Bisnis rumah mewah 2

Karakter penghuni Perumahan Mewah

Rabu, 16 Maret 2016 06:49 Reporter : Mohammad Yudha Prasetya
Karakter penghuni Perumahan Mewah Rumah mewah. CNBC©2015

Merdeka.com - Setiap wilayah Jakarta, pasti memiliki kawasan unggulan menjadi pusat hunian para warganya. Namun ternyata dibalik berdirinya hunian mewah di berbagai wilayah di Jakarta tak luput juga menentukan karakteristik penghuninya. Mulai dari selera hingga faktor privatisasi menjadi alasan memilih hunian itu sebagai tempat tinggal. Namun dibalik itu juga ada alasan lain, misal karena faktor keberuntungan.

Permintaan pasar juga lahan terbatas ikut mempengaruhi iklim bisnis di dunia properti, yang kemudian membuat para pengembang perumahan saling berburu ruang kosong untuk menyediakan tipe hunian. Sejumlah kawasan seperti Pondok Indah, Kelapa Gading atau bahkan Pantai Indah Kapuk merupakan beberapa contoh nyata, di mana selera konsumen ternyata juga ikut menentukan jenis perumahan yang akan dikembangkan oleh para pengembang itu.

Kawasan perumahan Pondok Indah yang mulai dikembangkan oleh PT Metropolitan Kentjana (Grup Ciputra) sejak tahun 1970-an akhir hingga era 1980-an, merupakan salah satu contoh kawasan perumahan yang mengedepankan aspek privasi dengan lingkungan yang tenang dan nyaman. Faktor ini lah kemudian mampu melambungkan harga rumah di kawasan perumahan Pondok Indah mencapai puluhan miliar saat ini.

Apalagi sejak era Gubernur Sutiyoso, komplek perumahan menjadi akses jalan penghubung dengan wilayah lain. Otomatis, dengan dibukanya jalan itu juga ikut membuat kawasan lain berkembang dengan cepat. Mengenai umumnya tipe penduduk di kawasan Pondok Indah, ternyata rata-rata penghuni di wilayah tersebut merupakan para pengusaha, ekspatriat dan pebisnis. Selain itu, ada juga sejumlah artis dan beberapa pensiunan Polri serta politikus, yang juga ikut menjadi bagian dari warga perumahan elit di kawasan Pondok Indah tersebut.

Lain Pondok Indah, lain pula daerah pemukiman mewah di kawasan Kelapa Gading. Sebagai salah satu daerah pusat bisnis di Jakarta Utara selain Mangga Dua dan Pluit, Kelapa Gading juga berhasil menarik peminat untuk menghuni kawasan itu. Sejak dibangun oleh pengembang properti tahun 1975, Kelapa Gading terus berkembang hingga kini. Bahkan segala infrastruktur dan fasilitas khas kawasan elit pun telah lengkap dibangun di sana. Jadi bukan hal yang mengagetkan jika Pemerintah Provinsi Wilayah Jakarta Utara bermaksud menjadikan kawasan itu seperti Singapura.

Mengenai karakteristik penghuni di kawasan perumahan mewah wilayah kelapa Gading, Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Theresia V Rustandi mengatakan, umumnya setiap perumahan dibilang masuk kategori elit sebetulnya memiliki pasar sendiri. "Ada sebagian orang yang mau bisnis tapi juga mau tinggal di situ. Makanya daerah Kota, kelapa Gading, mahal juga kan," kata Theresia saat berbincang dengan merdeka.com di kantornya pekan lalu.

Bahkan, karena banyak minat para pencari hunian berdekatan dengan pusat-pusat bisnis tersebut, kini mulai berkembang hunian vertikal dilengkapi dengan pusat bisnis dan perbelanjaan. Hal ini menjadi salah satu trend di dunia bisnis dan pengembangan properti, untuk menyiasati minimnya keberadaan lahan dan permintaan pasar yang tinggi akan hunian di wilayah-wilayah pusat bisnis tersebut.

Theresia menjelaskan, salah satu contoh kawasan perumahan mewah lainnya diminati oleh konsumen adalah wilayah Pantai Indah Kapuk (PIK), di Jakarta Utara. Wilayah ini kata Theresia menjadi favorit karenakan aspek kepercayaan tertentu terkait faktor keberuntungan. Salah satunya karena letak kawasan itu dianggap sebagai Kepala Naga. Bagi keturunan Tionghoa, Pantai Indah Kapuk dianggap memiliki hoki dan cocok untuk dijadikan tempat tinggal.

Alasan lain yang membuat kawasan PIK ini menjadi favorit bagi sebagian orang, ternyata dikarenakan juga lokasinya yang berdekatan dengan sejumlah pusat bisnis di utara Jakarta, termasuk dengan Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, jika dilihat dari lingkungannya pun, wilayah itu juga bukan merupakan daerah banjir. Apalagi pengembang Pantai Indah Kapuk juga membuat sistem tata air terencana untuk mencegah genangan air. Misal membuat sistem Polder yaitu sistem tata air dengan fasilitas tanggul, kanal, waduk, sistem saluran, stasiun pompa, hingga sistem pembuangan yang sudah terintegrasi.

"Misalnya seperti di Utara, orang Chinese bilang kan itu wilayah kepala naga, bagus buat usaha. Jadi mereka senang tinggal di situ. Tetapi kalau orang di Pondok Indah, disuruh pindah ke Pantai Mutiara atau Pantai Indah Kapuk, ya belum tentu mau juga," tutur Theresia. [arb]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini