Kisah cinta pencari suaka

Senin, 12 Februari 2018 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Ilustrasi Pacaran. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Ponsel Mega terus berdering. Sebuah panggilan masuk dari Ali, kekasih hatinya. Nada bicaranya tak biasa. Ali meminta Mega segera datang ke rumah kontrakannya kawasan Kalibata Jakarta Selatan. Kaget dan heran. Begitu perasaan Mega hari itu. Di tengah kesibukannya sebagai karyawan di perusahaan swasta.

Tanpa pikir panjang, Mega bergegas. Menuju kediaman Ali. Menembus kemacetan Ibu Kota. Ditambah jarak menuju rumah kontrakan Ali cukup jauh. Kantornya berada di Jakarta Barat. Selama di perjalanan, Mega hanya berpikir. Terheran-heran. Sebab, biasanya komunikasi di antara mereka hanya sekedar menanyakan aktivitas dan saling memberi perhatian.

Mega akhirnya tiba. Dia merasakan betul perubahan sikap Ali ketika bertatap muka. Setelah mengungkapkan kabar bahagia kepada dirinya. "Saya datang ke tempat dia. Dia bilang beberapa waktu lalu UNHCR telpon. Terus dia bilang mau pergi. Saya kaget," cerita Mega kepada merdeka.com akhir pekan lalu.

Kabar itu memang bahagia. Di sisi lain juga menjadi dilema. Wanita asal Jambi ini merasa belum siap. Namun, sudah risiko mempunyai kekasih seorang imigran pencari suaka. Pada hari itu Mega juga ikut senang. Tersenyum. Melihat kekasihnya kegirangan.

Kami bertemu dengan pasangan ini. Ali merupakan imigran asal Afghanistan. Sudah hampir empat tahun berada di Indonesia. Mengajukan suaka. Melalui United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Sebuah badan milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) khusus mengurus pengungsi. Sejak awal, niat Ali ingin mendapat hidup lebih baik. Setelah sekian tahun hidup dalam peperangan. Bahkan sang ayah sebagai anggota militer telah tewas di medan perang. Akibat serangan dari Taliban.

Sudah enam bulan Mega dan Ali menjalin hubungan spesial. Selama ini sosok Ali di mata Mega dikenal bersikap dingin. Sedikit bicara. Namun, setelah Ali mengatakan segera meninggalkan Indonesia sikapnya berubah. Menjadi lebih romantis. Meski belum diberi kepastian kapan dan negara mana bakal menjadi tempat Ali menetap nanti.

Mega masih ingat betul awal bertemu dengan sang pujaan hati. "Waktu itu saya sedang menangani kasus temannya dia yang bermasalah hukum. Dia datang. Itu pertama kali saya ketemu dia," kata Mega.

Tak hanya sekali. Di pelbagai kesempatan, keduanya sempat bertemu. Sikap cuek dan dingin dari Ali, membuat wanita ini semakin penasaran. Susah payah mengejar cinta Ali. Perhatian dan usaha Mega pun tak sia-sia. Ali pun luluh. Merasa nyaman bersama Mega. Bahkan, kata Mega, kekasihnya itu kini merasa bingung. Lantaran tak mau kehilangan Mega.

Ali sempat terbersit untuk menikah dengan Mega secara siri. Namun niat itu diurungkan. Sadar diri. Dia saja belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri di negara barunya nanti. Apalagi bila harus menghidupi satu orang lagi.

Faktor lain, hubungan mereka juga terhalang restu keluarga. Mega mengaku masih merahasiakan hubungannya dengan pria berusia 20 tahun tersebut. Sebab bila menceritakan jalinan asmara dengan imigran, dia yakin tak akan mendapatkan restu.

Begitu pula dengan Ali. Pesan sang ibu terus teringat. Dia tak mau durhaka. Sebab, sang ibu meminta tidak menikah dengan orang asing. Pria keturunan Suku Hazara, Afghanistan ini hanya boleh menikah dengan sesama orang Afganistan. Lantaran khawatir ditipu.

Ali datang ke Indonesia ketika berusia 16 tahun. Dikirim pamannya ke Indonesia setelah mendapatkan tiket di bandara. Sebelum sampai ke Indonesia Ali sempat transit di India dan Malaysia. Perjalanan lewat jalur udara itu ditempuhnya selama dua hari. Tak banyak barang dibawa. Hanya sebuah tas berisi beberapa baju ganti.

"Datang ke Indonesia bukan pilihan saya, tapi pilihan paman saya," cerita Ali. Untuk mencapai Indonesia memang melelahkan. Kata Ali, bukan hanya energi selama perjalanan. Tetapi, dia juga harus mengeluarkan kocek hingga USD 5.000 atau setara Rp 68 juta.

Imigran dekat kantor UNHCR Jakarta 2018 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir


Ada tiga jalur bisa ditempuh para pengungsi. Mulai dari jalur laut, udara, dan darat. Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM lalu membaginya menjadi dua motif berimigrasi. Pertama, pengungsi dengan motif ekonomi (refugee economic), yakni pengungsi datang sendiri menggunakan biaya dari kantong pribadi. Mereka biasa disebut pengungsi mandiri. Lalu, pengungsi asli (genuine refugee). Yakni bila pengungsi datang secara berkelompok lewat jalur laut dan tak membawa uang sepeser pun. Mereka terpaksa meninggalkan negaranya karena terusir.

Dari data tercatat di Ditjen Imigrasi, hingga 31 Agustus tahun 2017, ada 14.337 imigran ilegal di Indonesia. Mereka berasal dari berbagai negara. Mulai dari Afganistan, Somalia, Irak, Pakistan, Myanmar, Iran, Vietnam, Bangladesh, Palestina, Yaman, India, Kamboja, Nepal, Suriah, Kongo, Mesir hingga tak punya status kewarganegaraan.

Daerah Cisarua di Kawasan Puncak Bogor menjadi tempat tinggal pertama bagi Ali. Menetap di sebuah rumah kontrakan. Tidak gratis. Dia bersama empat pengungsi Afganistan lainnya harus membayar sewa rumah. Belum lagi berbagai kebutuhan sehari-hari. Meski usianya 16 tahun kala itu, Ali tak lantas bisa melanjutkan sekolah di Indonesia. Meski terdapat sekolah khusus para imigran di Cisarua. Lebih memilih berdiam diri di rumah. Bila merasa bosan, dia hanya pergi bermain bola dengan para imigran lain.

Ali kemudian memutuskan untuk tinggal di Jakarta. Pria tersebut mengaku lebih nyaman dengan gaya hidup kaum urban Ibu Kota. Sebab lebih terbuka. Berbeda ketika masih tinggal di Cisarua. Dia tak lagi mengurung diri di rumah. Dan memiliki kegiatan baru. Bila sebelumnya hanya makan, tidur dan bermain bola.

Kini Ali lebih produktif. Setiap Senin dan Jumat mengikuti kursus bahasa inggris di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Selain itu setiap malam dia menghabiskan waktu untuk berolahraga di pusat kebugaran. Tak jarang pula berkumpul dengan para teman sesama pencari suaka asal Afghanistan. Namun, dirinya menyayangkan Indonesia melarang para imigran mendapat kerja atau melakukan usaha.

Semua didasari lantaran Indonesia tidak ikut menandatangani Konvensi 1951 dan Protokol 1967 tentang Pengungsi Internasional. Namun, Indonesia menandatangani konvensi HAM berkewajiban untuk menaati konvensi pengungsi internasional.

Selain itu, laporan UNHCR kepada Ditjen Imigrasi menyebutkan dari jumlah imigran ilegal telah diklasifikasi menjadi dua kategori. Pertama pengungsi sebanyak 8.636 orang. Pada kategori ini pengungsi didefinisikan sebagai orang dipaksa meninggalkan negara asalnya untuk menghindari perang, penganiayaan, hingga bencana alam.

Selanjutnya, pencari suaka berjumlah 5,701 orang. Mereka dalam kategori ini telah ditetapkan mendapatkan suaka dan tengah dalam proses menunggu keputusan negara tujuan. Apakah diterima kehadirannya atau sebaliknya. Namun, dalam praktiknya justru banyak imigran datang ke Indonesia secara mandiri. Motifnya bukan untuk menyelamatkan diri melainkan motif ekonomi.

"Mereka pengungsi yang punya modal. Perginya dia dari negara asal tidak semata-mata untuk keamanan diri, tapi lebih dari motif ekonomi," ungkap Kepala Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Agung Sampurno kepada merdeka.com.

Kami kesulitan meminta penjelasan UNHCR. Mereka menolak ditemui. Permintaan wawancara kami mengenai nasib para imigran juga tidak ditanggapi. Tetapi dari situs resmi unhcr.org, mereka menyebut sejak tahun 2004 sudah hampir 33,700 pendatang mencari suaka di Indonesia. Hanya kurang lebih 13 persen orang di antaranya mendapatkan solusi dengan penempatan di negara ketiga atau pemulangan secara sukarela ke negara asal mereka. Sementara sebagian besar dari mereka adalah secondary movers atau tergolong kelompok tidak berdiam di Indonesia untuk mengikuti atau menyelesaikan keseluruhan proses pencarian solusi dari UNHCR.

Kisah cinta Mega dan Ali masih berjalan. Namun, wanita itu belum tahu hubungan dengan Ali ke depan. Selama ini dia hanya menikmati tiap waktu bertemu kekasihnya. Tidak sampai di situ. Mega bahkan ikut berjuang. Meminta kepastian kepada UNHCR untuk mengetahui kapan kepastian kekasihnya bisa berangkat ke negara suaka. Walau sampai hari ini terus gagal menemui maupun menghubungi badan PBB fokus penanganan pengungsian. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini