Menakar Ma'ruf Amin vs Sandiaga

Senin, 1 Oktober 2018 08:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Menakar Ma'ruf Amin vs Sandiaga Deklarasi Kampanye Damai. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho

Merdeka.com - Geliat persaingan Pilpres 2019 sudah dimulai. Sudah sepekan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memasuki masa kampanye. Menjadi pertandingan ulang antara Jokowi vs Prabowo. Bedanya, mereka didampingi dua orang baru.

Kali ini Jokowi menggandeng ulama Kiai Ma'ruf Amin sebagai pasangannya. Sementara Prabowo didampingi pengusaha muda Sandiaga Uno. Dua orang cawapres ini jadi daya pikat tersendiri di mata publik. Pertama kali bertarung dalam palagan Pilpres.

Lembaga Survei Alvara Research Center bulan lalu merilis hasil survei bertajuk 'Tiga Kunci Kemenangan di Pilpres 2019'. Survei Alvara menunjukkan elektabilitas Ma'ruf Amin unggul tipis dibandingkan dengan Sandiaga. Survei ini dilakukan pasca pendaftaran capres-cawapres itu menunjukkan elektabilitas Ma'ruf Amin 45,3 persen. Sementara Sandi 43,1 persen.

Bila dilihat dari elektabilitas secara berpasangan, Jokowi-Ma'ruf unggul dengan perolehan 53,5 persen. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang pasangan Prabowo-Sandiaga dengan perolehan 35,2 persen. Sementara jumlah pemilih belum menentukan sikap sebanyak 11,2 persen.

Untuk dua orang cawapres ini diakui CEO Alvara, Hasanuddin Ali, memiliki ciri khas bertolak belakang. Ma'ruf Ami tokoh agama senior. Berbanding terbalik dengan Sandiaga. Muda dan enerjik. Dari perbedaan karakter ini, jelas terlihat suara pemilih mana hendak jadi sasaran.

Ma'ruf Amin, kata dia, dengan latar belakangnya sebagai ulama menyasar kelompok religius dari pelbagai kelas sosial. Sementara Sandiaga menyasar generasi milenial dan kaum ibu rumah tangga (emak-emak).

Dalam analisis Alvara, sosok Ma'ruf Amin tidak sepenuhnya menggaet suara milenial. Sebab milenial di Indonesia memiliki karakter berbeda di tiap wilayah. Ada milenial pedesaan dan perkotaan. Ada milenial tradisional dan modern.

Ma'ruf dengan latar belakangnya sebagai ulama baru bisa menjangkau milenial tradisional. Terutama dari kalangan pesantren dan pedesaan. Sebab milenial di desa masih memandang Ma'ruf sosok orang tua dan disegani. Berbeda dengan milenial di perkotaan dengan karakter individualis, independen, dan memandang pergaulan secara horizontal.

"Jadi basisnya Kiai Ma'ruf ini milenial di daerah," kata Ali pekan lalu kepada merdeka.com. Maka dalam hal ini, Jokowi mengambil alih suara milenial dari semua kalangan. Baik di kota maupun di desa. Sementara Ma'ruf fokus mengambil suara kelompok religius.

Sebaliknya dengan Sandiaga. Cawapres dari Prabowo ini justru menjadi magnet utama bagi generasi milenial secara menyeluruh. Berbanding terbalik dengan sosok Prabowo dengan karakter tegas dan lugas. Tak hanya milenial, Sandiaga jadi magnet kaum emak-emak atau ibu rumah tangga.

Meski begitu, Ali menilai persaingan kandidat tidak bisa dibandingkan antar capres dan cawapres. Sebab keduanya satu kesatuan. Sehingga perbandingan haruslah dalam bentuk pasangan. "Jadi tidak bisa melihat dari Kiai Ma'ruf versus Sandi, tapi harus melihat semuanya, dua pasang sekaligus," ungkap Ali.

Keberadaan cawapres diharapkan mampu mendorong elektabilitas capresnya. Survei berkala Alvara menunjukkan masing-masing capres mengalami peningkatan elektabilitas. Capres Jokowi pada bulan Februari memiliki elektabilitas 52,0 persen. Lalu pada bulan Mei naik jadi 52,3 persen. Kenaikan kembali terjadi 0,3 persen di bulan Juli menjadi 52,6 persen. Angkanya terus bertambah setelah pendaftaran menjadi 53,7 persen.

Sementara itu kenaikan elektabilitas juga dialami capres Prabowo. Pada bulan Februari elektabilitas Prabowo di angka 33,2 persen. Bulan Mei naik menjadi 33,6 persen. Kenaikan signifikan terjadi di bulan Juli. Merangkak naik jadi 35,4 persen. Kenaikan juga terjadi pasca pendaftaran capres-cawapres menjadi 36,8 persen. Sehingga tidak dipungkiri, kata Ali, cawapres memegang besar peningkatan elektabilitas capres.

Meski begitu, untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf, pihaknya melihat sosok cawapres belum bisa mendorong peningkatan elektabilitas capres. Secara umum elektabilitas Jokowi jauh dari Prabowo. Kehadiran sosok Ma'ruf justru bukan penambah elektabilitas. Melainkan menjaga suara Jokowi untuk tidak turun.

"Karena elektabilitas Jokowi sudah tinggi maka posisi Ma'ruf itu tidak terlalu berpengaruh banyak untuk menambah suara. Tapi fungsi Ma'ruf untuk menahan suara Jokowi agar tidak turun," jelas Ali.

Lain halnya dengan kehadiran Sandiaga sebagai pasangan dari Prabowo. Mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu justru menjadi penambah suara untuk elektabilitas Prabowo. Sandi menjadi harapan besar Prabowo untuk mendulang suara. Ini menjadi alternatif setelah banyak survei menunjukkan elektabilitas Prabowo stagnan.

Lebih dari itu, Sandiaga dengan gaya dan tampilan luwes juga enerjik, dianggap jauh lebih baik dengan pasangan Prabowo pada Pilpres sebelumnya. Kala itu Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa. Secara gaya politik Hatta tergolong politisi elit dan formalistik. Sementara Jokowi tampil dengan gaya santai dan lebih luwes. Maka di Pilpres 2019 ini, kehadiran Sandiaga justru bisa menjadi penyeimbang Jokowi. Apalagi mereka berebut suara milenial.

"Jadi itu sangat membantu Prabowo. Sandi memang diharapkan jadi vote getter Prabowo," kata Ali.

Secara umum, analisis Ali tak jauh berbeda dengan Usep Ahyar. Seorang peneliti dari Lembaga riset Populi Center. Usep menyebut, para cawapres memiliki ciri khas menunjukkan arah suara diinginkan. Hanya saja gaya politik dimainkan Ma'ruf masih mencitrakan diri sebagai ulama. Tokoh sepuh pemimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam Nahdhatul Ulama ( NU).

Padahal, kata dia, harusnya Ma'ruf sudah bertransformasi sebagai kandidat peserta pemilu. Menjadi politisi sekaligus calon wakil presiden bakal mendampingi Jokowi kelak jika terpilih. Sebagai ulama dan wakil Presiden, Usep berharap Ma'ruf mengombinasikan karakteristik tokoh agama dengan pejabat negara.

Dengan sifat tokoh agama yang bijak dan mengayomi diharapkan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Mulai dari masalah korupsi, ekonomi, integritas, persatuan dan pelbagai masalah bangsa lainnya. Ma'ruf juga seharusnya bisa memberikan sumbangsih terhadap program Nawacita diusung Jokowi.

Sejumlah tantangan ini menjadi pekerjaan rumah berat dalam Koalisi Indonesia Kerja. Mengubah Ma'ruf Amin jadi sosok wakil presiden dengan latar belakang tokoh agamawan. Usep menyadari pemilihan Ma'ruf sebagai pendamping Jokowi demi mengamankan suara muslim. Mencoba menghilangkan politik identitas. Menyatukan situasi politik yang kadung mencitrakan Jokowi anti Islam.

"Memberikan kesejukan dengan konsep-konsep kebangsaan, mengakomodasi mayoritas, mengayomi minoritas," kata Usep akhir pekan lalu kepada merdeka.com.

Dalam pengamatannya sejauh ini, sosok Ma'ruf baru bertransformasi sebagai politisi. Bukan politisi berlatar belakang ulama. Maksudnya, berbagai pernyataan miring dari lawan politik lantas ditepis dengan cara serupa. Kritik dibalas kritik. Kurang lebih itu dirasakan banyak pihak.

Sebaiknya, kata dia, pelbagai kritik pedas dari kubu lawan bukan dilawan. Melainkan diakomodasi dan dimusyawarahkan. Dibalas dengan cara halus nan elegan. Tak lantas pukulan dibalas pukulan. Sebagaimana dicontohkan para ulama NU. "Semangat itu yang justru harus ditampilkan, harus ditampakkan Ma'ruf," ungkap Usep.

Disisi lain, Usep mengkritisi gaya politik kubu Prabowo-Sandi. Kerap mengkritik lawan politik tanpa dibarengi dengan solusi alternatif lain. Wajar bila sebagai penantang petahana, Prabowo-Sandiaga melontarkan berbagai macam kritikan. Namun akan lebih baik bila hal itu dibarengi dengan solusi. Bila solusi disertakan dengan sendirinya citra buruk 'tukang kritik' bakal hilang.

Selain itu, sebaiknya Prabowo-Sandiaga memainkan manuver untuk meyakinkan masyarakat. Dalam konteks Pemilu siapapun kandidatnya harus memberikan harapan baru bagi rakyat. Bentuknya seperti program kerja, hingga visi dan misi. Dengan harapan baru diyakini bisa meningkatkan elektabilitas dan nantinya berwujud dukungan di hari pencoblosan.

Khususnya untuk Sandiaga, Usep melihat sosok cawapres satu ini dianggap bentuk dari harapan. Sosok muda dan ekonom andal jadi harapan baru bagi masyarakat. Terutama bagi mereka menginginkan perubahan. "Muda itu kan memberikan harapan, konsep ekonomi yang baik itu juga harapan."

Kampanye memberikan harapan bagi pemilih. Harapan berbeda dengan janji manis politisi. Sebab dalam harapan, rasionalitas jadi tolak ukur. Bila bisa dieksekusi maka itu harapan. Sebaliknya, justru janji politik kadang keluar dan tak masuk akal. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini