KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Kisah inspiratif Vivi Leonita, merdeka di tengah kepahitan

Selasa, 29 Agustus 2017 07:12 Reporter : Hery H Winarno
Vivi Leonita. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Wanita muda ini datang ke kantor merdeka.com dalam balutan busana kasual. Pada siang yang terik. Kamis 27 Juli 2017. Bercelana hitam. Baju merah tua lengan panjang. Dia mudah diajak ngobrol. Gampang juga bergurau, ngakak, meski beban hidup sungguh terlampau berat untuk wanita seusia dia.

Vivi Leonita, begitu nama lengkapnya, pada usia yang terbilang muda, 22 tahun, harus memikul semua beban keluarga. Seorang diri. Ayah terkena stroke semenjak berapa tahun lalu. Beruntung perlahan membaik. Kini dalam proses pemulihan. Adik semata wayangnya, terkena kanker Leukimia. Dan sang ibu menderita sakit autoimun. "Sistem imun menyerang tubuhnya sendiri," katanya, tentang keadaan sang Ibu.

Dan Vivi, begitu dia disapa, harus menjadi tiang keluarga itu. Nafkah rumah. Dan juga mengantar ayah, ibu dan adiknya ke tiga rumah sakit yang berbeda. "Beruntung ada BPJS," katanya. Meski memang tetap ada biaya transportasi bolak-balik ke tiga rumah sakit itu. Merdeka.com sudah dua kali bertemu Vivi. September tahun lalu. Dan kedua, pada Kamis 27 Juli itu. Tahun lalu itu, sang ibu memang masih bugar. Ketika merdeka.com, datang ke rumahnya di Cengkareng, sang ibu terlihat mengemas sejumlah dagangan. Pada pertemuan kedua itu, Vivi memberitahu bahwa ibunya juga jatuh sakit.

Vivi Leonita ©2017 Merdeka.com


Beruntung kini sudah mulai pulih. Dirubung kesulitan begitu rupa, Vivi Leonita memberi kita contoh bagaimana menyalakan semangat di tengah kegelapan. Dia kuliah sambil berdagang. Dua-duanya ditekuni. Dua-duanya terbilang sukses. Kuliah tinggal menunggu wisuda. Dan bisnis kecilnya yang dirintis semenjak SMA, kini kian menyala.

Pemesan datang dari berbagai kota. Dari Banda Aceh, Palembang, Pontianak, Jakarta, Surabaya, Makassar, hingga dari kota mentari datang, Jayapura. Sehari bisa bikin 500 produk kalung. JNE rutin angkut. Merekrut warga kampung jadi pekerja. Mereka semua digaji.

Setahun lalu, merdeka.com pernah separuh hari bersama wanita murah senyum ini. Dan pada separuh hari itu kita seperti merasakan denyut jarum detik. Terus berdetak. Nyaris selalu bergerak dengan tenaga penuh. Entah bagaimana cara dia meredam lelah. Redam kepedihan. Lihatlah kehidupannya pada tahun lalu itu. Saban hari dia bangun pukul empat lebih 30 menit. Pada sepagi itu, ketika sebagian dari kita masih terlelap, dia membereskan dagangan, melihat daftar pemesan di seluler, sesudah itu mandi, berdandan, lalu bergegas.

Pukul enam pagi, dari sebuah perumahan di Cengkareng dia memacu kendaraan roda dua, melaju dengan tujuan sebuah universitas di kawasan Ancol. Vivi memang mahasiswi di situ. Semester tujuh saat itu. Satu setengah jam bertarung dengan kemacetan. Ngepot di celah sejumlah truk Tronton yang bikin nyali mengkeret, dia tiba pukul tujuh lebih 30 menit.

Di jalanan ibukota yang garang ini, di mana jumlah kendaraan roda dua saja sudah 13 juta, hidup kita memang seperti diadu. Dikontestasi. Punya uang dan pendidikan seringkali jadi penentu. Vivi membuktikan sebaliknya.

Wanita muda ini bukan datang dari keluarga yang semerbak harta. Jika kemudian dia melaju ke bangku kuliah, itu karena kecerdasan, kerja keras yang dipompa oleh kesusahan. Saat duduk di kelas tiga SMA, kampus itu menggelar lomba akuntansi di sekolahnya. Vivi menjadi pemenang. "Ini lomba cepat-cepatan menghitung," kisahnya, kepada Merdeka.com tahun lalu itu.

Meraih juara satu pada lomba itu, dia dapat beasiswa 75 persen uang kuliah. Hanya bayar 25 persen. Beasiswa itu bisa sampai lulus. Tapi ada syaratnya, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tidak boleh melorot di bawah target. Begitu nilai lunglai, beasiswa itu automatic reject. Tapi dia selalu menjaga batas aman itu. Di sela-sela kesibukan berjualan, IPK-nya masih di atas 4.00. Nilai yang sempurna. Mudah-mudahan beasiswa itu, katanya setahun lalu itu, bisa bertahan hingga kuliah ini pungkas.

Kuliah sambil bekerja. Bagi sejumlah orang mungkin menjadi dua hal yang bisa saling memangsa. Kuliah tak tuntas. Kerja juga tak maju-maju. Hidup malah bergerak mundur. Tapi, di tangan gadis bertubuh tinggi ini, keduanya justru saling membahu. Kawan-kawan di kampus bisa memberi saran.

Di sela-sela istirahat kuliah, dia masih bisa meladeni para pelanggan via telepon seluler. Meladeni pesanan. Meladeni keluhan hingga caci maki. Dia menemukan pelajarannya sendiri, bagaimana berubah, dan bagaimana menghadapi rupa-rupa konsumen dari rupa-rupa asal. Selesai kuliah pukul tiga sore, dia biasanya bergegas ke Kota, kawasan di jantung Jakarta yang denyut bisnisnya 24 jam tanpa jeda. Pada kemacetan sore hari, dari kampus di Ancol itu, dia kembali memacu roda dua 45 menit pada "kemurungan" jalan.

Di kawasan kota itu dia membeli bahan baku. Sudah ada pelanggan tetap. Beres membeli, dia kembali memacu motor ke perumahan di Cengkareng itu. Selalu begitu saban hari kuliah. Rute yang sama. Rute yang membuat bisnisnya terus bermekar.

Ligat berdagang itu memang turun dari Ibu. Semenjak kecil dia sudah terbiasa membantu sang Ibu berjualan. Dilakukan disela-sela sekolah. Pelajaran tak pernah terganggu. Saat remaja Vivi kerap menjual gantungan kunci bikinan sang Ibu ke kawan sekolah. Sehari bisa laku lima. Bisa lebih. Bisa juga kurang. Dan, Vivi Leonita bukanlah sebuah kisah perjuangan belaka, juga bukan kisah menyiasati hidup semata, tetapi juga menjadi kisah metamorfosis sebuah sebuah bisnis. Dari jalur konvensional ke jalur digital. Semula dipasarkan dari mulut ke mulut, gonta-ganti produk, lalu membiak secara cepat lewat jejaring sosial.

Dengarlah kisah perjalanan bisnisnya berikut ini. Tanggal 30 Maret 2012, dia memposting "mote-mote" bikinan Ibunya di sebuah media sosial. Sepi peminat. Pemesan dihitung jari. Saat kuliah memasuki semester tiga, dia putar haluan ke produk lain. Manik-manik. Lumayan. Tapi yang beli tak begitu banyak.

Dia lalu berpindah ke gelang handicraft. Dan belakangan merambah ke bisnis kalung. Dua barang yang terakhir itulah yang dimasukan ke sejumlah toko online. Tokopedia, Bukalapak,Shopee, aplikasi Line dan ecommerce yang lain. Para mesin pencipta peluang ini memang meraksasa beberapa tahun belakangan. Sejumlah mal digital itu laiknya Talent Auditions, yang memanggungkan para "permata" seperti Janet Delvin ke panggung dunia. Dibesut oleh sejumlah anak muda, dengan jumlah transaksi triliunan. Sejumlah pebisnis online bisa menjangkau konsumen mereka berkat sejumlah mall online ini.

Belakangan ini, jumlah para pebisnis kreatif dan usaha kecil memang kian melambung. Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, pernah membeberkan bahwa sumbangan usaha kecil ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sangat besar.

Vivi Leonita ©2017 Merdeka.com


Lihatlah data dari Badan Pusat Statistik berikut ini. Jumlah UKM sekitar 57,9 juta. Tahun 2015 menyumbang sekitar Rp 881 triliun terhadap PDB. Triawan meyakini usaha kecil akan terus melejit pada masa yang akan datang lantaran iklim usaha kian membaik. Iklim usaha yang membaik itu juga sungguh diyakini oleh Vivi. "Saya optimis Pak," katanya , sebab banyak yang berminat, terutama setelah dia memajang barang dagangan di Tokopedia dan sejumlah ecommerce yang lain. "Saya masukin di Tokopedia barang-barang yang bisa dijual cepat," katanya.

Lantaran banyak peminat itu, dia merapikan dapur. Stok barang-barang yang laku seperti kalung diperbanyak. Bila ada yang pesan, persediaan selalu ada. Dan memang lewat sejumlah marketplace itu pesanan selalu ada. Vivi berkisah panjang lebar, bagaimana bisnisnya melaju juga berkat peran orang-orang di sejumlah ecommerce itu. Kalung, kata dia, biasanya lebih cepat laku. Para pembeli juga sudah paham. Tak banyak tanya. Beda ketika dia memajang barang-barang itu di media sosial. Banyak pertanyaan. Bahannya apa. Rontok tidak. Dan seterusnya. Bukan hanya konsumen, para reseller juga kian bertambah. Lebih dari 20-an.

Mereka datang dari berbagai kota. Dari Aceh hingga NTT. Semua pesan dalam jumlah banyak. Sejumlah mall digital ini, katanya, sangat membantu. "Dari segi pembayaran sangat mudah. Konsumen juga terbantu."

Vivi lega. Bisnis perlahan maju. Dan dia bisa menolong dapur keluarga. Sang adik yang mulai pulih itu, jadi admin bisnis ini. "Saya ini mikul beban keluarga," katanya dengan air muka yang berusaha tersenyum. Tapi, segenap beban itu justru memacu semangat. "Bangun pagi cari duit, bisa nganggur kalau tidur," tuturnya sembari tertawa.

Kini bisnisnya terus mekar. Beberapa bulan belakangan sayap bisnis perlahan melebar. Ada jualan baru. Mulai jualan baju. Khusus untuk perempuan. Diambil langsung dari para importir. Dipajang di sejumlah mall online tadi. Pemesan mulai banyak. "Saya optimis dengan produk- produk yang baru ini," katanya. Dia juga optimis, ayah, ibu dan adiknya bakal sembuh total. Meniti hidup di tengah kesulitan sepahit itu, Vivi bukannya tak pernah bermuram. Dia tidur sekamar dengan sang adik. Dan suatu malam, di kamar tidur itu,
ketika sang adik sudah terlelap, dia menahan tangis memikirkan hidupnya. "Mengapa ya, kesulitan saya begini besar," begitu dia bertanya kepada dirinya sendiri. Terlelap. Dan esok pagi semangatnya kembali menyala. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Kisah Inspiratif
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.