Setahun Covid-19 di RI

Jalan Menuju Kubur yang Tak Pernah Libur

Jalan Menuju Kubur yang Tak Pernah Libur TPU Tegal Alur. ©2020 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Hujan baru saja reda pagi itu. Hanya tersisa rintik dan genangan, membasahi tanah Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur di kawasan Jakarta Barat. Dari bawah tenda, sekelompok penggali sedang bergegas. Berduyun-duyung menuju lahan kubur. Mereka harus segera menggali. Menyiapkan banyak liang lahat khusus jenazah Covid-19.

Pagi itu mereka membuat 10 lubang kubur. Tiap lubang berukuran 2,2 meter x 1,2 meter. Ukuran itu telah diperkecil dari standarnya. Sekitar pukul 9 pagi semua kubur akhirnya rampung. Para penggali kembali menepi. Menunggu kedatangan ambulans khusus pembawa jenazah Covid-19. Sebagian kembali ke tenda. Kembali beristirahat sejenak sambil menikmati kudapan teh dan kopi hangat.

Baru sekitar 15 menit mereka rehat. Dari kejauhan terdengar suara sirine ambulans. Suasana santai mendadak pecah. Para penggali berseragam kaos hijau ini kembali bergerak. Kaki-kaki bersepatu boots itu melangkah cepat. Sebagian berlari menuju lubang kubur. Mereka berjibaku melewati jalur berlumpur.

"Harus hati-hati sekali kalau habis hujan begini. Jalannya jadi berlumpur," ungkap salah seorang tukang gali kubur di TPU Tegal Alur yang merdeka.com temui pada Kamis pekan lalu. Sebut saja namanya Mamat.

tpu tegal alur

TPU Tegal Alur ©2021 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

TPU Tegal Alur memiliki luas 57 hektar. Sejak pandemi datang, sebesar 1,3 hektar lahan dijadikan pemakaman khusus jenazah dengan protap Covid-19. Lokasinya berbeda dengan bagian TPU umum.

Kurang dari setahun berjalan, TPU di Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, ini kondisinya hampir penuh. Mereka bahkan tidak lagi bisa menerima jenazah Covid-19 di unit Islam. Hanya tersisa sedikit ruang khusus unit Kristen.

Di awal Februari 2021, tercatat sudah lebih 4.500 jenazah dimakamkan dengan protokol Covid-19. Untuk unit Islam bahkan sudah dinyatakan penuh sejak 12 Januari 2021.

Kerja para penggali makam seakan tak pernah libur. Selama pandemi Covid-19 melanda, kerja mereka menjadi ekstra. Sejak pagi hingga malam, seperti tiada henti jenazah bergantian dimakamkan. Baru saja rehat sebentar, sudah datang lagi ambulans lainnya. Selalu begitu tiap harinya.

Belum juga memasuki waktu istirahat siang, sudah tiga jenazah dengan protokol Covid-19 dimakamkan. Saat itu sebenarnya para petugas penggali bersiap menguburkan jenazah Covid-19 yang keempat. Namun, semua terpaksa menunggu.

Permintaan keluarga korban memaksa mereka menghentikan sejenak pekerjaan. Kesempatan itu pun dimanfaatkan untuk mengumpulkan tenaga baru. Sebelum tugas kembali memanggil.

Keluarga korban Covid-19 biasanya meminta waktu untuk memberikan penghormatan terakhir. Berhadapan dengan situasi demikian, para penggali kubur rela ikut menunggu. Dengan catatan, keluarga yang datang harus mematuhi protokol kesehatan.

"Kadang protokol dengan hati nurani, lebih kuat hati nurani. Harusnya langsung, tapi mungkin keluarga ingin memberikan penghormatan terakhir," ungkap petugas pengelola TPU Pondok Alur, Haris, kepada merdeka.com.

infografis setahun pandemi covid 19

Tugas Berat Menyiapkan Liang Lahat

Menjalankan tugas sebagai penggali kubur selama masa pandemi Covid-19, memberikan pengalaman berbeda Mamat dan rekan-rekannya. Banyak hal yang berubah. Mulai dari pola hidup hingga kerja. Dia mengakui bahwa tim penggali makam selalu siap kapan pun dibutuhkan.

Tidak pernah lupa mereka selalu memakai lengkap alat pelindung lengkap. Dari hazmat hingga masker. Semua dipakai seharian. Kemudian dibuang ke tempat yang telah ditetapkan. Esoknya mereka memakai alat pelindung diri baru lagi.

Sebelum pandemi, biasanya mereka sudah bersiap sejak pukul 07.30 pagi. Kemudian kembali ke rumah jam 4 sore. Namun, sejak pandemi Covid-19 menghantam tanah air, para petugas gali kubur rela kerja lebih lama dengan waktu tak tentu.

Kelelahan tentu kerap menghampiri. Tak jarang kondisi para penggali kubur menurun lantaran tingginya beban kerja. Meski begitu, kesadaran terhadap tugas serta keikhlasan hati membuat mereka bersedia bekerja kapan saja. "Pernah sudah di rumah terus dipanggil. Pernah juga malam kita makamkan," ujar pria yang sudah menjalani profesi penggali kubur sejak 2015 ini.

Sementara itu, Haris masih ingat jelas bagaimana gambaran ketika pertama kali mendapatkan tugas untuk memakamkan jenazah Covid-19. Ketika itu rasa takut langsung berkecamuk. Apalagi di awal pandemi Covid-19, simpang siur informasi seakan menjadi momok. Cuma keberanian menjadi modalnya kala itu. Dia yakin bahwa apa yang akan dikerjakannya merupakan tugas mulia dan demi kemanusiaan.

Semangat tak membuat rasa takut pergi. Perasaan itu yang dirasakan ketika dia memakamkan jenazah pertama Covid-19 di TPU Tegal Alur. Setelah semua prosesi dilalui, dia takut tertular. Kemudian menularkan ke lingkungan dan keluarga.

Setelah memakamkan jenazah Covid-19, Haris bergegas mandi sebelum kembali ke rumah. Semua dilakukan agar anak dan istri tetap terjaga. Hal tersebut kemudian menjadi kebiasaan dia dan rekan sampai sekarang.

Dia mengakui, awal pandemi semua kerap serba salah. Mau tidak mau dia harus menjalankan tugasnya. Lagipula itulah satu-satunya pekerjaan yang dia punya sebagai penopang ekonomi keluarga. Namun di sisi lain, dia pun harus menjaga keluarga dan orang sekitar. Bahkan pengalaman tidak menyenangkan pernah dialaminya.

"Pernah saya dijauhi tetangga. Tapi makin ke sini makin biasa. Mereka sudah bisa menerima," kata Haris sambil tersenyum.

tpu tegal alur

TPU Tegal Alur ©2021 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Di antara banyak tantangan memakamkan jenazah Covid-19, satu hal patut disyukuri Haris dan para penggali kubur TPU Tegal Alur di tengah pandemi ini. Sampai kini belum ada satu pun mereka terjangkit virus Covid-19. Padahal dalam sehari bisa lebih dari 10 jenazah dimakamkan. Kalau rasa lelah melanda, mereka biasanya cukup mengatasinya dengan beristirahat agar tumbuh kembali bugar.

"Kami selalu bersyukur dan yakin apa yang dikerjakan baik bagi sesama," ujar Memet.

Cerita hampir serupa datang dari penggali kubur TPU Bambu Apus 2 (Bambu Wulung) Jakarta Timur. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Suara kasar mesin pompa terdengar dari kejauhan. Alat itu sedang menyedot genangan air dari liang lahat setelah diguyur hujan deras pada dini hari.

Sementara disudut lain TPU, terlihat sejumlah petugas sibuk mengecat papan nisan untuk jenazah pasien covid. Papan diberi kelir putih. Kemudian dijejerkan untuk nantinya dituliskan indentitas jenazah.

Setengah jam kemudian, satu mobil ambulans dari Dinas Pertamanan dan Perhutanan DKI Jakarta memasuki lokasi. Sebuah peti jenazah diangkut petugas dengan memakai hazmat. Mereka langsung menurunkan peti jenazah dari mobil untuk digotong ke lokasi liang lahat.

Tidak membutuhkan waktu lama proses penurunan peti jenazah ke dalam liang lahat. Para petugas menggunakan dua bilah balok dan ditahan dua utas tali tambang. Kemudian empat petugas langsung menurunkan peti tersebut. Lalu menggotong menuju lahan telah disiapkan.

Dari sisi tepian batas area petak makam, terlihat dua anggota keluarga jenazah Covid-19 berdiri. Mereka diperbolehkan melihat secara dekat prosesi pemakaman. Sedangkan anggota keluarga lain menunggu jauh dekat pintu masuk TPU.

Selama proses berjalanya pemakaman terasa sepi. Hanya suara isakan tangis keluarga samar-sama terdengar. Setelah jenazah dimasukan ke liang lahat, petugas pun mempersilakan salah satu anggota keluarga untuk memberikan azan terakhir kepada keluarga yang meninggal.

Setelah kumandang azan selesai, petugas kembali mengizinkan satu anggota keluarga mengisi tanah pertama di liang lahat dengan langsung dilanjutkan urukan tanah dari petugas menutup liang lahat. Proses tersebut tidak berlangsung lama. Sekitar 20 menit prosesi pemakaman sudah selesai.

Usai menguburkan jenazah, salah satu petugas yang membawa alat cairan disinfektan langsung menyemprotkan ke petugas penguburan maupun keluarga korban yang ikut mendekat ke lokasi jenazah. Apabila seluruh proses telah selesai, keluarga lain baru diizinkan mendekat ke lokasi kuburan untuk memberikan doa dan taburan kembang secara bergantian.

"Kita selalu sedih ketika melihat jenazah covid-19 dimakamkan dan mendengar azan dari keluarga di depan makam. Semua terasa sepi. Berbeda ketika memakamkan jenazah biasa," ujar Nalih kepada merdeka.com pada 17 Februari 2021 lalu.

Sampai malam para penggali terus bekerja. Sekitar pukul 7 malam, jenazah dengan protokol Covid-19 terakhir pun dimakamkan. Memakai penerangan lampu tembak, itu menjadi jenazah ke-27 sepanjang hari itu. Total sudah 988 petak makam dipakai di sana dari total ketersediaan 1.200 petak dengan luas lahan 5.000 meter persegi.

Hingga awal Februari 2021, total sudah 13 ribu lebih jenazah dimakamkan dengan protap Covid-19 di DKI Jakarta. Sedangkan 4.379 di antaranya sudah terkonfirmasi meninggal akibat Covid-19.

Sejauh ini DKI Jakarta menetapkan lima lokasi pemakaman jenazah dengan protokol Covid-19. Di antaranya, TPU Tegal Alur Jakarta Barat, TPU Bambu Apus 2 (Bambu Wulung) Jakarta Timur, TPU Srengseng Sawah 2 Jakarta Selatan, Ruang Terbuka hijau (RTH) Kramat Tiga di Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan RTH Jakan Raya Pondok Gede atau Dukuh II di Kramat Jati, Jakarta Timur.

Jalan Panjang Sopir Ambulans

Pagi hari, ponsel Ahmad sudah berdering. Di ujung sambungan, atasannya memberi perintah. Dia diminta menjemput jenazah Covid-19 di sebuah rumah sakit wilayah Jakarta. Tanpa menunda, mobil ambulans segera dihidupkan. Tak lupa alat pelindung selalu dipakai. Memakai hazmat dan masker, dia tancap gas menuju lokasi sesuai arahan.

Setiba di rumah sakit, para petugas membantunya menggotong peti jenazah. Memasukkan ke dalam ambulans. Dokumen pun diserahkan. Tak butuh waktu lama, Ahmad segera menuju tempat pemakaman. Kali ini lokasi dituju adalah TPU Bambu Apus bilangan Jakarta Timur.

Ambulans pun tiba. Kedatangan Ahmad disambut para penggali. Mereka bergegas membantu menurunkan peti untuk segera dimakamkan. Ketika semua beres dan dokumen diserahkan ke pengelola makam, dia pun kembali menjemput peti jenazah korban Covid-19 di rumah sakit berbeda.

pemakaman jenazah pasien covid 19 di bambu apus

Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19 di Bambu Apus ©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Menjelang siang, waktu Ahmad agak sedikit lengang. Kami berjumpa ketika dia baru saja menurunkan jenazah Covid-19 ke-10 hari itu di TPU Bambu Apus. Harus diakui pekerjaannya ini penuh risiko besar tertular. Meski begitu, dia yakin segala protokol diterapkan membuatnya terjaga.

"Sekarang sudah biasa. Yang penting kita selalu menjaga," ujar Ahmad kepada merdeka.com.

Selama pandemi sistem kerja para sopir ambulans memang agak berbeda. Semua dikerjakan lebih. Tidak jarang hingga malam masih saja harus menjemput jenazah Covid-19 untuk diantarkan ke makam. Biasanya Ahmad baru selesai dinas sampai pukul 10 malam.

Begitu juga dengan seorang sopir ambulans yang kami temui di TPU Tegal Alur. Sebut saja namanya Junaidi. Bekerja sebagai sopir ambulans memang penuh tantangan. Mereka harus rela berkorban atas nama kemanusiaan.

Pernah suatu waktu Junaidi mengantar 100 lebuh jenazah dengan protokol Covid-19 dalam sebulan di Januari. Tentu itu jumlah terbanyak dia rasakan. Walaupun berat, semua tetap dijalani. "Sebenarnya sudah lelah banget," kata Junaidi mengungkapkan perasaannya kepada kami.

Secara pola kerja, antara Ahmad dan Junaidi tidak ada perbedaan. Sebagai sopir ambulans, mereka harus siap terima panggilan. Menjemput jenazah untuk segera dikuburkan.

Para sopir ambulans memang menjadi salah satu garda terdepan. Peran mereka penting untuk membantu memangkas rantai penyebaran virus Covid-19. Terkadang rasa sedih juga dirasakan. Mereka kasihan para jenazah Covid-19 ini dikubur dalam suasana sepi. "Yang paling penting kita mengerjakan ini dengan ikhlas," kata Junaidi mengungkapkan.

infografis setahun pandemi covid 19

Sulit Mengendalikan Kematian

Kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia per 28 Februari 2021 bertambah 185 kasus kematian. Total kini 36.166 orang dinyatakan meninggal akibat Covid-19.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, pernah mengakui bahwa melonjaknya kasus kematian Covid-19 menunjukkan Indonesia belum berhasil mengendalikan angka mortalitas yang disebabkan virus SARS-CoV-2 asal Wuhan, China itu.

"Artinya, kita masih belum berhasil mengendalikan kematian (Covid-19) di tingkat nasional," ucap dia pada awal Februari 2021.

Wiku menjelaskan, catatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19, angka kematian di Indonesia didominasi kelompok umur di atas 59 tahun. Persentasenya mencapai 47,1 persen.

Menurutnya kondisi ini menggambarkan bahwa upaya menekan angka kematian harus dilakukan dengan meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit. Utamanya kepada kelompok lansia. Ini dikarenakan kondisi lansia cenderung memiliki daya tahan tubuh lebih rendah.

"Bahkan penyakit komorbid dimilikinya dapat memperparah kondisi tubuh saat terinfeksi Covid-19," ujarnya.

Meski demikian, Wiku mengingatkan kematian Covid-19 tidak hanya bisa menimpa lansia dengan komorbid. Orang tanpa komorbid yang tidak mendapatkan penanganan dini saat terinfeksi Covid-19 juga bisa meninggal dunia.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa kematian akibat Covid-19 tidak hanya terjadi pada mereka yang memiliki komorbid. Bahkan ini bisa terjadi pada siapa saja, terutama pada mereka yang terlambat mencari pertolongan. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini