsunami di Palu AFP/Bay Ismoyo


Harapan Andre pupus. Dia tidak mungkin mengetahui siapa saja telah dimakamkan secara massal di Poboya. Tidak ada identitas jenazah di sini. Mereka langsung dimakamkan tanpa perlu diketahui nama dan umurnya. Semua dilakukan secara cepat sesuai waktu tanggap darurat.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan mengatakan korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah hingga Kamis, 11 Oktober lalu, sudah mencapai 2.073 orang. Semua korban sudah dimakamkan oleh keluarga maupun secara massal.

"Korban meninggal dunia yang ditemukan di Kota Palu 1.663 orang, Kabupaten Donggala 171 orang, Kabupaten Sigi 223 orang, Kabupaten Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu, Sulawesi Barat satu orang," kata Sutopo.

Kota Palu menjadi daerah paling banyak menelan korban meninggal dunia. Mereka banyak ditemukan di wilayah pantai sebagai korban tsunami. Selain itu jumlah korban juga ditambah dari kejadian likuefaksi di Petobo dan Balaroa. Untuk itu pemerintah memastikan memperpanjang tanggap darurat selama 14 hari. Mulai 13 Oktober sampai 26 Oktober mendatang.

Fokus dalam tanggap darurat kali ini mengurus masalah belum terselesaikan. Dari pemenuhan kebutuhan pengungsi, perbaikan sarana dan prasarana, pembangunan hunian sementara, serta kegiatan penanganan medis. Perlindungan sosial dan pembersihan puing bangunan juga menjadi agenda lain dan harus selesai. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini