Kendala Memadamkan Kebakaran Gedung Kejagung

Senin, 31 Agustus 2020 10:37 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Kendala Memadamkan Kebakaran Gedung Kejagung Kebakaran Gedung Kejagung. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Laporan kebakaran datang pukul 19.10 WIB. Tim Damkar bergegas. Tidak butuh waktu lama. Sekitar lima menit sudah tiba. Lokasi kejadian pada Sabtu, 22 Agustus 2020. itu adalah objek vital. Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Mereka tiba ketika hampir seperempat gedung sudah dilalap si Jago Merah.

Kendaraan unit Damkar sekitar wilayah Bulungan, Jakarta Selatan, lebih dulu tiba. Kemudian satu per satu dari berbagai wilayah datang membantu. Tercatat 65 mobil Damkar dan 325 personel berada di lokasi. Dari sekian banyak mobil pemadam, hanya empat yang beraksi menyemprotkan air ke arah gedung.

Petugas pemadam mengeluhkan sulit mendapat sumber air. Hanya terdapat dua sumber air. Dari Mabes Polri yang lokasinya sekitar 100 meter di seberang Gedung Kejagung. Kemudian di Taman Martha Tiahahu, Blok M, berjarak kurang lebih sama.

"Pada saat kejadian pertama kita bayangannya adalah kolam renang Bulungan. Kan dekat. Ternyata kolam renang Bulungan sedang direnovasi. Jadi kita putuskan untuk mengambil sumber air yang ada di Mabes Polri," ujar Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Satriadi menjelaskan, lokasi sumber air yang cukup jauh membuat semua mobil damkar tersebut kemudian diatur untuk saling menyambung. Kemudian secara bertahap menyalurkan air dari sumber menuju lokasi kejadian.

Jarak satu unit Damkar ke unit lain bisa 40 meter. Tekanannya pun harus stabil. Ini dikarenakan setiap unit pompa ada pompa penggerak untuk menambah daya. S

Tantangan juga datang dari bagian Gedung Kejagung yang sudah banyak terbakar. Sebab konstruksi bangunannya memang berpotensi untuk membuat cepat sekali terjadi perambatan. Sehingga butuh waktu hingga hampir 12 jam untuk memadamkan hingga pendinginan.

"Karena bahan material yang ada di dalam itu banyak tumpukan kertas, kayu, lalu bangunan lama. Itu juga memiliki potensi perambatan yang sangat cepat," ungkap dia.

Kejagung melalui Kapuspenkum Kejagung Hari Setiyono meminta publik tidak berspekulasi soal penyebab kebakaran yang terjadi di Kejaksaan Agung. Semua pihak diharapkan menunggu penyelidikan dari polisi.

Kebakaran tersebut, kata Hari, tidak bakal mengganggu proses penanganan kasus yang sedang dijalankan Kejagung. Gedung yang terbakar, lanjut dia, tidak menyimpan berkas perkara. Baik itu tindak pidana khusus dalam hal ini korupsi, maupun tindak pidana umum.

"Sehingga terhadap berkas perkara yang terkait dengan tindak pidana korupsi 100 persen aman tidak ada masalah," jelas Hari di Gedung Kejagung.

Hari pun mengingatkan, penyebab kebakaran hingga saat ini masih diselidiki oleh polisi. Dia berharap, tak ada spekulasi di tengah masyarakat yang mencuat dari peristiwa semalam. "Dan kami mohon tidak membuat spekulasi dan asumsi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Artinya mari kita sabar menunggu hasil pihak kepolisian," tuturnya.

Pengusutan penyebab kebakaran yang menghanguskan gedung Kejaksaan Agung masih terus dilakukan penyidik Polri. Pemeriksaan sejumlah saksi hingga pemeriksaan di lokasi masih dikebut. Penyidik sedang menelusuri sejumlah kemungkinan terkait kebakaran itu.

"Ada unsur-unsur apa atau memang ini musibah atau bencana atau ada unsur kesengajaan. Kita sama-sama tunggu," tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri.

Baca Selanjutnya: Dugaan Sabotase...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini