Jejak Timur Tengah di Kampung Condet

Selasa, 2 Agustus 2016 06:33 Reporter : Linda Juliawanti
Jejak Timur Tengah di Kampung Condet Turis arab di Puncak. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Merdeka.com - Menelusuri jalan raya Condet seolah berada di Timur Tengah. Kampung betawi ini memang kental dengan rasa Arab di dalamnya. Toko-toko penjual busana muslim dan produk dari Tanah Suci seperti air zamzam menarik perhatian mata. Wangi shisha bercampur parfum menusuk hidung. Belum lagi aroma makanan dari rumah makan yang menyajikan masakan Timur Tengah seperti nasi kebuli dan nasi mandhi. Tak heran, banyak warga Ibu Kota mengenal Condet dengan perkampungan Arab.

Julukan ini disematkan seiring dicabutnya SK Gubernur Ali Sadikin yang sebelumnya menetapkan Condet sebagai kawasan cagar budaya Betawi. Secara tidak disadari rasa dan nuansa Arab yang dibawa pendatang, masuk dalam kehidupan mereka sebagai orang betawi asli. Kondisi ini tidak aneh mengingat semakin banyak warga pendatang keturunan Arab bermukim di Condet.

Hasan Al Masyhur, salah satu warga keturunan Betawi dengan darah Timur Tengah di dalamnya.

"Kakek saya Habib Muhsin bin Muhammad Al Attas dari Yaman, keluarga ibu saya asli Betawi, asli Condet, ya disebutlah Betawi keturunan Arab," cerita Hasan saat berbicang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Kakeknya adalah salah satu ulama besar Condet. Hasan mengisahkan, awal abad ke-19, para imigran dari Yaman Selatan berdatangan ke Tanah Air. Mereka menggunakan kapal uap yang menggantikan kapal layar. Dengan begitu pelayaran lebih cepat dan aman menuju Indonesia.

"Tahun 1934 orang Arab hijrah ke sini, tujuannya buat dagang sambil syiar," kata Hasan.

Warga keturunan Arab yang datang dan bermukim di Condet berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Warga Arab kebanyakan datang seorang diri, kemudian menikahi wanita pribumi. Terlebih, mereka beragama Islam sehingga lebih cepat berbaur dengan penduduk setempat.

Meski budaya Arab kian melekat dengan kawasan Condet, masyarakat Condet enggan menyebut wilayahnya dengan sebutan Kampung Arab. Mereka lebih senang menjunjung tinggi nama Kampung Betawi.

"Bukan cuma dari Arab kok (yang tinggal di Condet), ada juga orang China. Dari dulu Condet itu ya Kampung Betawi," kata Iwan Setiawan, tokoh masyarakat Balekembang, sekaligus pendiri Yayasan Cagar Budaya Condet. [noe]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini