Medis Jalanan di Malam Mencekam

Jumat, 4 Oktober 2019 07:22 Reporter : Anisyah Al Faqir
Medis Jalanan di Malam Mencekam Korban Bentrokan di Penjompongan. ©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Ponsel Joko Istanto terus berdering. Sebuah panggilan masuk datang dari Eki, Kepala Markas PMI Jakarta Timur. Ketika itu dia bersama tim sedang bertugas membagikan makan malam kepada korban kebakaran di Jatinegara. Setelah telepon dijawab, Joko diminta bergegas kembali ke markas.

Telpon dari atasannya itu sekitar pukul 19.30 WIB. Joko mendapat tugas khusus menuju lokasi demonstrasi di area gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu, 25 September 2019. Kebetulan itu hari ketiga demo mahasiswa #ReformasiDikorupsi. Sebagai petugas medis mereka mengikuti perintah.

Joko dan rekannya memang sedang kena giliran jadwal piket malam. Tak sampai setengah jam, mereka sudah tiba di markas PMI. Kemudian menyiapkan segala peralatan medis buat pertolongan pertama ke dalam ambulans.

korban bentrokan di penjompongan

Korban Bentrokan di Penjompongan ©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Dinas malam itu, Joko ditemani empat relawan KSR PMI Jakarta Timur ditambah satu relawan PMI Pemprov DKI Jakarta. Total ada enam personel PMI yang berdinas. Mereka adalah Joko, Supri, Abdul Rojak, Arif, Iwan dan Aray. Tim dipimpin Supri sekaligus bertugas sebagai sopir ambulans.

Sesuai arahan, Supri diminta membawa ambulans ke Jembatan Slipi di Palmerah, Jakarta Barat. Sayangnya jalan menuju lokasi sudah ditutup. Pantauan navigasi digital pun menunjukkan kemacetan total pada wilayah tersebut.

Tanpa pikir panjang, Supri ambil jalan pintas lain. Mobil ambulans akhirnya berhenti di Jembatan Semanggi. Di sana mereka bertemu ambulans Puskesmas sedang siaga. Tidak lama kemudian diminta berkumpul dengan ambulans PMI DKI Jakarta lainnya.

Dalam perjalanan, laju ambulans kerap tertahan. Mereka sebenarnya ingin menuju sekitar area pintu belakang Gedung DPR, namun jalan sudah tertutup. Kemudian memutuskan berhenti kembali di SPBU Pejompongan.

Suasana malam itu memang mencekam. Joko ingat betul korban pertama yang datang seorang anak sekolah. Kondisinya kepalanya bocor bersimbah darah. Lalu tak lama disusul korban lainnya terkena gas air mata. Ada juga korban datang yang hanya lecet di dagu.

"Lebih kurang ada 4-5 orang yang ditolong di sana," ucap Joko menceritakan keadaan mencekam itu kepada merdeka.com, Rabu lalu.

Mereka tak lama di sana. Setelah 25 menit, ambulans PMI Jakarta Timur kembali bergerak. Warga setempat menyarankan agar PMI lebih mendekat lokasi kerusuhan. Kabarnya banyak korban terluka membutuhkan pertolongan. Setelah berkoordinasi tim membawa ambulans menuju Menara BNI 46. Apalagi di SPBU Pejompongan sudah ada beberapa ambulans dari kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat lain sudah siaga.

korban bentrokan di penjompongan

Korban Bentrokan di Penjompongan ©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Tiba di Menara BNI 46,ambulans PMI diarahkan menuju lobi. Joko tidak menyangka sudah ada banyak mobil ambulans di sana dari berbagai instansi. Salah satunya dari Ambulans Gawat Darurat 118 milik Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Tim medis di area ini hanya menunggu korban yang datang atau permintaan pertolongan. Kata Joko, banyak korban terluka enggan datang ke pusat kesehatan. Sebab, untuk kasus serius biasanya akan langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat. Hal ini biasanya dihindari para korban.

Semakin malam gesekan antara pendemo dan kepolisian tidak dapat terhindarkan. Korban luka terus bertambah. Para petugas medis ini silih berganti memberikan pertolongan.

Demonstrasi mahasiswa mengusung tema #ReformasiDikorupsi sebenarnya hanya direncanakan pada 23-24 September 2019. Adapun aksi lanjutan sehari setelahnya banyak dilakukan para pelajar Sekolah Menengah Atas turun (SMA) yang justru turun ke jalan. Alasan mereka lebih kepada urusan solidaritas.

Adapun pemicu demonstrasi untuk mendesak pemerintah dan DPR untuk menerbitkan Perppu KPK dan membatalkan pengesahan RUU KUHP. Dua poin itu paling ditonjolkan, selain masih ada tuntutan mereka lainnya, seperti penyelesaian konflik di Papua.

Baca Selanjutnya: Petugas Medis Tak Boleh Diserang...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini