Kebakaran bergiliran macam arisan

Senin, 13 Agustus 2012 13:13 Reporter : Mohamad Taufik
Latihan pemadaman api di magelang, Jawa Tengah, 19 April 1937. (http://kitlv.pictura-dp.nl)

Merdeka.com - Ramadan kali ini Suhayati sepertinya tengah diuji. Rumah semipermanen milik perempuan beranak tiga ini habis dimakan api. Petaka itu datang menjelang sahur pada Rabu pekan lalu ketika dia sibuk menyiapkan menu sahur buat keluarga. Akibat kebakaran, dia harus mengungsi bersama 400 warga Krendang, Tambora, Jakarta Barat. Korban lainnya mengungsi ke masjid setempat.

Api melahap 75 unit rumah penduduk sebelum dijinakkan ole 35 mobil pemadam. Kebakaran di Tambora hari itu menambah panjang catatan kebakaran di Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DKPB) DKI Jakarta pada tahun ini. Sepanjang 2012, dinas menyatakan terjadi 530 kebakaran terjadi di Ibu Kota.

Kebakaran umumnya disebabkan oleh hubungan arus pendek listrik atau korsleting. Menurut Kepala DKPB Paimin Napitupulu, lima titik kebakaran terjadi dalam sehari. Rata-rata penyebab kebakaran karena kecerobohan warga. Mereka kurang waspada ketika menyalakan listrik atau kompor saat memasak.

Apalagi sekarang musim kering ditambah angin kencang. Sedikit saja ada percikan api, kebakaran besar bisa tejadi. Sebab itu, dia mengimbau warga waspada bila menggunakan listrik. Jakarta sebagai kota terpadat di Idonesia memang rawan kebakaran. Bahkan seorang pengamat menyebut kebakaran di Jakarta mirip arisan.

Lokasi rawan kebakaran di Ibu Kota ini juga menyebar hampir di seluruh wilayah, terutama di permukiman-permukiman padat. Data dinas kebakaran mencatat 56 kelurahan rawan kebakaran, di antaranya Tambora, Bukit Duri, Johar Baru, Penjaringan, Tanah Tinggi, Tanah Abang, Penggilingan, dan Manggarai. Di kelurahan-kelurahan itu, sepanjang dua tahun lalu terjadi 779 kebakaran, 693 kebakaran (2011), dan sudah 530 kebakaran pada tahun ini.

Lalu bagaimana dengan wilayah rawan kebakaran tempo dulu? Menurut pengamat sosial bidang pelestarian situs dan sejarah Jakarta, Asep Kambali, dulu daerah rawan kebakaran hanya di beberapa lokasi, misalnya Pasar Senen, Jatinegara, dan perumahan Menteng.

”Karena kondisi permukiman padat penduduknya tidak sama, dulu masih kecil, sekarang luas,” tuturnya. Apalagi, dulu kebakaran juga tidak separah sekarang. Kebakaran pada zaman Hidia-Belanda paling hanya satu atau dua rumah. Tapi sekarang, satu rumah terbakar bakal merembet ke rumah-rumah lainnya.

Persoalan lain, dulu lokasi kebakaran masih bisa dijangkau. Brandweer masih mudah masuk ke permukiman-permukiman padat. Sebab, meski dibilang padat, kondisi kerapatan rumah tidak seperti sekarang. ”Kalau dari segi lokasi, sepertinya sekarang lebih sulit,” kata Asep. [fas]

Topik berita Terkait:
  1. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.