Membaca Arah Masa Depan Garbi

Senin, 25 Februari 2019 09:00 Reporter : Anisyah Al Faqir, Angga Yudha Pratomo
Membaca Arah Masa Depan Garbi Deklarasi Ormas GARBI Provinsi Bali. ©2019 Merdeka.com/Dewi Divianta Liputan6.com

Merdeka.com - Lautan manusia berbaju merah berkumpul akhir Januari lalu. Jumlahnya mencapai ribuan. Mereka berduyun-duyun mendatangi Stadion Madya Sempaja di Samarinda, Kalimantan Timur. Menghadiri deklarasi organisasi masyarakat baru bernama Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi).

Hadir tokoh nasional sekaligus wakil ketua DPR, Fahri Hamzah. Dia merupakan penggagas organisasi masyarakat ini. Sebuah gerakan bermula dari ide Anis Matta mengenai konsep menjadikan Indonesia sebagai lima negara berpengaruh di dunia.

Ide tentang Arah Baru Indonesia (ABI) bukan muncul seketika. Telah didiskusikan sejak pemilu 2014. Saat Anis Matta masih menjabat sebagai Presiden PKS. Anis tak sendiri. Ada Fahri Hamzah, Mahfudz Siddiq, Jazuli Juwaini, Sukamta, Mahfudz Abdurahman dan alamarhum Taufik Ridlo. Semua nama itu merupakan mantan elit PKS.

Sebagai penggagas, Fahri Hamzah menilai, PKS hanya sebagai pemicu lahirnya Garbi. Sebab banyak orang mengalami pergolakan pemikiran. Mereka adalah generasi yang terpacu adanya gagasan dari Anis Matta. Dalam tubuh PKS, Anis dianggap sebagai generasi tercerahkan oleh narasi kebangsaan.

Selain aspek keislaman, generasi ini memiliki perspektif lebih optimis tentang masa depan. Serta mampu membawa PKS sebagai gerakan lebih relevan. "Jodohnya PKS itu dengan generasinya Anis Matta yang sekarang ini Datuk Maringgi, enggak akan sanggup lagi membawa PKS," ujar Fahri beberapa waktu lalu kepada merdeka.com.

Semula ide ABI ini diperuntukkan agenda politik PKS. Namun, dalam perjalanannya justru mendapat penolakan sejumlah kader PKS. Mereka paling keras menolak adalah para elit di bawah rezim Presiden PKS Sohibul Iman. Ide itu justru dituding sebagai gerakan mengkudeta PKS. Bahkan banyak pengurus dicopot dari jabatannya lantaran dicap sebagai bagian dari Anis Matta.

Para mantan kader PKS dipecat itu membentuk ormas baru. Diberi nama Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi). Tujuannya sebagai wadah perwujudan ide ABI yang tak diterima PKS. Tak hanya itu, kehadiran Garbi sekaligus merespon kondisi kebangsaan hari ini. Sebab, memasuki 21 tahun reformasi, belum banyak perubahan bisa dirasakan langsung masyarakat.

"Garbi lahir dari kegelisahan yang ada agar bisa memberikan masukan dan usulan agar Indonesia bisa lebih baik," kata Pembina Garbi NTB Mujahid Al Altief, kepada merdeka.com pekan lalu.

Mujahid menyebut, kehadiran sosok Fahri Hamzah menjadi daya tarik. Politikus PKS ini memiliki nilai lebih bagi masyarakat NTB. Fahri dianggap sebagai tokoh dan mampu merefleksikan suasana kebatinan masyarakat NTB khususnya masyarakat di Kota Bima.

Ormas berlambang bintang kejora ini memiliki slogan. Mereka menyebut Indeks, sebuah akronim dari Islam, nasionalis, demokrasi dan kesejahteraan. Dalam menjalankan roda organisasi, Islam digunakan sebagai basis rujukan bersamaan dengan kondisi sosial masyarakat.

Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) 2019 Merdeka.com/ dokumentasi Garbi Situbondo


Nasionalis merupakan bagian terpenting dalam mengelola bangsa dan negara. Demokrasi menjadi roh dan sistem ideal sekaligus digunakan dalam sistem pemerintahan saat ini. Bila semua dilakukan dengan baik maka akan menghasilkan kesejahteraan yang menjadi cita-cita bangsa.

Garbi menyakini Indonesia bisa menjadi kekuatan kelima di dunia. "Dalam bidang apa? Dalam bidang militer, ekonomi dan teknologi. Tiga itu bisa karena sumber daya kita besar," kata Sekretaris Garbi Bali, Achmad Khadafi.

Gerakan Politik

Tak dapat dipungkiri ormas Garbi lahir dari gen politik. Aroma politik di tubuh Garbi pun tak bisa dihindari. Terlebih di tahun politik seperti saat ini. Namun, Fahri tak mau gegabah. Pemantapan figur Garbi masih jadi fokus utama. Apalagi pemimpin hari ini masih belum fasih dalam menuntaskan tiap ide demokrasi.

Sebagai ormas baru Garbi sangat dilirik para peserta pemilu. Baik Pileg maupun Pilpres. Secara terang-terangan para caleg sudah masuk dalam lingkaran ormas ini. Tak sedikit caleg di daerah juga ikut serta. Pun dengan pilpres. Baik kubu Jokowi-Ma'ruf maupun Prabowo-Sandi sudah melakukan pendekatan.

"Kita belum mau memutuskan. Kita mau jalan dulu sendiri, kita tidak punya arah politik yang jelas, kalkulasi yang kuat," kata Fahri.

Fahri ingin Garbi memiliki basis ideologi kuat. Sehingga pemurnian pikiran anggotanya menjadi fokus utama. PKS lahir dari gerakan bawah tanah sehingga berakhir di banyak doktrin. Kader tidak diajak untuk mengolah tiap pikirannya sendiri. Padahal hari ini masyarakat hidup di era bebas.

Sehingga, kata Fahri, seharusnya bisa terlihat cara generasi ini tumbuh dengan pikirannya sendiri. "Kalau kita dikte-dikte lagi, nanti kita enggak akan kemana-mana," ujar Fahri.

Inisiator lainnya, Mahfud Siddiq, juga sepakat Garbi memang diniatkan untuk lahir sebagai ormas. Apalagi banyak ide tentang ABI bukan untuk konsumsi segelintir orang. Tetapi, bisa diakses dan diperjuangkan bersama. Namun, bila suatu hari nanti Garbi bertransformasi sebagai partai politik maka hal itu harus diputuskan secara bersama. Caranya lewat kongres. Mendengarkan berbagai macam suara kader.

Perdebatan itu pun sudah diprediksi sejak jauh hari. Akan sangat menarik kalau nanti terjadi perdebatan tersebut. "Kita lihat nanti. Kalau memang (Garbi) bisa diarahkan ke sana (partai politik) kenapa tidak?" ujar Mahfud.

Ide Garbi bertransformasi sebagai partai politik justru ditentang Mujahid Al Latief. Diskusinya dengan Fahri Hamzah membawa pada kesimpulan Garbi tetap akan menjadi ormas. Kalau memang para inisiator atau sebagian anggota menghendaki sebagai partai politik, dia memastikan tidak menggunakan nama Garbi.

Dia pun tak akan lantas menjadi kader partai baru tersebut. Sebab saat ini dia masih berstatus kader Partai Gerindra dan sebagai caleg untuk DPR RI dapil NTB 1. "Saya tetap pilih sebagai kader Gerindra," kata Mujahid.

Selain itu, Garbi juga akan ditinggalkan massanya. Sebab, anggota Garbi tidak hanya eks kader PKS. Banyak ASN, milenial dan pengusaha yang juga terlibat dalam hal ini.

Apalagi, belakangan milenial anti politik mulai bergabung dengan Garbi. Jika suatu hari nanti bertransformasi sebagai partai politik, dikhawatirkan, milenial yang sudah mulai melek politk jadi balik badan.

Hari ini Garbi begitu diminati karena statusnya sebagai ormas. Terdiri dari berbagai kalangan dan lintas partai politik. Kehadiran Garbi sebagai ormas memberikan kontribusi positif memberikan gagasan dan pemikiran buat ikut memperbaiki masalah bangsa.

"Biarlah tetap jadi ormas yang akan terus menerus jadi mitra strategis pemerintah untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada negara," kata Mujahid mengakhiri. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini