KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

KKG, Setnov VS Rosneef

Senin, 23 Mei 2016 10:08 Penulis : Christianto Wibisono
Presiden Jokowi. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Bersama Bung Karno saya memantau pagelaran 20 tahun KTT ASEAN Rusia di Sochi tempat pesanggrahan ala kapitalis di tepi Laut Hitam. Memang aneh dan membingungkan mengapa mendadak tokoh senior Kwik Kian Gie (KKG) melontarkan ide kudeta pada Selasa 17 Mei di depan diskusi MUI tentang sistem ekonomi. Hari Jumat 20 Mei langsung dikecam oleh TB Hasanudin mantan sekretaris militer Presiden Megawati yang mempertanyakan Kwik sebagai wakil ketua MPR periode Amien Rais tentu harus bertanggung jawab terhadap amandemen yang ditutuh menjadi biang stagnasi negara ini.

CW: Bapak 60 tahun lalu mengunjungi Uni Soviet dan bersahabat baik dengan Nikita Khruschov apa komentar bapak terhadap Poros Jakarta Moskow yang dibangun Presiden Jokowi di Sochi?

BK: Saya betul betul kagum sama Jokowi dan wanti-wanti mengingatkan para lawan politik termasuk Kwik yang malah punya teori mirip KGB yang sudah dibubarkan di Rusia dan diganti FSB untuk domestik dan SVR untuk operasi global. Perhatikan bahwa selain proyek kilang migas Tuban dengan rencana investasi US$ 13 milyar, Putin juga sepakat kerjasama intelijen anti terorisme. Tuban akan dibangun menjadi pusat petrokimia Asia Tenggara yang terluas sekaligus menjadi pusat cadangan migas nasional. Ini terobosan mirip saya dulu mau membangun pabrik baja Trikora di Banten dan pangkalan angkatan laut Ambon sebagai setara Singapore di Indonesia bagian Timur. Konglomerat Igor Sechin dari Rosneft yang merupakan raksasa aluminum dunia berminat menjadikan Tuban pusat perminyakan ASEAN. Di samping itu proyek kereta api Kalimantan juga dilaksanakan sebagai bagian dari kemitraan comprehensive Indonesia Rusia.

Ini bukan mercu suar model saya meminjam US$ 2,5 miliar dulu yang seluruhnya mengalir ke alutsista kapal selam dan pesawat MIG untuk merebut Irian Barat. Ya memang alokasi dana untuk ekonomi jadi tersedot alutsista. Karena itu memang terjadi kemerosotan ekonomi di akihri pemerintahan saya, karena memang saya sadar membangun kekuatan bersenjata untuk memaksa Belanda menyerahkan Irian Barat

CW: Bisa bapak jelaskan tentang kerumitan diplomasi geopolitik waktu itu?

BK: Saya sudah tahu bahwa Beijing dan Moskow itu tidak akur, bahwa ada rivalitas untuk jadi pusat komunis internasional. Saya juga sudah tahu bawah Presiden Kennedy bersimpati pada penyatuan kembali Irian ke Indonesia, karena itu perundingan dilakukan di Washington oleh Dubes RI untuk Moskow Adam Malik menghadapi van Royen. Persetujuan New York 17 Agustus 1962 adalah hadiah ulang tahun ke 17 RI kembalinya Irian Barat kepangkuan RI melalui transisi UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) 1 Mei 1963. Waktu itu sebetulnya saya sudah masuk nominasi Nobel Perdamaian menurut Menlu Philipina Carlos Romulo. Tapi karena Malaysia dipaksakan lahir 16 September 1963 sebelum dilaksanakannya referendum terhadap rakyat Kalimantan Utara, maka saya meluncurkan konfrontasi mengganyang Malaysia. Nah memasuki 1965, konflik Moskow Beijing semakin keras, dan Uni Soviet ingin masuk ikut KTT Asia Afrika II yang dijadwalkan di Aljazair Juni 1965. Tapi KTT itu batal karena Kolonel Boumedienne mengkup Presiden Ahmed Ben Bella.

Saya juga heran kemudian di Indonesia ada Letkol Untung dari Tjakrabirawa meniru Kol Boumedienne mengkup kabinet Dwikora dengan mendirikan Dewan Revolusi 1 Oktober 1965. Nasib saya memang lebih baik dari Ben Bella yang langsung dijebloskan ke tahanan oleh Boumedienne dan baru bebas 1979 setelah Boumedienne wafat. Ben Bella wafat11 April 2012 tapi tidak pernah bisa come back menduduki jabatan politik apapun. KTT Asia Afrika tidak akan pernah terulang lagi, sudah “disrobot” oleh KTT Non Blok Saya sendiri sudah terlalu pagi dan terlalu maju merangsek dengan gagasan Conefo Conference of the New Emerging Forces menandingi PBB. Saya bawa RI keluar dari PBB Januari 1965 ketika Malaysia diterima jadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Saya bangun gedung Conefo sebagai markas PBB tandingan yang kemudian oleh Soeharto dijadikan gedung MPR DPR sampai detik ini. Conefonya sendiri abortus karena RRT akan dipulihkan haknya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB pada Sidang Majelis Umum PBB 1971 yang ironisnya dipilin oleh Menlu Adam Malik. Suatu peristiwa yang tidak akan terulang lagi sebab jabatan itu berputar diantara 194 anggota PBB sehingga harus menunggu 1,5 abad untuk bisa terulang.

CW: Bagaimana menjelaskan makna kemenangan Setya Novanto dan semangat kudeta Don Quxiote Kwik serta munculnya Rosneft di peta geoekonomi RI ditengah stagnasi Tax Amnesty yang sudah membuang waktu ½ tahun.

BK: Sudah banyak analisis ditulis tentang politik di belakang layar tayangan berita dan obrolan WA medsos. Setya Novanto mengorbit sebagai ketum Golkar karena lebih “terkendali” ketimbang tokoh kawakan mantan ketum dari Makassar yang berambisi jadi orang pertama melalui suksesi model kudeta yang diimpikan Kwik. Jangan salah sangka, mungkin tidak ada konspirasi atau rapat gelap tapi scenario the invisible hands, kadang kadang “sejarah” dan “predestinasi supranatural “ itu terjalin tanpa rencana, kebetulan (koinsidensi) belaka. Mungkin saja kudeta itu Cuma imajinasi Kwik begitu pula isu bahwa orang kedua siap menjadi orang pertama, bila situasi darurat terjadi.

Tapi Tuhan tentu jauh lebih pintar bijaksana ketimbang konspirator dungu model Untung yang dikalahkan oleh Soeharto yang direstui berkuasa 32 tahun sampai 1998. Nah kenapa Soeharto dibiarkan bercokol 32 tahun itu tentu karena didukung sistem dan elite utama yang menikmati dominasi Soeharto secara mutualistis. Kita kemudian mengebut gonta ganti presiden dan tidak sabar disuruh menunggu sampai 2 term, baru satu tahun atau baru duduk saja sudah digoyang oleh oposisi parlementer multi partai gurem. Jadi kalau presiden nya kemudian kuran gberkinerja ya bukan salah Habibie, Gus Dur, Mega dan SBY yang 10 tahun seolah jalan ditempat status wuo apalagi Jokowi yang baru duduk sudah disingkirkan dari parlemen oleh KMP bonek.

CW: Apa sekarang ini Presiden Jokowi bisa survive menghadapi maneuver elite yang berpola Brutus Ken Arok Machiavelli 3-in-1 secara simultan dan bergiliran mengerubuti kelengahan dan kekeliruan kabinet, apalagi sempat mencuat keluar perbedaan dan pertentangan kebijakan para menteri satu sama lain.

BK: Ya itu memang prasyarat utama politisi, negarawan untuk bisa mengatasi konflik diantara para elite pembantunya secara prokreatif proaktif. Artinya kompetisi harus ditujukan pada perlombaan mengukir prestasi dan kinerja dari menteri menteri tersebut. Supaya masing masing kerja full time, full speed dan mampu memobilisasi birokrasi di bawah kendali kementerian yang dipimpinnya untuk mencapai target konkret seperti lisensi 3 jam sampai 24 jam, peringkat Ease of Doing Business ke peringkat 40 dari 109, peningkatan produksi, ekspor barang dan jasa, pariwisata dan indeks pembangunan manusia, peringkat perguruan tinggi dan pelbagai peringkat kinerja nation state yang harus dipacu dan dipicu dari kelas ratusan, ke puluhan atau belasan.

Target utama tentu harus percara diri bahwa dalam satu generasi kita akan melipatgandakan icome per kapita menuju US$ 10.000 dan pada 2045, tepat Seabad Indonesia, kita dapat meraih substansi peringkat 4 nation state terhebat dalam kualitas, bukan hanya dalam kuantitas demografi jumlah penduduk. Melainkan dalam kualitas kinerja substansial kita semua di pelbagai bidang.

CW: Urusan komunisme dan PKI saja 2 jendral berbenturan secara vulgar.

BK: Memang lucu dan membingungkan. Paling tepat itu Buya Syafii Marif melalui telepon interlkola didepan ILC dengan gaya khas Buya mengritik oran g yang masih takut hantu komunis. Lho sekarang ini isunya terrorism bukan komunisme. Sebab dua embah komunis, Rusia dan Tiongkok sudah bertobat jadi McLenin (Leninis yang borjuis, kapitalistus dan doyan McDonald serta kepengen jadi Donald Trump semua elite menengahnya). Lha kok di Indonesia malah subur membangkitkan hantu komunis. Ini memang dua duanya goblok. Yang masih mau berjuang jadi komunis itu malah embahnya goblok yang gak ketulungan. Sementara yang direstui Tuhan itu ya justru Buya Syafii Marif yang eling lan waspodo, bahwa zaman sekarang ini gak ada lagi Marxisme Leninisme Komunisme yang survive. Sekarang tinggal Korea Utara dan Kim Jong Un yang tega membiarkan pamannya dimangsa srigala lapar di sumur dalam. Kuba di bawah Castro juga sudah membuka diri jadi pasar bebas.

Pasar (the market) is older and superior to Marxism, kata Deng Xiaoping yang kapok memaksakan Marxisms 30 tahun di RRT 1949-1979) malah tetap melarat kayak Tiongkok kuno dan segera melejit seteleh mengembalikan kedaulatan meritokrasi dan property rights sebagai stimulans untuk kebangkitan kelas menengah yang produktif, proaktif dan kreatif dalam persaingan pasar global yang hukum besinya hanya meritokrasi. Siapa tidak perform ya out dari pasar yang dinamis dan cepat. Jadi elite kita memang ketinggalan masih hidup di zaman KGB yang sudah diganti oleh FSB masih hidup dalam momok dan hantu komunis dan anti komunis masa lalu sehingga ketinggalan dari transformasi geopolitik seperti yang terjadi di Sochi yang akan berdampak ke Tuban dan masa depan ASEAN.

CW: Pasti akan memancing reaksi keras dari banyak orang yang tersandra oleh mitos situasi dunia tahun 1960 dan keliru membaca di tahun 2016 ini pak. Sampai ketemudi edisi 21 pada 30 Mei yad. Sekarang ini mudah mudahan orang sudah tidak demam kudeta lagi seperti Kwik, karena baru 18 tahun ditinggal lengser Soeharto kok malah sudah merindukan kudeta baru. Kita doakan pak Kwik mawas diri mencari kebijakan yang tidak mengulang kudeta model Untung Boumedienne. [war]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.