Makan Malam di Pulau Reklamasi

Rabu, 30 Januari 2019 06:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Makan Malam di Pulau Reklamasi Foodstreet di Pulau Reklamasi. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Mobil Tio melaju di Jalan Pantai Kapuk Indah. Berjalan ke utara menuju Kawasan Pantai Maju, Jakarta Utara. Lepas dari kepadatan ibu kota menuju pulau reklamasi. Sudah janjian dengan teman. Ingin berbincang. Mengeluarkan keluh kesah sambil makan malam.

Kendaraan roda empat miliknya semakin melaju. Tuas gas diinjak lebih dalam. Menaiki jembatan sepanjang 3 kilometer dari arah Jalan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Sesaat kemudian, terlihat gemerlap lampu di kejauhan. Sebuah papan reklame raksasa terpasang. Warna kuning dan biru. Bertuliskan 'FOOD STREET KAWASAN PANTAI MAJU'. Di bagian bawah tertulis nama perusahaan pengembang, Agung Sedayu Group.

Tio memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dekat dengan deretan tempat makan. Dia tiba di tujuan. Lepas dari jembatan, tak ada lagi jalan beraspal. Berganti paving blok. Tersusun rapi. Lebar jalan utama sekitar 10 meter. Terbagi dua lajur. Dipisahkan dengan barisan pohon dan rumput.

Sepanjang jalan utama terdapat bangunan berupa rumah toko bertingkat. Di sebelah kanan dan kiri. Berjajar hampir 1 km. Bergaya klasik dengan cat kombinasi coklat tua dan krem. Namun, bangunan itu kosong. Tak berpenghuni. Sementara Food Street berada di sisi sebelah kiri jalan dari arah jembatan. Lebih kurang 5 meter di depan jajaran ruko tersebut.

Semula Pantai Maju bernama Pulau D. Dibuat PT Kapuk Naga Indah, anak usaha dari PT Agung Sedayu Group. Area pulau itu seluas 312 hektar.

Pulau ini sempat ditutup untuk umum. Sejak pekan ketiga pada Desember lalu, sudah kembali dibuka. Siapa saja boleh datang. Tak ada lagi penjagaan ketat. Bahkan di malam pergantian tahun ramai orang datang.

Kedatangan ke pulai ini bukan pertama kali buat Tio. Sudah sering dia ke sana. Setelah memarkirkan mobil, langsung menuju deretan tempat makan. Terdapat lebih dari 30 kios. Menawarkan beragam menu. Harganya pun cukup bersaing. Untuk berbagai jenis minuman Rp 13.000 - Rp 20.000. Sedangkan harga makan sekitar Rp 30.000 - Rp 50.000. Semua hidangan itu terjadi di Food Street. Para pengunjung makin dimanjakan dengan hadirnya pertunjukan musik.

Sambil memilih makan, Tio berkeliling. Sampai menjatuhkan pilihan untuk makan Nasi Pedas Bali. Sepiring nasi dan sebotol air dibawa ke kursi. Tepat di depan panggung utama. Dia begitu menikmati hidangan malam itu. Sambil mendengar lagu 'To Love Somebody' dari Michael Boltom. Salah satu lagu populer tahun 1980-an.

Tak lama seorang temannya datang sambil membawa semangkuk bubur nasi. Namanya Fellicita. Biasa dipanggil Felli. Memakai kaos warna kuning. Wanita itu merupakan rekannya. Mereka kenal lantaran sama-sama pembeli properti pulau reklamasi.

Tio adalah satu dari sekian pembeli properti di kawasan Pantai Kita. Nama baru untuk Pulau C. Pulau itu juga dikembangkan PT Kapuk Naga Indah. Lelaki berambut putih ini membeli sebuah ruko di Pantai Kita. Harganya mencapai Rp 7 miliar. Investasi itu akan diturunkan kepada keluarganya. Dia tak menyangka investasinya justru bersengketa. Lahan itu tak berizin. "Harga ruko saya di Pulau C hampir Rp 7 miliar," kata Tio.

Di pulau itu juga, Felli membeli sebuah rumah mewah. Harganya Rp 8,5 miliar. Lokasinya bernama River Walk Island. Sebuah hunian impian Felli untuk keluarga kecilnya. Rumah itu dicicil sejak tahun 2013. Tak hanya hunian, Felli juga membeli sebuah kavling di Pulau Kita seharga Rp 5,2 miliar dan sudah dilunasi sejak tahun 2014.

Aktivitas bisnis di Pantai Maju, jadi angin segar. Harapan kejelasan investasi menemukan titik terang. Apalagi akhir Desember lalu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan datang berkunjung. Melakukan seremonial peletakan batu pertama pembangunan Jalur Jalan Sehat dan Sepeda Santai (Jalasena). Serta penanaman pohon di dua pulau buatan tersebut.

Foodstreet di Pulau Reklamasi 2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho


Sebulan sebelumnya, Anies menyerahkan pengelolaan tiga pulau reklamasi kepada PT Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku BUMD DKI. Anies membekali landasan hukum lewat Pergub Nomor 120 tahun 2018 tentang Penugasan kepada PT Jakpro dalam pengelolaan tanah hasil reklamasi pantai utara Jakarta.

Pada pasal 2 menjelaskan PT Jakpro berhak mengelola lahan kontribusi sesuai dengan panduan rancangan kota. PT Jakpro juga diperbolehkan melakukan kerja sama dengan pengelolaan sarana, prasarana dan fasilitas umum pada pelaksanaan reklamasi kepada Pemprov DKI.

Trik Pengembang

Harapannya semakin besar saat mendapat kabar dari sesama konsumen. Baru-baru ini rekannya sudah diperbolehkan melakukan renovasi ruko di Pantai Maju oleh manajemen pengembang. Sementara aktivitas bisnis belum diperbolehkan. Padahal berkas Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum di tangan.

Felli juga bercerita kepada Tio. Salah seorang kerabatnya sekaligus konsumen di Pantai Maju dihubungi pengembang. Dikabarkan segera serah terima kepemilikan properti. Namu, Felli masih ragu. Gelagat pengembang belum bisa dipercaya. Sebab saat ditanya perihal berkas IMB, utusan pengembang tak bisa menunjukkan berkas yang dimaksud.

"Ada beberapa yang bilang sudah ditelepon manajemen. Katanya IMB-nya sudah ada. Tapi pas diminta IMB malah bilang 'nanti saya minta ke atasan dulu'," cerita Felli.

Tio dan Felli, justru sama sekali tidak dihubungi manajemen pengembang. Kondisi ini justru menimbulkan ragam dugaan. Apalagi mereka mendapat kabar, Anies tidak memerintahkan mencabut segel dua pulau itu. Praktis pelanggaran pengembang belum sepenuhnya diperbaiki. Sehingga IMB menjadi bukti kepemilikan properti belum jelas keberadaannya.

"Tapi sepertinya mereka memang lagi tes konsumen. Dia pilih beberapa konsumen dan telpon, lalu disuruh (melanjutkan) cicil lagi," kata Tio.

Dia khawatir banyak konsumen belum paham masalah ini. Namun, dia mengingatkan pada sesama konsumen untuk menolak permintaan tersebut. Serta meminta berhati-hati agar tidak salah langkah. Semua permintaan agar lewat pesan singkat. Sebagai antisipasi hal tidak diinginkan.

Bila siang hari, kata Tio, masih ada aktivitas pengerjaan di Pantai Maju. Justru itu membuat dirinya curiga. Menganggap sebagai kamuflase. Agar terlihat pengembang telah menunaikan kewajibannya kepada pemerintah. Pencabutan segel menjadi tanda. Padahal secara prosedural masih belum jelas.

Dia mencurigai Pulau Maju dibuat seolah sudah legal. Dengan menghadirkan keberadaan Food Street dan perayaan malam pergantian tahun. Semua dibuat untuk menunjukkan sengketa reklamasi sudah selesai.

Foodstreet di Pulau Reklamasi 2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho


Begitu juga dengan Felli. Sebagai pemilik kavling, pihak manajemen pengembang juga tak menghubunginya. Padahal dia telah membayar lunas lahannya sejak tahun 2014. Dia juga sudah berupaya menemui direksi untuk meminta penjelasan. Namun hingga malam itu belum ada respon. "Saya lagi minta ketemu direksi. Saya mau minta penjelasan mereka secara langsung," kata Felli.

Felli tak hanya minta penjelasan dari pengembang. Sebagai warga DKI, dia sudah berupaya mengajukan audiensi kepada Gubernur. Namun, masih belum mendapat respon. Saat Anies datang ke pulau pun dia gagal berdialog langsung. Dia hanya pernah mengadukan nasibnya kepada Sandiaga Uno saat masih menjadi Wakil Gubernur. Hingga kini nasib investasi properti itu belum menemukan titik terang.

Perbincangan keduanya pun berujung kebuntuan. Bagi Felli langkah tepat sebagai konsumen adalah menunggu semua perizinan lengkap. Mulai dari dibahasnya raperda, keluarnya SIPPT, KRK hingga IMB. Agar semua berkekuatan hukum jelas. Sementara Tio menduga prosesnya akan berlangsung alot. Sehingga nasib investasi mereka masih belum jelas untuk jangka waktu lama. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini