Geopolitik agama sekuler

Senin, 30 Mei 2016 10:37 Penulis : Christianto Wibisono
Geopolitik agama sekuler daftar survei agama internasional. ©2016 pew research center
colom 2

Merdeka.com - Bersama Bung Karno kita ikut memantau KTT G-7 di Ice Shima, Mie Perfecture Jepang ketika Presiden Jokowi diundang memberikan posisi statemen oleh G7 secara resmi. Ini kinerja hokkie yang bahkan tidak dinikmati oleh Jenderal Besar Soeharto sebagai ketua Gerakan Non Blok 1993. Ketika itu Soeharto sudah sampai di Jepang tapi tidak dikabulkan rencana menyampaikan pidato padahal sudah pakai jabatan Ketua GNB.

PM Miyazawa menerima Soeharto dikediaman resmi di luar acara G-7. Padahal waktu itu Yitshak Rabin sudah rela sowan ke Cendana minta Soeharto jadi juru damai Israel Palestina. Rupanya hok gie geopolitik kurang cocok dengan Soeharto, tapi akrab dengan Jokowi. Sekarang malah Jokowi ketiban rezeki diundang berpidato di KTT G7.

CW: Bapak bisa jelaskan faktor hok gie ini dalam kaitan perkembangan geopolitik yang menyangkut kepentingan masa depan RI?

BK: Wah ini geopolitik memang seru sekali sebab KTT bisa berlangsung nyaris setiap hari setiap saat dimana saja diujung bumi manapun. Dan para pelaku dan peserta selalu punya kartu yang bagaikan poker harus disimpan dan disimak dengan saksama sebelum mengambil langkah baik untuk gertak sambel maupun untuk keluarkan gigi sejati yang konkret bisa mengalahkan lawan secara telak. Presiden Putin sudah bikin KTT dengan PM Shinzo Abe sebelum dia bikin KTT dengan ASEAN.

Semenatra Presiden Obama meneken perjanjian kemitraan komprehensif dengan Vietnam bahkan menjual alutsista pada bekas musuh yang di tahun 1975 baru mengusir sisa tentara AS terakhir dari bumi Saigon. Begitu mendengar Rosneft mengalahkan Aramco di Tuban, raja Abdullah mengutus Pangeran Alwaleed bin Talal untuk meyakinkan Jokowi bahwa Arab Saudi berminat bekerjasama dengan Indonesia di bidang energi. Arab Saudi memang baru saja mengumumkan rencana pembangunan besar-besaran sektor non migas untuk mengatasi penurunan harga minyak sebagai sumber devisa utama. Jadi sekarang ini para menteri terkait harus segera bisa memberi respons cepat dalam pergolakan geopolitik yang begitu tumpeng tindih dan saling menyalip di tikungan.

CW: Tapi kayaknya masalah dalam negeri tetap membelenggu Presiden dan elite politik seperti momok komunisme padahal di Amerika Latin, seluruh rezim kiri sedang bangkrut dan akan bergeser ke kanan seara drastis. Kok kita ketakutan terhadap hantu komunis secara histeris traumatis.

BK: Betul itu mengherankan karena komunisme dan ideologi kiri sekarang ini sedang defensif di Amerika Latin. Sejak Venezuela terpuruk ekonomi gara-gara politik Chavez yang tidak produktif dalam jangka panjang terlalu memanjakan populisme yang menjadi parasit jangka menengah panjang maka gelombang pasang anti komunisme melanda peta geopolitik Amerika Latin. Tiga Srikandi wanita

dengan ideologi kiri, Roussef dari Brazil, Kristina Argentna dan Bachelet dari Chili semuanya menghadapi resistensi karena ternyata korupsi itu bukan hanya monopoli kapitalisme tapi juga menjadi genetika elite sosialis komunis Marxis. Korupsi adalah penyakit VOC yang juga menghinggapi Marxis Leninis Maois yang bukan malaikat dan tergoda untuk menikmati produk kapitalis.

Sama dengan istri Mao yang menonton film Hollywood secara sembunyi sembunyi, elite rezim komunis di manapun terkenal dengan gaya hidup playboy dan konglomerat. Seperti Kim Jong Un yang bergaya hidup playboy tapi bisa sadis membunuh pamannya sendiri, dijadikan mangsa anjing galak di dasar sumur. Jadi kalau elite Indonesia yang anti komunis masih ketakutan dengan komunisme begitu pula yang anak cucu komunis masih percaya pada komunisme, tentu ini merupakan masalah kejiwaan karakter yang telanjur dicekokkan selama 50 tahun.

Barusan ada survei PEW Research Center tentang orientasi agama dalam nasionalisme. Nah Indonesia ternyata termasuk yang paling kental bernafas agama sampai 95% setara Uganda termasuk 3 besar setelah Ethiopia 98% dan Senegal 97% Selanjutnya Pakistan, Burkina Faso, Tanzania, Ghana, Nigeria, Philipina, Kenya, Malaysia, Jordania, India Palestina, Brazil, Afrika Selatan, Peru, Lebanon, Turki 56% dan AS 53%. Selanjutnya Venezuela, Mexico, Argentina, Israel, Vietnam, Chili, Canada, Italia, Ukraina, Jerman, Spanyol, Inggris, Rusia, Korea Selatan, Australia, Prancis 14%, Jepang 11% dan Tiongkok 3%.

Kalau membaca barchart PEW maka semakin tinggi persentase agamanya suatu negara semakin mendekati teokrasi absolut kurang toleran dan kurang pluralis. Mengherankan bahwa AS dan Turki seolah berada ditengah dari dua kutub spektrum paling kanan dengan bobot agama hampir mutlak 100% dari spekturn paling kiri dengan bobot sekuler yang hanya memberi agama peranan “minoritas” dalam kehidupan sekuler mereka.

CW: Wah survei PEW ini sangat kontroversial di tengah gelombang anti komunisme di kalangan aparatur negara yang masih terkungkung oleh pola piker 1965.

BK: Ya ini transformasi geopolitik peralihan paradigm God 0.0 Hindu, God 1.0 Yahudi (Taurat) God 2.0 Kristen Injil dan God.3.0 Islam Al Quran. Sebetulnya itu salah besar sebab God dan Tuhan tentu jauh lebih besar dari program Microsoft atau Words versi 1.0 dst. Tuhan itu hanya bisa digambarkan dengan Alpha Omega, Infiniti.Nol. Jadi kalau 1,2,3 itu kronologis dari manusia paling primitif terus semakin lama semakin modern, maka Tuhan itu sudah dari sononya merupakan asal muasal, akar rumput dan rahasia peradaban. Artinya Tuhan itu tidak mungkin dan tidak boleh dikerangkeng oleh manusia abad Taurat, abad Injil dan abad Al Quran.

Sebab Tuhan dan manusia di abad abad pra Copernicus, pra Gelileo itu adalah penganut geosentris Ptolemeus yang ketinggalan zaman. Tuhan kan tidak mungkin dan tidak boleh ketinggalan zaman harus mendahului zaman. Sebelum ada Flash Gordon ya sudah ada Tuhan dan sekarang setelah zaman Neil Armstrong mendarat di bulan, tetap saja Tuhan yang sama yang dulu dipercaya memimpin eksodus bani Israel keluar dari Mesir mengawal berkumpulnya diaspora Yahudi ke Timur Tengah dengan dampak perang berkepanjangan antara keturunan Ismail dan Ishak memperebutkan tanah perjanjian Kanaan Israel.

Nah semua itu adalah versi pra modern, pra heliosentris yang sudah using ketinggalan zaman. Seluruh umat manusia era Nabi Nuh ditenggelamkan diganti keturunan Nuh. Sekarang ini perlu semacam bahtera Nuh yang baru yaitu orang orang yang meninggalkan paradigma lama fanatisme agama membuta yang mengklaim diri sendiri sebagai Tuhan mau menjadi algojo menghakimi manusia lain karena berbeda agama. Jadi agama ini perlu di revolusi mental secara drastis. Ini kita akan masuk bidang teologi post modern, hibrida henotheisme dan rasio hukum karma golden rule yang universal Joyoboyo, akhrinya yang benar dan adil jujur yang menang bukan yang korup criminal dan berbuat kejahatan yang dimenangkan dengan bendera agama tertentu.

Tuhan post modern, tidak dimonopoli oleh Israel siapa pun. Israel sendiri sudah membuktikan kalau berdosa ya akan dihukum seperti banjir nabi Nuh dan Sodom Gomora yang dibakar serta bangsa yang dibuang ke Babilonia. Jadi kita harus kembali ke hukum Golden Rule Jer basuki mawa bea, crime does pay. Kalau ada anomaly crime doest not pay, kejahatan lolos tidak dihukum maka itu hanya sementara pasti akan dihukum oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam konreks itu maka manusia yang beradab dan maju akan menciptakan lembaga penegakan hukum untuk mewakili “Tuhan Infinite Nol“ itu secara efektif memelihara keadilan keamanan, ketertiban, kebenaran, kejujuran. Yang bersalah, berdosa, tentu harus dihukm dan tidak boleh dibiarkan lolos dari hukum yang layak setimpal dengan dosa pelakunya.

Tidak ada solidaritas korpsi, etnis, ras, kelas, agama yang membebaskan seseorang dari kejahatan dan dosa yang dilakukannya atas nama ideologi, dan entinas apapun. Pembunuh pemerkosa ya harus dihukum tidak bisa ditolerir dan dibiarkan atas nama balas dendam kebencian etnis, ras, agama, kelas.

Kalau nation state dunia yang disurvei oleh PEW akan bergeser kearah nilai fanatisme agama model Ethiopia Senegal dan ISIS, maka celakalah nasib manusia yang didominasi “absolutism agama primitive” Pelbagai KTT yang sekarang berlangsung dalam suasana sekuler itu tentu masih harus diingatkan bahwa

dunia masih dihuni oleh sebagian elite dan massa yang melihat agama dan manusia secara primitive dan yang memprimitifkan Tuhan secara sectarian, partisan dan kerdil.

Dalam konteks ini, maka jika Indonesia bisa membuktikan bahwa Islam itu bisa compatible dengan demokrasi, hak asasi dan anti korupsi serta maeritokrasi memajukan kesejahteraan bangsa secara konkret dalam pendapatan per kapita yang lebih merata dan meningkat kualitas hidupnya spiritual material, mental, fisik biologis dan etis maka itu berarti kita sudah membawa bangsa Indonesia ber transformasi dari Tuhan primitive.nol, 0.0 1.0.2.0 3.0 menjadi Tuhan Inifinite Nol. Tuhan yang sejak dulu sekarang dan selamanya lebih omnipoten dari manusia primitive masa lalu maupun manusia masa kini yang akan obsolete dalam satu dua tiga generasi mendatang. Itu akan merupakan bahan pembahasan yang lebih abstrak, sementara ini sekian dulu untuk diendapkan dan dicernakan.

CW: Terima kasih atas pencerahan yang tetap mengandung misteri yang tak terpeahkan sebab kita pasti tidak akan bisa memahami 100% kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa yang jauh lebih besar dari kapasitas kita sebagai manusia biasa. Sampai bertemu di hari kelahiran bapak yang ke 115 Senin 6 Juni 2016. [war]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini