KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Menengok Mbah Fanani di Petilasan Dampu Awang Indramayu

Jumat, 21 April 2017 08:43 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Mbah Fanani dan Abah Rojab. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Mbah Fanani, petapa di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara kini berada di petilasan Dampu Awang, Desa Sudimampir, Kecamatan Balongan, Indramayu. Kedatangan Mbah Fanani membuat petilasan itu tak pernah sepi dari pengunjung.

Saat merdeka.com ke petilasan tersebut, lokasinya berada di tengah persawahan. Petilasan itu sekitar 1,5 Km dari pemukiman penduduk. Untuk sampai ke petilasan, pengunjung harus melewati areal persawahan yang muat untuk satu mobil. Tanah yang becek dan licin membuat pengendara mesti hati-hati.

Petilasan berada persis di bibir kali irigasi. Kali ini memiliki lebar 5 meter di tengah-tengah sawah. Terdapat sebuah sumur tua sedalam 2 meter di area petilasan.

Di samping sumur dibangun langgar kecil berukuran sekitar 5x5 meter. Tiang dan usuk atap langgar dibuat dengan kayu. Cukup teduh dan sejuk di area petilasan ini.

Petilasan Dampu Awang ©2017 Merdeka.com

Langgar itu menghadap barat. Di sisi selatannya dibuat sebuah kamar berukuran 1,5 x 2 meter. Di atas pintu kamar terdapat tengkorak kepala kerbau dengan tanduk sepanjang 90 CM. Di dalam kamar itu terbaring lemas Mbah Fanani dan Abah Rojab.

Terlihat orang-orang mengantre ingin memasuki kamar tersebut. Namun tidak semua orang bisa masuk menemui mbah Fanani. Hanya bisa melihat dari depan kamar. Pintu kamar yang juga dilengkapi tirai tidak begitu lama dibuka. Sistem buka tutup diberlakukan oleh orang-orang yang mengurus Mbah Fanani. Sejumlah persyaratan disampaikan sebelum bertemu Mbah Fanani di dalam kamar.

"Kalau mau salaman asal nempel saja, jangan sampai digenggam atau dicium beliau tidak mau," ujar Toha memberi arahan kepada setiap pengunjung yang antre ingin bersalaman dengan Mbah Fanani.

Siapa Toha ini? Toha adalah anak ketiga dari Abah Rojab. Toha adalah orang yang membawa Mbah Fanani dari Dieng Kulon, Banjaranegara ke Petilasan Dampu Awang di Indramayu.

Saat merdeka.com masuk ke kamar Mbah Fanani terlihat bersih. Tak lagi berselimut hitam kumal. Rambut gimbal sekitar dua meter masih terurai namun tak lagi menutup wajahnya. Kulitnya nampak kuning. Dia berbaring mengenakan sarung tanpa baju.

Kala merdeka.com memperkenalkan diri, dia merespons. Dia pun menjawab saat ditanya keadaannya meski ucapannya tidak jelas. Mbah Fanani sempat berbicara beberapa kalimat. Namun tidak jelas artikulasinya.

"Katanya lanjutkan tapi beritanya benerin, lurusin," kata Toha mentranslate omongan Mbah Fanani. Saat akan difoto, Mbah Fanani menolak dengan isyarat melambaikan tangan.

Petilasan Dampu Awang ©2017 Merdeka.com

Menurut Toha, Mbah Fanani dan ayahnya Abah Rohab memiliki hubungan 'spesial'. Keduanya sering berkomunikasi lewat batin.

"Abah komunikasi dengan Mbah Fanani. Mbah Fanani bilang ke Abah, kalau Abah ke Kalimantan, nanti saya (Mbah Fanani) ke tempat Abah di Indramayu. Nah saya yang ditugasi menjemput. Jadi Mbah Fanani itu ke sini (Petilasan Dampu Awang) atas permintaan beliau sendiri. Bukan atas permintaan saya. Apalagi katanya diculik, gak benar itu," ujar Toha.

Toha menjelaskan awal penjemputan mbah Fanani dari Dieng. Kata dia, semua ini murni keinginan mbah Fanani setelah komunikasi batin dengan abah Rojab. Toha menjemput mbah Fanani di Dieng, pada Rabu (12/4) lalu. Dari Dampu Awang dia berangkat sekitar pukul 17.00 WIB bersama istri beserta tiga orang kerabat. Sampai di Dieng sekitar pukul 23.00 WIB.

Menurut Toha, mbah Fanani pun memilih sendiri mobil yang ingin dia tumpangi. Padahal ada 27 mobil yang berebut ingin ditumpangi Mbah Fanani. Mbah Fanani memilih mobil yang pintunya slide, dalamnya lebar dan ada tulisan Illaahi anta maksudi waridho kamaktubi. Saat diangkat dari tendanya tak satu pun warga sekitar yang menyaksikannya. Namun kepolisian setempat turut hadir malam itu. Mbah Fanani sempat teriak kala rambut gimbal sepanjang dua meter terinjak oleh sopir bernama Joni. Rambutnya diangkat oleh dua orang.

"Nah waktu rambut mbah keinjek, mbah bilang. Pelan-pelan dong," ujar Toha menirukan perkataan Mbah Fanani kala itu.

Dengar suara itu, pemilik rumah belakang tenda Mbah Fanani keluar. Kata Toha, dia mengira mbah Fanani dibawa paksa. Namun setelah tahu bahwa Toha yang menjemput warga tersebut minta maaf lantaran sudah berburuk sangka. Maka dari itu pemberitaan yang selama ini menyebut Mbah Fanani dijemput, dibawa atau pun diculik tidak benar.

Petilasan Dampu Awang ©2017 Merdeka.com

Selama dalam perjalanan dari Dieng Kulon menuju Indramayu, tidak ada satu ucapan keluar dari mulut Mbah Fanani. Dia terus diam seperti biasa. Perjalanan sempat berhenti lantaran Toha ingin buang air kecil. Setelah itu mbah Fanani memberi isyarat agar segera melanjutkan perjalanan kembali. Mobil terus melaju hingga pada pukul 05.00 WIB sampai di Petilasan Dampu Awang.

Kursi roda disiapkan untuk Mbah Fanani namun dia menolak. Dia minta untuk dibopong ke kamar. Setelah sampai kamar badan mbah fanani dibersihkan dengan air hangat. Selimut dan sarung diganti dengan yang baru. Dia sehat dan nyaman di tempat barunya. Bahkan kata Toha, dia meminta kamarnya disemprotkan pewangi. Tapi kaki Mbah Fanani sulit untuk diluruskan. Menurut Toha, itu akibat puluhan tahun dia selalu menekuk lututnya.

Keesokan harinya atas permintaan Mbah Fanani, Toha menelepon Ono, pemilik rumah di belakang tenda Mbah Fanani di Dieng Kulon. Dia meminta tenda mbah Fanani dibersihkan tapi tidak dibongkar. Toha juga meminta tenda mbah Fanani diplester khawatir suatu hari akan balik lagi. Mbah Fanani kemudian meminta Toha agar menjemput Abah Rojab yang kala itu masih di Kalimantan.

"Katanya kalau abah (Rojab) nggak ke sini dia (mbah Fanani) bakal pulang," kata Toha.

Lalu tiga orang dari Dampu Awang menjemput Abah Rojab di Kalimantan. Abah Rojab sampai di petilasan tersebut pada Selasa (18/4) sekitar pukul 15.00 WIB. Lucunya, cerita Toha, saat datang Abah Rojab tiba-tiba Mbah Fanani mengusirnya keluar. Mbah Fanani ingin berdua saja dengan Abah Rojab.

Keesokan harinya, keponakan Mbah Fanani dari Cirebon datang ke petilasan sambil marah-marah. Mbah Fanani memang berasal dari Cirebon. Keponakannya itu ingin membawa mbah Fanani ke Cirebon. Namun mbah Fanani menolak. Padahal di Cirebon sudah disiapkan 'istana' buat Mbah Fanani. Keponakannya terus merayu Mbah Fanani sehingga membuat pria berumur 100 tahun lebih itu marah.

"Nggak ada waktu, tugas saya di sini," kata Toha menirukan ucapan Mbah Fanani. Toha menuturkan, jika bukan keinginan dari hati Mbah Fanani sulit untuk dibujuk oleh keluarga sekalipun. Mbah Fanani memiliki banyak keponakan. Dia pun mempunyai istri namun sudah meninggal. Dari hasil pernikahannya itu dikaruniai seorang putri bernama Maryam. Maryam sendiri belum pernah melihat sosok mbah Fanani. Sebab, dia sudah ditinggal bertapa saat dalam kandungan. Namun hingga Selasa (18/4) malam, Maryam belum mendatangi petilasan Dampu Awang.

Petilasan Dampu Awang ©2017 Merdeka.com

Mbah Fanani, kata Toha, pribadi yang lucu. Namun hanya dia dan abah Rojab yang mengerti semua ucapannya. Terkadang antara Mbah Fanani dan abah Rojab bercanda seperti anak kecil. Mereka terlihat seperti main ci luk ba. Toha pun tidak mengetahui persis berapa lama mereka bersahabat.

Sejak ada Mbah Fanani, Dampu Awang tidak pernah sepi. Warga dari berbagai daerah seperti Indramayu, Cirebon dan Tangerang datang ke sana. Akan tetapi tak semua orang bisa salaman dengan Mbah Fanani dan Abah Rojab. Paling tidak para tamu hanya melihat dari pintu kamar. Rojab mengatakan, tamu-tamu yang datang beragam tujuan. Namun tujuan yang pasti adalah supaya mendapat berkah.

"Ya minta doa saja. Semoga semua selamat. Beli ana musibah (Tidak ada musibah)," ujar Badriyah (54) warga Tugu, Indramayu saat mendatangi petilasan.

[hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Mbah Fanani
  2. Indramayu

Rekomendasi Pilihan

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.