Kepincut cari duit di Indonesia

Selasa, 1 Mei 2018 06:00 Reporter : Ika Defianti, Anisyah Al Faqir
Wisatawan asing melintas di JPO ketika sejumlah polisi berjaga guna mengantisipasi isu demo besar-besaran. ©2015 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Perawakan pria itu tinggi besar. Berkulit putih. Berkumis dan berjenggot tipis. Berambut pirang. Tersisir ke arah kanan. Tampilannya kasual. Cukup memakai kaus lengan pendek warna biru gelap dan celana jin hitam. Berjalan santai. Menuju kedai kopi ternama di mal mewah bilangan Senayan, Jakarta. Memenuhi janji. Bertemu kami. Bercerita kehidupannya sebagai buruh di Indonesia.

Segelas kopi cappuccino dingin kami pesan buat dia. Duduknya gelisah. Terlihat tak nyaman. Kursi dipilihnya tampak kekecilan. Membuat kaki panjangnya tidak ergonomis. Tak bisa bergerak dinamis. Tetapi, tidak menyurutkan untuk bercerita selama hidup di Indonesia. Bahasa Indonesianya memang masih terbata-bata. Kalimatnya baku. Meski begitu tak membuat pembicaraan kami menjadi kaku.

Pria bule itu bernama James Blacker. Sudah hampir delapan bulan ini bekerja sebagai editor bahasa di koran The Jakarta Post, media cetak berbahasa inggris. Namun, kehadirannya di Tanah Air sejak tahun 2015. Rela terbang dari Inggris, negara asalnya. Pulau Bali menjadi destinasi ketika menginjakkan kaki pertama kali di Indonesia. Cerita keindahan Pulau Dewata itu diketahuinya dari sang ayah. Membuatnya tergiur. Ingin melihat langsung. Apalagi dengan keramahan penduduk lokal.

Kedatangannya pertama itu hanya untuk berwisata. Statusnya adalah wisatawan mancanegara. Bersama beberapa temannya. Hal paling diingat saat itu ketika tengah menyewa sepeda motor untuk berkeliling Bali. Beberapa kali James mengisi bahan bakar kendaraan di pedagang eceran pinggir jalan. Penjual rata-rata kaum ibu. Ramah melayani dan murah senyum. Keramahan itu langsung dirasakannya.

Liburannya usai. James harus kembali ke negara asal. Namun, kenangan akan keramahan masyarakat Indonesia masih terngiang. Masih belum puas. Bikin penasaran untuk mengenal budaya Indonesia lebih luas. Hingga akhirnya pria 30 tahun itu memutuskan segera kembali lagi. Dan ingin berinteraksi lebih banyak dengan penduduk lokal.

Daerah Malang, Jawa Timur, menjadi tujuannya. Setelah kembali ke Inggris beberapa saat. Jiwa petualang pria itu menuntunnya ke sana. Alasan Malang dipilih lantaran tidak banyak orang asing seperti di Bali. Sehingga lebih mudah untuk bersosialisasi dengan penduduk lokal. Beberapa kosa kata bahasa Jawa pun juga mulai dimengerti. Meskipun susah untuk diucapkan. Saat berbincang dengan kami, James juga sempat mempraktikkan percakapan Bahasa Jawanya. Seperti untuk menanyakan, "Opo koe iso boso jowo? (apa kamu bisa bahasa Jawa?)".

Meski berstatus wisatawan, James beberapa kali merasakan nikmatnya hasil kerja di Indonesia. Penghasilan itu didapat sebagai pekerja lepas. Sebagai penerjemah. Lulusan sastra Rusia dan Perancis, dia merasa bahwa bahasa Indonesia lebih mudah dipahami. Bahkan memahami bahasa didapat secara otodidak lantaran sering berkomunikasi dengan banyak masyarakat Tanah Air.

"Saat di Malang, Bandung, bekerja freelance sebagai penerjemah, sambil aku jalan-jalan mau experience (pengalaman) banyak yang ketemu orang (sambil) belajar bahasa Indonesia. Sistem kerjanya itu online," kata James kepada kami, Minggu lalu. Ada beberapa tempat sudah disambangi James sebelum sampai ke Jakarta. Dia bahkan pernah tinggal di Cihampelas, Bandung, Jawa Barat.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini meyakini memahami Bahasa Indonesia akan lebih mempermudah dalam bersosialisasi ataupun mencari pekerjaan. Saat memilih untuk bekerja di negara orang, James mencari informasi melalui internet. Kendati tidak memiliki pengalaman dalam jurnalistik, James tetap mencoba. Apalagi pekerjaan tengah digelutinya sekarang lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris. Yaitu, mengecek ulang tulisan bahasa Inggris reporter di lapangan.

Di tempat bekerjanya saat ini, James dituntut untuk sering bertemu dengan karyawan dari Indonesia. Seperti ketika perayaan ulang tahun kantornya beberapa hari lalu. Semua karyawan baik warga asing ataupun lokal tumpah ruah menjadi satu merayakan pesta.

September 2017, merupakan pertama kalinya James bekerja di tempat kerjanya sekarang. Satu bulan sebelum bekerja, dia memilih untuk pulang kampung ke Britania. Untuk keperluan pengurusan kontrak kerja, dia mengaku dibantu tim dari tempat kerja. James hanya menyerahkan dokumen sesuai kebutuhan. Rumitnya birokrasi, mengajarkan dia untuk sosialisasi dengan masyarakat sekitar tempat tinggalnya di Kemang, Jakarta Selatan.

Sambil tersenyum, dia menyebut harus berurusan dengan ketua RT, RW hingga pihak kelurahan setempat untuk melengkapi dokumen dibutuhkan untuk persyaratannya bekerja. Visa kerja setahun menjadi pilihan. Sehingga nantinya James akan melakukan perpanjangan setiap jatuh tempo. Walau rumit, tetap saja dia merasa di Jakarta nyaman. Serba murah menjadi alasan utama. Dengan pendapatannya di atas rata-rata, semua dijalani dengan santai.

"Masih mau di sini, belum siap pulang ke Inggris, soalnya nyaman. Masih mau jalan-jalan keliling Indonesia juga, baru Lombok, Bali dan Jawa saja," ucapnya.

Dengan paham Bahasa Indonesia, James mengaku lebih mudah untuk mendapatkan teman dari penduduk lokal. Banyak teman nongkrong. Tidak melulu warga asing. Bahkan selama kerja delapan bulan di Jakarta, James mengaku menjalin hubungan dengan wanita keturunan Bali-Sumatera. Ini untuk pertama kalinya dia berpacaran dengan orang Indonesia.

Wanita pilihannya yakni mahasiswa kedokteran salah satu universitas swasta di Jakarta. Kedekatan keduanya, kata dia, terjalin sejak James memutuskan untuk bekerja kontrak. Keluarga si perempuan juga telah dekat dengannya. Hal tersebut juga lebih mempermudah James untuk bersosialisasi dengan masyarakat Indonesia. Sejauh ini, James mengaku tidak pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari penduduk lokal selama berkeliling Indonesia. Dia menyebut masyarakat terbuka dengan wisatawan manapun. Contohnya ketika di lokasi pariwisata. Banyak masyarakat lokal meminta foto bersama.

Infografis jumlah TKI dan TKA 2018 Merdeka.com


Kehadiran tenaga kerja asing di Indonesia bukan hal spesial. Banyaknya kehadiran mereka juga dianggap pemerintah sebagai tren positif. Kepala badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong, parameter sebuah negara maju bisa dilihat dari besarnya tenaga kerja asing. Baik untuk posisi tinggi hingga pekerja kasar.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menyebut jumlah tenaga kerja asing di Indonesia masih sekitar 85.000 orang pada akhir 2017. Dari data itu paling banyak diisi para pekerja asal Tiongkok. Data per 2016 tercatat sampai 21 ribu juta lebih dari negara Tirai Bambu tersebut.

Nasib Tidak jauh berbeda dengan James, juga dirasakan CEO USP Int Indonesia Michael Villareal. Dia mengaku belajar Bahasa Indonesia secara otodidak. Sebagai direktur marketing di perusahaan konsultan pada 1994, Michale seringkali menggunakan taksi untuk mempermudah kinerjanya. Obrolan bersama sopir membuat dia lebih cepat paham bahasa gaul Jakarta. Seperti bahasa 'gue' dan 'lu', Bahasa gaul digunakan masyarakat Ibu Kota.

Tak hanya bahasa saja dipelajari ketika bekerja di negara orang. Kebudayaannya juga menjadi bagian penting. Karena dia pernah kena apes. Lantaran banyak belajar Bahasa Indonesia dari pergaulan. Dan merasa bahwa budaya Indonesia sama dengan negara asalnya, Amerika Serikat. Salah satunya tata krama. Dia ingat betul ketika bertamu ke kediaman mantan menteri di Indonesia. Tanpa menyebut nama. Ketika itu dirinya sampai ditegur ajudan menteri karena tingkahnya.

"Saya pernah didatengin ajudannya pejabat karena bicara pakai 'gue dan lu'. Baru tahu setelah kejadian itu, saya enggak tahu, yang penting pakai Bahasa Indonesia, karena enggak pernah kursus, belajar di jalan saja," ucap Michael sambil tertawa bercerita kepada kami. Kini dia merasa tata bahasa dan pemahaman tentang Indinesia sudah semakin lebih baik.

Mantan suami model seksi Sophia Latjuba, ini mengaku saat pertama kali bekerja di Jakarta, perusahaan menaunginya juga lebih banyak mempekerjakan orang lokal. Dia dan tiga rekannya warga asing di antara 20 karyawan lainnya. Bahkan diperusahaan miliknya sekarang, Michael merupakan satu-satunya warga asing.

Setiap tenaga asing bekerja di Indonesia, dia menyebut menyebar dalam setiap bidang. Tidak hanya terfokus pada satu bidang saja. Michael menyebut di Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk melebarkan sayapnya dalam bidang usaha. Segudang pengalaman belasan tahun bekerja di Indonesia, Michael memiliki tantangan tersendiri saat mengelola perusahaannya. Apalagi persaingan di Ibu Kota sudah sangatlah luas. Saat ini, dia tergerak untuk memperluas pangsa pasar perusahaannya hingga ke setiap daerah. Meyakinkan masyarakat setempat merupakan bentuk tantangan tersendiri untuknya.

"Persoalannya justru budayanya, bikin bisnis sebagai orang asing bagaimana bisa dipercaya oleh pejabat daerah, masyarakat daerah. Mau enggak mau meskipun bisa Bahasa Indonesia tetap orang asing, jadi memang dibilang kesulitan juga enggak cuma challenge," jelas Michael.

Banyaknya para ahli dari tenaga kerja asing dirasa pemerintah bisa membantu transfer ilmu kepada pekerja Indonesia. Namun, harapan itu tampaknya sulit terwujud. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, mengatakan keputusan pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018, menginginkan transfer ilmu (transfer of knowledge) dari tenaga kerja asing kepada pekerja dalam negeri sulit terlaksana. Salah satunya karena tingkat pendidikan pekerja Indonesia tidak sebanding dengan mereka.

Ini terlihat banyaknya buruh di Indonesia masih lulusan sekolah menengah pertama (SMP). Hampir 60 persen. Hal tersebut membuat transfer of knowledge sulit dijalankan. Pemerintah seharusnya meningkatkan dahulu pendidikan pekerja buruh. Setelah itu masuk ke tahap berikutnya dengan transfer ilmu dari tenaga kerja asing.

Pihaknya juga mempertanyakan dana kompensasi sebesar Rp 1,4 triliun. Seharunya dana ini bisa menjadi modal untuk meningkatkan pendidikan para buruh. Bahkan meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Mengingat level inovasi menurut data Global Index 2017 Indonesia menempati posisi 87 dari 127 negara.

"Jika seperti ini terus yang ada TKA bakal naik signifikan. Kalau saya lihat implikasi untuk skills tenaga kerja kita ini belum terasa, artinya penggunaan dana kompensasi ini ada yang salah," jelas Bhima.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Ichsan Firdaus menyebutkan butuh pengelolaan dan aturan yang jelas untuk mengatur dana kompensasi sebagai upaya upgrading skills tersebut. "Kita berharap dana kompensasi asing ini benar-benar bisa digunakan untuk menaikkan skills untuk tenaga kerja kita dan tidak digunakan untuk kebutuhan di luar kebutuhan tenaga kerja. Problemnya adalah perlu ada kejelasan di dalam peraturan turunan dari Peraturan Presiden tersebut," Ichsan menerangkan. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini