Jakarta Vs Corona

Ketar-ketir Jakarta Khawatir

Senin, 14 September 2020 10:13 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Ketar-ketir Jakarta Khawatir TPU Pondok Ranggon. ©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Riuh aktivitas jual beli di belakang Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan. Pedagang barang bekas berjejer. Memakan lebar trotoar. Hilir mudik warga membuat jalan semakin sempit. Sedikit ruang untuk menjaga jarak.

Deretan lapak pedagang bisa dikerumuni banyak pembeli. Entah sekedar bercengkrama maupun bertransaksi. Wajar saja, lokasi itu memang dikenal sebagai surganya pasar loakan. Mereka mengais rezeki demi tetap bertahan di tengah terpaan badai pandemi Covid-19.

Niat para pedagang tentu mulia. Sayangnya masih ada saja abai protokol kesehatan. Terutama soal penggunaan masker. Tak sedikit mereka menggunakan masker tidak menutup mulut dan hidung, tapi diletakkan di dagu. Meski begitu sebagian besar lagi sudah mematuhi selama diterapkan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) transisi.

Aturan pembatasan memang sempat dilonggarkan. Aktivitas masyarakat, seperti kerja dan bisnis mulai diberikan ruang. Dengan catatan, protokol kesehatan wajib diterapkan. Tak boleh ditawar apalagi dilanggar.

Khususnya di DKI Jakarta. Melawan penyebaran Covid-19 yang kian masif menjadi permasalahan serius. Tiap hari korban positif bertambah. Sudah banyak nyawa menghilang akibat positif Covid-19. Jumlahnya pun terus bertambah tiap harinya.

Tantangan berat sedang dihadapi. Kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan kian terdesak. Makin banyak warga terjangkit Covid-19 maka tinggi pula angka keterisian ruang isolasi maupun ruang ICU rumah sakit.

Indonesia, khususnya DKI Jakarta melawan Covid-19 dimulai pada 2 Maret 2020. Saat itu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan dua kasus pertama. Sejak itu jumlah kasus positif terus naik. Hingga sekarang.

Menilik pengalaman DKI Jakarta, kasus positif terus bertambah saban hari. Pada 31 Maret, kasus positif Covid-19 di Ibu Kota tercatat 608 orang. Ingin bergerak cepat mengatasi pandemi, Pemprov DKI kemudian memutuskan untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tepat 10 April PSBB kebijakan diterapkan. Tentu dengan harapan agar Covid bisa ditekan. Sayangnya data berkata lain.

Bulan April ditutup dengan catatan naiknya kasus positif. Kasus positif meningkat menjadi 3.345 pada 30 April. Terus melonjak pada Mei mencapai 4.650 orang. Pemprov DKI Jakarta kemudian memutuskan untuk menjalankan PSBB transisi pada Juni.

Kebijakan ini sempat menuai kritik publik. Pelonggaran PSBB dikhawatirkan bakal memperburuk situasi karena bisa memperluas penyebaran Covid-19. Lantaran belum semua masyarakat siap dan patuh menjalankan protokol kesehatan.

Data penyebaran Covid pada Juni menurun jadi 4.123 kasus aktif. Kemudian Juli kasus kembali naik lagi drastis menjadi 7.157. Angka terus menanjak di Agustus menjadi 8.569 kasus.

Hingga pada Minggu, 13 September 2020, kemarin kasus positif di DKI Jakarta bertambah 1.492 kasus. Sehingga akumulasi kasus positif Covid-19 di ibu kota mencapai 54.864. Jumlah akumulasi kesembuhan sejak Maret hingga saat ini sebanyak 41.014 orang.

Untuk kasus kematian yang dilaporkan bertambah 6 orang pada hari Minggu kemarin. Sehingga total kematian akibat Covid-19 di Jakarta sebanyak 1.410 jiwa. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit mencapai 4.649 orang. Terdapat 7.791 orang menjalani isolasi mandiri.

Peningkatan kasus mengancam ketersediaan kapasitas tempat tidur isolasi. Pemprov DKI Jakarta memprediksi pada tanggal 17 September 2020 nanti, tempat tidur isolasi akan penuh. Mereka hanya memiliki stok 4.053 tempat tidur.

Setelah tanggal 17 September 2020, pasien covid kemungkinan tidak tertampung. Dari sisi jumlah pasien, mereka memperkirakan jumlah pasien isolasi akan mencapai 4.807 pada 6 Oktober 2020. Padahal tempat tidur isolasi baru bisa terpenuhi pada 8 Oktober 2020.

Ketersedian ruang ICU pun diprediksi hanya cukup untuk seminggu lagi. Hanya tersedia 528 ruangan di rumah sakit Jakarta. Setelah tanggal 15 September 2020 pasien covid yang membutuhkan ICU kemungkinan tidak tertampung.

Jumlah pasien diperkirakan akan mencapai 636 pada 15 September 2020. Padahal 636 tempat tidur ICU baru bisa terpenuhi pada 8 Oktober 2020.

Covid-19 tidak hanya menyerang sisi ketersedian sarana dan prasarana rumah sakit. Keadaan ini juga membuat banyak tenaga medis meninggal. Baik dokter maupun perawat. Menilik data dirilis Ikatan Dokter Indonesia (IDI) per 12 September, tercatat sudah 115 dokter gugur. Dari jumlah tersebut, 15 dokter bertugas di wilayah DKI Jakarta.

Tantangan juga datang dari sisi ketersediaan tempat pemakaman untuk jenazah yang dikuburkan dengan protokol Covid-19. Total sudah mencapai 5.491 jenazah hingga 12 September 2020.

DKI Jakarta pun harus mencari cara untuk menambah daya tampung lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU). Salah satunya membuka lagi satu blok di TPU Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Tiga blok disediakan sebelumnya ternyata telah penuh.

Lahan khusus jenazah Covid-19 pun semakin berkurang. Saat ini diperkirakan tersisa 1.100 petak makam muslim dan non muslim. Sejak kurun Maret 2020 hingga saat ini, TPU Pondok Ranggon telah menampung total 2.623 jenazah pasien Covid-19.

Baca Selanjutnya: Minim Kesadaran Masyarakat...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini