Kado Terakhir Susi Pudjiastuti

Senin, 28 Oktober 2019 07:06 Reporter : Anisyah Al Faqir
Kado Terakhir Susi Pudjiastuti Tangis Susi Pudjiastuti Saat Berpisah di Kementerian KKP. ©2019 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Air mata Susi Pudjiastuti berlinang tak terbendung. Sebuah lukisan bergambar dirinya menjadi kado terakhir dari pegawai di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Menjadi tanda masa jabatan usai setelah lima tahun menjabat menteri.

Hadiah lukisan begitu berkesan bagi Susi. Bergambar dirinya memakai topi baret biru dengan kaca mata hitam, ditambah latar belakang nuansa laut. Momen haru itu terjadi dalam acara serah terima jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan, Rabu pekan lalu.

Jagat dunia maya pun ikut bersedih saat tahu Susi tak lagi jadi menteri. Warga net ramai menggunakan #WeWantSusi untuk mengungkapkan rasa sedih dan kecewanya. Setidaknya hampir 60 ribu cuitan menggunakan tagar tersebut.

Nama bos penerbangan Susi Air itu tak lagi masuk dalam jajaran pembantu Presiden Joko Widodo. Posisinya sebagai menteri digantikan politikus Partai Gerindra, Edhy Prabowo. Dikenal dengan gaya nyentrik selama menjabat menteri, Susi dianggap belum sukses dalam menjalankan kebijakan.

Sepanjang dia menjabat, sudah 558 kapal asing yang ditenggelamkan. Terbanyak kapal asing asal Vietnam yang tercatat sampai bulan Mei 2019, mencapai 284 kapal

Diurutan kedua kapal milik Filipina sebanyak 92 kapal. Disusul 73 kapal milik Malaysia dan 23 kapal milik Thailand. Ratusan kapal ini terbukti telah melakukan praktik illegal fishing di perairan Indonesia.

Sejak kali pertama dilakukan, kebijakan penenggelaman kapal ala Susi ini tak luput menuai kritikan. Selain masalah ekosistem di laut, nyatanya penindakan terhadap kapal asing pencuri ikan menyisakan ragam pertanyaan.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) memberikan sejumlah catatan. Dalam UU No 45 tahun 2009 tentang Perikanan mengatur mekanisme hukum tentang illegal fishing. Pada pasal 93 (1) dijelaskan hukuman bagi kapal asing yang masuk ke perairan Indonesia diancam dengan pidana paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp2 miliar.

Dari 116 berkas putusan yang dimiliki KIARA, tercatat pelaku illegal fishing membayar denda tertinggi Rp6 miliar dan terendah Rp500 juta. Jumlah denda yang paling sering dikenakan dalam putusan sebanyak Rp1 miliar. Sebanyak 113 kasus sudah membayar denda, dengan total uang diterima mencapai Rp80.245.500.000.

Begitu juga dengan hukuman pidana. Terdakwa kasus pencurian ikan paling lama divonis selama 3 tahun dan paling singkat 2 bulan. Bahkan ada berapa kasus pelaku tidak diberikan sanki kurungan sama sekali.

Sejak dilakukan pertama kali pada tahun 2014, penindakan terhadap kapal pencuri ikan nyatanya tak memberikan efek jera. Kapal asing masih berani berkeliaran di perairan nusantara mencuri ikan. KIARA memahami tujuan penenggelaman kapal asing pencuri ikan sebagai bentuk pemerintah serius menangani masalah. Hanya saja, dari hasil temuannya tersebut menunjukkan penegakan hukum bagi para pelaku masih lemah.

"Bicara kedaulatan laut akan percuma kalau penegakan hukum tidak dilakukan," kata Deputi Pengelolaan dan Pengetahuan KIARA, Parid Ridwanuddin kepada merdeka.com pekan lalu di Jakarta.

Langkah Susi membuat jera para pencuri ikan dikritik Menteri Koordinasi bidang Maritim Luhut Binsar Panjaitan. Cara ini dianggap tidak efisien bila dilakukan jangka panjang. Alih-alih membuat jera, malah abai terhadap langkah yang harus ditempuh selanjutnya.

Banyaknya kapal asing masuk perairan Indonesia lantaran tak ada kapal pencari ikan di wilayah tersebut. Seperti di Natuna yang kerap disantroni kapal asing lantaran tak ada kapal Indonesia menangkap ikan di sana. Untuk itu dia mengusulkan penangkaran ikan sebagai langkah selanjutnya KKP, sebagaimana telah diamanatkan undang-undang.

"Sekarang kan di undang-undang itu sudah dibuat bahwa harus bikin penangkaran ikan, ya kita kembangkan juga itu," kata Luhut ketika itu.

Baca Selanjutnya: Dilema Cantrang...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini