Ibu Aman di Tangan Bidan

Senin, 18 November 2019 08:36 Reporter : Anisyah Al Faqir
Ibu Aman di Tangan Bidan Bidan Dwi Yuniarti. ©2019 Merdeka.com/ Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Setelan baju olah raga masih menempel di badan Dwi Yuniarti. Tak sempat dirinya mengganti pakaian. Pagi itu waktu terasa sempit. Sederet pasien sudah antre mengular di depan ruang pemeriksaan Puskesmas Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Menunggu dapat giliran alat reproduksi mereka diperiksa.

Gedung berlantai empat itu ramai hilir mudik orang. Semua tampak sibuk dengan segala aktivitasnya. Termasuk kepada Dwi. Sebagai bidan senior, dirinya mendapat tugas khusus melakukan pemeriksaan kepada para calon pengantin.

Selain pemeriksaan, wanita ini juga memberikan edukasi mengenai kesehatan alat reproduksi. Terutama agar terbebas dari penyakit menular seksual sebelum melangsungkan pernikahan. Semua tahap wajib diikuti para pasien. Sebagai salah satu syarat untuk mendapat Sertifikat Layak Kawin dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Bidan Dwi Yuniarti©2019 Merdeka.com/ Anisyah Al Faqir

Upaya menjaga kesehatan pra nikah tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 185 Tahun 2017 tentang Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Bagi Calon Pengantin. Para calon pengantin biasanya melakukan sebulan jelang pernikahan.

Sertifikat Layak Kawin bisa didapatkan dengan melakukan pemeriksaan di Puskesmas Kecamatan maupun Rumah Sakit negeri maupun swasta. Bagi pasangan pemiliki KTP DKI Jakarta, pemeriksaan semacam itu tidak dipungut biaya. Sedangkan bagi penduduk luar Jakarta dikenakan biaya sekitar Rp 90 ribu.

Melakoni tugas sebagai bidan bukan profesi mudah bagi Dwi. Tanggung jawab besar, meski tidak seperti dokter. Menjadi bidan di DKI Jakarta, dirinya mengurus para pasangan dari pra nikah hingga melahirkan. Masih sering Dwi diminta membantu persalinan para ibu.

Bertahun-tahun menjalani tugas bidan, Dwi banyak menjalani masa sulit. Mengawali karir sejak tahun 1997, ketika itu profesi bidan masih sulit diterima masyarakat. Sekalipun berlokasi di Ibukota, Dwi harus berhadapan dengan dukun beranak.

Usianya saat itu masih 20 tahun. Baru menyelesaikan studi D1 Kebidanan di Rumah Sakit Persahabatan Depkes RI. Dunia kesehatan bukan hal baru bagi Dwi. Sejak di tingkat menengah atas, dia sudah mengenyam pendidikan di sekolah kesehatan. Setahun lulus kuliah, Dwi Bertugas sebagai bidan dengan status Pegawai Tidak Tetap di Kelurahan Kapuk Muara, Jakarta Utara.

Menjadi bidan di akhir tahun 90an, banyak warga ibu kota masih melahirkan menggunakan jasa dukun beranak. Setidaknya ada delapan dukun beranak di Kelurahan Kapuk Muara tempatnya bertugas. Peran dia ketika itu ikut memastikan para ibu melahirkan dengan selamat bila dibantu para dukun beranak.

Sejak pertama kali bertugas, Dwi sudah diperkenalkan para bidan senior kepada para dukun beranak. Saat itu memang ada perkumpulan dukun beranak yang digagas pemerintah lewat Puskesmas Kecamatan.

Fungsi bidan ketika itu memberikan berbagai edukasi tentang persalinan. Mereka diperbolehkan membantu persalinan ibu hamil dengan didampingi tenaga kesehatan. Para dukun beranak juga diminta melapor kepada bidan desa untuk keperluan pendataan.

Banyak cara dilakukan agar tak dijadikan musuh para dukun beranak. Tudingan bahwa kehadiran bidan mengambil lahan rezeki menjadi momok. Dwi harus melakukan pendekatan personal agar diterima para dukun beranak ini. Salah satunya mendampingi dukun beranak ketika melakukan persalinan kepada seorang ibu.

"Uangnya tetap untuk mereka. Saya hanya menemani saja," kata Dwi bercerita kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Melakukan pendekatan personal juga bukan perkara mudah. Apalagi saat itu usianya baru 20 tahun. Belum pernah menikah apalagi melahirkan. Kondisi ini sangat sensitif bagi dukun beranak karena Dwi dianggap belum berpengalaman.

Beragam mitos berkembang kepada ibu yang sudah melahirkan juga menjadi tantangan sendiri. Mulai dari pengobatan menggunakan kopi, tidak menjahit luka setelah persalinan, sampai ibu dilarang keluar rumah selama 40 hari setelah melahirkan agar bayi tidak sawan.

Ragam masalah ini membuat Dwi harus putar otak. Mencoba memberikan edukasi tentang kesehatan di kalangan masyarakat bawah. Caranya pun harus hati-hati. Setelah mendapatkan kepercayaan dari para dukun beranak, pelan-pelan mereka diedukasi.

Perlahan mitos itu mulai dipatahkan. Bekerja sama dengan dukun beranak, Dwi meminta mereka menemani ibu dan bayinya untuk melakukan kontrol kesehatan ke puskesmas atau klinik terdekat. "Dukun itu tetap kita baik-baikin, kita deketin agar jangan mereka merasa tersaingi," ungkap Dwi.

1 dari 2 halaman

Dedikasi Profesi Bidan

Pada tahun 2001 Dwi tak lagi menjadi bidan dengan status Pegawai Tidak Tetap. Dia menjadi bidan volunteer di Puskesmas Kelurahan Kapuk Muara sampai tahun 2008. Upah diterima ketika itu rata-rata Rp 75 ribu.

Tahun 2002 sampai 2005, Dwi kembali melanjutkan sekolah D3 di Akademi Kebidanan Budi Kemuliaan. Kuliah dijalani tiap akhir pekan sepulang kerja di Puskesmas.

Setelah lulus, di tahun 2008 dia memberanikan diri buka praktik mandiri. Berlokasi di kantor RW 05 Kelurahan Kapuk dengan sistem sewa tempat. Kondisi itu, justru dirinya menghadapi tantangan baru. Banjir di kawasan Kapuk Muara membuat Dwi harus berjuang ekstra keras.

Meski banjir sampai setinggi atap rumah, Dwi tetap berada di tempat dia bekerja. Bahkan tak jarang dia keliling rumah warga menggunakan perahu karet demi memastikan keberadaan ibu hamil dan warganya. Semua dihadapi karena berpegang pada nasihat orang tua yang menjadi suntikan semangat.

Tak puas dengan ijazah D3, Dwi kembali melanjutkan kuliah di tahun 2012. Pendidikan D4 ditempuhnya selama satu tahun di STIKES Abdi Nusantara. Sederet gelar dan pengabdiannya selama 22 tahun tak langkahnya mulus untuk jadi abdi negara. Sampai saat ini dia masih berstatus bidan honorer di Puskesmas Penjaringan.

"Sampai sekarang saya masih honorer," ungkap wanita 42 tahun itu.

Polemik pengangkatan bidan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) masih belum menemui titik terang. Bahkan di tahun 2016 ribuan bidan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka. Dalam aksinya mereka menuntut penganggkatan bidan PTT menjadi PNS.

Tahun 2017 Badan Kepegawaian Negara (BKN) sempat melempar wacana agar profesi bidan dan guru tidak perlu berstatus PNS. Cukup dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Alasannya banyak dari mereka bila sudah berstatus mengajukan mutasi. Tak lagi mau mengabdi di pedalaman.

Serangkaian test bagi para bidan pun dibuat. Pengangkatan bidan PTT harus melewati tahapan CPNS sebagaimana amanat UU Nomor 5/2014 tentang ASN.

Baru pada tahun 2018, pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) 25/2018 tentang pengangkatan tenaga kesehatan PTT (pegawai tidak tetap) menjadi PNS. Ada 4000-an tenaga kesehatan diangkat jadi PNS. Itu merupakan sisa dari pengangkatan sebelumnya yakni dari 42 ribu yang mengajukan, hanya 39 ribu yang diangkat PNS.

Kegagalan mereka lantaran sudah berusia di atas 35 tahun. Lewat Keppres ini, mereka akhirnya bisa menjadi PNS.

Tahun ini, pemerintah kembali membuka proses penerimaan CPNS. BKN memastikan ada 140 ribu formasi akan dikhususkan untuk guru, tenaga kesehatan dan tenaga teknis. Khusus untuk tenaga kesehatan, bidan, dokter, dokter gigi dan perawat pemerintah menyiapkan 31 ribuan formasi untuk seluruh Indonesia.

2 dari 2 halaman

Terobosan Kipas Kirana

Sampai saat ini, Dwi menjadi bidan honorer di Rumah Bersalin Puskesmas Kecamatan Penjaringan. Belasan tahun berhadapan dengan masyarakat tak membuat Dwi lelah. Sebaliknya dia justru menjadi kritis.

Selama bertugas menjadi bidan, dia menyayangkan program yang ada sebatas ibu melahirkan bayi dengan selamat. Padahal, masalah belum selesai sampai di situ.

Dalam catatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Kecamatan Penjaringan pada tahun 2015, terdapat seorang ibu meninggal pasca melahirkan. Kemudian pada tahun 2016 tercatat dua orang ibu meninggal setelah melahirkan.

Selanjutnya, di tahun 2017 kembali dua orang ibu harus meninggal setelah melahirkan anaknya. Penyebab kematiannya dikarenakan mengalami eklampsia dan jantung.

Kondisi ini membuat Dwi tergerak membuat program Kipas Rencana Kunjungan Anda (Kirana). Sebuah program ajakan kepada para ibu pascamelahirkan untuk melakukan kontrol kesehatan secara rutin. Bentuk program ini melahirkan Kipas Kirana dan stiker Kencana.

Dwi sengaja menggunakan kata 'Kencana' sebagai makna seorang ibu layaknya sebuah emas berharga yang perlu dijaga. Berharga karena dia sangat dibutuhkan suami, anak dan keluarganya. Sama dengan seorang anak yang dinantikan kehadirannya dalam sebuah rumah tangga.

"Saya setiap penyuluhan ke ibu-ibu mengingatkan kalau kita tidak memperhatikan diri kita sendiri siapa lagi yang mau memperhatikan," ungkap Dwi.

Sebagai ibu dari empat orang anak, dia sudah merasakan suka duka mengurus rumah tangga. Apalagi dia juga bekerja sebagai bidan yang tak kenal jam kerja. Bila sakit, sudah tentu semua anggota keluarga ikut repot.

Berbeda bila anak atau suaminya sedang sakit. Semua urusan rumah tangga masih bisa terkendali. Semua karena pentingnya peran ibu.

Kondisi ini lumrah terjadi di masyarakat. Banyak keluarga juga mengalami kondisi serupa. Pikirannya selalu tertuju kepada anak dan keluarga. Sehingga bila seorang ibu tidak sehat maka timbul pertanyaan, "Bagaimana bisa keluarga berkualitas?"

Dwi ingin para ibu peduli akan kesehatan diri sendiri. Program Kirana ini dikhususkan untuk ibu hamil yang memasuki trisemester ketiga. Sehingga pentingnya penyuluhan mulai dari persiapan sampai pascamelahirkan.

Bahkan sampai pemilihan alat kontrasepsi setelah melahirkan dan tanda bahaya selama masa nifas. Pentingnya kunjungan nifas yang jadi program Kirana.

Sepanjang pengalaman penyuluhan, Dwi menyebut masih banyak warga Penjaringan yang memercayai mitos. Mereka juga baru mengetahui cara menyimpan ASI bagi ibu pekerja. Tak hanya itu, dia menemukan masalah minimnya kunjungan ibu di masa nifas karena banyak faktor. Mulai dari lupa tanggal kontrol sampai dukungan keluarga dan lingkungan yang kurang.

"Kalau tanggal kontrol cuma ditulis di buku ternyata suka lupa karena buku itu disimpan di lemari," ujar dia.

Untuk itu stiker Kencana hadir. Jadwal kunjungan ibu pascamelahirkan dibuat dalam bentuk stiker dan wajib ditempel di pintu masuk rumah sebagai pengingat.

Di dalam stiker tersebut juga terdapat tiga warna yang menggambarkan kondisi ibu melahirkan. Warna hijau bermakna ibu dan bayi sehat saat melahirkan. Warna kuning bermakna ada hal yang perlu jadi perhatian. Warna merah bermakna ibu dan bayi sangat perlu perhatian.

Sementara Kipas Kirana merupakan sebuah kipas berisi informasi tentang pentingnya kunjungan di masa nifas. Kipas berbentuk hati dan berwarna pink ini juga memuat berbagai informasi kesehatan lainnya. Sengaja dibuat unik agar menjadi daya pikat.

Dedikasinya sebagai bidan untuk warga Penjaringan menghadirkan suasana lingkungan sekitar yang humanis dan humoris. Dua puluh tahun mengabdi di Utara Jakarta membuat dirinya kini dikenal dengan baik oleh warga. Empat dukun beranak kini tersisa di Penjaringan. Mereka menjalin hubungan simbiosis mutualisme, saling bertukar informasi tentang kesehatan warga di Penjaringan. Ikuti cerita #AksiHidupBaik lainnya di akun Youtube dan Instagram @Ibu.Ibukota.

[ang]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini