Masih ada lawan buat Airlangga

Senin, 18 Desember 2017 06:00 Reporter : Anisyah Al Faqir, Rendi Perdana
Rapat Pleno Partai Golkar. ©2017 merdeka.com/iqbal s nugroho

Merdeka.com - Alunan ayat suci menggema di markas Partai Golkar Jalan Anggrek Neli, Kemanggisan, Jakarta Barat. Dilakukan para kader dan simpatisan. Menggelar tenda. Mengadakan tahlil. Tepat di depan ruang rapat pleno. Sejak usai salat magrib. Mendoakan para elit partai memberi hasil terbaik. Sekaligus Mengembalikan nama baik partai di mata masyarakat.

Rapat digelar malam hari. Ini setelah sidang perdana Setya Novanto, terdakwa kasus dugaan korupsi proyek e-KTP sekaligus mantan Ketua Umum Golkar, digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu pekan lalu. Satu per satu petinggi partai mulai memasuki ruang rapat. Mulai dari Plt Ketum Idrus Marham, Bendahara umum Robert Kardinal, Nurdin Halid, Airlangga hartarto, Aziz Syamsuddin, Nusron Wahid dan kader golkar lainnya. Rapat digelar tertutup.

Hampir empat jam berselang sejak Idrus membuka rapat. Para elit belum memberi keputusan. Jalannya rapat berlangsung alot. Mereka berdebat. Masalah paling santer, terkait penonaktifan Novanto sebagai ketua umum partai. "Yang bikin lama, kita pengambilan keputusan (mengganti Novanto) besok atau hari ini," kata Nusron kepada merdeka.com malam itu.

Dalam Anggaran Dasar dan Aturan Rumah Tangga (AD-ART) Partai Golkar, kosongnya jabatan Ketum harus segera diisi sesuai mekanisme. Yakni melalui jalur musyawarah nasional atau munas luar biasa (munaslub). Kondisi ini juga didorong 31 DPD Partai Golkar menginginkan adanya pemimpin baru.

Di dalam rapat, Aziz begitu bersemangat. Dia bahkan tegas menyatakan siap maju sebagai ketua umum. Ini berarti dia bakal menjadi pesaing Airlangga merebutkan tahta. Informasi dari sumber merdeka.com, di dalam ruang rapat Aziz sampai dua kali menyatakan sikapnya. Bahkan dari sebelum masuk ke ruang rapat, Aziz sempat memberikan keterangannya siap maju mencalonkan diri menjadi ketua umum. "Insya Allah maju, Insya Allah. Untuk menciptakan demokrasi," tegas Aziz.

Setelah melewati perdebatan panjang, para elit Golkar menggelar rapat terbatas. Sementara di luar gedung rapat, sejumlah ormas sayap Partai Golkar berkumpul. Lengkap menggunakan seragam. Mereka sengaja datang. Sekaligus mendesak para pimpinan untuk menggelar Munaslub demi elektabilitas partai kembali normal.

Selang 30 menit, rapat terbatas usai. Dari sana membuat satu keputusan. Aziz menyatakan diri mundur dari pencalonan ketua umum. Alasannya karena tak ingin membuat kegaduhan. Dan, memberikan kesempatan kepada Airlangga. "Saya lebih baik mundur, Pak Airlangga lebih cocok jadi ketua umum," kata Aziz.

Mundurnya Aziz dalam bursa pencalonan ketua umum membuat Airlangga terpilih secara aklamasi. Hasil rapat itu pun memutuskan Airlangga terpilih menjadi ketua umum untuk mengisi kekosongan jabatan ditinggalkan Novanto. Selain menetapkan Airlangga sebagai pengganti Novanto, hasil rapat pleno lainnya yakni menetapkan pelaksanaan Rapimnas pada 18 Desember 2017 dan pelaksanaan Munaslub pada 19-20 Desember 2017.

Informasi diperoleh merdeka.com, pemilihan tanggal itu merupakan desakan 154 orang anggota DPP. Bahkan mereka mendesak Munaslub digelar sebelum tanggal 19 Desember 2017. Dalam rapat dibahas juga tentang aturan main.

Terpilihnya Airlangga secara aklamasi sebagai ketua umum Partai Golkar belum menjadi hasil akhir. Hanya sekedar mengisi kekosongan. Belum bisa diartikan Airlangga bakal memimpin partai beringin hingga tahun 2019 mendatang. Dia hanya menjabat ketua umum hingga lima hari sampai Rapimnas dan Munaslub. Apalagi dalam rapat itu ada dua skenario penyelamatan partai Golkar. Pertama, mengisi jabatan kosong ditinggalkan Setya Novanto karena berhalangan menjalankan roda organisasi partai.

Dalam skenario ini, hanya ada dua nama kader Golkar mengajukan diri menggantikan Novanto. Airlangga dan Aziz Syamsuddin. Mundurnya Aziz secara otomatis membuat Golkar menetapkan Airlangga secara aklamasi. Sedangkan skenario kedua dengan menyelenggarakan munaslub murni sesuai tuntutan DPD I dan DPD II Partai Golkar.

"Pak Airlangga jadi ketua umum berdasarkan jabatan kosong tanpa dilakukan perubahan kepengurusan," kata politikus Partai Golkar Ridwan Hisjam.

Ridwan juga merasa pertarungan memperebutkan pengganti Novanto masih berlangsung menarik. Sebab, diprediksi bakal banyak dinamika. Apalagi sejauh ini ada dua nama dikabarkan bakal menjadi pesaing Airlangga. Mereka adalah Aziz Syamsuddin dan Titik Soeharto. Meski menyatakan mundur, masih kemungkinan Aziz kembali ikut meramaikan sebagai calon ketua umum. Sedangkan Titiek, dikabarkan sudah mengumpulkan para senior Partai Golkar. Anak Presiden ke-2, Soeharto, itu sebelumnya juga menyatakan kesiapannya untuk memperbaiki masalah partai

"Namanya dinamika kan kita tidak tahu, bisa jadi beliau (Aziz) maju dan mencalonkan lagi menjadi ketua umum saat Munaslub, kita lihat saja nanti," ungkap Ridwan.

Sedangkan Aziz saat dikonfirmasi masih enggan mengungkap niatnya maju lagi di dalam Munaslub. Sejauh ini, dirinya hanya mengamati proses terjadi di partainya. Aziz justru berkelakar. Bakal melakukan ritual untuk menemukan jawaban untuk maju lagi sebagai pesaing Airlangga. "Sebentar, nanti malam saya bakar menyan dulu biar tahu hasilnya ya," ujar Aziz saat kami hubungi.

Rapat Pleno Partai Golkar 2017 merdeka.com/iqbal s nugroho



Sementara itu, Nusron menegaskan bahwa hasil rapat itu para kader diharapkan tak mencalonkan diri sebagai calon ketua umum pada Munaslub pada Selasa besok. Pelaksanaan munaslub juga menginginkan hanya fokus pada penetapan Airlangga sebagai ketua umum. "Arahnya tidak akan ada kader lagi yang maju. Sebab, munaslub ini hanya fokus mengisi jabatan ketua umum yang kosong," ujar Nusron.

Meski begitu, bila dalam pelaksanaannya ada kader mencalonkan diri dalam pemilihan ketua umum makan dilakukan musyawarah untuk mufakat. Bila tak juga mencapai titik temu, jalan terakhir yakni dengan melakukan voting dengan para DPD I dan DPD II sebagai peserta. Sehingga belum bisa ditentukan bahwa Airlangga akan melenggang mulus menuju kursi Ketua Umum Partai Golkar.

Keputusan rapat pleno memutuskan Airlangga terpilih secara aklamasi juga menuai kritikan. Salah satunya datang dari Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Golkar Priyo Budi Santoso. Dia menilai keputusan itu justru berpotensi membuat Airlangga tidak punya legitimasi kuat sebagai ketua umum.

Menurutnya, rapat pleno hanya digunakan untuk melakukan perombakan pengurus. Sementara pemilihan ketum dilakukan lewat Munaslub. Untuk itu, Priyo menyarankan pengurus DPP agar memberikan kesempatan bagi para kader Golkar untuk mencalonkan diri dan bertarung sebagai ketua umum secara demokratis.

"Rapat pleno DPP punya kewenangan termasuk usulkan PAW pengurus, tapi khusus untuk penggantian Ketum di tengah jalan hanya bisa lewat Munaslub yang sehat dan demokratis," tegas Priyo.

Di sisi lain, Ketua Harian Partai Golkar, Nurdin Halid, mengatakan rapat pleno telah memutuskan berdasarkan AD-ART sehubungan dengan masalah hukum Setya Novanto. Maka itu jabatan Ketum Golkar dinyatakan nol dan sesuai pasal 14 pengisian PAW. Atas kondisi ini, secara aklamasi menunjuk Airlangga.

Dari segi persiapan, panitia penyelenggara Rapimnas dan Munaslub telah mencapai 90 persen. Nurdin menyebut pembukaan Munaslub pada 19 Desember 2019 akan dihadiri Presiden Joko Widodo. "Kita telah melaksanakan rapat panitia penyelenggara munaslub dan rapimnas baik dari sisi persiapan panitia pelaksana maupun dari materi yang telah disiapkan oleh Pak Ibnu Munzir. 90 persen persiapan telah rampung," ungkap Nurdin. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini