Hewan di Alam Punah Perlahan

Senin, 15 Juli 2019 10:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Hewan di Alam Punah Perlahan

Merdeka.com - Sejumlah ular liar masuk ke pemukiman warga. Tepatnya di Bibis Wetan, Kecamatan Banjarsari, Solo, April lalu. Hewan mematikan itu masuk ke pemukiman warga pascabanjir melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Seekor ular piton sepanjang 2,5 meter berhasil ditangkap seorang warga bernama Tri. Ditemukan sekitar jam 10 pagi. Dia melihat kepala ular piton muncul di air sedang menggenang rumahnya di dekat Kali Anyar.

Tidak terlalu sulit bagi Tri menangkapnya. Dia paham betul bahwa saat itu sedang masa ganti kulit. Sehingga ular menjadi pasif.

Ada dugaan banyak ular keluar lantaran sarangnya terendam banjir. Sehingga mereka menyelamatkan diri dan masuk ke pemukiman warga. "Kemungkinan memang karena banjir makanya muncul dari sarang," tutur Tri.

Di waktu bersamaan, warga Tipes, Serengan, juga menemukan ular sejenis. Itu ditemukan Abdullah sedang melilit di dahan pohon dekat jembatan Ngeruki. Warga setempat kemudian datang berduyun-duyun. Ingin menyaksikan dari dekat. Kemungkinan warga mengetahui dari informasi berantai antar warga.

Fenomena ular masuk pemukiman warga bukan hal baru. Beberapa jenis ular kerap masuk ke pemukiman warga, di antaranya cobra, weling dan ular hijau. Bahkan berbagai jenis ular ini juga banyak ditemukan di tengah kota.

Komunitas Sioux Indonesia beberapa kali menemukan ular jenis kobra dan piton di perumahan. Seperti di komplek kawasan Cibubur, BSD-Tanggerang dan Jakarta Barat. Ular ini diduga bergerak dari rawa atau kebun lalu melewati selokan hingga sampai ke pemukiman warga.

Ketua Yayasan Sioux Indonesia Aji Rachmat menyebut, dua penyebab ular masuk pemukiman warga untuk mencari makan dan berlindung karena habitatnya terganggu. Bila di habitat aslinya tak lagi menemukan mangsa, perlahan akan mencari ke beberapa daerah lain.

Misalnya, kata Aji, bila tikus di sawah sudah tidak ditemukan maka pemukiman warga jadi tujuannya. Baik mencari tikus atau jenis makanan lainnya. Namun, belakangan masuknya ular ke pemukiman bukan soal makanan. Melainkan habitatnya terganggu.

Perubahan perilaku para ular liar ini juga dipengaruhi kondisi alam. Apalagi saat ini dunia tengah mengalami perubahan ekstrem akibat dari pemanasan global.

Reptil merupakan jenis hewan sensitif terhadap perubahan alam. Perubahan cuaca atau musim berpengaruh terhadap perilaku. Termasuk kepada ular. Biasanya ular kawin di bulan Januari-Februari atau Agustus-September. Fase ini bisa berubah jika habitatnya mengalami gangguan.

Musim penghujan panjang membuat ular enggan keluar mencari pasangan. Mereka juga akan kesulitan saat mengerami telur di dalam tanah. Sebab, kemungkinan sarangnya terendam air dan mengganggu masa pengeraman telur. Apalagi jenis kelamin ular juga dipengaruhi suhu. Semakin hangat suhu telur saat pengeraman, kemungkinan ular menjadi jantan semakin besar. Begitu pun sebaliknya. Semakin rendah suhu, ular menetas akan jadi betina.

"Jadi perubahan cuaca ekstrem ini pengaruh kepada proses reproduksi," kata Aji kepada merdeka.com.

Sebagai hewan berdarah dingin, ular tak bisa menghasilkan panas tubuh sendiri. Kondisi habitat ular menentukan tempat dia berada. Misalnya di pagi hari saat tubuhnya terasa dingin, dia akan keluar dari sarang. Mencari sinar matahari demi menghangatkan diri. Begitu dirasa cukup maka segera kembali ke sarang.

Sebagai hewan poikiloterm (berdarah dingin) ular juga tidak perlu mencari makan setiap hari. Waktu makan tiap jenis ular pun berbeda. Setidaknya dalam satu minggu mereka akan berburu mangsa satu kali. Bahkan ular jenis piton dengan ukuran raksasa makan tiap dua bulan sekali.

Ilustrasi Penemuan Ular 2018 Merdeka.com/Aksara Bebey

Kondisi itu akan jauh berbeda dengan ular peliharaan. Sebab, hewan yang hidup dengan manusia telah mengalami proses adaptasi. Insting alamiah ular peliharaan sudah mulai berkurang. Dia juga memiliki toleransi tinggi akan suhu ruangan. Sehingga sensitifitasnya berkurang dan cenderung lebih jinak.

Apalagi ular peliharaan tidak perlu mencari makan sendiri. Sang majikan akan memberikan makan secara berkala. Begitu juga dengan musim kawin. Musim kawin ular tidak terlalu dipengaruhi musim lantaran tidak perlu mencari pasangan sendiri. Proses kawin akan berlangsung kapan saja selama majikan memberikan pasangannya.

Siklus Hidup Terganggu

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cahyo Rahmadi, menuturkan dampak perubahan iklim ekstrem sangat memengaruhi siklus hidup hewan. Tak hanya reptil, beberapa hewan lain juga bernasib sama. Perubahan siklus hewan ini akan berdampak pada ekosistem di lingkungannya.

Dampak paling buruk bahkan menyebabkan kepunahan pada hewan. Menghangatnya suhu bumi secara langsung akan mengubah ekosistem di suatu wilayah.

Beberapa kajian LIPI dari banyak spesies hewan tertentu ditemukan di ketinggian 1000 kaki. Namun, dalam beberapa tahun kemudian hewan itu baru ditemukan di tempat yang lebih tinggi. Contohnya lalat penggorok daun atau liriomyza sativae.

"Hasil kajian LIPI terkait lalat penggorok daun sebelumnya hanya diketahui di daerah dataran rendah, saat ini ditemukan di dataran tinggi," kata Cahyo kepada merdeka.com

Ketika suhu di dataran tinggi lebih panas, hewan itu akan menyesuaikan diri. Bila proses adaptasi gagal, akan ada dua kemungkinan. Spesies itu pindah tempat atau punah lantaran gagal beradaptasi.

Bukan cuma di daratan, dampak pemanasan global membuat suhu air laut menghangat. Keberadaan terumbu karang pun terancam. Terjadi pemutihan karang (coral bleaching). Pemutihan karang pernah terjadi pada tahun 1980-1990. Namun, pemutihan karang secara global terjadi sejak tahun 2014-2017.

Pemutihan karang akan berujung pada kematian karang. Lalu, ribuan spesies di laut akan kehilangan sumber makanan. Termasuk manusia yang memanfaatkan terumbu karang untuk sumber penghasilan. Bahkan terumbu karang melindungi garis pantai dan badai.

Tak menentunya musim penghujan dan kemarau juga mengganggu spesies serangga penyerbuk. Perubahan pola curah hujan menyebabkan pola tumbuhnya bunga berubah. Sehingga serangga penyerbuk akan mengalami kendala sumber pakan.

"Ini juga berdampak pada konsumsi tanaman pertanian untuk perkebunan. Nanti dia bisa semakin luas dampaknya ke tumbuhan misalnya ke penyakit tumbuhan," Cahyo menjelaskan.

Hutan Kalimantan AFP PHOTO/Bay Ismoyo

Dia melanjutkan, hasil kajian WWF Indonesia mengungkapkan perubahan iklim ekstrem mengakibatkan hilangnya hutan primer, rumah bagi Orangutan. Hewan bernama ilmiah pongo pygameus kehilangan habitatnya pada tahun 1997-1998 akibat kebakaran hutan sebagai dampak dari El-Nino. Hasilnya, terjadi perubahan perilaku Orangutan. Mulai dari perubahan pola makan, migrasi, reproduksi dan populasi.

Ketua Greenpeace Indonesia, Leo Simanjuntak, menyebut perubahan iklim bisa mengakibatkan kebakaran hutan. Hal itu dipicu dengan memanasnya suhu bumi. Imbasnya, habitat hewan berkurang. Kondisi ini diperparah dengan adanya alih fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan atau perumahan.

Leo menjelaskan, konversi lahan yang dilakukan manusia mengakibatkan terjadinya perubahan iklim secara natural. Disadari atau tidak, perubahan iklim bermuara tidak bijaknya manusia dalam mengelola alam. Misalnya alih fungsi lahan mengakibatkan pelepasan emisi karbon meningkat sementara pohon penyerapannya berkurang. Sehingga pemanasan global terjadi akibat dari efek rumah kaca.

Berkurangnya habitat hewan sangat mungkin dapat membunuh dan mengurangi populasi hewan. Dalam catatannya sudah banyak pengurangan lahan hutan tropis sepanjang 15 tahun terakhir. Tak hanya orangutan, keberadaan gajah dan harimau sumatera sudah menuju kepunahan. Jumlahnya kini tinggal ratusan. "Semua hal ini terkait dan sistemik," kata Leo.

Dia melanjutkan, habitat hewan Sumatera sudah hilang. Daratan rendahnya sudah hilang. Hanya tinggal kantong-kantong kecil. Sementara di Kalimantan lebih baik namun nasibnya menuju sama dengan Sumatera. Sebab, paru-paru dunia perlahan dikonversi jadi perkebunan kelapa sawit, perkebunan hingga tambang.

Perubahan iklim juga otomatis berkurangnya hutan secara drastis. Akibatnya pemanasan global tak terhindarkan. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengingatkan semua orang di dunia untuk menjaga suhu bumi agar tidak sampai naik 1,5 derajat celsius.

"Sains-nya bilang bahwa menahan 1,5 derajat itu sebenarnya harus dilakukan saat ini sampai tahun 2030, supaya pada tahun 2050, suhu bumi tidak memanas sampai 1,5 derajat," kata Leo mengakhiri. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini