Perubahan Iklim

Keluh Air Semakin Keruh

Senin, 15 Juli 2019 08:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Keluh Air Semakin Keruh Banjir Rob Muara Angke. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Bagi warga Koja, Jakarta Utara, keberadaan air bersih sudah langka. Air tanah wilayah itu terus tercemar. Warnanya keruh. Rasanya payau dan berbau. Bila didiamkan sehari muncul lumut. Kondisi semakin parah lantaran dekat laut.

Keluhan itu dirasakan Fatimah bertahun-tahun. Sulit mendapatkan air bersih layak minum. Hidup sebagai warga ibu kota, tidak mudah. Alhasil dia harus menguras kocek. Mengeluarkan dana cukup besar demi memasang air berlangganan dengan perusahaan air minum swasta.

Saban tanggal 20 tiap bulannya, tagihan itu datang. Tagihan bisa mencapai Rp160 ribu. Jumlah itu tidak selalu sama. Apalagi di kediamannya ada 4 orang jiwa. "Tergantung pemakaian saja," kata Fatimah ketika kami temui di Koja, pekan lalu.

Salah satu penyebab buruknya kualitas air akibat intrusi air laut. Gejala di mana masuknya air laut melalui celah batuan lalu mencemari air tanah. Faktor lainnya lantaran penyedotan air tanah secara berlebihan.

Dampak intrusi air laut mulai merembet ke wilayah Jakarta Pusat. Juwita, warga Kemayoran, mengeluhkan air sumur di kediamannya sudah tidak bisa dikonsumsi. Sebab bila dimasak, rasanya berubah asin.

Sebagai keperluan utama, Juwita terpaksa beli air eceran. Harganya Rp4.000 tiap dua dirigen berisi 50 liter. Dalam sebulan dia menghabiskan uang sampai Rp50 ribu. Itu bisa dipakai untuk 10 orang di kediamannya.

Kualitas air eceran juga dirasakan memburuk. Terutama ketika memasuki musim hujan. Air berubah keruh meski tak berbau. Langkah berlangganan air seperti Fatima pun diambil. Sejak tahun 2016 lalu

Biaya pemasangan air mencapai Rp1 juta. Biaya itu bisa dicicil selama 1 tahun. Selama terpasang, tagihan air mencapai Rp250 ribu. Jadi lima kali lipat dibanding eceran. Itu dikarenakan ada 10 orang di rumahnya. "Kami sudah mencoba berhemat air," ungkap Juwita.

Dengan kepadatan penduduk di Jakarta, tak heran membuat permukaan tanah di Jakarta menurun. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) bahkan menyebut rata-rata penurunan muka tanah sekitar 7,5 cm per tahun. Faktor ini mengakibatkan intrusi air laut semakin masif.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pernah menyinggung tentang kebutuhan air bersih di wilayahnya. Ketika itu sedang ramai pembahasan saham pemerintah di PT Delta Djakarta sebagai produsen minuman beralkohol. "Jakarta itu jauh lebih membutuhkan kita berinvestasi pada air bersih daripada air keras itu, pasti itu," kata Anies.

Warga Muara Baru Kekurangan Air ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Menurut ahli Hidrologi Chay Asdak, kondisi ini juga diperburuk dengan perubahan iklim ekstrem dunia. Mencairnya es di kutub mengakibatkan volume air laut bertambah. Sehingga abrasi di sepanjang pantai sulit terelakkan. Tak heran bila kualitas air di sebagian wilayah Jakarta jadi payau dan tak layak konsumsi.

"Lebih parahnya lagi jumlah air laut meningkat, sehingga air tanah di sebagian pesisir pantai akan jadi asin karena sudah terendam air laut," kata Chay.

Prediksi Jakarta akan tenggelam di masa depan bukan lagi isapan jempol. Hal ini perlu diantisipasi serius. Perubahan iklim berimbas pula peningkatan kecepatan arus ombak di laut. Hasilnya abrasi di pesisir pantai.

Ketua Greenpeace Indonesia, Leo Simanjuntak, mengatakan secara geografi Jakarta berada di dataran rendah. Daratan di utara Jakarta saat ini sudah berada di bawah permukaan air laut. Naiknya tinggi muka laut akibat pemanasan global membuat sebagian wilayahnya mengalami abrasi.

Tanpa didorong adanya perubahan iklim, ibu kota negara ini sudah memiliki persoalan besar. Salah satunya turunnya muka tanah akibat penyedotan air sumur secara masal. Sementara pemerintah lewat perusahaan penyedia air minum kurang maksimal memenuhi kebutuhan air bersih warga Jakarta.

"Jadi sekarang Jakarta punya persoalan lebih serius," kata Leo kepada merdeka.com saat dihubungi.

Pemerintah daerah seharusnya memberikan kebijakan melarang penyedotan air tanah dilakukan warga. Seharunya pemerintah bisa mengelola air tanah dan mendistribusikan dengan baik. Sebagaimana banyak kota metropolitan, seperti New York dan Amsterdam. Ketersediaan air di sana diatur pemerintah. Sehingga bisa menjaga permukaan tanah.

Terkait abrasi, Chay mengingatkan pentingnya penghijauan pesisir pantai harus kembali digalakkan. Caranya dengan melakukan pemetaan hutan mangrove di sepanjang wilayah pesisir terancam abrasi. Apalagi selain menahan abrasi, keberadaan pohon itu juga sebagai pemecah gelombang laut.

Solusi lainnya adalah membangun tembok pemecah gelombang atau giant sea wall. Konsep ini memang pernah menuai sejumlah penolakan. Utamanya di kalangan nelayan Jakarta. Dosen Universitas Padjajaran ini menyarankan agar pemerintah segera kerja sama dengan masyarakat pesisir. Terutama memberikan edukasi terkait potensi bencana akibat perubahan iklim.

"Jadi diberikan pilihan-pilihan lain, disertai dengan edukasi konsekuensi yang kemungkinan dia akan hadapi," ujar dia.

Persediaan Air Berkurang

Perubahan iklim ekstrem merupakan fenomena global. Turunnya kualitas air menjadi salah satu dampak. Bahkan bisa terjadi pada skala nasional. Terutama pada anomali tingginya curah hujan yang berpotensi terjadi erosi, longsor, dan banjir. Sementara di wilayah lain sedang terjadi kemarau panjang.

Hutan Mangrove di Angke Penuh Sampah ©Liputan6.com/Johan Tallo

Ragam faktor itu mengakibatkan sumber air kualitasnya menurun. Ditambah besarnya pencemaran limbah rumah tangga atau industri. Lalu terjadi sedimentasi, sehingga air di sungai perlu dilakukan proses tertentu agar bisa dikonsumsi.

Menurut Leo, dalam kondisi ini baik industri maupun rumah tangga tetap beraktivitas seperti biasa. Sayangnya persediaan air pun terus berkurang. Rusaknya alam pun menyumbang masalah baru.

Minimnya daerah resapan membuat ketersediaan air bersih ikut berkurang. Sehingga keadaan ini memaksa masyarakat mengandalkan sumber air seperti sungai dan danau.

Sayangnya, banyak sumber air yang sudah rusak. Banyak tangkapan air terutama daerah aliran sungai. Salah satunya karena penggundulan hutan drastis menyebabkan tanah tidak menampung air air hujan tidak maksimal. "Jadi yang masalah adalah daerah tangkapan airnya rusak," ungkap Leo.

Penggundulan hutan pun jadi faktor terjadinya perubahan iklim. Alasannya lantaran hutan penyerap emisi, gas karbon dan lainnya berkurang. Ditambah daratan hijau sumber oksigen belakangan mengalami justru menjadi seperti gurun. Kondisi itu banyak terjadi pada wilayah Sumatera dan Sumba. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini