Mata Elang Berjuang Hidup di Kala Pandemi

Jumat, 9 Oktober 2020 10:29 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Mata Elang Berjuang Hidup di Kala Pandemi Ilustrasi Mata Elang. merdeka.com/pramirvan datu aprillatu

Merdeka.com - Di pojok warung pinggir jalan raya. Sekelompok pemuda duduk sambil memegang ponsel. Melihat angka kemudian mengarahkan mata pada ke sepeda motor yang lewat. Berulang-ulang itu dilakukan. Sampai dirasa cocok, mereka mengejar lalu menghentikan sang pengendara.

Mata elang alias matel, julukan bagi profesi mereka. Keahliannya melihat angka plat nomor kendaraan dikenal cukup tajam. Banyak orang mengibaratkan kemampuan pengeliatan mereka bak burung elang. Memantau dari kejauhan lalu menyergap mangsa incaran.

Stefen (bukan nama sebenarnya), sudah dua tahun belakangan ini menjalani profesi matel. Datang dari kampung di sebuah wilayah Nusa Tenggara Timur, kemudian bergabung dengan sebuah perusahaan yang mengelola kelompoknya. Niat awal pemuda ini hanya untuk bertahan hidup.

Bukan tanpa alasan Stefen berada di ibu kota. Pemuda 21 tahun itu merupakan seorang mahasiswa fakultas hukum. Mimpinya menjadi advokat hebat demi mengubah hidupnya. Langkah ini dia tiru dari banyak seniornya yang sempat menjalani profesi serupa sebelum akhirnya menjadi seorang pengacara.

Pendapatan menjadi matel sebenarnya cukup besar. Untuk satu motor yang berhasil diamankan mereka dapat komisi Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Bagi Stefen, penghasilan ini sangat bisa membantu kehidupannya dan meringankan beban orang tua. Terutama demi menggapai cita-cita sebagai pengacara.

Hadirnya pandemi corona di Indonesia tentu berdampak bagi kehidupan. Hingga kini Stefen dan kawan seprofesinya sepi pemasukan. Mereka belum mendapat perintah untuk menangkap para nasabah yang telat bayar angsuran. Meskipun masih ada saja yang tetap beroperasi.

"Selama ini kalau ada yang di jalan-jalan mereka sembunyi-sembunyi. Sudah banyak (Matel) yang cari kerja lain," ungkap Stefen kepada merdeka.com, Rabu lalu.

Munculnya imbauan Presiden Joko Widodo agar perusahaan leasing tidak menagih angsuran, membuat penarikan sementara ditiadakan. Presiden juga menyebut bahwa ada keringanan pembayaran cicilan selama 1 tahun. Dalam situasi ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan relaksasi kredit usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) dengan nilai kredit di bawah Rp 10 miliar.

Melalui penerbitan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 yang berlaku sejak 13 Maret 2020 sampai dengan 31 Maret 2021, langkah ini sekaligus memberikan stimulus keuangan untuk industri perbankan.

Kemudian, stimulus lain yakni bank dapat melakukan restrukturisasi kredit kepada debitur. Termasuk UMKM yang menyebabkan tunggakan pembayaran angsuran, dengan peningkatan kualitas kredit/pembiayaan menjadi lancar setelah direstrukturisasi tanpa batasan plafon kredit.

Belakangan ini Stefen hanya menyambi kerja bantu beberapa kawannya. Tapi kegiatannya lebih banyak di kontrakan. Mengikuti kuliah secara online atau bersantai dengan para kawan-kawan dari kampungnya.

Bantuan orang tua di kampung memang masih didapat. Tidak seberapa besar memang. Semua tetap disyukuri dan harus bisa bertahan hingga pandemi ini usai. "Untuk sementara ini saya tidak kerja. Tidak punya pemasukan tambahan."

Baca Selanjutnya: Pengalaman Stefen sebagai matel memang...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini