Wawancara Khusus

Jubir Vaksinasi Kemenkes: Vaksin Nusantara Alternatif Peningkat Imunitas

Jumat, 30 April 2021 12:51 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Jubir Vaksinasi Kemenkes: Vaksin Nusantara Alternatif Peningkat Imunitas Terawan dampingi rombongan anggota DPR Sufmi Dasco divaksinasi nusantara. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Vaksin Nusantara belakangan menjadi sorotan. Kehadiran vaksin buatan mantan Menteri Kesehatan Letjen dr Terawan Agus Putranto ini bahkan sampai dibahas serius antara BPOM, Kementerian Kesehatan dan TNI AD.

Dalam pembahasan ketiganya, kemudian disetujui dalam nota kesepahaman bahwa Vaksin Nusantara merupakan penelitian berbasis pelayanan menggunakan sel dendritik. Langkah ini sekaligus membuat penelitian dilakukan Terawan artinya tetap dilanjutkan meski berbasis pelayanan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Di satu sisi, kehadiran Vaksin Nusantara tentu merupakan kebanggaan.Vaksin Nusantara diklaim merupakan inovasi Indonesia. Alat dan Teknologinya saja yang berasal dari luar negeri. Kini dalam tahap uji sebelum benar-benar mendapat izin edar lebih massal.

Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi dalam wawancara khusus dengan jurnalis merdeka.com Angga Yudha pada Senin lalu,melihat kehadiran Vaksin Nusantara merupakan salah upaya bagi masyarakat untuk melawan Covid-19. Bahkanvaksin itu juga disebut sebagai alternatif meningkatkan imunitas.

Berikut petikan wawancaranya:

jubir vaksin siti nadia tarmizi

Jubir Vaksinasi Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi©2021 Merdeka.com/liputan6

Bisa dijelaskan upaya pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan dalam memastikan keamanan dari berbagai merek vaksin yang kini beredar maupun sedang tahap proses di Indonesia?

Kita tahu bahwa vaksin untuk penggunaannya harus mendapat izin edar. Badan yang mengurus ini ada BPOM. Karena di dalam izin edar akan ada berbagai macam kajian dari segi keamanannya.

Berbicara tentang keamanan, pertama adalah yang memberikan lebih banyak manfaat daripada dampaknya. Jadi kalau kemudian efek dari pada vaksin itu jauh lebih besar dari efek samping yang timbul, itu dianggap aman.

Wajar kalau vaksin itu kan sebuah zat yang dimasukkan ke tubuh, pasti tubuh kita bereaksi. Tetapi kalau tubuh kita itu tidak menimbulkan permasalahan, misalnya efek samping akan hilang 1-2 hari, bahkan tidak menimbulkan kematian yang tinggi, jadi dari segi manfaatnya dinilai masih lebih besar dari efek samping maka itu dianggap aman.

Kemudian dinilai juga efek proteksinya. WHO sendiri sudah mengatakan minimal 50 persen (efikasi) itu sudah baik vaksin itu untuk pandemi ini.

Selanjutnya kita melihat vaksin menimbulkan antibodi. Kita tahu kemampuan vaksin itu menimbulkan antibodi di atas 90 persen. Sehingga orang yang sudah mendapatkan vaksin itu pasti akan timbul antibodi yang tinggi. Kalau hasilnya rendah tidak akan jadi pilihan vaksin.

BPOM dalam memberikan izin edar itu melibatkan banyak pihak. Ada ahli, kemudian komite imunisasi, bahkan komite pengawasan obat. Sehingga yang sudah keluar dari BPOM itu artinya betul-betul keamanan terjamin.

Untuk konteks kesehatan, kita juga punya standar. Setelah mendapat izin edar, kita harus pastikan rantai pengelolaan. Karena itu juga menjamin mutu dari vaksin. Jadi harus dikelola dengan cara-cara dari vaksin tersebut.

Kemudian pemberian vaksinasi itu dari tahap screening. Jadi dipastikan diberikan ke dalam kondisi kesehatan tubuh seseorang yang baik. Sedangkan yang tidak sesuai tentu kita tidak akan berikan. Ini bagian dari keamanan.

Selanjutnya dari segi vaksinator. Mereka harus mendapat pelatihan singkat mengenal efek samping, itu juga dalam rangka menjaga keamanan. Termasuk bagaimana cara suntik yang tepat. Kemenkes secara komprehensif berbicara vaksinasi, tentu melakukan pengawasan secara keseluruhan.

Bagaimana Kementerian Kesehatan melihat geliat vaksin buatan asli Indonesia seperti Vaksin Merah Putih dan Vaksin Nusantara meskipun masih dalam tahap proses?

Ini tentu luar biasa. Proses pengembangan vaksin di Indonesia baik Nusantara maupun Merah Putih, ini kan terus berprogres. Artinya kalau kita melihat berbagai macam jenis platform pengembangan vaksin itu ada di indonesia. Dan itu berjalan terus menerus yang artinya proses itu diupayakan untuk segera mungkin menyelesaikan uji klinisnya sampai vaksin tersebut bisa digunakan.

Sebenarnya kita tidak kalah dengan negara-negara lain. Kita bisa lihat negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, mereka belum mengembangkan vaksin. Negara Asia baru di India.

Jadi Indonesia itu sudah mulai dan diperkirakan tahun 2022 vaksin tersebut sudah bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita cukup baik dalam prosesnya.

Khusus untuk Vaksin Nusantara, seperti apa Kementerian Kesehatan turut menjamin proses keamanan yang kini disebut sebagai penelitian berbasis pelayanan?

Pelayanan Vaksin Nusantara yang menggunakan sel dendritik ini berdasarkan nota kesepahaman bahwa penggunaan sel dendritik sebagai alternatif peningkatan imunitas itu tetap terus dilakukan.

Ini tentu bertujuan untuk pengembangan penelitian Vaksin Nusantara yang menggunakan sel dendritik yang salah satunya menjadi upaya meningkatkan imunitas. Tentu ini sambil menunggu uji klinis fase 1 dari Vaksin Nusantara yang masih harus memenuhi beberapa kriteria.

Dalam hal ini Kemenkes akan mendukung proses pengembangan berbagai terapi-terapi untuk mencari terapi untuk menghadapi virus Covid-19.

Bagaimana pengawasannya yang akan dilakukan Kementerian Kesehatan untuk Vaksin Nusantara?

Misalnya ada kejadian paling buruk ada pasien yang meninggal, kita pastikan akan mengaudit penelitian berbasis pelayanan dari Vaksin Nusantara tersebut.

infografs vaksin nusantara

Bisa dijelaskan seberapa penting sel dendritik ini untuk meningkatkan imunitas?

Sel dendritik ini mampu meningkatkan imunitas pada tubuh orang yang sehat. Sel dendritik itu sebenarnya salah satu sel di dalam imunitas kita.

Dalam Vaksin Nusantara, awalnya sel dendritik itu digunakan untuk kanker. Kalau melihat itu bahwa sel dendritik itu diambil dari darah pasien. Kemudian ada reagen untuk memisahkan sehingga kita dapat sel dendritik. Kemudian dipaparkan dengan virus Covid-19.

Jadi sel dendritik itu dilatih di luar. Sehingga seperti proses antibodi. Kalau antibodi kan disuntikkan ke dalam tubuh dan kita tidak tahu prosesnya di dalam tubuh kerjanya bagaimana.

Untuk Vaksin Nusantara, sel dendritik itu diambil dari tiap orang, kemudian dipisahkan dan dilatih setelah dipaparkan virus Covid-19. Kalau dia sudah punya memori, baru disuntikkan kembali. Sehingga sel dendritik itu sudah punya ingatan dengan virus Covid-19. Sehingga dia bisa melawan itu nanti di dalam tubuh.

Kita menyebut sel dendritik sebagai sel penyaji antigen. Jadi dia itu yang berhubungan, sehingga kalau ada virus itu antigen, yang menangkap pertama itu sel dendritik. Kemudian sel dendritik tadi menangkap antigen, kemudian membawa menuju kekebalan tubuh kita.

Sejauh ini bagaimana tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin?

Kita selalu mengatakan jangan pilih-pilih vaksin. Karena vaksin ini segera memberikan perlindungan kepada kita. Yag kita tahu vaksin ini jumlahnya terbatas. Jadi kita lihat sekarang masyarakat tidak terlalu terjadi pemilihan vaksin. Bahkan banyak banyak masyarakat kini bertanya kapan vaksinasi untuk di bawah 60 tahun. Karena kita memang sedang mengejar di atas usia itu sekarang ini. Sekarang itu masyarakat itu menginginkan divaksin.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sempat menyebut bahwa sisa vaksin di Indonesia tinggal 8 juta. Bagaimana upaya pemerintah ke depan untuk memenuhi stok vaksin?

Jadi Pak Menkes menjelaskan perkiraan vaksin di bulan april. Kita melihat jumlah 8 juta itu sudah siap untuk disuntik.

Total dosis yang kita terima ada 59 juta dalam bentuk bulk (bahan baku) dari Sinovac. Itu hanya bisa 80-85 oersen dosis jadi, atau kurang lebih 48 juta dosis yang jadi. Plus 3 juta yang jadi sinovac yang pertama. Ditambah 1,1 juta astrazeneca. Jadi total 52 juta saat ini kurang lebih.

Angka ini memang sering jadi kebingungan di publik. Karena ini kan ada bentuk bulk dan harus dijadikan bahan setengah jadi. Jadi total dosis yang sudah diterima lebih kurang 52 juta dosis di indonesia.

Untuk 48 juta dalam bentuk bulk itu sudah 23 juta yang sudah kita turunkan ke masyarakat. Termasuk buffer stock 18 juta yang sudah disuntikkan.

Sekarang ini di Bio Farma ada 23 juta dosis yang masih berproses dari bahan setengah jadi menjadi bentuk jadi. Itu kurang lebih 7 juta sampai 11 juta dosis akan dipakai April ini. Sehingga setidak-tidaknya kita masih punya 10 juta dosis di Bio Farma. Karena setelah Pak Menkes ngomong 8 juta, orang berpikir kita tak punya stok vaksin lagi.

Kenapa Pak Menkes bilang 8 juta? Karena kita tidak sekaligus distribusinya. Jadi sebenarnya ini angka perkiraan. Karena dari Bio Farma 7 juta sampai 11 juta dosis.

Di Bio Farma itu masih 10-12 juta, yang tidak akan dipakai di April, tapi di bulan Mei. Bio Farma di akhir April ada 23 juta dalam bentuk bulk yang akan menjadi 7 juta sampai 11 juta dosis di bulan April. Sisa 12 juta itu nanti akan dipakai di Mei.

Apa langkah Kementerian Kesehatan untuk memenuhi target Presiden Joko Widodo yang menginginkan vaksinasi selesai akhir tahun ini?

Jadi kan kita tahu proses stok vaksin kita ini dari pengiriman yang sudah dijanjikan dari produsen vaksin. Yang kita tahu, Sinovac itu akan mengirimkan vaksin sebulan itu dua kali. Jadi kita sudah mendapat kiriman 6 juta, sehingga di akhir April sisanya. Karena tiap bukan kita mendapat kiriman 10 juta sampai 15 juta dalam bentuk bulk. Jadi sistemnya top up gitu.

Kita meman melihat sampai Juni suplai vaksin kita dari sinovac. Selanjutnya, di Maret Covax Facility sudah menjanjikan 11 juta sampai dengan bulan Mei. Kita sebenarnya usulan kepada Covax Facility itu jumlahnya 54 juta. Yang sudah pasti itu baru 11 juta berdasarkan jumlah donor vaksinnya. Karena ini vaksin gratis.

Dari awal yang sudah disetujui 54 juta, kita sedang meminta sampai dengan 80 juta untuk possibility untuk Covax Facility. Itu kurang lebih.

Untuk 11 juta dari Covax Facility itu sudah diterima pada Mei. Artinya sudah menutup kebutuhan kita. Apalagi dari kapasitas Bio Farma tadi mereka bisa 10 juta sampai 15 juta. Artinya dengan tambahan stok ini, kita punya stok 25 juta. Sama seperti di bulan Maret.

Dengan posisi ini tentunya lebih leluasa meningkatkan menyuntikkan dosis per hari. Seperti di Maret itu 500 ribu dosis per hari. Kemudian di April 600 ribu dosis, kemudian di Mei naik ke 750 ribu dosis per hari sampai dengan Juni. Kemudian di Juli kita akan mulai naik di titik 1 juta dosis per hari.

Bisa dijelaskan apa langkah pemerintah untuk mencapai target 1 juta dosis per hari di Juli nanti?

Di Juni nanti vaksin Novavax akan datang. Kemudian Astrazeneca yang kita beli langsung dari pabriknya juga akan datang di bulan Juni. Dengan jumlah dosis vaksin yang bertambah, kita mempercepat dosis penyutikan. Ini supaya target dari Pak Presiden Jokowi sampai dengan akhir Desember kita sudah bisa menyelesaikan vaksinasi.

Sebenarnya kunci utama yang kita kawal ini adalah bagaimana kesepakatan-kesepakatan tentang pengiriman vaksin itu betul-betul sesuai rencana kita.

Memang sempat turun di awal minggu puasa sekitar 200 ribu dosis per hari. Tapi sekarang sudah balik naik lagi menjadi 300 ribu dosis vaksin per hari. Meskipun asumsi kita tidak akan mencapai 500 ribu dosis per hari. Karena ini 8 juta tidak langsung didistribusikan. Karena dibagi 3 juta tiap pembagian.

Apa saja kendala yang berdampak pada distribusi vaksin selama ini?

Tentu ini tinggal masalah komitmen. Seperti Astrazeneca dan Covax itu kan ditunda waktunya, dan jumlahnya tidak sesuai di awal. Ini seperti di Maret sudah datang, seharusnya 3 juta dosis ini hanya 1,1 juta dosis. Kemudian justru sebenarnya di April ini total mereka kirim 10 juta dosis, malah ditunda di Mei. Pada Mei saja kita belum tahu, kemungkinan hanya 5 juta dosis.

Ada beberapa cara yang kita lakukan ini. Sekarang kita memastikan Covax Facility untuk bisa betul-betul sesuai timeline. Karena mereka tidak ada informasi awal tapi tiba-tiba menyampaikan embargo, sehingga ditunda dan kita tidak siap mencari alternatif. Untuk itu kita sekarang mendorong kepada Covax Facility untuk kepastian pengirimannya.

Kita juga mencoba ke Astrazeneca langsung itu apakah bisa maju di Mei untuk pengiriman. Selanjutnya Bio Farma yang sedang bikin pabrik kedua supaya kapasitasnya naik. Ketiga, kita minta Sinovac tambah juga pengirimannya per bulannya. Ada juga rencana kita negosiasikan sekitar tambahan 100 juta dari yang kini 140 juta yang kita sepakati. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini