Legislator Muda Melawan Stigma Dinasti Politik

Senin, 2 Maret 2020 08:19 Reporter : Irwanto, Iqbal Fadil
Legislator Muda Melawan Stigma Dinasti Politik Rapat Paripurna DPR. ©2019 Merdeka.com/Sania Mashabi

Merdeka.com - Legislator termuda menjadi salah satu sorotan berbagai media saat pelantikan para wakil rakyat hasil pemilu 2019 lalu. Kiprah hingga latar belakang keluarga mereka diungkap ke publik. Tak sedikit merupakan anak dan kerabat politisi, kepala daerah, hingga pengusaha.

Di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dari 575 anggota, ada sekitar belasan anggota yang berusia di bawah 30-an tahun. Beberapa yang paling muda merupakan anak dari anggota DPR yang juga menjabat. Kekerabatan dan dinasti politik seolah menjadi jalan bagi para politikus muda itu untuk terpilih. Hal yang sama juga terjadi daerah-daerah.

Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengungkapkan, praktik dinasti politik atau politik yang berdasarkan kekerabatan atau kekeluargaan terjadi di DPR hasil pemilu 2019 lalu. Dari sembilan partai politik yang lolos ke parlemen, dia menyebut ada 48 legislator yang punya hubungan kekerabatan dengan politikus atau pejabat negara lainnya

"Faktanya latar belakang politisi muda itu bisa meraih kursi anggota parlemen bukan karena kekuatannya sendiri. Bukan karena kekuatan personal tapi karena ada bekingan keluarga, baik nama besar keluarga atau keluarganya punya uang cukup untuk memastikan dia bisa berkampanye," kata Lucius kepada merdeka.com, Jumat (28/2).

Dari pengamatannya, setelah 100 hari menjabat, para anggota DPR muda itu seolah hilang dari pemberitaan. Padahal, saat mereka dilantik, pemberitaan terhadap mereka sangat heboh. "Kita hanya ramai-ramai ngomong mereka saat pelantikan. Setelah itu selesai. Kita enggak melihat ada politisi muda yang bersinar di DPR dengan membawa idealisme baru dengan membawa harapan-harapan begitu tinggi yang diharapkan publik pada mereka," ujarnya.

1 dari 3 halaman

Terjebak Sistem

Apa yang bisa diharapkan publik dari para legislator muda ini? Lucius mengatakan untuk saat ini belum ada. Penyebabnya, mereka tidak bisa berbuat lebih dari apa yang diinginkan parpol. Ruang idealisme mereka akan berbenturan dengan kepentingan parpol.

"Mereka terjebak di dalam sistem. Ada sistem yang nampaknya sulit didobrak oleh kelompok muda itu. Di sisi lain, mereka sesungguhnya adalah pekerja politik, orang-orang yang patuh pada partai politik yang selalu merindukan karier di parpol menanjak, lalu untuk itu dia setia memilih kepada partai politik," kata Lucius.

Meski begitu, lanjut Lucius, publik harus tetap memberikan dorongan terhadap para legislator mudah untuk terus berkiprah dan mewarnai politik Indonesia.

"Mereka belum cukup banyak terkontaminasi pikiran-pikiran dari politisi tua, mestinya, kalau publik ada di belakang mereka tetap mendorong mereka, saya kira masih ada ruang untuk mengharapkan perubahan itu di tangan politisi-politisi muda. Dengan tetap menunjukkan harapan publik kepada mereka mungkin bisa sedikit membantu politisi muda itu keluar dari cengkeraman yang ada," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Menepis Dinasti Politik

politikImam Kurniawan (kanan)

Tudingan terpilih hanya karena dinasti politik ini ditepis anggota DPRD termuda Musi Rawas, Sumatera Selatan, Imam Kurniawan Cajansyah Putra (24). Dia merupakan anak mantan anggota DPRD Musi Rawas dari Partai Amanat Nasional, Cahaya Muda.

Sang ayah, memutuskan tidak lagi maju di Pemilu 2019 karena ingin fokus menikmati masa tua bersama keluarga. "Ya, bisa dibilang saya ini menggantikan peran ayah, penerus begitu. Tapi saya tidak mau disebut dinasti, karena ini saya," ujarnya dalam perbincangan dengan merdeka.com, Rabu (26/2) lalu.

Saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Imam mengaku sudah aktif berorganisasi. Menjadi legislator sebenarnya bukan tujuan utamanya, terlebih pengalaman politik terbilang minim. Namun, dorongan kuat dari keluarga, terutama ayah, menjadi kekuatan tersendiri baginya mendaftar sebagai caleg di pemilu 2019.

Saat masa kampanye tiba, Imam sempat kebingungan karena dia juga harus menyelesaikan skripsi. "Satu sisi mau menyelesaikan skripsi, sisi lain dorongan keluarga sangat kuat. Di situ saya sempat bingung."

Kepalang basah, begitu dalam pikiran Imam ketika itu, anggota DPRD dari Fraksi PAN daerah pemilihan Kecamatan Muara Beliti, Jayaloka, dan Tiang Pumpung Kepungut itu terus maju. Kebetulan dapil itu adalah tanah kelahirannya. "Apalagi penelitian skripsi itu obyeknya di kampung, jadi lebih banyak berbaur dengan warga. Bukan tiba-tiba muncul dan orang tak kenal dengan saya," kata dia.

"Ketika nyaleg, saya semakin intens berbaur, kegiatan anak-anak muda seusia saya ikuti, pengajian hadir, kegiatan orang-orang tua juga begitu. Tapi apa adanya saya, tidak sombong sebagai caleg," sambungnya.

Hasilnya, Imam meraih 1.292 suara dari total 3.379 suara yang masuk ke partainya di dapil itu. Dia pun ditetapkan sebagai caleg terpilih dan dilantik September 2019, sebulan setelah wisuda.

"Waktu jadi caleg itu saya masih bujangan. Habis wisuda, bulan September, saya menikahi istri saya Alin Janita, melalui ta'aruf, dan di bulan itu juga dilantik jadi anggota DPRD Musi Rawas. Orang bilang saya dapat triple rizki dalam waktu dua bulan," candanya.

Terkait ongkos nyaleg, Imam mengaku tidak begitu tahu persis. Sebab, semuanya ditanggung orangtuanya. "Bagaimana ada duit, kuliah saja belum selesai, masih minta duit sama orangtua. Ya, Alhamdulillah orangtua yang modalin nyaleg, jumlahnya saya tidak tahu," kata dia.

3 dari 3 halaman

Penuhi Janji Politik

Duduk di kursi dewan di usia muda dan pertama kali, Imam mengaku sempat canggung. Minim pengalaman politik dan berbaur dengan sesama anggota dewan yang jauh lebih tua adalah penyebabnya. Tak butuh waktu lama, Imam mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan kerjanya. Terlebih beberapa orang di legislatif teman ayahnya dan sering bertemu ketika bersilaturahim ke rumahnya.

"Ada yang sudah kenal lama, tapi seumuran ayah saya, dari situ sama mulai berbaur. Alhamdulillah sekarang sudah mulai paham cara kerja legislatif, lagian saya juga dulunya aktivis, itu nambah modal saya berpolitik," ujarnya.

Imam juga mengakui sempat kewalahan ketika rapat membahas hal-hal di luar bidangnya. Dia sangat asing dengan permasalahan anggaran, kesehatan, atau lainnya. "Namanya juga baru lulus kuliah, masih zonk, tahunya mata kuliah dan pola kerja organisasi mahasiswa saja, selebihnya nol. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa walaupun belum cakap betul," ungkap Ketua Barisan Muda PAN Musi Rawas itu.

Setelah beberapa bulan menjabat, Imam sudah mulai merealisasikan janji politiknya, seperti program satu kecamatan satu ambulan, bantuan sembako bagi warga meninggal, dan bantuan hukum gratis.

Semua program itu dikeluarkannya melalui kantong pribadi, bukan diambil dari anggaran daerah. Dia sengaja menyisihkan gajinya agar program itu berjalan dengan baik.

Dalam waktu dekat, Imam bakal menggulirkan program satu desa satu fasilitas olahraga. "Jika ada tempat berkumpul positif seperti itu saya kira tak ada waktu lagi buat mereka mendekati narkoba, mereka disibukkan dengan kegiatan bermanfaat. Tinggal sekarang kami lagi komunikasi dengan pemerintah desa untuk pengadaan lahannya, harus jelas dan untuk orang banyak," kata dia.

Sementara tugasnya sebagai aspirator masyarakat, Imam tengah menyuarakan peningkatan taraf hidup petani, karet dan sawit. Berdasarkan catatannya di lapangan, selain harga, pendapatan petani sangat berpengaruh dari hasil produksi. Semakin produksi berlimpah, semakin besar kemungkinan mendapatkan uang banyak, begitu juga sebaliknya.

"Problemnya, petani kita tanam bibit karet atau sawit yang jelek, kurang berkualitas, wajar ketika produksinya sedikit, ditambah lagi harga murah," ujarnya.

Tawaran Imam ternyata direspon positif bagi anggota lain dan masuk dalam pembahasan dewan. Program bantuan bibit unggul tengah dirancang dan segera terealisasi untuk menggantikan tanaman petani yang minim produksi.

"Saya kira itu dulu, karena mayoritas warga kami petani, itu yang mereka harapkan untuk kesejahteraan. Tapi, saya terus menggulirkan gebrakan-gebrakan baru lainnya untuk masyarakat," tutupnya. [bal]

Baca juga:
Legislator Muda, Pembuktian Generasi Milenial
Legislator Muda, Bisa Apa?
Agun Gunandjar Duduk di DPR Sejak 1997
Anggota DPR Muda Berikan Sembako ke TNI-Polri yang Amankan Pelantikan Presiden
Anggota DPR Periode 2019-2024 Akan Dapat Rumah Dinas di Kalibata dan Ulu Jami
Usai Dilantik Jadi Anggota DPR, Eko Patrio Sering Rapat Hingga Larut Malam

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini