Kardinal Ignatius Suharyo: Paus Ingin Menampilkan Wajah Harmoni Indonesia

Rabu, 18 September 2019 07:05 Reporter : Wisnoe Moerti, Ramadhian Fadillah
Kardinal Ignatius Suharyo: Paus Ingin Menampilkan Wajah Harmoni Indonesia Kardinal Ignatius Suharyo. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Telepon genggam Ignatius Suharyo tak berhenti berdering pada Minggu 1 September 2019. Panggilan dari nomor tak dikenal. Panggilan telepon itu dibiarkan berlalu begitu saja. Hingga akhirnya, layar telepon genggamnya terpampang nama Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Piero Pioppo. Dengan bersemangat, dia menyampaikan warta gembira. Datangnya dari Vatikan, pusat agama Katolik dunia.

"Saya sungguh merasa syok," ujar Ignatius Suharyo, Kamis (12/9).

Kabar yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan di luar perkiraannya. Ditunjuk menjadi Kardinal untuk Indonesia. Penunjukan itu diumumkan Paus Fransiskus saat berdoa di hadapan ribuan umat yang memadati halaman Santo Petrus. Sempat tidak percaya. Karena, Indonesia sesungguhnya masih memiliki Kardinal yakni Julius Darmaatmadja. Dengan penunjukan ini artinya Indonesia punya dua Kardinal sekaligus.

"Reaksi pertama saya, tensi saya naik," katanya sambil tertawa.

Sesaat dia menyadari. Jalan hidup dan panggilannya sebagai seorang Imam, tidak bisa direncanakan sendiri. Semua terjadi atas kehendak Tuhan, melalui pemimpin tertinggi umat Katolik yakni Paus Fransiskus. Pemberian gelar kehormatan ini bukan hanya untuk sosok pribadi yang ditunjuk. Jauh lebih besar. Ini sebagai bukti pengakuan Vatikan terhadap Indonesia.

Di sebuah ruangan sederhana di sisi kiri Wisma Uskup, Komplek Gereja Katedral Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo menerima wartawan merdeka.com, Ramadhian Fadhillah, Wisnoe Moerti dan Imam Buhori. Selama lebih dari satu jam, Romo Haryo sapaan akrabnya, berbagi cerita. Mengenai makna di balik penunjukan Kardinal Indonesia hingga soal pentingnya menjaga nilai-nilai kehidupan dalam keberagaman.

Bagaimana Romo Haryo memaknai penunjukan sebagai Kardinal?

Penunjukan seorang menjadi kardinal pasti ada kaitannya dengan pribadinya. Tapi saya sendiri merasakan dan yakin ada dua hal paling penting. Pertama, ini adalah semacam pengakuan pimpinan tertinggi Gereja Katolik dunia terhadap Gereja Katolik Indonesia. Kedua, bukan hanya Gereja Katolik Indonesia, tapi juga negara Indonesia. Karena kalau ada seorang Kardinal, berarti negara itu punya keterwakilan di Vatikan. Meskipun sesungguhnya di sana (Vatikan) sudah ada wakilnya duta besar Indonesia. Tapi dalam lingkup gereja, ada keterwakilan.

Dari sejarah Gereja Katolik Indonesia dan sejarah Indonesia, Vatikan salah satu yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia. Tahun 1947, tepatnya 6 Juli, sudah ada kedutaan. Dulu namanya Delegatus Apostolik. Baru kemudian ada kedutaan besar. Itu artinya dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia, sudah ada hubungan antar negara. Waktu itu pimpinan Keuskupan Agung Semarang Soegijopranoto punya hubungan diplomasi sangat erat dengan Vatikan. Waktu itu beliau menulis surat kepada Paus bahwa Vatikan harus mengakui kemerdekaan Indonesia. Untuk mencari dukungan negara Eropa dan Amerika. Karena waktu itu Vatikan mempunyai pengaruh besar sekali di Eropa dan Amerika, sehingga pengakuan itu saya duga menjadi satu tonggak penting dalam rangka menjalin hubungan antara NKRI dan Vatikan.

Pada awal mula, Presiden Soekarno empat kali berkunjung ke Vatikan. Bertemu dengan berbagai Paus. Paus Paulus pernah datang ke Jakarta. Paus Yohanes Paulus II di Indonesia sampai 10 hari. Jadi saya merasa bahwa Vatikan sungguh menghargai. Saya mendengar dari teman-teman atau pimpinan saya di Vatikan, yang sangat dihargai adalah kehidupan harmonis antara komunitas lintas agama. Wakil Paus, pernah datang ke Jakarta dan beliau minta supaya diantarkan ke masjid Istiqlal. Dari Katedral menyeberang ke Istiqlal, lalu bertemu pimpinan masjid malah disuruh menabuh bedug. Itu berkesan sekali bagi wakil Paus.

Pimpinan pemerintahan, presiden dari luar negeri, selalu ingin dan senang membuat kunjungan simbolik, ke masjid Istiqlal lalu ke sini (Katedral) atau sebaliknya. Beberapa kali saya mengantar pimpinan-pimpinan itu menyeberang. Kedua yang sangat dihargai adalah Pancasila. Walaupun cara mereka mengucapkan Pancasila tidak gampang, tetapi selalu menyebut itu setiap kali ada delegasi Indonesia yang pergi ke sana (Vatikan).

Jadi saya merasa bahwa ini bukan hanya untuk saya tapi untuk gereja katolik tapi juga untuk bangsa Indonesia. Memang harus ditunjuk seorang Kardinal, dan itu yang dipilih saya ya saya bersyukur saja.

Apakah Romo Haryo tahu pertimbangan Paus ketika memilih Kardinal?

Tidak pernah diberi tahu. Saya menerima surat dari Paus. Isinya begini, Anda saya pilih untuk menjadi bagian dari dewan para kardinal. Dewan para kardinal itu lingkungan di sekitar Paus yang kalau diminta mesti memberi nasehat pada Paus. Kalau diundang harus datang. Nanti kalau ada pemilihan Paus, dia berhak memilih dan dipilih. Tapi itu (dipilih) tidak untuk saya.

Apa pesan Paus kepada para Kardinal yang baru terpilih?

Dalam surat itu beliau mengatakan secara eksplisit, penunjukan ini pasti membuat Anda Bahagia, tapi ingat dalam gereja katolik itu tidak ada jenjang karier. Jangan dilihat seperti itu. Jabatan itu bukan kedudukan, tetapi jabatan adalah pelayanan. Karena bukan jenjang karier, maka janganlah dirayakan berlebihan. Itu diingatkan secara eksplisit jangan dirayakan berlebihan. Kalau mau merayakan secara rohani. Misa syukur. Itu saja.

Saya paham betul karena Paus Fransiskus pribadi yang sungguh sangat mencintai saudara-saudara yang kurang beruntung. Maka nasehat-nasehatnya, misalnya tidak pesta karena kaitannya dengan makan mewah dan sebagainya. Beliau mengatakan, membuang makanan itu merampas hak orang miskin. Kata-kata seperti itu. Sehingga saya bisa paham kalau suratnya seperti itu. Maka janganlah dirayakan berlebihan. Karena ada kemungkinan, merasa hebat, suatu saat bisa dicopot. Ada seorang uskup Jerman yang membangun istana keuskupan, itu langsung dicopot. Keuskupan itu jangan disebut istana. Itu tempat umat datang untuk bertemu dengan gembalanya. Apalagi berkaitan dengan uang. Beliau keras. Maka saya paham betul imbauannya.

Apa tugas pokok seorang Kardinal?

Tidak ada.

Tugasnya hanya memilih Paus?

Ya, yang jelas itu. Tapi harus siap sedia setiap saat kalau dipanggil Paus. Fungsi kepemimpinan dan pelayanan itu Uskup. Kardinal itu tidak fungsi kepemimpinan lagi. Kardinal itu gelar kehormatan. Saya malu menyebutnya seperti itu. Karena Kardinal itu sebenarnya disebutnya Pangeran Gereja. Tapi itu jangan dipakai lagi. Meski sampai sekarang itu masih dipakai. Tapi saya tidak senang dengan sebutan itu. Lebih senang dipanggil Romo Haryo saja.

Dengan tugas baru sebagai Kardinal berarti Romo Haryo punya empat jabatan, apakah merasa terbebani?

Kalau soal pekerjaan, tinggal kita bagaimana mengerjakan. Saya tidak sendiri. Kalau pekerjaan saya tidak merasa terbebani. Pekerjaan itu untuk dibagi-bagi. Itulah salah satu prinsip kepemimpinan. Yang paling berat bagi saya kalau boleh jujur, adalah tanggung jawab moral. Karena mau tidak mau orang berharap saya tidak main-main. Apalagi Uskup dan Kardinal itu kan didoakan umat setiap hari. Jadi saya yakin dan percaya. Itu saja.

Saya tidak merasa terbebani dalam arti pekerjaan. Tapi saya sadar betul, ini tuntutan lebih besar bagi saya untuk memberikan apa yang ada pada diri saya untuk kebaikan bersama. Pakaian saya sekarang kan jadi merah setelah diangkat Kardinal. Merah itu dalam gereja simbol darah. Maka, ketika pada jabatan pada tingkat itu, maka tuntutan moralnya adalah harus rela berjuang, melayani sampai akhir tanpa memikirkan diri sendiri.

Sebagai kardinal akan lebih sering keliling Indonesia?

Sebetulnya secara tanggung jawab resmi tidak ada. Tapi tanggung jawab moral teman-teman uskup di tempat yang jauh-jauh itu mengharapkan saya hadir. Sebagai tanda kehadiran gereja. Contoh konkret, saya sebelumnya sudah memutuskan tidak akan datang ke Agats, Papua. Karena wilayahnya sangat berat dari geografis dan macam-macam. Saya memutuskan tidak datang karena agenda saya waktu itu penuh. Nah begitu saya diberi tahu kalau saya diangkat menjadi kardinal, saya berpikir ulang. Di sini (Jakarta) yang harus saya tinggalkan. Dan saya putuskan akan berangkat ke sana.

Tahun 2015 Paus menunjuk 20 Kardinal dan kebanyakan dari negara berkembang. Tahun ini, Paus memilih Kardinal dari orang-orang yang progresif. Sebenarnya apa yang mau disampaikan Paus kepada dunia?

Itu pesan yang paling penting kenapa beliau, sekurang-kurangnya tahun ini hanya memilih orang Eropa hanya dua. Salah satunya ditunjuk sebagai dewan kepausan untuk dialog antaragama. Lalu ada dua dari Amerika Latin itu Kuba dan Guatemala. Itu negara-negara yang kecil dan segala macam masalah. Dari Afrika, Republik Dominika dan Maroko, negara-negara yang berjuang menuju damai.

Dari Asia saya. Dan saya yakin betul, Paus ingin menampilkan wajah Indonesia yang ramah satu sama lain. Meskipun ada segala macam masalah. Wajah besarnya tetap harmoni. Itu lambang simbolik kan jelas, Katedral dan Istiqlal. Dan itu sengaja oleh Presiden Soekarno untuk menjadi simbol dan semangat, watak dan karakter bangsa Indonesia.

Pelantikannya pun sangat simbolik. Biasanya pelantikan pada bulan November, ini dimajukan menjadi 5 Oktober. Pada tanggal itu juga akan dibuka sinode para uskup untuk Amazon. Kita tahu berkaitan dengan lingkungan hidup seluruh dunia. Jadi sangat simbolik.

Saya duga, karena saya belum bicara langsung dengan Paus, pemilihan itu ingin berbicara secara simbolik kepada dunia, gereja ingin membangun wajah. Pertama, perhatian lebih kepada orang yang kurang beruntung. Kedua, membangun damai khususnya di antara komunitas lintas iman. Ketiga, supaya umat manusia sungguh memelihara lingkungan hidup. Ini yang jadi prioritas dan mau ditunjukkan dalam pengangkatan kardinal tahun ini.

1 dari 2 halaman

Pesan Khusus Paus untuk Indonesia

Dari tiga hal tadi, apa pesan khusus dari Paus untuk Indonesia?

Salah satu yang beliau pesan pada bulan Juni ketika seluruh uskup Indonesia bertemu dengan beliau hampir dua jam, waktu kami mau pulang satu pesan utama yang disampaikan pada kami. Tolong dokumen yang ditandatangani di Abu Dhabi Bersama imam besar Al Azhar sungguh dipelajari seluruh umat katolik, dan dilaksanakan. Mencari titik kerja sama dengan komunitas lintas iman untuk mengangkat martabat manusia dan masalah kemanusiaan.
Bulan November nanti, ada sidang KWI, itu akan kami angkat. Kami akan undang sahabat muslim, yang justru sudah membaca naskah itu.

Saya terkagum-kagum. Menjelang Ramadan kemarin, saya diundang oleh Ibu Alisya Wahid Bersama Paramadina, bersama Wahid Foundation. Yang dibicarakan dokumen itu. Inisiatifnya justru dari teman-teman komunitas muslim. Saya akan berusaha yakinkan uskup supaya dokumen ini sungguh dimengerti umat, lalu menjadi gagasan dan Gerakan nyata. Karena rumusannya sangat bagus, Human Fraternity, persaudaraan menuju perdamaian dunia. Siapa yang tidak suka damai. Dokumen itu sangat simbolik, sangat berarti, isinya kalau dilaksanakan sungguh sangat mengubah sejarah manusia dan mengubah wajah dunia.

Penekanan utama Paus pada dokumen Abu Dhabi?
Iya untuk Indonesia. Beliau berbicara khusus.

Paus sempat menyinggung soal keberagaman di Indonesia?

Salah satu yang beliau bicarakan dalam pertemuan bulan Juni ya itu. Kemudian disambung dokumen itu (Abu Dhabi).

Seberapa penting Indonesia untuk Vatikan?

Ada beberapa hal yang mungkin bisa diceritakan tapi tidak disimpulkan. Ketika kami datang ke ruang studi beliau di aula besar, beliau sedang membuka peta besar. Peta Indonesia. Beliau bertanya mana Indonesia? Beliau menunjuk Pulau Jawa, kami jawab iya itu Indonesia. Beliau menunjuk Pulau Kalimantan, iya itu Indonesia. Lalu menunjuk Sumatera, itu juga Indonesia. Sampai Papua. Kaget beliau. Tidak membayangkan Indonesia sebesar itu. Kedua, di sana (Vatikan) ada satu departemen yang namanya dewan kepausan untuk dialog antaragama. Di sana ada orang Indonesia, seorang pastor dari Flores dan sudah 10 tahun bekerja di sana. Dan pimpinan dewan kardinal itu, sudah dua kali keliling Indonesia. Ketiga, sekretaris negara Vatikan (wakil Paus) pernah memegang desk Indonesia di Vatikan. Di sini ada duta besar Vatikan untuk Indonesia. Di sana kita juga punya duta besar Indonesia untuk Vatikan.

Ketika terjadi bencana di Indonesia, waktu Tsunami, dalam doa hari minggu di depan banyak orang, beliau selalu mendoakan Indonesia meskipun belum tahu Indonesia seperti apa. Beliau menyebut Indonesia. Ada satu hal lagi yang istimewa dan belum banyak diketahui. Museum Vatikan adalah salah satu museum paling baik di dunia, di sana ada pojok Indonesia. Ada miniatur Borobudur. Silakan bayangkan, Indonesia negara dengan penduduk muslim terbesar dunia, Borobudur adalah Budha, disimpan di museum Vatikan. Sangat simbolik. Satu-satunya negara yang punya pojok seperti itu ya Indonesia. Sisanya kan barang-barang Vatikan dari berbagai negara. Istimewa sekali. Saya juga heran kok bisa ada lobi sehingga ada pojok Indonesia. Candinya Budha, dari negara dengan penduduk muslim terbesar dunia, dan disimpan di Vatikan yang merupakan pusat agama Katolik.

Paus Fransiskus terkenal dengan pesan dalam tindakannya yang di luar perkiraan, bagaimana pesan itu diterapkan di Indonesia?

Majalah Fortune pada tahun 2014, menempatkan 50 pimpinan paling berpengaruh bagi dunia. Heran betul saya, Paus Fransiskus nomor satu. Angela Merkel, PM Jerman nomor dua. Pak Jokowi waktu itu masih Gubernur, nomor 37. Saya heran karena beliau (Paus) bukan pengusaha, pimpinan politik, pemimpin pemerintahan, bukan siapa-siapa. Justru karena keberpihakan pada saudara yang kurang beruntung. Dan beliau menerobos segala macam. Reformasi di Vatikan. Kalau di Indonesia, seperti Gus Dur. Sehingga, ini yang paling penting dipelajari pimpinan gereja adalah jabatan bukan kedudukan. Jabatan itu kesempatan memberikan pelayanan. Semakin tinggi jabatan, semakin luas pelayanannya yang ditanggungkan. Pesan itu jelas.

Kalau pesan untuk gereja seluruh dunia sangat jelas, kita mengikuti banyak Gerakan Paus. Beliau selalu menulis mengenai pandangan terhadap isu lingkungan hidup, bagus sekali isinya. Sudah lama di Keuskupan Agung Jakarta ini pantang plastik dan sterofoam. Kalau pergi-pergi jangan membawa minuman plastik, tapi bawa botol. Gerakan itu sudah melebar.
Kedua, mengenai kaum miskin. Pengalaman menarik soal membuang makanan. Dua atau tiga tahun lalu saya rapat, rapat pengurus pelayanan rumah sakit. Ada seorang ibu mengajak anak kelas 2-3 SD. Sampai sesudah makan siang, anak kecil itu memeriksa piring-piring kami. Ada yang disisakan atau tidak. Dia melihat ada yang tersisa, lalu panggil mamanya dan bilang kalau ini artinya merampas hak orang miskin. Dari situ bisa dilihat bahwa pesan Paus sampai ke anak-anak. Pengaruhnya besar sekali Paus ini.

2 dari 2 halaman

Gereja Katolik dan Pancasila

Saya dengar Romo Haryo pernah dipanggil Presiden Jokowi. Apa yang dibicarakan?

Kebetulan saja waktu itu beliau bicara begini, Romo nanti kami akan mulai dengan BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila). Lalu beliau bicara mengenai rencananya. Setelah beliau selesai, saya mengatakan, bapak presiden, kami (Gereja) sudah mulai. Kami mulai 2016. Lalu saya ceritakan yang kami buat. Rosario merah putih, Bunda Maria segala suku. Karena kami sadar, kalau Pancasila tidak diresapi, maka bangsa Indonesia tidak akan semakin merdeka. Kalau sila pertama sampai ke empat tidak diresapi satu per satu, mana mungkin kita sampai pada sila kelima keadilan sosial.

Arah dasar gereja Keuskupan Agung Jakarta menitikberatkan pada Pancasila, sebenarnya apa yang dilihat dan ingin disampaikan?

Ceritanya dari 2003, sesudah reformasi, para uskup KWI melihat dan menyadari Pancasila tidak pernah diucapkan lagi. Mungkin karena pada zaman orde baru Pancasila disalahgunakan dan dijadikan alat politik. Faktanya, sesudah reformasi Pancasila tidak pernah disebut. Selain itu kami melihat kesenjangan dan kesejahteraan di Indonesia, jurangnya sangat lebar. Para uskup mulai dipelajari dan keluarlah dokumen tentang Pancasila di sidang para uskup. Tapi belum ada yang menjadikannya wujud dari gerakan berbasis Pancasila.

Ketika kondisi ini ditambah munculnya intoleransi, maka semakin jelas. Ini tantangan dan kesempatan mengajak umat, menawarkan pada teman-teman yang bertanggungjawab membuat kebijakan, ini (Pancasila) harus kita masukan. Aneh sebetulnya bagi gereja, ketika Pancasila masuk di arah dasar gereja. Biasanya kan dari ajaran gereja. Saya dianggap kok berani sekali. Maka tahun demi tahun dibuat studi bersama supaya ideologi diterjemahkan menjadi gagasan kecil, dan diterjemahkan jadi tindakan. Harapannya, kalau tindakan dilakukan akan menjadi habitus (kebiasaan).

Kalau orang mengatakan beriman, salah satu buahnya adalah persaudaraan. Kalau merasa beriman tapi di mana-mana berkelahi, imannya bisa dipertanyakan. Lalu bersaudara itu kan harus diterjemahkan. Salah satunya jangan memandang orang lain saingan apalagi musuh. Melihat orang lain sesama peziarah di dunia ini. Kalau pikiran itu terus diisi gagasan itu, saya yakin dia menjadi pribadi yang bersahabat dengan siapapun.

Sebagai pemuka agama, bagaimana Romo Haryo melihat kondisi Indonesia hari ini?

Sejak merdeka, Indonesia tidak pernah lepas dari tantangan dan masalah. Tetapi sejarah menunjukkan, segala tantangan bisa diatasi. Ini saya pegang sebagai prinsip kalau saya bicara dengan umat Katolik supaya mereka kalau melihat situasi tidak menentu, tetap yakin Indonesia punya masa depan.

Kalau mengenai misalnya kesenjangan sosial, akar masalahnya banyak. Sistem dan mentalitas yang merusak ya korupsi. Orang bicara Undang-Undang KPK, saya ditanya, saya sebagai wakil komunitas agama, korupsi harus dicegah dan diberantas. Apapun caranya.
Kedua adalah intoleransi. Ini bukan hanya masalah Indonesia tapi dunia. Saya ingat betul tahun 2006, Pak Hasyim Muzadi waktu itu Ketua PBNU, beliau mengundang kami untuk bicara situasi agama di Indonesia dan beliau sudah bicara Islam Transnasional. Tetapi sejak saat itu pemerintah seolah tidak memberi perhatian, jadinya ya seperti ini. Tapi syukur waktu kami dipanggil presiden dan bicara soal intoleransi ini dan mendengar dari segala macam pimpinan agama, saya hanya matur (bilang) begini, pendek sekali. Satu, saya percaya sepanjang sejarah Indonesia selalu berhasil mengatasi masalah besar. Kedua, kalau NU dan Muhammadiyah kompak, TNI dan Polri kompak, tantangan sebesar apapun di negara ini bisa diatasi. Itu saja keyakinan saya.

Semua warga tahu betul cita-cita Indonesia yang dirumuskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar. Merdeka, berdaulat, bersatu, adil dan sejahtera. Saya yakin negara itu tidak ada yang seperti Surga. Di manapun, termasuk di negara maju. Tergantung pemerintah dan masyarakat. Sejak awal kita sudah sepakat, satu nusa, satu bangsa, satu Bahasa, NKRI dan Pancasila. Itu dipegang dan diimplementasikan.

Menurut Romo, apa solusi untuk Papua?

Saya berpikir bahwa yang bisa membawa masyarakat Papua maju adalah orang Papua sendiri. Yang punya hati terhadap masyarakatnya, yang punya cita-cita untuk masyarakatnya. Waktu seorang uskup Jayapura diundang Presiden, dia ditanya tentang Papua. Jawabannya cuma satu, Pak Presiden tolong para pemimpin pemerintahan di Papua diajari menjadi bupati, gubernur yang baik untuk masyarakat. Kalau pejabat itu menjalankan tugas dengan baik, tanpa korupsi, hadir menyapa dan mengangkat masyarakat Papua, saya yakin itu berhasil. Pemerintah pusat mendukung dengan logistik. Kalau bukan orang Papua sendiri yang memang mencintai masyarakatnya, akan susah sekali untuk maju.

Pendekatan untuk Papua, pembangunan fisik atau humanis?

Harus serentak. Dan juga dialog berkelanjutan. Sekarang infrastruktur dibangun, orang sana bilang tidak cukup. Ya memang pasti tidak cukup kalau hanya infrastruktur saja. Infrastruktur itu penting. Menurut saya, salah juga kalau ada yang bilang tidak butuh infrastruktur. Tetapi sesudah infrastruktur atau bersamanya, itu apa. Nah itu yang bisa menjawab adalah saudara-saudara kita di sana. Dan harus yakin maksud baik pemerintah pusat harus dirasakan di sana.

Belakangan ini kuat sekali politik identitas, imbauan kepada umat seperti apa?

Ini (Telepon genggam dan media sosial) salah satu yang berbahaya. Negara bisa sejahtera karena media sosial, bisa juga hancur. Contohnya waktu beredar video bapak ustaz Abdul Somad, orang Katolik marah besar. Saya ditanya bagaimana sikap Uskup? Saya jawab, kenapa harus marah. Diamkan saja nanti juga hilang sendiri. Kita yakin saja pada iman kita. Jangan mudah tersinggung. Apalagi terprovokasi.

Heran juga orang-orang berpendidikan, darahnya juga cepat naik. Padahal untuk apa. Marah juga tidak ada gunanya selain merusak hidup Bersama. Kalau saya misalnya, apapun yang menyangkut agama katolik, saya tidak akan pernah bereaksi. Kalau orang Katolik, sudah biasa menerima seperti itu, sejak abad pertama. Jadi tidak usah bingung. Yakin saja pada iman. Itu membuat relasi antar komunitas agama menjadi nyaman. Tidak usah dipersoalkan.

 /></p>
<p></p>
<p><strong>Baca juga:</strong><br /><a  href=Paus Fransiskus Pilih 13 Kardinal Baru, Salah Satunya dari Indonesia

Paus Fransiskus Pimpin Ibadah Jumat Agung di Vatikan
Jokowi-Ma'ruf Ungguli Prabowo-Sandi di Bern, Kopenhagen & Vatikan
Momen Paus Fransiskus Cium Kaki Pemimpin Sudan Selatan
Mantan Penasehat Paus Fransiskus Divonis Bersalah Kasus Pelecehan Anak
Uskup Seluruh Dunia Berkumpul di Vatikan Bahas Isu Pelecehan Seks Anak

[noe]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini