Kesempatan Adu Nasib di Ibu Kota

Senin, 17 Juni 2019 09:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Kesempatan Adu Nasib di Ibu Kota job fair. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Berbekal ijazah SMK-Perkebunan, Ibi nekad mengadu nasib di Jakarta. Usianya kala itu baru 19 tahun. Sempat menjajal bangku kuliah satu semester di Garut, Jawa Barat. Namun godaan untuk merantau ke Jakarta begitu besar.

Nekat. Dia putuskan hijrah ke ibu kota. Mencari pekerjaan agar bisa menghasilkan uang. Berharap bisa mengubah nasib dan sukses di kota besar. Seperti impiannya.

Awal tahun 2018, Ibi pindah ke Jakarta. Belum tahu akan kerja apa dan di mana. "Berangkat saja, urusan kerja bagaimana nanti," kata Ibi saat berbincang dengan merdeka.com akhir pekan lalu.

Di Jakarta dia tinggal bersama saudara. Kebetulan dia punya beberapa saudara yang tinggal di Jakarta. Bulan pertama dia habiskan waktu di rumah. Masih beradaptasi dengan lingkungan.

Ibi mengaku sulit mendapat pekerjaan di Jakarta. Apalagi berijazah SMK jurusan perkebunan. Sambil berkenalan dengan orang sekitaran rumah. Barangkali ada informasi lowongan pekerjaan.

Menjelang bulan puasa, sebuah tawaran kerjaan datang. Dari salah seorang kerabatnya. Jadi pelayan sebuah hotel di Jakarta selama bulan ramadan. Tanpa pikir panjang, tawaran itu langsung diambil. Sebab dia merasa sudah bosan hidup luntang-lantung tak punya pendapatan.

Sebagai anak baru, Ibi selalu mendapatkan shif malam. Bekerja dari jam 11 malam hingga jam 7 pagi. Tugasnya memang untuk menyiapkan makanan sahur bagi tamu-tamu hotel yang menginap selama bulan ramadan. "Jadi berangkat jam 10 malam, pulangnya jam 8 pagi," kata Ibi.

Pekerjaan itu hanya berlangsung selama satu bulan. Gajinya dibayar tiap dua minggu. Usai lebaran dia kembali jadi pengangguran. Namun, tak sampai dua bulan, dia kembali mendapat panggilan. Bekerja sebagai pelayan restoran di hotel yang sama.

Kali ini dia tak hanya jadi pelayan restoran. Dia mulai dilatih menjadi barista. Meracik kopi untuk para tamu. Sesekali dia juga ditugaskan di area kolam renang sebagai guide.

Meski bekerja di hotel berbintang, namun upah yang diterima nyatanya jauh dari kata cukup. Gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Jakarta. Beruntung dia tak perlu sewa tempat tinggal. Hanya ikut patungan bayar listrik di rumah tempat dia tinggal.

Lewat pergaulan dia kembali mencari informasi lowongan pekerjaan. Rata-rata lowongan kerja yang didapat untuk jadi office boy atau cleaning service. Ibi merasa dua jenis pekerjaan itu tidak cocok untuknya. Dia lebih baik mempertahankan pekerjaannya saat ini meski upahnya tak seberapa.

Satu tahun berselang, akhirnya Ibi memutuskan untuk keluar. Dia merasa sudah cukup bekerja di sana. Tak ada peningkatan pendapatan dan status kerja yang jelas. Pikirnya, untuk mendapatkan pekerjaan dan gaji yang layak harus berijazah minimal S1. Dia putuskan jadi pengemudi ojek online, sambil melanjutkan pendidikan.

Menjadi pengemudi ojek online nyatanya tidak mudah. Meski waktu kerja lebih fleksibel tapi dia kesulitan membagi waktu dengan kuliah yang tengah dijalani. Upaya mencari pekerjaan baru pun masih sulit. Sampai akhirnya dia putuskan untuk fokus kembali kuliah. Untuk biaya kali ini dia masih mengandalkan kiriman orangtua.

Dalam sepekan, dia kuliah hanya dua hari, Sabtu dan Minggu. Dia sengaja mengambil kelas karyawan karena ingin kembali bekerja. Sementara menunggu panggilan kerja, Ibi pernah ikut pelatihan wirausaha selama satu bulan dari Dinas Sosial.

Setelah itu dia coba-coba berjualan es susu kedelai di rumah. Namun nyatanya itu masih belum membuahkan hasil. Kini usai lebaran dia kembali mencari pekerjaan baru. "Sekarang saya kuliah aja, pengen sih cari kerja, tapi masih bingung mau kerja apa lagi," ujar dia.

Dia mengaku saat ini masih mengandalkan uang kiriman dari orang tua. Baik untuk kebutuhan sehari-hari atau biaya kuliah.

Kisah berbeda datang dari perantau lainnya bernama Unin. Dia lulus kuliah tahun 2015 dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Usai lulus, sempat mengajar di sekolah dekat rumah. Namun, bekerja jadi guru honorer belum bisa menjanjikan kehidupan layak. Sambil mengajar, dia terus berusaha mencari pekerjaan lain di Bandung.

Akhir tahun 2015, dia mendapat panggilan untuk bekerja di Jakarta. Bekerja di sebuah perusahaan jasa. Namun, sebelum akhirnya diterima, dia harus melewati beberapa macam tes. Mulai dari tes tulis sampai tes psikologi.

Satu pekan merantau di Jakarta. Menumpang di rumah teman. Sebab dia belum mendapat kepastian diterima atau ditolak. Usai menjalani serangkaian tes, dia akhirnya pulang dengan tangan hampa.

Dua kali ditolak perusahaan, dia banyak belajar. Menurutnya Jakarta adalah kota yang plural dan heterogen. Penilaian terhadap SDM punya banyak variabel. Untuk bekerja di Jakarta tidak bisa mengandalkan ijazah semata.

©Liputan6.com/Faizal Fanani

"Kalau pengen ke Jakarta, modal pendidikan aja belum cukup. Usahakan punya satu atau dua hal yang sudah dikuasai betul-betul jadi punya nilai lebih," tutur Unin saat berbincang dengan merdeka.com pekan lalu.

Sejak masih kuliah di jurusan Sosiologi, dia memang sudah mengasah kemampuan di luar bidang pendidikannya. Salah satunya aktif berkegiatan pengabdian masyarakat dengan menjadi guru di sekolah. Dia juga membekali diri dengan banyak membaca terkait dunia pendidikan.

Pria 26 tahun ini mengaku tidak bercita-cita merantau ke Jakarta. Namun, belakangan dia menilai pilihan merantau ke Jakarta adalah hal paling rasional untuk mengembangkan diri, meniti karir hingga mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Bulan Juli 2016, Unin diterima bekerja BKB Nurul Fikri. Bekerja sebagai pengajar untuk penempatan di wilayah Tanggerang. Namun untuk memudahkannya beraktivitas, dia memutuskan untuk mencari tempat tinggal di Jakarta.

Satu tahun berselang, Unin dipindahkan ke kantor pusat, di kawasan Jakarta Selatan. Tak lagi menjadi pengajar, Unin dipercayakan menjadi tim pengembangan sosiologi bidang pendidikan dan tentor. Setelah menikah tahun lalu, Unin pun memboyong istrinya tinggal di Jakarta. Menyewa sebuah rumah di Jakarta Selatan.

Menegakkan Prinsip Bernegara

Tradisi pendatang baru di Jakarta usai lebaran tak bisa dihindarkan. Jakarta sebagai ibu kota menarik perhatian siapa saja untuk mengadu nasib. Momen arus balik biasanya dimanfaatkan pendatang baru yang ingin cari pekerjaan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memastikan Jakarta terbuka bagi seluruh masyarakat yang ingin mencari pekerjaan. Pemprov DKI juga sudah menghentikan operasi yustisia atau operasi bagi pendatang baru di Jakarta.

Istilah operasi yustisia sebenarnya sudah dihapuskan sejak Jakarta dipimpin Joko Widodo dan Basuki T Purnama. Tahun 2013, operasi yustisia sudah berganti menjadi bina penduduk. Pembinaan dianggap lebih ramah bagi pendatang, baik pendatang kalangan atas maupun bawah.

Layanan ini bertujuan untuk melakukan pendataan kependudukan. Maka diharapkan para urban datang ke Jakarta dengan melengkapi dokumen kepindahan. Tak hanya itu, Anies berharap masyarakat memiliki pengalaman dan keterampilan. "Dengan begitu ikut berkontribusi kehidupan perekonomian di ibu kota," kata Anies di Jakarta.

Dalam Perayaan Lebaran Idulfitri tahun ini, Pemprov DKI Jakarta menegaskan tidak menggelar operasi yustisi. Anies merasa setiap orang berhak mendapat kesempatan bekerja sekaligus mewujudkan ibu kota tanpa adanya perbedaan.

Menurut Anies, semua warga negara punya kesempatan sama untuk mendapatkan pekerjaan di mana saja. Sehingga dirinya yakin kebijakan tersebut justru mengembalikan prinsip dasar bernegara.

"Kita ingin mengembalikan pada prinsip bernegara yang benar bahwa hak-hak dasar salah satunya, untuk mendapat pekerjaan dan hak untuk tercatat kependudukan. Nanti kita tunaikan di Jakarta tanpa adanya perbedaan," ucap Anies menegaskan. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini