LGBT di Indonesia 3

Gay di Jakarta bicara soal hubungan intim & penampilan metroseksual

Selasa, 9 Februari 2016 11:38 Reporter : Mohammad Yudha Prasetya
Gay di Jakarta bicara soal hubungan intim & penampilan metroseksual Ilustrasi LGBT. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Tak mudah jadi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Indonesia. Mereka harus menutup identitas dirinya erat-erat, jika tak ingin dicibir oleh masyarakat atau bahkan mendapat penentangan keras dari pihak-pihak terdekatnya.

Hal semacam ini diakui sendiri oleh seorang gay yang berhasil ditemui merdeka.com, bernama Adit. Sejak lulus SMA, Adit mengaku harus hidup mandiri dan keluar dari rumah, hanya karena dirinya tak ingin keluarganya tahu dan menanggung malu akan perbedaan yang dimilikinya dalam hal orientasi seksual sebagai seorang gay.

Sejak lulus SMA, atau ketika dirinya berumur 17 tahun, Adit mengaku ada hasrat yang selama ini dipendamnya terkait ketertarikan secara seksual kepada sesama lelaki. Insting dasar sebagai laki-laki yang berbeda dari laki-laki lainnya ini, sebenarnya sudah cukup lama ia rasakan sejak dirinya puber seperti anak muda seumurannya. Karena tak tahu harus bagaimana menghadapi hasrat seksualnya terhadap sesama laki-laki, Adit memutuskan untuk menyembunyikan hal tersebut sampai dia merasa yakin untuk menjalani hidup yang terpisah dari keluarganya.

Awal mulanya Adit menemukan orang-orang yang memiliki kecenderungan seksual yang sama dengannya, adalah ketika dirinya sedang jalan-jalan di salah satu mall di Jakarta. Saat itu, Adit mengaku diajak berkenalan dengan seseorang, yang kemudian mengajaknya untuk bertemu dan berkumpul dengan teman-teman lainnya yang bernasib sama.

Dari lingkungan baru yang ditemui Adit di komunitas gay tersebut, Adit mengaku baru merasa bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa harus menutupi identitas apapun.

Dari teman-teman barunya itu pulalah mahasiswa ini mengaku jadi lebih tahu bahwa dirinya tidak sendiri, dalam menghadapi perbedaan yang dirasakannya sebagai seorang laki-laki yang menyukai sesama jenisnya. Adit juga memahami bahwa lingkungan gay seperti ini memang sudah ada, walaupun keberadaannya kerap tersembunyi dari masyarakat pada umumnya.

"Seorang gay dapat mencari pasangan di tempat clubing khusus gay, dan lewat media sosial yang sedang trend dikalangan para gay saat ini, yaitu dengan aplikasi Grindr dan Hornet," ujar Adit saat ditemui merdeka.com pada Kamis pekan lalu.

Adit mengaku, kecenderungan utama dari setiap gay hanyalah masalah hubungan seksual. Hal inilah yang menyebabkan setiap gay akan menjadi sangat 'insecure' terhadap pasangannya, karena jika pasangannya itu berselingkuh dari mereka bisa dipastikan ia akan melakukan hubungan seksual dengan selingkuhannya tersebut.

Selain itu, susahnya mencari pasangan yang juga sesama gay di antara berjuta laki-laki normal, juga merupakan hal yang sangat sulit ditemukan sehingga mereka cenderung over-protektif terhadap pasangan yang sudah dimilikinya.

"Setiap pasangan gay umumnya memang hanya urusan seksual. Tentang kepuasan birahinya. Tapi ada juga yang dilatarbelakangi karena faktor ekonomi yang membuatnya menjadi gay," ujarnya.

Ketika merdeka.com bertanya lebih jauh kepada Adit mengenai ciri-ciri fisik seseorang yang memiliki kecenderungan gay, Adit mengatakan bahwa hal tersebut bisa dilihat dari cara orang tersebut berpenampilan. Biasanya, para gay memang cenderung berpenampilan sangat metroseksual, walaupun bisa juga tidak selalu demikian.

Mengenai bagaimana penentuan ketika dua orang gay memutuskan untuk menjalin hubungan, Adit mengaku ada proses yang disepakati keduanya ketika sedang PDKT (pendekatan). Dalam proses PDKT tersebut, keduanya akan menanyakan apakah calon pasangannya itu bertindak sebagai 'Pria'-nya (top), atau sebagai 'Wanita'-nya (bot, bottom).

"Top yang berarti menjadi laki-lakinya dan bot yang menjadi wanitanya. Biasanya yang menjadi 'bot' agak sedikit kemayu atau manja, dan yang menjadi'top'-nya lebih 'manly'," ujar Adit.

Namun, ketika ditanya mengenai statusnya saat ini sebagai seorang gay, Adit mengaku tidak menyesalkan apapun yang dimiliki dan dihadapinya saat ini. Walaupun dalam hati kecilnya, Adit sendiri mengaku jika saja ia bisa terlahir dengan orientasi seks yang normal seperti laki-laki pada umumnya, ia sendiri juga akan lebih memilih menjadi seperti laki-laki normal.

"Seandainya saya terlahir kembali, sebenarnya saya juga ingin memiliki rasa seperti laki-laki pada umumnya," ujar Adit.

Lain Adit, lain pula seorang LGBT lainnya bernama Karina Samosir yang merupakan seorang transgender. Karin, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa dirinya sangat bersyukur dengan keadaanya saat ini sebagai seorang transgender. Walau tak menyangkal bahwa begitu banyak cobaan dan tantangan bagi dirinya untuk menjadi diri sendiri sesuai hasrat yang dimilikinya, Karin mengaku sudah cukup tenang dan senang dengan apa yang dijalaninya saat ini.

Sebagai seorang mahasiswa di sebuah kampus swasta di Jakarta Pusat, dan akan segera menyelesaikan skripsinya dalam beberapa bulan ke depan, Karin mengaku bahwa perjuangannya untuk diakui masyarakat sebagai seorang 'wanita' secara utuh, dijalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Karin mengaku bahwa keluarga intinya (ibu, ayah, kakak, dan adik) memang sudah mengetahui mengenai perbedaan yang dimilikinya tersebut. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk hengkang dari rumah orang tuanya selepas SMA, karena ia tak ingin mereka menanggung malu dan beban sosial yang berat atas statusnya sebagai seorang transgender.

"Waktu itu Mamah dan keluarga inti sudah tahu saya begini. Ketika saya ingin keluar dari rumah, dia cuma berpesan agar saya tetap harus menyelesaikan pendidikan saya," ujar Karin saat ditemui merdeka.com pada Rabu pekan lalu.

Beruntung tuhan masih sayang padanya, dengan memudahkan Karin untuk mendapatkan pekerjaan yang cukup lumayan di sebuah resto & bar. Dengan penghasilannya itu pula, Karin menjalankan amanah ibundanya agar tidak putus pendidikan dan melanjutkan kuliah.

Namun, sejumlah kendala dalam menjalani hidup harian pun memang tak luput dirasakannya. Hal itu utamanya sangat terasa, ketika dirinya berhadapan dengan segala urusan administrasi formal dimanapun.

Karin bercerita ketika dirinya pernah kehilangan dompet yang di dalamnya memuat KTP, kartu atm dan surat-surat penting lainnya. Ketika akan mengurus kembali surat-surat dan kartu penting tersebut, Karin kembali lagi dihadapkan pada apatisme para petugas kelurahan atau bahkan pihak Bank terkait identitasnya tersebut.

Pasalnya, data diri formal yang tercantum dalam syarat pengurusan surat-surat tersebut, memiliki perbedaan dengan keadaan dirinya yang sudah berpenampilan sebagai seorang wanita. Data yang menyebutkan statusnya sebagai seorang 'Pria' namun tampilannya sebagai seorang 'Wanita' inilah yang sempat mengundang kecurigaan dari para petugas di Bank dan kantor pemerintahan guna mengurusi KTP-nya.

Akhirnya, setelah proses panjang dan berbelit-belit, Karin pun berhasil memastikan pihak-pihak tersebut untuk yakin bahwa dia adalah orang yang sama dengan data dirinya tersebut.

"Bahkan sama orang Bank itu sampai dicurigai karena foto di KTP dan penampilan saya saat ini berbeda. Untuk KTP pun akhirnya saya foto ulang di kelurahan, sehingga foto saya itu sekarang ya seperti penampilan saya sekarang ini, walaupun data-datanya masih data yang asli," ujar Karin.

Mengenai upaya yang dilakukannya untuk menjadi seorang transgender secara utuh demi menghindari cibiran masyarakat, Karin mengaku harus menjalani terapi hormon dengan cara penyuntikan seminggu sekali, dan meminum obat penambah hormon estrogen setiap harinya. Namun, Karin mengaku menjalani semua perjuangan ini dengan sabar dan ikhlas, demi identitas utuh sebagai seorang 'wanita' di mata masyarakat.

"Saya juga punya rencana untuk operasi kelamin. Tapi ini masih nabung untuk menyelesaikan kuliah, sambil mengumpulkan uang untuk operasi tersebut," ujarnya.

Ketika ditanya apa yang ingin dilakukannya setelah dirinya operasi ganti kelamin, Karin mengatakan bahwa selanjutnya ia akan mengajukan permohonan ke pengadilan, untuk mendapatkan status baru sebagai seorang wanita. Dirinya mengaku terinspirasi dari sejumlah kasus yang terjadi, dimana beberapa transgender sepertinya bisa mengajukan permohonan kepada pengadilan, untuk mendapatkan status baru sebagai seorang wanita.

"Kan sudah banyak contohnya transgender yang permohonannya dikabulkan oleh pengadilan. Makanya saya juga mau coba nanti setelah operasi kelamin saya itu," ujarnya.

Selain itu, Karin juga mengaku baru akan mencari pasangan apabila kondisinya baik secara fisik maupun secara psikologis sudah lengkap sebagai seorang wanita. Sebab, dirinya mengaku bahwa hasrat untuk berumah tangga dan hidup normal seperti wanita-wanita lainnya, juga sudah lama diimpikannya demi hidup yang lebih baik dari yang dijalaninya saat ini.

"Saya sih kepikiran juga buat berumah tangga. Tapi yang penting saat ini saya mau tamatin kuliah dulu, untuk ngebuktiin sama masyarakat bahwa orang seperti saya ini bisa juga berpendidikan," pungkasnya. [ian]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini