Jakarta Sesak Dalam Kepadatan

Senin, 1 Februari 2021 10:57 Reporter : Wilfridus Setu Embu, Ronald
Jakarta Sesak Dalam Kepadatan Kepadatan penduduk Jakarta. ©2016 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Deru sepeda motor menarik perhatian sekumpulan warga asyik bercengkrama di gang selebar 1,5 meter. Mereka bergegas bangun. Kemudian menggeser kursi untuk menyingkir sejenak memberi jalan. Mengucapkan kata "permisi" dan "maaf", kendaraan roda dua itu melaju di antara kumpulan warga. Obrolan pagi mereka memang sedikit terganggu. Tapi tidak ada rasa amarah, melainkan balasan senyum merekah.

Perkampungan itu begitu padat. Lokasinya berada di wilayah barat Jakarta. Jalan gang hanya cukup dilalui satu motor. Bila berpapasan maka pengendara harus bergantian menunggu giliran. Jangan berharap bisa melaju di atas 40Km/jam. Kemungkinan besar bisa jadi sasaran amukan warga.

Kurang lebih begitu gambaran kampung paling padat di DKI Jakarta. Namanya Kalianyar. Begitulah nama Kelurahan di sisi Banjir Kanal Barat itu. Secara administrasi masuk dalam wilayah Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

jalan gang di jakarta

Jalan Gang di Jakarta ©2021 Merdeka.com

Memasuki perkampungan itu, seketika kami disambut deretan rumah beraneka warna. Tembok-temboknya menjulang. Ukurannya tak begitu luas. Satu rumah rata-rata dua lantai bahkan lebih. Tak jarang tiap lantai diisi keluarga yang berbeda. Bahkan tak ada jarak antara rumah satu dengan lainnya. Begitu juga dengan jalan yang membentang di depannya. Sebagian rumah memang bibir pintunya langsung berciuman dengan jalan.

Jalan gang di Kalianyar memang tak begitu luas. Selain menjadi penghubung, jalan gang itu tempat masyarakat beraktivitas. Sebagian menjadi tempat usaha, seperti warung rokok dan warung makan. Ada juga warga memanfaatkan sebagai area parkir kendaraan. Beberapa bagian jalan malah tak dapat ditembus sinar matahari lantaran terhalang atap warung maupun rumah.

Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, per 31 Juni 2020, luas lahan DKI Jakarta sebesar 662.33 km2. Dengan total sebanyak 11.105.309 jiwa. Adapun tingkat kepadatan mencapai 16.767 jiwa per kilometer.

Kelurahan Kalianyar menduduki posisi puncak wilayah paling padat di DKI Jakarta dengan tingkat kepadatan mencapai 95.191 jiwa per km2. Tercatat ada 52.230 jiwa yang mendiami 2,29 km2 luas lahan kelurahan tersebut. Angka kepadatan ini sekitar 5 kali lipat angka kepadatan DKI Jakarta.

Kepadatan di Kalianyar memang tampak nyata. Ini bisa dilihat dari sebuah rumah berukuran 3x3 meter persegi dan memiliki tiga lantai, bisa dihuni 15-20 jiwa. Tiap lantai memiliki kepala keluarga. "Bayangkan kepadatannya," kata Lurah Kalianyar Daniel Azka Alfarobi saat ditemui merdeka.com di kantor, Jumat pekan lalu.

Tingkat kepadatan di Kalianyar tidak terjadi sekejap. Ada cerita panjang terjalin dari dulu hingga kini. Tiap perkembangan wilayah tersebut samar-samar terekam di benak Slamet, salah seorang tetua di Kalianyar. Pria kelahiran tahun 1965, itu mengaku merupakan generasi kedua yang menempati Kalianyar.

Slamet dan keluarga diboyong sang Ayah. Kapan persisnya waktu kepindahan mereka sekeluarga tidak diingat persis. Namun yang pasti, kala itu Kalianyar masih berupa rawa dengan jumlah penduduk masih jarang. Antara rumah satu dengan lainnya cukup berjauhan. Tiap rumah bahkan masih memiliki halaman. Tanah kosong pun masih luas. "Contohnya dari rumah saya, baru ada rumah lagi jaraknya bisa 15 meter. Sekarang terasa sesak banyak orang dan rumah" kata Slamet kepada merdeka.com.

Seiring perkembangan zaman, Slamet merasakan betul geliat pembangunan di Kalianyar. Menyaksikan perkampungan tersebut berubah dan kian ramai penduduknya. Dia melihat bagaimana jalan-jalan tanah tempat bermain menjelma jalan aspal. Pun tiap rumah sederhana berubah bangunan tembok, lalu tinggi menjulang.

Sebagai tetua di wilayah itu, dia merasakan perubahan perilaku dari bepergian dengan menggunakan obor sebagai penerang hingga kini Kalianyar diterangi listrik. Bahkan sekitar tahun 1970an, mulai dibangun jalan dan rumah-rumah marak dibangun. "Memang enggak langsung pesat. Sekitar 1980-an barulah orang-orang mulai ramai," ujar dia.

Harus diakui wilayah Kalianyar memang menarik para pendatang. Azka selaku lurah, mengungkapkan alasan utama wilayahnya ramai lantaran lokasinya dekat dengan pusat pemerintahan Ibu Kota. Dia menuturkan, jika ditarik garis lurus, maka jarak Kalianyar dengan Istana Merdeka dan Balai Kota Cuma berjarak 5 km.

Kedua, lanjut dia, selama ini Kalianyar merupakan salah satu daerah aman dari banjir. Meskipun letaknya yang persis berada di sisi Banjir Kanal Barat. Hal ini juga menarik orang datang. Tidak saja untuk tinggal, melainkan juga untuk menjalankan bisnis.

"Kalau di sini orang berlomba-lomba buka usaha konveksinya. Kata orang, secara feng shui bagus. Bentuk kepala naga ada," ungkap dia. Walau menarik bagi sektor usaha, kepadatan di Kalianyar juga memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya terkait dengan rentannya wilayah tersebut terhadap konflik sosial.

infografis kepadatan jakarta

Infografis kepadatan Jakarta ©2021 Merdeka.com

Baca Selanjutnya: Tanah Rawa Berubah Gedung...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini